NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16.Tetap di sampingmu.

Keheningan kembali menyelimuti halaman belakang, hanya terdengar suara angin malam yang berdesir pelan di antara dedaunan, seolah turut merenungi setiap kata yang baru saja terucap. Raisa tetap diam terpaku, pandangannya menerawang jauh seolah mencoba menembus dinding waktu yang memisahkan masa kini dari masa lalu yang kelam milik Arya. Selama ini ia selalu mengira sosok yang mendiami rumah itu hanyalah makhluk gaib yang angkuh, dingin, suka memerintah seenaknya, dan mengurungnya tanpa alasan yang jelas. Ia sering merasa kesal, merasa terasing, dan berpikir bahwa Arya hanyalah sosok yang menganggap dirinya lebih tinggi dari manusia biasa. Namun kini... semua anggapan itu runtuh seketika digantikan oleh rasa haru yang mendalam. Pria di hadapannya pernah memiliki keluarga yang utuh, pernah merasakan hangatnya kasih sayang, pernah memiliki masa depan yang cerah, namun semuanya dirampas dengan kejam oleh pengkhianatan dan fitnah yang tak adil. Ia kehilangan kemanusiaannya sendiri demi membalaskan dendam, lalu hidup sendirian berabad-abad lamanya hanya demi menepati satu janji suci yang tak pernah ia ingkari walau harus menanggung rasa sakit yang abadi.

Tak ada satu pun makhluk, manusia maupun gaib, yang pantas menanggung kesepian seberat itu sendirian selama ratusan tahun.

“Kau bodoh...”

Suara Raisa begitu lirih dan tertahan, hampir tenggelam dalam desiran angin malam, hingga Arya nyaris tak mendengarnya. Namun indra pendengarannya yang tajam menangkap getaran itu dengan jelas. Ia perlahan menoleh, menatap gadis di sampingnya dengan sedikit kerutan di dahi, seolah tak percaya mendengar kata itu keluar dari mulut seseorang yang baru hidup bersama nya.

“Bodoh?” ulangnya pelan, nadanya penuh tanya yang tak tersampaikan.

Raisa mengangguk pelan, air mata yang sempat berhenti kini kembali menggenang namun ia berusaha menahannya agar tak jatuh. “Ya, bodoh sekali. Kau terus memikul semuanya sendirian. Selama ratusan tahun itu... kau tak pernah mencoba membagi beban itu kepada siapa pun. Kau tak pernah memberi kesempatan pada orang lain untuk berdiri di sampingmu.”

Arya tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan kepasrahan dan kebiasaan yang sudah mengakar kuat di jiwanya. “Aku sudah terbiasa. Sendirian itu sudah menjadi bagian dari diriku sendiri sejak lama sekali. Sejak saat aku memilih jalan ini, aku tahu tak akan ada lagi yang bisa aku ajak berbagi.”

“Itu bukan alasan,” potong Raisa dengan suara yang sedikit meninggi namun tetap lembut, matanya menatap lekat mata Arya seolah ingin menembus segala benteng yang ia bangun selama ini. “Terbiasa bukan berarti itu benar, bukan berarti kau pantas terus menderita seperti itu. Kau bukan batu, Arya. Kau masih punya perasaan, masih bisa terluka.”

Keheningan kembali hadir di antara mereka, namun kali ini bukan lagi keheningan yang mencekam atau penuh teka-teki. Raisa mendongak menatap langit malam yang bersih dan penuh bintang berkelap-kelip indah, seolah ribuan mata yang mengawasi perjalanan waktu yang tak pernah berhenti berputar.

“Aku kehilangan ibu ku saat usia tujuh tahun, lalu saat aku berumur tujuh belas tahun ayah pun ikut pergi,” ucapnya pelan, suaranya bergetar menahan rasa sedih yang lama ia simpan sendiri rapat-rapat. “Sejak saat itu aku dihadapkan dengan perubahan diriku,semua orang menganggapku pembawa sial, monster yang tidak bisa mati. Aku juga kesepian bahkan ingin kembali sebelum berusia tujuh belas tahun dimana aku masih gadis normal, tapi hal itu tidak mungkin terjadi, tak punya siapapun itu menyiksa apalagi mereka menatapku dengan prasangka aneh. Aku kira aku orang yang paling kesepian,ternyata kamu juga.”

Ia tersenyum pahit, menundukkan pandangan kembali ke arah Arya yang menatapnya penuh perhatian. “Ternyata... ternyata dibandingkan dengan apa yang kau rasakan, apa yang kau lalui... aku bahkan belum merasakan apa-apa. Kesepianku hanyalah hitungan tahun, sedangkan milikmu adalah hitungan abad.”

Tatapan tajam yang selama ini terselubung pada wajah Arya perlahan melembut, digantikan oleh sorot mata yang penuh pengertian dan simpati yang tulus. “Aku turut perihatin atas penderitaan mu pasti berat untuk gadis seusiamu mengalami kejadian seperti itu, Raisa. Tak ada yang bisa mengukur seberapa besar rasa sakit seseorang dengan hitungan tahun atau kejadian. Setiap rasa sakit itu punya beratnya masing-masing.”

