Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Yang Dulu Menindas
Tatapan pertama datang dari meja terdekat. Tatapan berikutnya menyusul dari seluruh ruangan.
Laras masih memegang gagang pintu ketika seseorang menjatuhkan sendok ke piring. Bunyi kecil itu memecahkan keheningan. Bisik-bisik segera muncul, mula-mula pelan, lalu cukup jelas untuk ia dengar.
“Itu Laras?”
“Serius?”
“Beda banget.”
Ketua panitia reuni bangkit paling dulu dan melambaikan tangan. “Laras! Akhirnya datang juga. Sini, tempatmu di meja tengah.”
Laras melepaskan gagang pintu. Punggungnya tegak saat ia melangkah masuk. Gaun hijau gelap pilihan Wulan menangkap cahaya lampu dengan lembut, sementara ujung rambutnya bergerak di bahu setiap kali sepatu haknya menyentuh lantai.
Ia tidak menunduk.
Beberapa teman lama menyapanya dengan antusias yang terasa jujur. Sebagian lain mengangkat ponsel, entah untuk memeriksa grup atau diam-diam mengambil foto. Laras membalas salam seperlunya sebelum duduk di kursi yang telah disiapkan.
Sherly berada tepat di seberangnya.
Perempuan itu mengenakan blus dengan logo merek besar di dada. Tas yang tadi pagi muncul di Instagram Story diletakkan di atas meja, bukan di kursi kosong di sampingnya. Wajahnya masih tersenyum, tetapi jemarinya mencengkeram rantai tas terlalu erat.
“Aku sampai nggak kenal,” katanya. “Kamu berubah total.”
“Sudah lama nggak ketemu.” Laras mengambil gelas air.
“Iya, sih.” Sherly memiringkan kepala, mengamati hidung dan dagunya tanpa malu. “Tapi perubahanmu ekstrem banget. Pasti operasi plastik, ya?”
Suara di meja sekitar merendah. Orang-orang yang semula berpura-pura sibuk mendadak memasang telinga.
Laras meletakkan gelas tanpa bunyi.
“Kenapa hal pertama yang kamu pikirkan operasi plastik?”
Sherly tertawa kecil. “Ya karena hasilnya kelihatan. Nggak usah malu. Sekarang itu biasa.”
“Aku memang nggak malu.” Laras menatap lurus ke matanya. “Karena aku nggak pernah melakukannya.”
Senyum Sherly menegang.
“Tapi kamu benar, sekarang itu biasa,” lanjut Laras. “Klinik tempat kamu membentuk ulang hidung juga bilang begitu di Story mereka. Kamu repost tiga kali, kan?”
Seseorang di ujung meja gagal menahan tawa. Sherly refleks menyentuh hidungnya.
“Itu cuma perawatan.”
“Kalau begitu, kamu seharusnya paling paham bahwa menuduh orang tanpa ditanya itu nggak sopan.”
“Aku cuma bercanda.”
“Aku juga cuma mengingatkan.”
Laras tersenyum tipis. Tidak keras, tidak pula kasar. Justru ketenangannya membuat wajah Sherly semakin merah.
Seorang teman mencoba mengalihkan percakapan. “Sher, sekarang masih di perusahaan lama?”
Pertanyaan itu membuat rahang Sherly kaku.
Laras tidak perlu menambahkan apa pun. Dua minggu lalu, Sherly menghapus seluruh foto kantor dan memasang tanda Open to Work di profil profesionalnya. Seisi meja rupanya tahu. Mereka hanya selama ini terlalu sungkan bertanya.
“Lagi cari suasana baru,” jawab Sherly cepat.
“Bukannya divisi kamu kena pengurangan karyawan?” sahut seseorang dari meja sebelah.
Tawa kecil kembali pecah. Sherly meraih ponsel dan pura-pura membaca pesan.
Laras mengambil satu potong makanan pembuka. Tangannya tidak gemetar. Untuk pertama kalinya, ia melihat salah satu orang yang dulu membuatnya takut kehilangan kata-kata hanya karena satu pertanyaan sederhana.
Ternyata mereka tidak sebesar yang disimpan ingatannya.
“Jangan merasa menang dulu.”
Vina, yang duduk dua kursi dari Sherly, menyilangkan tangan. Gaun merahnya mencolok. Sebuah gelang mahal berkilau setiap kali ia menggerakkan pergelangan tangan.
“Sherly setidaknya jujur datang dengan penampilan sendiri,” katanya. “Ada orang yang baru kelihatan bagus sedikit saja sudah merasa paling hebat.”
