"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Wasiat
Siang itu, suasana lantai teratas gedung Atmajaya Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Sejumlah jajaran direksi dan manajer divisi tengah menghadiri rapat mingguan yang dipimpin langsung oleh Dirga Atmajaya diruang rapat utama perusahaan.
Pria itu duduk di kursi paling ujung meja rapat dengan ekspresi datar, sesekali membolak-balik beberapa dokumen yang berada di hadapannya. Kehadirannya selalu berhasil membuat suasana ruangan menjadi lebih serius. Tidak ada yang berani menganggap remeh sebuah rapat jika Dirga yang memimpinnya secara langsung.
"Pak Dirga, laporan kerja sama dengan perusahaan Jepang sudah kami revisi."
Seorang manajer divisi menyerahkan berkas yang baru saja selesai diperbaiki. Dirga menerimanya dengan wajah datar sebelum membuka beberapa halaman di dalamnya.
Ruang rapat yang semula dipenuhi suara presentasi mendadak menjadi sunyi. Semua orang di sana mengetahui satu hal...Dirga bukanlah atasan yang mudah di puaskan.
"Siapa yang menyetujui draft ini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas ditangannya.
"Saya, Pak."
"Kalau begitu, mulai sekarang biasakan membaca laporan yang Anda setujui sebelum di berikan kepada saya."
Pria itu menelan ludahnya sendiri. "Apakah ada yang salah, Pak?"
"Halaman ketiga dan keempat memiliki data yang berbeda. Nilai investasi yang di cantumkan tidak sama. Saya tidak perlu menjelaskan kepada Anda seberapa fatal kesalahan seperti ini, bukan?"
"Saya minta maaf, Pak."
Dirga meletakkan berkas tersebut di atas meja rapat.
"Perbaiki sekarang juga."
"Baik, Pak."
Tak ada yang berani membantah. Dirga memang di kenal sebagai sosok yang dingin, tegas, dan perfeksionis. Baginya, kesalahan sekecil apa pun tidak boleh terjadi, terlebih jika menyangkut perusahaan yang telah ia kelola selama bertahun-tahun.
Beberapa menit setelah rapat selesai, Robi asistennya menghampiri Dirga yang sedang membereskan laptopnya.
"Pak, makan malam dengan Nona Viona pukul tujuh malam. Mobil juga sudah di siapkan," ujarnya.
Dirga melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ada jadwal lain setelah ini?"
"Sudah saya kosongkan seperti permintaan Bapak."
Dirga mengangguk pelan. Jarang sekali ia meminta jadwalnya di kosongkan untuk urusan pribadi. Bahkan Robi tau betul bahwa satu-satunya orang yang mampu membuat Dirga pulang tepat waktu hanyalah Viona.
"Kalau begitu, saya pulang sekarang."
Robi mengangguk hormat sebelum mengantar atasannya keluar dari ruang kerja.
Dirga Atmajaya dikenal sebagai sosok yang dingin dan perfeksionis. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, ia telah berhasil membawa perusahaan keluarganya menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Bagi Dirga, pekerjaan adalah prioritas, sedangkan kehidupan pribadinya hanya memiliki satu pengecualian....Viona.
Sudah hampir lima tahun mereka menjalin hubungan. Viona adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuat Dirga meluangkan waktunya di tengah jadwal yang padat.
Hubungan yang dijalaninya bersama Viona bukan lagi sekadar hubungan asmara. Di usianya kini, ia sudah memikirkan masa depan yang lebih serius bersama perempuan itu.
Beberapa minggu lalu, ia bahkan telah membeli sebuah cincin yang hingga kini masih tersimpan rapi di dalam brankas pribadinya. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam dirinya untuk membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
Jika ada satu perempuan yang ingin ia jadikan istri, maka perempuan itu adalah Viona.
...****************...
Malam itu, Dirga mengajak Viona makan malam di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota. Di hadapan mereka tersaji berbagai hidangan favorit Viona yang sengaja di pesan oleh Dirga sebelum perempuan itu datang.
"Aku pikir kamu akan membatalkan makan malam ini karena pekerjaan," ujar Viona sambil tersenyum.
"Aku tidak pernah membatalkan janji yang sudah aku buat."
Viona terkekeh pelan. Sikap dingin Dirga memang tidak pernah berubah sejak awal mereka berpacaran. Namun, justru itulah yang membuatnya merasa istimewa. Sebab, di balik sikap dinginnya, Dirga selalu mengingat hal-hal kecil yang ia sukai.
"Jadi, kapan aku akan mendapatkan cincin itu?" g0danya.
Dirga mengangkat sebelah alisnya. "Cincin?"