“Itulah kenapa...” Raisa menarik napas panjang dan dalam, seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa dalam dirinya. “Aku tidak akan lari lagi,aku akan menerima takdirku.Jika bisa aku ingin membebaskan dirimu dari perjanjian ini.”

Arya tampak sedikit terkejut, matanya mengerjap tak percaya mendengar ucapan itu. “Maksudmu?”

“Aku akan berada disini,” ucapnya mantap, tanpa ragu sedikit pun, tanpa bayang-bayang keraguan yang dulu selalu menghantuinya.

Arya menatapnya lama, meneliti setiap inci wajah gadis itu seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar atau sekadar bermimpi. “Kau yakin? Kau tahu betapa berbahayanya tempat ini, betapa berbahayanya berdiri di sampingku. Kau tahu betapa banyak musuh yang mengincar nyawamu hanya karena kau ada di sampingku.”

Raisa mengangguk tegas. “Awalnya... awalnya aku sempat berpikir menjual tempat ini dan pergi dengan warisan kakek, tapi ternyata jika berada di sampingmu kau tidak akan berubah menjadi ba nas pati kejam yang menyerang warga desa seperti dulu,aku bersedia untuk tinggal disampingmu demi melindungi warga disini.”

Ia tersenyum kecil, senyum yang tulus dan hangat, senyum yang pertama kali ia berikan dengan hati yang terbuka sepenuhnya. “Tapi sekarang aku sadar... kalau aku pergi, berarti kamu akan jadi ba nas pati jahat kembali seperti sebelumnya. Aku tak akan membiarkanmu kembali seperti dulu,membunuh orang tak bersalah.Jika keberadaan ku untuk menekan sisi jahatmu aku bersedia. ”

Arya menundukkan kepala perlahan, menyembunyikan sorot matanya yang mulai berkaca—sesuatu yang tak pernah ia rasakan selama ratusan tahun. Dadanya terasa hangat, bukan karena nyala api yang melahap segalanya, melainkan karena kehangatan yang begitu murni dan menenangkan dari ucapan seorang manusia yang baru saja ia temui. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa janji yang mengikatnya bukan lagi belenggu, melainkan sebuah harapan.

Namun sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih atau sepatah kata pun sebagai balasan—

BRAK!

Sebuah suara retakan keras dan dahsyat tiba-tiba terdengar dari arah bangunan utama rumah, memecah keheningan malam yang damai seketika. Tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan namun terasa nyata, seolah ada gempa kecil yang mengguncang tempat itu. Daun-daun kering beterbangan, dan cahaya lampu rumah yang tadinya terang kini berkedip-kedip tak menentu.

Arya langsung berdiri tegak seketika, seluruh ekspresi lembut di wajahnya hilang digantikan oleh keseriusan yang tajam dan penuh kewaspadaan. “Itu...”

Raisa ikut bangkit dengan cepat, hatinya berdegup kencang karena cemas namun ia tak berniat mundur. “Apa yang terjadi? Apa itu gempa?”

Arya memejamkan mata rapat-rapat, mencoba merasakan aliran energi yang mengelilingi rumah dan menyatu dengan jiwanya. Ia meraba setiap getaran yang ada, mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada segel pelindung yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad. Beberapa detik kemudian matanya terbuka lebar, penuh kekhawatiran yang mendalam.

“Seseorang sedang mencoba memaksa mendekat kemari,” ucapnya tegas, suaranya penuh ketegangan.

“Mustahil!” seru Raisa tak percaya. “Bukankah kau bilang rumah ini sudah di lindungi dari makhluk gaib yang berniat merampas tempat ini?.”

“Tentu saja sudah,dan segel yang aku buat tidak bisa sembarangan di jebol begitu saja,” jawab Arya pelan namun penuh penekanan.

Tepat saat itu, terdengar suara retakan yang kedua, kali ini jauh lebih keras dan panjang, seolah dinding batu yang kokoh baru saja hancur berkeping-keping. Diikuti semburat cahaya hitam pekat yang membumbung tinggi ke langit dari arah pusat rumah, menembus pepohonan rindang dan menyinari sekitar dengan cahaya yang menyeramkan dan mencekam.

Arya mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya memburu menahan amarah yang kembali bangkit. “Sepertinya malam ini kita tidak bisa tidur nyenyak.”

“Apa kamu tahu siapa yang berusaha masuk kemari?” tanya Raisa dengan suara bergetar, namun ia tetap berdiri tegak di samping Arya.

Arya tidak menjawab hanya menatap kearah luar rumah keluarga Margono, dan meminta Raisa untuk tetap berada di dalam rumah sampai dirinya datang.

Raisa pun pergi masuk kedalam rumah,sedangkan Arya menghilang seperti angin malam yang terasa mencekam.​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!