Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 21
Arsen mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata.
"Maksud saya, hubungan bisnis dan aliansi dua keluarga kita akan akhirnya diresmikan di hadapan publik, Pa. Tidak ada lagi spekulasi atau desas-desus di luar sana."
Raut wajah Pak Bisma mendadak mereda, kembali dihiasi kepuasan angkuh.
"Bagus kalau kamu sadar. Itulah yang Papa inginkan dari kamu sejak awal. Sikap dewasa sebagai CEO."
"Bagaimana dengan staf perempuan yang kemarin bikin keributan itu, Arsen?" sela Aurelia tiba-tiba, memiringkan kepalanya dengan tatapan menyelidik yang ingin memastikan.
"Kamu benar-benar sudah membereskannya, kan? Dia tidak akan muncul lagi di kantor kita?"
Arsen mengalihkan pandangannya pada Aurelia. Matanya menatap wanita itu begitu dalam hingga Aurelia mendadak merasa risih sendiri.
"Perempuan itu sudah ditangani secara permanen, Aurelia," tutur Arsen datar. "
Dia berada di tempat yang sangat jauh dari jangkauan kantor, dan dia tidak akan pernah bisa mengganggu kehidupan atau acara pertunangan kita lagi."
"Baguslah!" cetus Aurelia puas seraya tertawa renyah.
"Memang harus begitu. Orang-orang kelas bawah seperti dia memang tidak seharusnya merusak tatanan hidup orang-orang seperti kita."
Arsen mengepalkan tangannya di bawah meja, menancapkan kuku-kukunya ke telapak tangan hingga terasa nyeri demi menahan diri agar tidak melempar gelas kristal di depannya ke wajah Aurelia.
'Tertawalah sepuasmu sekarang, Aurelia, desis Arsen dalam hatinya yang paling kelam. Karena Sabtu malam nanti, tempat yang kamu hina ini akan menjadi saksi kehancuranmu sendiri,' batin Arsen.
Usai makan malam yang penuh dengan kepalsuan tersebut, Arsen meminta izin untuk kembali ke kediaman pribadinya dengan alasan harus menyiapkan berkas rapat direksi untuk besok pagi.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan malam Jakarta, Arsen menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi belakang. Danu yang mengemudi memperhatikan raut lelah sahabatnya dari kaca spion tengah.
"Bagaimana makan malamnya?" tanya Danu memecah keheningan.
"Sempurna," sahut Arsen dingin.
"Mereka menelan seluruh umpan yang kupasang. Aurelia makin percaya diri, dan Papa makin yakin kalau dia sudah berhasil mengendalikanku sepenuhnya."
"Bagus," timpal Danu.
"Pihak detektif Swasta baru saja mengirimkan pembaruan informasi sepuluh menit lalu, Arsen."
Arsen langsung menegakkan tubuhnya. "Apa kata mereka?"
Danu menghentikan mobil di perempatan saat lampu lalu lintas berubah merah, lalu menyerahkan sebuah tablet yang ada di kursi penumpang depan kepada Arsen.
Arsen menerima tablet tersebut dengan jemari yang bergetar pelan. Layar yang menyala terang menampilkan deretan file berformat PDF, dokumen pemindaian rekam medis, dokumen transaksi perbankan, hingga rekaman audio yang dienkripsi.
Mata Arsen menyisir kata demi kata pada dokumen analisis yang dibuat oleh tim detektif swasta. Semakin jauh ia membaca, napasnya semakin tertahan. Wajahnya yang semula dingin mendadak pucat pasi, berganti menjadi ekspresi keputusasaan dan kemarahan yang luar biasa pekat. Melihat semua bukti-bukti yang berhasil di kumpulkan oleh orang-orang suruhannya. Selama ini dia terlalu takut dan egois karena merasa jika dirinya adalah korban dari Tsania yang egois.
Apalagi selama ini ayah dan almarhumah ibunya selalu mengatakan kalau Tsania bukan wanita baik-baik dan dia juga menjadi simpanan om-om untuk memenuhi gaya hidupnya. Arsen saat itu percaya dengan ucapan kedua orang tuanya, apalagi keadaan ekonomi keluarganya saat itu sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Perusahaan ayahnya dalam keadaan hampir bangkrut, hingga akhirnya perusahaan ayah Arsen di merger oleh ayah Aurelia.
Dan karena itulah dia harus menerima pertunangan paksa dengan Aurelia yang sudah lama menyukainya. Namun Arsen selalu punya alsan untuk menolak secara halus dan lebih memilih tinggal di Singapura. Baru beberapa bulan terakhir dia pindah ke negara ini lagi, dan secara kebetulan malah bertemu kembali dengan Tsania. Karena ego dan rasa sakit yang dipupuk selama tiga tahun itu membuat perasaan Arsen campur aduk, antara rindu, cinta, benci dan amarah ingin balas dendam atas keterpurukannya setelah di tinggal Tsania begitu saja.