"Jangan berpura-pura tidak mengerti, Dirga. Kita sudah hampir lima tahun bersama."
Dirga tersenyum tipis sebelum menjawab, "Sebentar lagi."
Jawaban singkat itu berhasil membuat Viona membelalakkan mata. Ia tahu Dirga bukan tipe pria yang suka mengumbar janji. Jika pria itu mengatakan 'sebentar lagi', maka kemungkinan besar semuanya memang sudah dipersiapkan.
Di dalam saku jasnya, Dirga memang telah menyimpan sebuah kotak kecil berisi cincin yang sengaja belum di berikannya malam ini. Ia sudah memiliki rencana untuk melamar Viona dalam waktu dekat.
Namun, sebelum obrolan mereka berlanjut, ponsel Dirga yang tergeletak di atas meja kembali bergetar. Nama sang ibu muncul untuk ketiga kalinya malam itu.
Dirga mengernyitkan dahinya.
"Ibumu lagi?" tanya Viona.
Dirga mengangguk singkat lalu menekan tombol silent tanpa mengangkat panggilan tersebut.
"Sepertinya penting."
"Aku akan menghubunginya nanti."
...****************...
Makan malam mereka pun berakhir seperti biasa.
Dirga tidak langsung menjalankan mobilnya setelah Viona turun. Pandangannya masih tertuju pada pintu rumah sang kekasih yang perlahan tertutup.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan. Meski tidak pernah menjadi pria yang romantis, Dirga selalu memiliki caranya sendiri dalam menunjukkan keseriusannya.
a tidak pandai mengucapkan kata-kata manis atau memberikan kejutan yang berlebihan, tetapi setiap keputusan besar dalam hidupnya selalu dipikirkannya dengan matang.
Termasuk mengenai pernikahan.
Dirga merasa sudah waktunya untuk membangun keluarga kecil bersama perempuan yang di cintainya. Bahkan dalam beberapa minggu ke depan, ia telah berencana menemui kedua orang tuanya untuk membicarakan hubungan mereka secara resmi.
Dirga menghela napas pelan sebelum menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi. Jika semuanya berjalan sesuai rencananya, bukan tidak mungkin tahun ini menjadi awal dari kehidupan barunya bersama Viona.
Setelah mengantar Viona pulang, Dirga akhirnya memutuskan untuk menghubungi ibunya di dalam mobil.
"Iya, Bu."
"Kamu di mana sekarang?" tanya Laras dari seberang sana.
"Baru saja mengantar Viona pulang."
"Pulang ke rumah sekarang juga. Ada hal penting yang harus dibicarakan."
Nada bicara ibunya terdengar serius.
"Ada apa?"
"Pengacara keluarga sudah menunggu dari tadi. Kamu harus datang malam ini."
Dirga terdiam beberapa saat. Ia jarang melihat ibunya berbicara seserius itu.
"Baik. Aku akan segera pulang."
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil hitam miliknya memasuki halaman rumah utama keluarga Atmajaya.
Begitu masuk kedalam rumah.l, Dirga sedikit terkejut ketika mendapati kedua orang tuanya sudah menunggu di ruang keluarga bersama seorang pria paruh baya yang di kenalnya sebagai pengacara keluarga mereka.
"Ada apa sampai malam-malam begini?" tanyanya sambil duduk di sofa.
Pengacara itu membuka sebuah map cokelat yang terlihat cukup tebal sebelum menatap Dirga.
"Tuan Dirga Atmajaya, malam ini saya akan membacakan surat wasiat terakhir dari mendiang kakek Anda."
Kening Dirga langsung berkerut.
"Surat wasiat? Bukankah sudah di bacakan setelah kakek meninggal waktu itu?"
"Benar. Tapi sesuai amanat beliau, surat wasiat yang terakhir ini baru boleh di bacakan setelah Anda genap berusia tiga puluh tahun."
Dirga menatap map berwarna cokelat yang berada di atas meja dengan kening berkerut. Selama tiga puluh tahun hidupnya, sang kakek tidak pernah sekalipun menyinggung soal surat wasiat tedakhir kepadanya.
Ia sempat berpikir bahwa surat itu hanya berisi pembagian aset atau saham perusahaan yang selama ini memang berada dibawah pengelolaannya.
"Tuan Dirga Atmajaya, apakah Anda siap untuk mendengarkan isi surat wasiat dari mendiang kakek Anda?" tanya sang pengacara.
Dirga menyandarkan tubuhnya pada sofa sambil menghela napas pelan.
"Silahkan," jawabnya singkat.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa satu kata sederhana yang baru saja diucapkannya akan menjadi awal dari masalah terbesar dalam hidupnya.