Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Mata yang Terpejam di Tengah Malam
Di atas tembok pertahanan setebal lima meter, obor-obor minyak raksasa dinyalakan tiap sepuluh langkah, memastikan tidak ada titik buta bagi para pemanah Divisi Kedua yang berjaga.
Di menara pengawas timur, Long Zhan duduk bersila dengan tombak raksasa di pangkuannya, matanya yang tajam mengawasi gurun pasir yang gelap, mencari tanda pergerakan klan dewa.
Tapi ancaman malam itu tidak datang dari jauh. Ia datang dari arah yang paling dekat dengan mereka.
Di luar gerbang kota, sebatang pohon kaktus purba menampilkan bayangan panjang akibat cahaya obor dari atas tembok.
Sesosok tubuh berjubah hitam kelam dengan topeng putih muncul dari dalam bayangan itu. Jenderal Bintang Lian mendongak menatap tembok raksasa dan ribuan prajurit manusia di atasnya.
Di balik topengnya, ia tersenyum geli. Pertahanan fisik yang kokoh ini mungkin bisa menahan Jenderal Tie, tapi bagi sang pemegang Otoritas Bayangan, tembok setebal apa pun hanyalah hiasan.
Jenderal Lian melangkah maju, tubuhnya mencair kembali jadi dua dimensi, menyatu dengan bayangan tanah.
Ia merayap menaiki tembok diam-diam, meluncur melewati sela-sela bayangan kaki para penjaga yang berpatroli, lalu turun memasuki jantung Kota Fajar tanpa memicu satu pun alarm atau riak Qi.
Di kedalaman sepuluh meter di bawah tanah, tepat di bawah markas besar Akademi Fajar, terletak ruang komando Divisi Bayangan.
Ruangan bawah tanah itu terang benderang. Xing Yun sengaja menyalakan lebih dari lima puluh lilin tebal di tiap sudut untuk menekan bayangan di dinding seminimal mungkin. Ia duduk di balik meja kayu panjang, membolak-balik laporan dari mata-matanya yang tersebar di benua.
Di empat sudut ruangan, berdiri empat pengawal elit berseragam hitam, pembunuh bayaran terbaik Tingkat 1 yang secara khusus direkrut Xing Yun untuk melindunginya sejak insiden pembantaian Danau Cermin.
Xing Yun mencelupkan penanya ke tinta. Saat ujung pena baru menyentuh kertas, suhu ruangan mendadak anjlok hingga titik beku.
Api dari kelima puluh lilin itu tidak padam ditiup angin. Nyala apinya serentak berubah hitam pekat, menyedot seluruh cahaya di ruangan dan menggantinya dengan kegelapan yang menekan dada.
Xing Yun membeku. Instingnya seketika menjerit.
"Formasi Bintang Jatuh! Lindungi!" perintahnya cepat, tapi tenang.
Keempat pengawal elit bereaksi seketika, mencabut pedang pendek, melompat maju membentuk formasi persegi di sekeliling Xing Yun.
Tapi mereka bahkan tidak sempat mengambil langkah kedua.
Dalam cahaya lilin hitam, bayangan tubuh keempat pengawal yang tercetak di lantai mendadak memanjang. Ujung-ujung bayangan itu meliuk naik seperti tentakel hitam pekat, melilit leher keempat pengawal dengan kecepatan kilat.
Krak.
Krak.
Krak.
Krak.
Suara empat leher yang patah bersamaan menggema pelan di ruangan sunyi itu. Keempat pengawal elit Tingkat 1 itu ambruk ke lantai, tewas seketika dibunuh oleh bayangan mereka sendiri, bahkan tanpa sempat mengayunkan pedang.
Xing Yun mundur selangkah hingga punggungnya membentur dinding batu. Tangannya sigap menarik belati kecil dari balik lengan jubahnya, diolesi racun saraf terkuat buatan Su Ling'er. Tapi keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Ia tahu, racun fisik tidak akan berguna melawan fenomena di depannya.
Dari tengah ruangan, kegelapan berkumpul dan menebal. Sosok berjubah hitam dengan topeng putih perlahan melangkah keluar.
"Luar biasa." Suara Jenderal Lian bergaung, seolah puluhan orang berbisik bersamaan dari segala arah. "Keempat anjing pelacakmu mati dalam sekejap, dan kau bahkan tidak berteriak minta bantuan. Disiplin mental yang sangat indah untuk seekor serangga."
Xing Yun mencengkeram belatinya erat-erat. "Otoritas memanipulasi entitas tak berwujud... kau pasti Jenderal Bintang Bayangan yang dibicarakan dalam gulungan kuno."
Jenderal Lian terkekeh, tawa yang membuat darah Xing Yun terasa membeku.
"Teman-temanku yang bodoh sibuk memburu kaisarmu yang terang benderang itu." Jenderal Lian berjalan perlahan mendekati meja Xing Yun. "Tapi saat aku melihat mahakaryamu di Danau Cermin, lima belas ribu mayat rakyatmu sendiri yang membusuk, aku tahu, aku harus menemuimu."
