Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kontrak Darah dan Percikan Sang Permaisuri
Yoo Ji-Ah menatap tangan yang terulur ke arahnya. Tangan itu besar, kasar, dan berlumuran darah monster yang bau busuknya menyengat hidung. Namun, di tengah dunia yang tiba-tiba berubah menjadi neraka ini, tangan tersebut terasa seperti satu-satunya tali keselamatan.
"Apa... apa maksudmu?" suara Ji-Ah bergetar, meski matanya menatap tajam ke arah mata hitam kelam Do-Yoon. "Siapa kau?"
"Seseorang yang tahu bagaimana cara bertahan hidup di dunia yang sudah gila ini," jawab Do-Yoon singkat.
Tanpa menunggu persetujuan gadis itu, Do-Yoon meraih lengan kiri Ji-Ah yang tidak terluka dan menariknya berdiri dengan satu sentakan kuat. Ji-Ah meringis kesakitan saat pergelangan tangan kanannya yang terkilir berdenyut nyeri.
Do-Yoon mengabaikan ringisan gadis itu. Ia membalikkan badan, berjalan menuju mayat Orc pertama yang tertancap kapak raksasanya di dinding beton. Makhluk besar itu ternyata belum sepenuhnya mati. Tubuhnya sesekali masih mengejang, mengeluarkan suara gurgal dari tenggorokannya yang dipenuhi darah hijau.
Do-Yoon mencabut parang berkarat dari tangan salah satu mayat Orc di dekatnya, lalu melemparkannya ke lantai, tepat di depan kaki Ji-Ah. Bunyi logam beradu dengan aspal terdengar nyaring.
"Ambil itu," perintah Do-Yoon dingin. Ia menunjuk ke arah Orc yang sedang meregang nyawa di dinding. "Dan akhiri penderitaan makhluk itu."
Mata Ji-Ah terbelalak ngeri. "K-kau menyuruhku membunuhnya? Tapi... tapi kau sudah melumpuhkannya! Ia sudah mau mati!"
"Sistem tidak memberikan hadiah kepada orang yang hanya menonton," sahut Do-Yoon tanpa emosi. "Kau butuh poin pengalaman untuk mendapatkan Pembangkitan Kelas. Tanpa kelas dan keahlian, kau tidak lebih dari sekadar sepotong daging segar bagi monster-monster di luar sana."
Do-Yoon melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ia bisa menatap langsung ke dalam mata gadis yang ketakutan itu.
"Kau punya dua pilihan, Yoo Ji-Ah. Ambil senjata itu, bunuh makhluk di depanmu, dan buktikan padaku bahwa kau berguna. Atau, kau dan adik kecilmu itu bisa bergabung dengan kerumunan pengecut di belakangmu dan menunggu giliran untuk dimakan."
Mendengar nama adiknya disebut, Ji-Ah tersentak. Ia menoleh ke belakang. Ji-Hye yang baru berusia delapan tahun sedang menangis memeluk lutut, menatapnya dengan pandangan memohon. Warga sipil lainnya hanya bisa meringkuk, tidak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat senjata atau bahkan bersuara.
Mereka menunggu seseorang untuk menyelamatkan mereka. Tetapi Ji-Ah sadar, tidak akan ada yang datang. Pria bersimbah darah di depannya ini adalah satu-satunya kenyataan yang tersisa.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ketakutannya perlahan memudar, tergantikan oleh naluri keibuan dan hasrat untuk melindungi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Dengan tangan kiri yang gemetar, Ji-Ah memungut parang berkarat yang berat itu. Ia melangkah perlahan mendekati Orc yang tertancap di dinding. Makhluk itu menatapnya dengan sepasang mata kuning yang dipenuhi kedengkian.
"Maafkan aku," bisik Ji-Ah pelan.
Ia mengangkat parang itu tinggi-tinggi, lalu dengan segenap sisa tenaga dan teknik anggar yang mendarah daging di tubuhnya, ia menusukkan ujung parang lurus menembus tenggorokan sang monster.
Crat!
Tubuh Orc itu tersentak hebat satu kali, sebelum akhirnya terkulai tak bernyawa.
[Anda telah memberikan serangan penyelesaian kepada Orc (Tingkat E).]
[Anda mendapatkan 100 Poin Pengalaman.]
[Anda telah mencapai Tingkat 1.]
[Syarat Pembangkitan Kelas telah terpenuhi.]
Cahaya putih bersih yang menyilaukan tiba-tiba meledak dari tubuh Yoo Ji-Ah. Udara di sekitarnya berputar layaknya angin puyuh kecil, meniup debu dan genangan darah di aspal.
Do-Yoon menyilangkan tangan di depan dada, menatap pemandangan itu dengan senyum tipis yang penuh perhitungan. Di kehidupan sebelumnya, Ji-Ah membangkitkan kelasnya dalam kondisi putus asa setelah lengannya hancur dan adiknya tewas. Kehilangan akal sehat membuatnya mendapatkan kelas dengan atribut gelap yang menggerogoti kewarasannya.
