NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Malam Pertama Di Sangkar Emas

Deru mesin mobil Alphard hitam itu perlahan meredup saat membelah kegelapan area basement eksklusif dari sebuah gedung pencakar langit di kawasan bisnis SCBD. Lampu-lampu sorot bernuansa modern menerangi deretan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di sana, menandakan kawasan ini hanya dihuni oleh orang-orang terpilih dari kalangan kelas atas.

Aura Zhafira menatap keluar jendela mobil yang gelap dengan perasaan campur aduk. Di pangkuannya, sebuah tas pribadi berukuran sedang berisi beberapa potong pakaian dan keperluan dasarnya terasa begitu berat seberat keputusan besar yang baru saja ia tanda tangani satu jam yang lalu di restoran.

Pak Aslan dengan cepat membukakan pintu mobil dari luar. "Silakan turun, Nona Zhafira. Tuan Reno sudah menunggu di depan lift pribadi."

Aura mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak Aslan."

Ia melangkah keluar dari mobil, mengusap bahunya yang terasa agak dingin seraya menyusul langkah Reno yang sudah berdiri di depan pintu lift beraksen emas. Pria itu berdiri begitu tegap, menempelkan kartu akses khusus dan melakukan pemindaian sidik jari sebelum pintu lift berdenting halus dan terbuka lebar.

Selama perjalanan naik menuju lantai paling atas penthouse, tidak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Keheningan yang mencengkeram di dalam lift kaca itu terasa begitu pekat. Reno berdiri tegap di sudut lift, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya sembari menatap angka lantai yang terus bertambah di layar digital dengan tatapan kosong. Aura sendiri memilih menunduk, meremas tali tasnya erat-erat demi meredam rasa canggung dan gugup yang membakar dadanya.

Denting!

Pintu lift terbuka pelan, langsung menyajikan pemandangan sebuah penthouse dua lantai yang sangat luas, megah, dan mewah. Dinding-dinding kaca setinggi lima meter menampilkan lanskap gemerlap sinar lampu metropolitan Jakarta di bawah naungan malam. Interior ruangan didominasi warna hitam, abu-abu marmer, dan aksen kayu gelap,desain minimalis yang terkesan sangat maskulin, dingin, namun memancarkan kekuasaan.

"Ini tempat tinggal saya," ujar Reno datar, melangkah masuk ke atas lantai marmer yang dingin dan mengkilap. "Dan mulai malam ini, ini juga tempat tinggalmu selama satu tahun ke depan."

Aura melangkah ragu-ragu mengikuti arah langkah Reno. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang terasa begitu hampa, sepi, dan asing. Tidak ada hiasan hangat atau foto keluarga; rumah ini benar-benar mencerminkan pemiliknya yang berhati es.

"Pekerja rumah tangga hanya datang dari pagi sampai sore untuk membersihkan ruangan dan menyiapkan makanan," terang Reno seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di lengan sofa kulit. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan santai. "Malam hari tidak akan ada orang lain di rumah ini selain kita berdua."

Aura menelan ludah yang terasa menyumbat di tenggorokan. "Baik, Mr. Adhyastha."

Reno memutar tubuhnya perlahan, menatap Aura dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang tajam. "Panggil saya Reno saat kita sedang berdua saja. Terlalu kaku jika kamu terus memanggil saya dengan sebutan formal seperti itu di dalam rumah."

Aura tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Reno." Nama itu terasa sangat aneh dan berat saat diucapkan oleh bibirnya.

Reno kemudian berbalik dan memandu Aura menyusuri koridor lantai atas. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berwarna cokelat terang, memutar gagang pintunya, dan menggeser pintu tersebut hingga terbuka lebar.

"Ini kamarmu," kata Reno singkat.

