NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Panggilan Darurat dari Lereng Merapi

Empat hari setelah nama Arkana muncul di jadwal daruratnya, Anindya kembali duduk di kursi kanan pria itu.

Kali ini tak ada penumpang bisnis, kopi hangat, atau jalur terbang yang nyaman. Di bawah helikopter utilitas mereka, lereng Merapi berubah menjadi hamparan lumpur cokelat. Atap rumah menyembul di antara batang pohon yang hanyut. Jalan menuju dua desa terputus tanah longsor.

“Pos komando di arah pukul dua,” kata Anindya melalui headset.

Arka menyesuaikan arah. “Terlihat.”

Kualifikasi helikopter ringan Anindya tercatat dalam lisensi dan logbook yang diperiksa HRD. Namun, ini pertama kalinya Adiwijaya menempatkannya dalam operasi gabungan bersama Basarnas. Di belakang kursi mereka, kotak obat dan makanan darurat terikat rapat. Dua petugas penyelamat duduk menghadap pintu samping.

Angin dari lembah mendorong badan helikopter. Anindya memantau instrumen, menyebut perubahan arah angin, dan menjaga komunikasi dengan pos lapangan.

“Zona pendaratan utama tergenang,” suara petugas radio terdengar. “Gunakan titik Bravo. Waspadai kabel di sisi timur.”

“Diterima,” jawab Anindya. Ia menoleh ke Arka. “Titik Bravo lebih sempit. Pendekatan dari barat memberi kita ruang lebih aman.”

“Setuju. Pandu jarak.”

Tak ada perdebatan. Di udara seperti ini, luka pribadi mereka tak boleh ikut memegang kendali.

Arka menurunkan helikopter perlahan. Anindya menyebut ketinggian dan jarak terhadap rintangan. Saat roda menyentuh tanah, petugas penyelamat langsung menurunkan muatan.

Di tepi zona pendaratan, Amara berdiri dengan rompi jingga di atas seragam lapangan. Ia bertugas mengatur logistik kabin dan mendata warga yang akan diterbangkan keluar. Lumpur mengotori sepatunya, tetapi riasannya masih rapi.

Matanya tertuju ke kaca depan kokpit.

Anindya dan Arka sedang membungkuk pada peta yang sama. Kepala mereka cukup dekat agar bisa saling mendengar di balik deru baling-baling. Ketika Arka menunjuk jalur berikutnya, Anindya mengoreksi satu titik dan pria itu langsung mengangguk.

Amara menggenggam papan datanya terlalu kuat.

“Nona Amara, daftar warga dari sektor tiga,” panggil seorang relawan.

“Taruh di meja.”

“Kita perlu verifikasi sekarang. Ada dua lansia yang membutuhkan oksigen.”

Amara tersentak, lalu merebut kertas itu. “Aku tahu pekerjaanku.”

Menjelang siang, Fajar tiba bersama konvoi logistik yang berhasil menembus jalur selatan. Sebagai eksekutif yang mengendalikan operasi darat Adiwijaya, ia membawa radio tambahan, bahan bakar, dan daftar rotasi kru.

“Pak Arkana, prakiraan cuaca memburuk setelah pukul lima,” lapornya di tenda komando. “Basarnas meminta semua penerbangan dihentikan sebelum gelap.”

“Masih ada berapa warga?”

“Tujuh belas di titik Cempaka. Dua di antaranya tidak bisa berjalan.”

Anindya memeriksa peta topografi. “Kalau setiap rotasi membawa empat orang, perlu sedikitnya lima penerbangan. Waktu kita tidak cukup dengan satu helikopter.”

“Unit kedua sedang mengantar tim medis,” kata Fajar. “Bisa bergabung satu jam lagi.”

Arka menatap langit yang mulai gelap di sisi barat. “Kita ambil tiga rotasi pertama. Unit kedua menyelesaikan sisanya.”

“Saya ikut,” ujar Anindya.

Arka menatap plester tipis yang masih menutup luka kecil di jarinya sejak malam seusai penerbangan pertama mereka. “Anda sudah terbang sejak pagi.”

“Begitu juga Anda, Kapten.”

“Saya tidak sedang bertanya.”

“Dan saya tidak meminta perlakuan khusus.”

Fajar melihat keduanya bergantian, lalu berdeham. “Kru cadangan belum memenuhi waktu istirahat. Secara operasional, Kopilot Anindya masih dalam batas tugas.”

Arka tak punya alasan lain. “Lima belas menit untuk makan dan minum.”

