Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Tuan Gerald meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan denting halus yang memecah keheningan, sorot matanya yang berpengalaman menatap lurus ke arah Kyra dan mengamati setiap jengkal ekspresi di wajah gadis yang baru saja memberikan keputusannya.
"Bagus, jika Brian tidak berkeberatan dan kau sendiri menyatakan siap, maka pernikahan ini akan tetap dilaksanakan," ujar Tuan Gerald dengan suara berat penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Papa Freddy langsung mengulas senyum lebar yang nyaris merobek pipinya, "Terima kasih banyak, Tuan Besar Gerald! Kami sangat berterima kasih atas kebaikan...,"
"Namun aku tidak suka membuang waktu untuk hal yang sudah jelas," potong Tuan Gerald dingin dan menghentikan kalimat Papa Freddy seketika, pria tua itu memperbaiki posisi duduknya dan menatap seluruh anggota keluarga yang ada di ruangan tersebut.
"Acara pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi," sambung Tuan Gerald.
"Tiga hari!" seru keluarga Andreas.
Ruangan itu kembali diguncang ketakutan dan keterkejutan luar biasa, tiga hari adalah waktu yang sangat singkat dan nyaris tidak masuk akal untuk menggelar sebuah pernikahan antar keluarga konglomerat papan atas.
"Tuan Besar... apakah tiga hari tidak terlalu cepat?" bisik Mama Dania dengan suara bergetar gagap.
"Persiapan gaun, gedung, dan udangan...,"
"Semua itu akan ditangani sepenuhnya oleh keluarga Raymond,kalian hanya perlu memastikan calon pengantin wanita hadir tepat waktu dalam keadaan utuh tanpa ada lecet sedikit pun. Tiga hari, tidak ada penundaan," tegas Tuan Gerald dan tidak ingin ada bantahan.
Kyra meremas gaunnya hingga jemarinya memutih dan memucat. 'Tiga hari? Waktu tiga hari terlalu singkat untuk mempersiapkan mentalnya, apalagi menyusun strategi balas dendam,' batinnya menjerit ketakutan.
Saat ini, Kyra merasa seperti domba yang baru saja diseret paksa menuju meja pembantaian tanpa sempat bernapas.
Namun, pandangan Kyra tak sengaja berbenturan kembali dengan manik mata gelap milik Brian. Pria itu masih berdiri di depannya dengan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi dan ejekan, seolah Brian tahu bahwa batas waktu tiga hari itu sukses membuat mental Kyra terguncang hebat.
Bagi keluarga Andreas, keputusan keluarga Raymond adalah hukum mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, menolak berartikan kehancuran bisnis mereka detik itu juga.
Setelah acara makan malam yang mencekam berakhir, Kyra tidak dikembalikan ke gudang belakang keluarga Andreas yang panik akan waktu tiga hari langsung memindahkan Kyra ke kamar tamu di lantai dua mansion utama. Bukan karena kasih sayang yang tiba-tiba tumbuh, melainkan karena rasa takut mereka jika calon menantu keluarga Raymond terlihat menyedihkan saat hari pernikahan tiba.
Di dalam kamar yang luas namun terasa dingin itu, Kyra mengunci pintu rapat-rapat. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia merogoh ponsel rahasianya dari dalam lipatan baju dan segera menghubungi Yolla.
Kyra: Yolla! Rencananya berantakan! Pernikahan itu... mereka menetapkan waktunya tiga hari lagi! Tiga hari, La!
Di seberang telepon, Yolla sempat hening sejenak sebelum menghela napas panjang.
Yolla: Tiga hari? Bagaimana reaksi calon suamimu?
Kyra: Dia mengerikan, sepertinya dia tahu kalau aku dipaksa menggantikan posisi Sherly! Dia bahkan tahu soal kehamilan Sherly. Tatapannya... dia seperti pemangsa yang siap mengulitiku hidup-hidup. Aku takut, La. Bagaimana kalau sebelum aku sempat membalas dendam pada keluarga Andreas, dia sudah lebih dulu menghancurkanku?
Yolla: Dengarkan aku baik-baik, Kyra! Dia tidak mungkin menghancurkanmu, percaya denganku. Sekarang, kamu terima perjodohan ini dan manfaatkan kekuasaan suamimu nanti untuk menghancurkan keluargamu.