Laras menoleh. “Aku belum bicara denganmu.”
“Memangnya aku perlu izin?”
“Nggak. Tapi kalau kamu ingin ikut mempermalukan diri sendiri, silakan.”
Beberapa orang spontan menutup mulut. Vina membelalak, seolah tidak menyangka Laras yang dulu diam saat dihina sekarang mampu membalas tanpa menaikkan suara.
Ponsel di meja mulai bergetar hampir bersamaan.
Satu orang membuka Instagram, lalu wajahnya berubah. Ia menyodorkan layar kepada teman di sebelah. Dalam hitungan detik, tangkapan layar yang sama berpindah dari satu ponsel ke ponsel lain.
Vina menatap mereka. “Kenapa?”
Tak ada yang menjawab.
Laras tidak berniat ikut melihat sampai ponsel di sampingnya didorong ke arah tengah meja. Di layar tampak sebuah unggahan dari akun gosip lokal. Foto pertama memperlihatkan Vina turun dari mobil hitam milik Pak Gunawan. Foto kedua menunjukkan mereka di lobi sebuah vila. Pada foto ketiga, tangan laki-laki itu melingkar di pinggang Vina, sementara cincin kawin terlihat jelas di jarinya.
Keterangan di bawahnya menyebut istri Pak Gunawan telah mengumpulkan bukti dan meminta warganet berhenti menandai anak-anak mereka.
Wajah Vina kehilangan warna.
“Itu editan.” Ia merampas ponsel dari tangan teman di sampingnya. “Aku kenal Pak Gunawan karena urusan bisnis.”
“Urusan bisnis di vila?” seseorang bertanya.
“Kami nggak berdua!”
“Tapi istrinya bilang kamu sudah diteror berkali-kali supaya menjauh.”
“Dia bohong!”
Suara Vina semakin tinggi. Ia membuka ponselnya sendiri, tetapi layar yang penuh notifikasi membuat jemarinya salah menekan. Pesan baru terus masuk. Unggahan itu rupanya sudah menyebar ke grup lain.
Sherly bergeser menjauh, pura-pura tidak mengenalnya.
“Kalian jangan sok suci,” desis Vina. “Kalian nggak tahu hubungan kami.”
“Benar,” kata Laras. “Kami cuma melihat bukti yang dibagikan istri sahnya.”
Dua kata terakhir membuat Vina menatapnya tajam.
Sebelum ia sempat membalas, pintu ruangan kembali terbuka.
Percakapan yang berlapis-lapis terputus untuk kedua kalinya malam itu.
Arkan berdiri di ambang pintu dengan kemeja abu gelap dan celana hitam. Ia tidak berdandan berlebihan, tetapi kehadirannya membuat beberapa laki-laki otomatis duduk lebih tegak. Seseorang di dekat pintu menyambutnya dengan tepukan keras di bahu.
“Kapten akhirnya datang!”
“Kami kira terbang lagi.”
“Baru selesai urusan,” jawab Arkan singkat.
Tiara tidak ada di ruangan itu untuk menyambutnya seperti yang ia janjikan di grup.
Tatapan Arkan menyapu meja-meja, berhenti pada Laras, lalu tidak segera berpindah.
Laras merasakan denyut di lehernya.
Seorang teman mengikuti arah pandang Arkan dan langsung bersiul. “Wah, kalian sudah saling kenal?”
“Kemarin baru dijodohkan, kan?” sahut yang lain.
“Pantas Laras datang cantik begini.”
Tawa dan godaan meledak. Laras ingin menyuruh mereka diam, tetapi Arkan sudah berjalan menuju meja tengah. Ia menarik kursi kosong tidak jauh darinya dan duduk seolah keributan itu tidak penting.
“Hai,” katanya kepada Laras.
Satu sapaan pendek itu memancing suara lebih ramai.
Di sisi lain meja, Vina masih berdiri dengan ponsel di tangan. Tak seorang pun lagi membahas penampilannya. Semua perhatian telah berpindah kepada Laras dan Arkan.
Wajah Vina berkerut.
“Kalian heboh banget cuma karena dia kelihatan beda,” katanya tajam. “Kalau mau bicara soal siapa yang pantas dekat sama siapa, sekalian lihat asal-usulnya.”
Laras menoleh perlahan.
Vina mengangkat dagu. Malu akibat unggahan tadi berubah menjadi kemarahan yang mencari sasaran baru.
“Kalian tahu nggak,” suaranya meninggi, “dia itu anak pelakor!”