“Baik, Kapten.”

Anindya pergi menuju tenda relawan. Fajar menunggu sampai jaraknya cukup jauh.

“Pak Arkana, kalau Anda terus menatapnya seperti itu, satu pos komando akan tahu sebelum makan siang.”

“Urus logistik, Fajar.”

“Baik, Pak.” Senyum tipis muncul di wajah Fajar sebelum ia berbalik.

Di belakang tenda penyimpanan, Amara menghentikan seorang petugas logistik kontrak. Ia menyelipkan amplop ke bawah papan data pria itu.

“Nanti helikopter itu memakai titik tambat di Cempaka untuk membantu pemindahan tandu,” katanya. “Longgarkan satu pasak dan buat tali utamanya terlihat aus.”

Pria itu menatap amplop, lalu wajahnya. “Itu bisa berbahaya.”

“Tidak kalau kalian mengikuti prosedur. Aku cuma mau mereka terlambat dan evaluasinya buruk.”

“Kalau putus saat dipakai?”

“Tali cadangan ada. Jangan dramatis.” Amara mendorong amplop itu ke dadanya. “Pastikan laporan menyebut Kopilot Anindya yang gagal memeriksa alat.”

Pria itu masih ragu.

“Kamu butuh uang ini atau tidak?”

Akhirnya, tangannya menutup amplop.

Amara pergi sambil meyakinkan diri bahwa tak seorang pun akan terluka. Operasi hanya akan kacau beberapa menit. Arka akan melihat Anindya sebagai pilot ceroboh, dan maskapai punya alasan untuk menghentikannya terbang.

Menjelang sore, tiga rotasi selesai tanpa insiden. Anindya membantu seorang ibu mengencangkan sabuk, menyerahkan anak kecil kepada petugas medis, lalu kembali ke kokpit dengan bagian bawah celana penuh lumpur.

Arka memberinya botol air.

“Minum.”

“Terima kasih.”

“Tanganmu gemetar.”

“Karena menahan tandu, bukan karena tidak sanggup terbang.”

Anindya minum tiga teguk dan menyerahkan botol itu kembali. Jari mereka nyaris bersentuhan. Keduanya menarik tangan pada saat yang sama.

Sisi muncul di luar pintu bersama Enggar. Klub Enggar telah bertahun-tahun mendanai gudang respons bencana dan kali ini mengirim truk, selimut, serta relawan.

“Bos, titik Cempaka masih menyisakan lima orang,” kata Sisi pelan agar petugas lain tidak mendengar panggilannya. “Unit kedua membawa tiga. Dua terakhir harus menunggu rotasi Anda.”

“Kondisi mereka?”

“Seorang kakek dengan cedera kaki dan cucunya. Tanah di sisi utara terus bergerak.”

Arka melihat jam. “Kita berangkat sekarang.”

Fajar mendekat. “Angin sudah melewati batas nyaman, Pak.”

“Masih dalam batas operasi. Satu rotasi terakhir.”

“Kalau memburuk, batalkan pendekatan,” tegas Fajar.

“Saya tahu.”

Helikopter kembali mengudara ketika cahaya terakhir mulai menghilang di balik awan. Enggar, Sisi, Amara, dan tim darat mengecil di bawah mereka.

Di kokpit, Anindya memeriksa semua indikator untuk kedua kalinya.

“Tekanan normal. Bahan bakar cukup untuk satu pendekatan dan kembali dengan cadangan.”

“Cuaca?”

“Angin silang meningkat. Hujan mendekat dari barat daya.”

“Kita lihat titiknya. Kalau tidak aman, kita putar balik.”

“Diterima, Kapten.”

Titik Cempaka tampak di sebuah bidang sempit dekat lereng. Dua sosok melambai di samping petugas Basarnas. Anindya baru hendak menghubungi mereka ketika helikopter dihantam angin dari samping.

Tubuh pesawat miring tajam.

Arka mengoreksi kendali. Pada saat yang sama, satu lampu peringatan berkedip di panel, disusul bunyi alarm.

“Indikator sistem hidraulik!” seru Anindya.

“Verifikasi tekanan. Pegang checklist darurat.”

Jarum tekanan turun, lalu bergerak liar tanpa pola.

Hembusan kedua menghantam lebih keras. Peta terlepas dari penjepit. Lereng gelap memenuhi kaca depan.

Empat tangan bergerak bersamaan menuju kendali dan panel ketika helikopter jatuh beberapa meter di dalam angin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!