Kyra: Apa aku bisa memanfaatkan dia untuk menghancurkan keluargaku?
Yolla: Pasti bisa!
Kyra: Oh ya, sekarang kamu masih tinggal di kos?
Yolla: O-oh itu, iya. Aku masih tinggal di kos...
Kyra: Aku minta alamatnya, nanti aku bisa datang kesana.
Yolla: Jangan... kosnya jelek, kalau ada apa-apa aku yang datang atau kita ketemuan dimana gitu. Udah ya, aku tutup dulu...
Sambungan telepon pun terputus, Kyra menatap ponselnya dengan tatapan bingung. "Ngomong-ngomong aku juga masih belum kenal sama Yolla, meskipun dia udah bantu aku. Tapi, dia juga tidak cerita siapa dia dan darimana dia sampai bisa di rumah Paman dan Bibi?" gumam Kyra bertanya-tanya.
Disisi lain, suasana di dalam ruang privat sebuah kelab malam eksklusif di pusat kota itu bertolak belakang dengan kepanikan yang melanda mansion keluarga Andreas. Bau asap rokok, dentuman musik berfrekuensi rendah dari lantai bawah dan denting gelas kristal memenuhi ruangan yang didominasi dinding kaca gelap tersebut.
Di atas meja kayu mahoni besar, puluhan lembar uang kertas pecahan ratusan ribu dan beberapa kartu poker berserakan, Yolla duduk santai di sebuah sofa kulit hitam dan menyilangkan kakinya yang jenjang dengan gaya anggun namun liar.
Yolla baru saja melemparkan ponselnya ke atas meja setelah memutuskan sambungan telepon dari Kyra.
"Nona Kyra yang menelepon?" tanya seorang pria bertubuh tegap dengan tato naga mengintip dari balik kerah kemeja hitamnya.
Yolla menyesap minuman beralkohol di gelasnya dan menyunggingkan senyuman tipis yang sangat misterius. "Iya, Nona ketakutan karena waktu pernikahan dipercepat menjadi tiga hari," jawabnya santai.
Pria lain yang sejak tadi hanya diam memperhatikan permainan, ikut angkat bicara. "Pastikan Nona Kyra tidak baik-baik saja, Yolla. Kau tahu betul, keselamatan Nona Kyra adalah prioritas utama. Jika sampai lecet sedikit saja sebelum acara tiga hari lagi, Bos tidak akan melepaskan kepala kita," ucapnya.
Yolla terkekeh pelan, tawa yang penuh rahasia dan sedikit sarkasme, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menatap kedua pria tegap di hadapannya.
"Kalian tidak perlu mengajariku, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tuan sudah memberiku tugas untuk menjaga Nona Kyra, dan aku akan menjaganya," ucap Yolla.
Tak lama kemudian, pintu tebal yang membatasi ruang privat kelab malam itu terdorong terbuka, suara denting engselnya yang berat seketika membekukan gelak tawa kecil Yolla.
Dua sosok pria melangkah masuk. Di depan, sosok jangkung berbalut setelan jas hitam, berdiri menjulang dan memancarkan dominasi yang membuat udara di dalam ruangan mendadak terasa menghimpit.
Brian Sebastian Raymond melangkah masuk dengan tangan kanan terbenam di saku celananya, sementara di belakangnya ada Mark yang merupakan asisten pribadi sekaligus kepercayaan Brian, mengikuti dengan wajah dingin serba formal sembari membawa sebuah map dokumen tebal.
Kedua pria tegap bertato yang sebelumnya duduk di seberang Yolla dan beberapa pria lain yang ada di ruangan pun refleks berdiri tegap dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan raut wajah penuh hormat dan ketakutan yang membeku.
Yolla tidak memperlihatkan sedikit pun rasa terkejut, wanita itu perlahan menurunkan kakinya dari atas meja dan merapikan gaun cantiknya, lalu berdiri dan memberikan penghormatan yang sama.
"Tuan Brian," sapa Yolla dengan suara tenang dan sangat formal.
Brian tidak langsung menjawab, manik mata gelapnya yang setajam sembilu menyapu seluruh sudut ruangan dan menatap botol-botol minuman mahal, tumpukan kartu poker, hingga berhenti tepat di wajah Yolla. Pria itu berjalan santai menuju sofa utama, mendudukkan dirinya dengan gerakan yang sangat gagah namun berbahaya.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