NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21 ISTANA KEKAISARAN VALERIA

Rombongan kereta Grand Duke Darian von Ravengard akhirnya tiba menjelang senja. Matahari menggantung rendah, mewarnai menara-menara emas Valeria dengan cahaya hangat. Kuda-kuda pengawal berhenti serentak, mengangkat debu ringan yang langsung disapu angin musim semi.

Pintu kereta utama terbuka, dan kaki berbalut sepatu kulit halus Darian melangkah turun terlebih dahulu. Jubah panjangnya menjuntai elegan, dan matanya yang tajam menyapu pelataran seakan mengukur setiap jengkal bahaya yang mungkin muncul.

Lalu, tangannya terulur.

Menyambut seorang wanita dengan gaun hijau zamrud, rambut perak tersanggul anggun, dan perut yang sedikit membulat.

Iris menatap gerbang istana dengan kagum saat menapakkan kaki.

“...Astaga.” Ia mengedarkan pandang. “Ini bukan istana. Ini adalah perpaduan antara museum, kuil, dan arena perjamuan.”

Darian menatapnya. “Semuanya.”

“Apa?”

“Itu semua benar.” Ia membantu menstabilkan langkah Iris. “Istana ini dibangun untuk menampilkan seluruh simbol kekuasaan Kekaisaran. Sejarah, iman, dan kekuatan.”

Iris mengedip. “Lalu kenapa benteng Ravengard seperti tempat pelatihan para prajurit kelam yang terjebak dalam drama eksistensial?”

Darian menjawab singkat, “Karena itulah Ravengard.”

“Kalau aku minta menambahkan jendela kaca patri berwarna dan taman bunga... kau akan menolak?”

Darian meliriknya sekilas. “Selama tidak ada unicorn atau air mancur berbentuk malaikat menangis, kau boleh pilih.”

Iris mengerling geli. “Catat itu, Lisa.”

Lisa yang berjalan di belakang mereka menahan tawa dan mencatat imajiner di udara.

**

Mereka dibawa ke paviliun Timur—sebuah bangunan elegan yang sedikit terpisah dari istana utama. Arsitekturnya lebih sederhana, namun hangat. Iris langsung tahu bahwa tempat ini... memiliki sejarah tersendiri.

“Ini tempat peristirahatan keluarga kekaisaran?” tanya Iris, memasuki ruang utama.

Darian mengnoduk. “Sebagian besar tamu penting ditempatkan di sini. Di sini... tak banyak gangguan.”

Iris menyentuh pilar marmer yang berdiri kokoh. “Tempat yang tenang untuk istana yang penuh intrik.”

Darian menoleh, tajam. “Berhenti membacaku seperti buku terbuka.”

Iris menyeringai. “Kalau aku bisa membaca pikiranmu, aku pasti sudah minta dibelikan kastil kecil di selatan sejak awal menikah.”

Sesampainya di kamar yang sudah disiapkan dengan ranjang empuk, selimut dari bulu wol tebal, dan jendela tinggi menghadap taman air, Iris tiba-tiba berhenti dan memegangi perutnya.

Wajahnya memucat. “Aku... mual...”

Dalam waktu kurang dari dua detik, Darian sudah memegang bahunya, membantu duduk di kursi dan mengambil baskom dari pelayan istana yang tergopoh-gopoh.

Iris muntah. Berkali-kali.

Lisa yang baru masuk membawa baju ganti langsung menjerit pelan. “Grand Duchess—!”

“Tenang,” Darian menahan pelayannya. “Ambilkan air hangat. Dan selimut.”

Lisa mengnoduk cepat dan lari.

Darian tetap di tempat, satu tangan di punggung Iris, satu lagi menggenggam tangan istrinya erat.

Iris akhirnya mengangkat kepala dengan wajah pucat. “Astaga. Supaya kau tahu... bayi ini mungkin sedang melempar tombak di dalam sana.”

Darian menarik napas panjang. “Kupikir dia sedang latihan terbang dengan angin utara.”

Iris menatap suaminya. “Kau tidak jijik?”

“Apa?”

“Bajumu kena sedikit... muntahan.”

Darian memeriksa lengan bajunya yang ternoda. Ia hanya mengangkat bahu.