"Ini... ini tidak mungkin..." bisik Arsen, suaranya parau dan bergetar hebat.
Danu menatap sahabatnya lewat kaca spion tengah dengan sorot mata berat. "Lanjutkan membacanya, Arsen. Halaman tiga dan empat."
Jemari Arsen menggeser layar tablet ke halaman berikutnya. Di sana, tertuang Laporan Kepolisian Lokal tiga tahun lalu beserta salinan bukti transfer dari rekening penampung milik anak perusahaan Pak Bisma.
Rincian Transaksi & Teror (September 2023):
Transfer dana sebesar Rp750.000.000 ke rekening dua oknum debt collector atas nama perintah 'Operasi Khusus'.
Pengancaman fisik dan intimidasi berulang di kediaman orang tua Tsania.
Tindakan penganiayaan berat pada almarhum Ayah Tsania hingga mengalami pendarahan otak masif dan meninggal dunia di RS Daerah. Bukan hanya itu, Tsania juga beberapa kali mendapatkan ancaman lainnya. Bahkan dia juga hampir mendapatkan tindakan tak manusiawi dari orang suruhan Papanya yang ingin menghancurkan hidup Tsania, beruntung ada orang yang menyelamatkannya. Setelahnya Tsania dan ibunya pergi ke Bandung, namun setelahnya sang ibu sering sakit-sakitan.
DEK!
Layar tablet di tangan Arsen hampir terlepas dari genggamannya. Pria tegap itu terpaku kaku, matanya membelalak lebar menatap baris demi baris kata yang seakan mencabut paksa seluruh jiwanya.
"Ayah... Ayah Tsania..." Arsen menggantung kalimatnya, napasnya memburu cepat, terasa sesak luar biasa di dadanya.
"Ayah Tsania meninggal... bukan karena serangan jantung biasa?"
"Bukan," potong Danu dengan nada rendah namun tajam, membiarkan lampu lalu lintas berganti hijau dan menginjak pedal gas pelan.
"Pak Bisma menyewa preman untuk mendatangi rumah orang tua Tsania saat kamu sedang koma pasca kecelakaan di Singapura. Mereka menuntut Tsania menandatangani surat pernyataan mundur dan meninggalkan kamu selamanya."
Arsen mencengkeram tepi jok mobil hingga kulit sintetis mahal itu berkerut keras.
"Lalu... lalu apa yang terjadi pada ayahnya?!"
"Ayah Tsania berusaha melindungi Tsania dan mengusir orang-orang itu," lanjut Danu, suaranya sarat akan rasa iba yang mendalam.
"Salah satu dari mereka mendorong dan memukuli kepala Ayah Tsania dengan benda tumpul di depan mata Tsania sendiri. Saat Tsania panik dan berusaha membawa ayahnya ke rumah sakit, orang-orang utusan Papamu justru menahan ambulans dan memblokir akses ke rumah sakit utama."
Arsen memejamkan mata rapat-rapat. Mutiara bening menetes panas membasahi pipinya yang tegas, menyusur turun hingga menetes ke kerah kemeja hitamnya.
"Ya Tuhan..." rintih Arsen, suaranya pecah menjadi isakan yang amat memilukan.
"Dia menyaksikan ayahnya dipukuli sampai tewas... demi melindungiku dari Papaku sendiri?"
"Tidak hanya itu, Arsen," sela Danu lagi, suaranya kian menajam.
"Pak Bisma memanfaatkan momen duka itu. Saat Ayah Tsania dinyatakan meninggal di UGD, orang kepercayaan Papamu datang membawa dokumen perjanjian resmi. Mereka mengancam akan menghabisi Ibu Tsania jika tidak segera menghilang dan memutus seluruh akses denganku dan kamu. Namun setelah itu semua ternyata ayahmu belum merasa puas dan percaya kepada Tsania, sehingga dia mengirim orang-orangnya kembali untuk membuat Tsania terno-da, namun beruntung hal itu tidak terjadi karena ada yang menyelamatkan Tsania,"
Arsen terhuyung menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil yang dingin. Tubuhnya yang tegap terguncang hebat oleh tangisan tanpa suara. Rasa bersalah yang teramat masif menghantam ulu hatinya, menghancurkan sisa-sisa kesombongan dan dendam buta yang selama tiga tahun ini ia rawat. Bahkan Tsania melewati wakytu tiga tahun dengan tidak mudah karena ancaman dan teror bertubi-tubi dari ayahnya sendiri.