Kali ini, dengan keadaan yang sedikit lebih baik, Do-Yoon ingin melihat seberapa besar potensi asli gadis itu.
Cahaya putih perlahan meredup. Ji-Ah berdiri terengah-engah, namun raut wajahnya tidak lagi memancarkan ketakutan. Luka memar di pergelangan tangannya telah sembuh seketika berkat energi kebangkitan.
[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' menatap Anda dengan penuh kekaguman!]
[Rasi Bintang 'Penguasa Angin Utara' menawarkan sokongannya kepada Anda.]
Ji-Ah menatap layar biru transparan di depannya dengan kebingungan, namun Do-Yoon segera menyela.
"Tolak semua tawaran dari para Rasi Bintang," perintah Do-Yoon tegas. "Mereka akan menuntut bayaran yang jauh lebih mahal dari kekuatan yang mereka berikan. Pilihlah jalan kemandirian."
Meski ragu, Ji-Ah entah mengapa merasa harus mematuhi perkataan pria misterius yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Ia menolak penawaran tersebut di dalam pikirannya.
"Kelas apa yang kau dapatkan?" tanya Do-Yoon.
Ji-Ah membaca tulisan di depannya. "Ahli Pedang Angin Bersih... Tingkat Pahlawan."
Mata Do-Yoon sedikit berbinar. Tingkat Pahlawan. Hanya satu tingkat di bawah Tingkat Legenda, dan dua tingkat di bawah Tingkat Mitos miliknya. Untuk sebuah Pembangkitan awal tanpa sokongan Rasi Bintang, itu adalah potensi yang luar biasa.
"Bagus," puji Do-Yoon singkat. Ia lalu melangkah maju dan mencabut kapak raksasanya dari dada mayat Orc. Ia menoleh ke arah Ji-Hye yang masih menangis. "Bawa adikmu. Kita pergi dari sini sekarang."
Melihat dua orang kuat itu bersiap untuk pergi, salah seorang pria paruh baya dari kerumunan warga sipil akhirnya memberanikan diri untuk berdiri.
"T-tunggu! Kalian mau ke mana?!" seru pria itu panik. "Kalian harus membawa kami juga! Anak muda, kau sangat kuat! Tolong antarkan kami ke pos polisi atau markas militer terdekat! Aku akan membayarmu berapapun yang kau mau. Aku ini direktur di perusahaan besar—"
Do-Yoon menghentikan langkahnya. Ia menoleh dari balik bahunya. Tatapannya begitu dingin hingga membuat pria paruh baya itu menelan ludah dan terdiam seketika.
"Uangmu tidak lebih berharga dari tisu toilet bekas di dunia ini, Paman," ucap Do-Yoon datar. "Jika kalian ingin hidup, pungut senjata dari mayat monster-monster itu dan bertarunglah. Bersembunyi di balik punggung orang lain hanya akan mempercepat kematian kalian."
"K-kau monster! Tidak punya hati nurani!" teriak seorang wanita histeris dari belakang.
Do-Yoon hanya mendengus pelan, sama sekali tidak peduli. Ia terus berjalan menyusuri trotoar yang hancur. Ji-Ah bergegas menggendong Ji-Hye di punggungnya, menggenggam parangnya erat-erat, dan berlari menyusul langkah Do-Yoon.
Gadis itu tidak membantah ucapan Do-Yoon kepada warga sipil. Pengalaman nyaris mati beberapa menit yang lalu telah menyadarkannya bahwa hukum dunia memang telah berubah. Yang kuat bertahan, yang lemah binasa.
"Ke mana tujuan kita?" tanya Ji-Ah setengah berlari, berusaha menyamai langkah panjang Do-Yoon.
"Supermarket terdekat untuk mengumpulkan perbekalan, lalu mencari tempat berlindung yang tinggi," jawab Do-Yoon seraya menengadah ke arah langit sore.
Tiba-tiba, bumi bergetar hebat. Retakan aspal di tengah perempatan Gangnam membesar dengan cepat. Udara di sekitar mereka seketika menjadi sangat panas dan berbau belerang pekat.
Dari dalam retakan aspal tersebut, pilar cahaya berwarna merah darah menyembur tinggi ke angkasa, membentuk sebuah gerbang melingkar raksasa yang berputar seperti pusaran air.
[Peringatan Darurat!]
[Gerbang Dimensi Tingkat C (Gerbang Merah) telah muncul secara tidak wajar di Distrik Gangnam!]
[Udara di sekitar Anda terkontaminasi oleh energi iblis.]
Mata Do-Yoon menyipit tajam. Tangan kanannya mencengkeram gagang kapaknya dengan kuat.
Di kehidupan sebelumnya, tidak ada kemunculan Gerbang Merah di hari pertama kiamat. Sesuatu, atau seseorang dari luar angkasa sana, telah menyadari keberadaannya dan mencoba merusak alur waktu yang seharusnya.
"Sepertinya," gumam Do-Yoon dengan senyum sinis yang mengembang, "ada Rasi Bintang yang tidak suka dengan kepulanganku."
jangan lupa hadir juga 😉