“Kalau aku bisa menyerap api abadi dari tubuhmu, aku yakin bisa bertahan dari muntahan.”

Iris mendengus tertawa lemah. “Itu kalimat cinta paling aneh yang pernah kudengar.”

Darian menatapnya dalam. “Tapi jujur.”

Beberapa Saat Kemudian

Sementara Iris dibaringkan, Darian turun ke dapur istana—langsung mengabaikan protokol ketat dan membuat kepala juru masak kekaisaran hampir kehilangan sendok peraknya karena panik.

“Aku ingin sup daging hangat,” ucapnya dingin.

“Tu-Tuan Grand Duke?” Juru masak itu menunduk gemetar. “Untuk—untuk siapa?”

“Untuk istriku. Dan jangan tambahkan bawang merah. Ia tak suka.” Suaranya tenang tapi mengandung perintah absolut.

Arven yang berdiri di sampingnya hanya mengangkat alis, lalu berkata pelan, “Tuan, dengan segala hormat... itu cukup intimidatif untuk sekadar memesan sup.”

Darian menatap Arven datar. “Kau belum lihat bagaimana dia menatapku kalau makanannya tidak sesuai harapan.”

Arven terkekeh. “Satu mangkuk sup... bisa jadi perdamaian dunia.”

Iris sudah mengganti pakaian dan duduk lemah di ranjang saat Darian masuk membawa mangkuk sup.

Ia duduk di tepi ranjang, meniupkan uap panas dari kuahnya. “Sedikit terlalu asin. Tapi setidaknya ini hangat.”

Iris menerimanya perlahan. “Kau sendiri yang memasaknya?”

Darian mengnoduk pelan. “Mengawasi, memberi instruksi, dan... mengancam secara halus pada koki kekaisaran.”

Iris tersenyum samar. “Ah... jadi aku menikahi seorang panglima perang, ahli strategi, dan chef musiman.”

Darian menyuapinya perlahan. “Dengan keahlian terbatas dalam diplomasi rumah tangga.”

Iris menatapnya, agak melembut. “Tapi kau sedang belajar.”

Darian hanya mengnoduk pelan, lalu... tersenyum tipis. Hanya untuk Iris.

Dan di luar kamar itu, setiap pelayan, penjaga, bahkan kapten pengawal sekalipun tahu satu hal pasti: Grand Duke yang dingin dan mematikan itu... hanya berubah menjadi manusia saat berada di dekat istrinya.

Udara malam di paviliun Timur begitu tenang, hampir membeku. Angin lembut menyusup lewat jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma manis bunga magnolia yang sedang mekar di luar.

Di atas ranjang berlapis satin biru tua, Iris terlelap, tubuhnya sedikit meringkuk. Napasnya tenang namun keningnya berkeringat.

Dalam tidurnya, mimpi itu datang lagi.

Dalam Mimpi

Suara musik mengalun dari kejauhan. Istana megah penuh tamu bangsawan yang tertawa dan berdansa di bawah gantungan kristal. Di tengah keramaian itu, seorang wanita muda berdiri seperti cahaya—Iris yang asli.

Gaun maroonnya berkilau lembut, rambut panjangnya menjuntai seperti tirai perak, dan matanya... menyimpan luka yang tersembunyi di balik senyum sopan.

Namun tidak semua mata menatapnya dengan kagum.

Di sudut ruangan, seorang gadis berambut emas menatap tajam ke arahnya. Tatapan itu bukan sekadar iri, tetapi benci yang dalam. Iris (yang sekarang) tidak mengenali wajahnya. Tapi sorot itu menusuk... seakan berkata: “Kau tak pantas di sana.”

Gambar berganti cepat.

Iris yang asli kini terduduk sendirian di ruangan gelap. Gaunnya kotor, wajahnya basah air mata. Tangannya memeluk perutnya sendiri—kosong.

“Aku... hanya ingin dicintai...” gumamnya di antara isak.

Iris yang sekarang memanggil, “Aku di sini. Aku... aku bersamamu.”

Tapi suara itu tak terdengar.

