Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 BAPAKKU
((Kita berpindah sudut pandang, ke Harumi))
.....
.....
"ORANG TUA KANDUNG SAYA, MENINGGAL KARENA JADI TUMBAL, BU..."
Ketika kujawab begitu, apa adanya, sejujur-jujurnya,
Kulihat Haruma dan Ibunya malah seperti terkejut.
Aku pun jadi mengerutkan dahiku sendiri. Kutatap wajah ibunya Haruma, kutatap juga wajah Haruma.
Sungguh, aku heran dengan ekspresi mereka berdua.
"Emmm... Ibu? Kenapa?" tanyaku.
Alih-alih menjawab, mereka berdua malah saling pandang satu sama lain. Seolah juga, kedua mata buta putihnya Haruma itu bisa melihat dengan jelas wajah ibunya itu.
"Ibu? Haruma? Kenapa? Kok, jadi diem gitu?" tanyaku dengan perasaan heran.
Aku tak mengerti sama sekali atas ekspresi mereka.
Ada apa sebenarnya?
Apakah aku salah telah menjawab sejujurnya tentang keluargaku itu?
"Ibu? Haruma? Iiiihhh... Jangan diem gitu dooong..." kataku lagi.
"Harumi, tunggu dulu." kata ibunya Haruma.
Sekarang, kurasakan tatapan kedua matanya begitu serius menatapku. Seolah, batinku merasakan sebuah tekanan dari pandangan matanya itu. Dan jujur, aku jadi sedikit merasa tak nyaman.
"Kamu, jawab apa barusan?" tanya ibunya Haruma.
Aku jadi heran lagi, padahal sudah jelas kujawab dengan jelas.
"Iya, Bu. Orang tua kandung saya meninggal karena jadi tumbal, Bu." akhirnya kuulangi saja jawabanku. Ya karena memang begitulah kenyataannya.
"Harumi..." kini Haruma memanggilku, sambil menatapku dengan kedua mata butanya.
Tatapan Haruma juga terasa menekan batinku.
"Iya, Haruma? Kenapa?" tanyaku.
"Kok, kita berdua, sama lagi?" tanyanya.
"Hah? Sama lagi? Ma-maksudnya gimana?" tanyaku semakin heran dan penasaran.
"Bapak Ibu kandungku juga meninggal, karena jadi tumbal mereka sendiri." jelasnya.
"Hah?! Apa?! A-apa, Haruma?!"
Sungguh, aku merasa tak percaya dengan perkataan teman baruku itu. Aku seperti tak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya, Harumi. Kedua orang tua aku, meninggal, karena jadi korban tumbal pesugihan mereka sendiri." jelas Haruma lagi.
Aku pun jadi diam.
Terasa menganga sedikit mulutku mendengarnya.
Kini, kualihkan tatapanku pada ibunya Haruma.
"Bu, beneran gak, sih? Beneran Haruma bilang itu, Bu?" tanyaku.
Dan, ibunya Haruma pun mengangguk pelan.
Aku jadi menatap dua tanganku yang sedari tadi kuremas-remas sendiri.
Dan... Seketika muncul dalam pikiranku, sebuah pertanyaan yang entah datang dari mana.
"Haruma..." panggilku.
"Iya, Harumi?" jawabnya.
"Emmm... Maaf, aku jadi mau tanya juga sama kamu. Boleh?"
"Iya, tanya aja Harumi. Apa?"
"En-Na-Na, Nama orang tuamu siapa?"
Dan Haruma menjawab dengan jujur.
"Nama orang tua kandungku, Diki dan Fitri..."
"Hah?!"
Jawaban Haruma itu amat sangat mengejutkan batinku.
Aku semakin merasa tak percaya saat mendengar nama "Diki".
Jantungku berdebar lebih cepat.
Napasku terasa tertahan seketika.
Kedua tanganku gemetar halus.
"Loh? Kenapa, Harumi? Kok kamu kayak kaget begitu, sih?" tanya ibunya Haruma.
Kualihkan pandanganku pada ibunya Haruma itu.
Dengan napasku yang terasa berhenti, dua bibirku yang terasa gemetar halus, ingin sekali rasanya kujawab pertanyaannya itu.
Tapi, terasa tercekik napasku. Aku hanya bisa diam saja akhirnya beberapa saat.
"Harumi? Kenapa? Ada apa, Nak?" tanya ibunya Haruma sekali lagi.
"E-e-em, I-I-Ibu..." suaraku gemetar pelan.
"Kenapa? Kenapa, Harumi?" tanya Haruma juga.
"Di-Di-Diki itu..." sangat terasa tercekik napasku.
Sangat ingin kukatakan sesuatu pada mereka berdua.
"Kenapa? Kenapa sama nama Bapakku, Harumi?" desak Haruma.
Dengan penuh keberanian yang terasa sangat dicekik ini, aku pun menjawab dengan amat sangat jujur.
"DIKI ITU... NAMA ALMARHUM BAPAKKU, HARUMA..."