Aura melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dan seketika matanya membelalak kaget. Kamar tidur itu sangat luas, lengkap dengan kamar mandi dalam berkonsep spa dan area walk-in closet yang megah. Namun yang membuat Aura benar-benar terpaku adalah warna dekorasi ruangan tersebut. Berbeda total dengan bagian luar rumah yang serba gelap dan kaku, kamar ini didominasi warna dusty pink dan putih lembut yang hangat.

Di atas tempat tidur berukuran king size, terhampar sprei berbahan sutra berwarna pink pastel yang sangat elegan. Bahkan di atas meja rias, sudah tertata beberapa produk perawatan wanita dan aroma terapi beraroma mawar lembut yang menenangkan.

Aura menoleh pada Reno dengan dahi berkerut heran. "Ini... kenapa tema kamarnya berwarna pink?"

Reno berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar seolah enggan menatap langsung mata Aura. "Pak Aslan yang menyiapkan seluruh dekorasi dan belanjaan ini sore tadi. Dia yang mencari tahu warna favoritmu dari data pribadi yang dikumpulkan tim saya."

Dada Aura berdesir pelan. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyelinap di sudut hatinya. Meskipun pria di hadapannya selalu menegaskan bahwa semua ini dilakukan murni demi kepraktisan transaksi bisnis, kenyataan bahwa ruangan ini disiapkan secara khusus untuk kenyamanannya tetap membuat hati Aura tersentuh.

"Terima kasih... ini benar-benar terlalu bagus," ucap Aura tulus dengan senyuman tipis.

Reno hanya mengangguk singkat, dengan cepat kembali memasang raut wajah dinginnya yang tak tersentuh. "Kamar saya berada di ujung koridor, tepat di sebelah ruang kerja utama. Aturan di rumah ini jelas: jangan pernah masuk ke kamar pribadi atau ruang kerja saya tanpa izin."

"Saya mengerti," balas Aura patuh.

"Satu hal lagi," tambah Reno, memberikan penekanan tegas pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Besok pagi jam delapan tepat, tim dari dinas kependudukan dan petugas catat sipil akan datang ke penthouse ini secara tertutup untuk memproses pernikahan hukum kita. Setelah berkas selesai, jam sepuluh pagi kita harus berangkat ke kediaman Nenek saya di kawasan Menteng."

Napas Aura tertahan. "Nenekmu?"

"Ya. Nenek adalah orang paling krusial dalam rencana ini," jelas Reno dingin. "Beliau adalah pemegang saham terbesar Adhyastha Group dan orang yang paling gencar menuntut saya untuk segera berkeluarga. Kamu harus berakting sebagai calon istri yang sempurna di hadapannya. Jangan sampai ada sedikit pun celah atau kecanggungan yang membuat Nenek curiga bahwa kita menikah hanya karena sebuah kontrak."

Aura menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali seluruh rasa percaya dirinya. Ia adalah seorang presenter TV profesional yang terbiasa berhadapan dengan kamera siaran langsung dan tokoh-tokoh penting negara. Jika berakting adalah bagian dari kewajiban kontraknya, maka ia akan melakukannya dengan sempurna.

"Kamu tidak perlu khawatir. Berakting dan menjaga sikap profesional di depan publik adalah keahlian saya," ujar Aura tegas dengan tatapan mata yang tenang dan anggun.

Reno sempat tertegun sejenak, terpesona oleh pendar keberanian dan keteguhan di wajah cantik Aura yang terbingkai hijab pink-nya. Namun dengan cepat, CEO berhati es itu menguasai ekspresinya kembali.

"Bagus kalau begitu," kata Reno datar. "Istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang untuk kita berdua."

Reno berbalik dan menutup pintu kamar tersebut dari luar, meninggalkan suara klik halus yang mengunci ruangan itu.

Aura melangkah mendekati tempat tidur empuk berwarna pink pastel tersebut, lalu meluruhkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan sejuta gejolak rasa di dalam dada. Malam ini, di dalam penthouse mewah ini, kisah barunya sebagai istri rahasia sang CEO dingin resmi dimulai.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!