Ia berhenti dalam jarak dua meter, menatap Xing Yun dari balik topeng putihnya. "Kaisarmu hanyalah pedang tumpul. Tapi kau, kau racun sungguhan yang akan membunuh klan dewa. Karena itu, nyawamu jauh lebih berharga untuk kuambil."
Mata Xing Yun memindai postur Jenderal Lian, menghitung jarak, sudut, dan probabilitas serangan.
Dalam satu tarikan napas, ia melemparkan belati beracunnya tepat ke celah mata topeng Jenderal Lian. Lemparan itu sempurna, memotong udara tanpa suara.
Tapi Jenderal Lian bahkan tidak berkedip. Belati itu melesat menembus kepalanya, seolah sang Jenderal Bintang terbuat dari asap hitam, lalu menancap sia-sia di lantai batu di belakangnya.
"Sangat mengecewakan," desah Jenderal Lian pelan. "Kecerdasanmu tidak bisa melukai apa yang tidak berwujud."
Ia mengangkat tangan kanan, perlahan mengepalkan jarinya.
Tiba-tiba, tubuh Xing Yun membeku. Bukan karena es, melainkan bayangannya sendiri yang menempel di dinding batu tiba-tiba mengeras seperti lem.
Bayangan itu menahan lengan, kaki, dan lehernya, menekan erat-erat ke dinding. Ia tidak bisa menggerakkan satu otot pun.
Di sinilah batas mutlan kecerdasan manusia. Taktik, strategi, dan racun terbaik di dunia tidak ada gunanya ketika berhadapan dengan hukum alam yang dimanipulasi murni oleh seorang dewa. Keputusasaan dingin mulai merayapi hati Xing Yun.
Jenderal Lian menarik sebilah pedang panjang, murni terbuat dari bayangan padat. Ia melangkah maju, mengarahkan ujung pedang hitam itu tepat ke leher Xing Yun yang tak berdaya.
"Jangan khawatir, iblis kecil," bisik Jenderal Lian mengejek. "Akan kupotong kepalamu dengan sangat perlahan. Aku ingin melihat apakah darahmu semerah rakyat yang kau bantai."
Xing Yun memejamkan mata. Ia tidak menyesali kematiannya. Satu-satunya hal yang ia sesalkan, ia tidak akan sempat melihat Ye Cangtian menduduki singgasana dewa untuk memimpin umat manusia. Maafkan aku, Kaisar. Tugasku sebagai bayanganmu berakhir di sini.
Tepat saat pedang bayangan itu berjarak satu inci dari lehernya...
Blaarr!
Gempa bumi skala masif mengguncang seluruh markas bawah tanah. Atap batu setebal dua meter di atas mereka meledak ke dalam.
Bongkahan batu raksasa seukuran kereta kuda runtuh berjatuhan bersama awan debu putih yang membutakan.
Jenderal Lian terpaksa melompat mundur sepuluh meter, pedang bayangannya gagal menebas leher Xing Yun.
Dari lubang raksasa di langit-langit, sesosok raksasa terjun bebas, mendarat di tengah ruangan.
Long Zhan.
Sang Pendekar Tombak tidak menyembunyikan kehadirannya. Qi dari otot-ototnya meledak liar, memancarkan aura kemerahan yang begitu terang hingga membakar habis kegelapan di ruangan itu.
Cahaya lilin yang tadi hitam kini kembali menyala normal di bawah tekanan aura mentahnya.
"Hah... hah..." Long Zhan mendengus kasar, memutar tombak raksasanya dengan satu tangan hingga menciptakan pusaran angin bertekanan tinggi yang menyapu sisa debu reruntuhan.
Ia menatap Jenderal Lian dengan seringai buas, memperlihatkan taringnya.
"Aku sudah berkeliling tembok timur dua kali, dan insting hewan di darahku terus berteriak ada tikus got yang menyusup ke kotaku." Raungnya menggetarkan dinding batu.
Ikatan bayangan yang menahan Xing Yun di dinding perlahan melemah akibat aura terang Long Zhan. Xing Yun terbatuk keras, jatuh berlutut sambil memegangi lehernya.
"Long... Zhan..." napasnya tersengal. "Dia... Otoritas Bayangan. Serangan fisik tidak akan menembusnya."
Long Zhan hanya meludah ke lantai. Matanya yang merah menyala menatap sang dewa pembunuh tak berwujud di depannya.
"Aku tidak peduli kau terbuat dari bayangan, asap, atau apapun itu," geram Long Zhan, merendahkan kuda-kuda, bersiap meluncurkan tombaknya. "Aku akan memukulmu begitu keras sampai kakek buyutmu di alam bawah merasakannya!"
Jenderal Lian memiringkan topeng putihnya. Kekesalan tipis muncul dari balik mata sang dewa.