Dunia Nyata

“Akh...” Iris terbangun tiba-tiba, napasnya memburu. Keringat membasahi pelipisnya, dan tangannya refleks memegang perutnya.

Bayinya... merespons. Seolah ikut gelisah. Tendangan kecil terasa di dalam sana.

Apa artinya semua itu...? Siapa gadis berambut emas itu? Kenapa Iris menangis...?

Iris menoleh ke samping tempat tidur—kosong.

Darian belum kembali...?

Perasaan takut yang samar dalam mimpinya kini berubah jadi kecemasan nyata. Ia turun dari ranjang pelan-pelan, menahan rasa berat di tubuhnya, dan menyambar jubah tipis yang tergantung di kursi.

Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar, melewati lorong-lorong kecil paviliun yang remang.

Suara langkah kaki berbalik arah dari ujung lorong.

Darian muncul dengan pakaian santainya, rambut hitamnya agak berantakan tertiup angin malam. Mata kelabunya langsung menangkap sosok istrinya yang berdiri di ujung lorong dengan tubuh gemetar.

“Iris?” tanyanya cemas. “Apa yang kau lakukan di luar kamar malam begini?”

Iris tidak menjawab. Ia hanya berdiri kaku, memeluk perutnya.

Darian segera menghampiri. “Kau sakit? Perutmu—”

Iris langsung menggeleng, lalu... menangis. Tanpa suara di awal. Tapi tubuhnya bergetar hebat.

Darian langsung menariknya ke dalam pelukan, satu tangan mengelus rambut peraknya, yang lain menopang pinggangnya.

“Tenang... Aku di sini. Aku tak akan pergi.”

Iris menyembunyikan wajahnya di dada Darian. Suaranya lirih. “Aku mimpi buruk.”

“Yang seperti apa?” bisik Darian lembut.

Iris menggeleng. “Aku tidak tahu... hanya... rasa sedih itu... terasa nyata.”

Darian mengecup pelipisnya. “Kau aman sekarang.”

“Aku... melihat seseorang menangis sendirian... di tempat gelap...” bisik Iris.

Darian hanya memeluknya lebih erat. “Tidak akan ada yang sendiri di tempat gelap selama aku masih bernapas.”

Iris diam.

“Aku ingin percaya padamu,” gumamnya akhirnya.

Darian memiringkan wajahnya untuk menatap istrinya. “Apa yang membuatmu ragu?”

“Kadang... aku merasa aku ini bukan diriku. Tapi juga bukan dirinya.” Matanya berkaca-kaca. “Tapi yang jelas... aku ingin kau dan anak ini tetap ada bersamaku.”

Darian menyentuh pipinya. “Maka itu yang akan terjadi.”

Iris menatapnya. “Janji?”

“Dengan seluruh hidupku,” ucap Darian serius.

Ia memeluk Iris lagi, membisikkan kata-kata pelan di telinganya. “Ayo kembali ke kamar. Kau harus istirahat. Aku akan ada di sisimu malam ini.”

“Benarkah?” suara Iris kecil. “Jangan pergi ke balkon lagi. Atau ruang kerja. Atau membaca laporan panjang yang membuatmu lupa waktu.”

Darian terkekeh pelan. “Kalau begitu aku akan membaca laporan panjang kepada sang bayi, langsung dari sebelahmu.”

Iris akhirnya tersenyum tipis, lalu mengangguk.

Setelah Iris berbaring, Darian duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan istrinya. Ia mengelus perut Iris, menyapa sang bayi dengan tenang.

“Kau pasti merepotkan ibumu malam ini, ya?” bisiknya.

Iris meliriknya. “Dan aku merepotkanmu.”

Darian menoleh, menatapnya penuh kelembutan.

“Kalau itu disebut merepotkan, maka aku ingin direpotkan seumur hidup.”

Iris mengerjap. “Kau... sangat manis malam ini.”

“Dan hanya untukmu,” jawab Darian sambil mengusap rambut istrinya lembut.

Malam itu, meski ketakutan masih tersisa di ujung mimpi, Iris merasa... tidak sendirian. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, perasaan cinta yang dulu hanya ditanggung Iris yang asli mulai berbalas di bawah naungan menara emas Valeria.

****

Bersambung

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!