NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah di Pagi Hari

Matahari pagi terbit dengan malu-malu di balik cakrawala Megapura, menyisakan sisa-sisa embun dingin dari badai semalam yang masih menggantung di pucuk-pucuk daun pohon mahoni Jalan Widya Mulia. Sinar emasnya yang tipis menerobos masuk melalui celah gorden ruang kerja barat barak keamanan, memantul di atas permukaan meja kaca tempat Nathan sedang membersihkan komponen pistol taktis kaliber 9 mm miliknya.

Setiap gerakan tangannya begitu ritmis dan presisi. Membersihkan laras, memeriksa pegas pembalik, hingga mengoleskan minyak pelumas khusus. Bagi Nathan, ritual ini bukan sekadar rutinitas perawatan senjata, melainkan meditasi taktis untuk menjaga pikirannya tetap dingin dan fokus.

Bzzzt.

Komunikator nirkabel di atas meja bergetar pelan. Nathan menekan tombol penerima, menyambungkan enkripsi suara ke saluran pribadi Rendra.

"Laporan lengkap sudah siap, Bos," suara Rendra terdengar dari seberang, membawa nada serius yang khas. "Data yang berhasil kita kloning dari van putih semalam adalah tambang emas. Kita berhasil memetakan struktur komunikasi taktis mereka."

"Siapa wanita yang berbicara di radio semalam?" tanya Nathan dingin, tangannya memasukkan kembali magasin berisi 15 butir peluru ke dalam sarang pistol dengan bunyi klik yang mantap.

"Identitasnya terenkripsi di bawah kode operasional Arachne," jawab Rendra. "Namun, berdasarkan analisis sidik suara analog yang kami bandingkan dengan basis data intelijen global, kami menemukan kecocokan sebesar 98 persen. Nama aslinya adalah Vera Sterling, mantan perwira intelijen militer swasta yang kini bekerja sebagai kontraktor keamanan tingkat tinggi untuk Konsorsium Mahkota. Dia dikenal kejam, efisien, dan tidak pernah meninggalkan jejak fisik."

Nathan menyipitkan matanya. "Vera Sterling. Jadi Konsorsium menurunkan aset tingkat tinggi mereka untuk menyelesaikan masalah ini."

"Benar, Nathan. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah detail rencana operasional mereka yang kami sadap dari log komunikasi sub-frekuensi pagi ini pukul 05.00. Mereka menyebut operasi ini dengan nama sandi Gergaji Besi. Target utamanya adalah menculik Clara saat Elena berada di Bandar Samudra, lalu memaksa Elena menyerahkan seluruh kunci enkripsi fisik Megantara Group sebelum melenyapkan mereka berdua secara bersih di laut lepas."

Rendra menjeda penjelasannya selama beberapa detik untuk mengirimkan sebuah berkas digital berukuran 45 megabite ke ponsel taktis Nathan.

"Mereka berencana mengerahkan 12 agen lapangan bersenjata lengkap yang dibagi menjadi 3 tim taktis," lanjut Rendra. "Tim pertama akan mematikan gardu listrik utama sektor perumahan, tim kedua akan menetralisir pengawal Bravo Satria di perimeter luar menggunakan gas pelumpuh saraf non-lethal, dan tim ketiga yang dipimpin langsung oleh Vera akan masuk ke dalam rumah utama untuk mengambil Clara. Seluruh operasi ini dirancang untuk selesai dalam waktu kurang dari 8 menit."

"Delapan menit," gumam Nathan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang sangat tipis. "Sebuah kalkulasi yang bagus untuk menghadapi pengawal sipil biasa. Tapi sayangnya, mereka harus berhadapan denganku."

"Apa rencana kita, Nathan? Apakah kita harus memberi tahu Elena dan membatalkan perjalanannya ke Bandar Samudra?" tanya Rendra ragu-ragu.

"Tidak," jawab Nathan tegas. "Jika Elena membatalkan perjalanannya, Konsorsium akan tahu bahwa rencana mereka telah bocor. Mereka akan menarik mundur tim Vera dan merancang skenario lain yang lebih sulit kita deteksi. Kita harus membiarkan bidak catur ini bergerak sesuai rencana mereka. Biarkan Elena pergi."

"Tapi itu berarti Anda akan menghadapi dua belas agen terlatih sendirian di dalam rumah, Bos," suara Rendra membawa nada cemas. "Meskipun Anda adalah Raja Perang, pertahanan satu-lawan-dua belas di area tertutup tanpa dukungan logistik berat sangatlah berisiko."

"Aku tidak akan sendirian, Rendra. Aku memiliki keuntungan medan. Rumah utama Jalan Widya Mulia akan menjadi labirin maut mereka," ucap Nathan tenang namun sarat akan keyakinan mutlak. "Aku ingin kamu mempersiapkan tim pembersih Bravo Satria di Sektor Kencana. Begitu aku menyelesaikan pekerjaan di dalam rumah, mereka harus langsung masuk untuk melenyapkan seluruh bukti fisik sebelum polisi atau media menyadarinya."

"Dimengerti, Bos. Protokol Laba-Laba disiapkan. Kami siaga penuh."

Nathan mematikan komunikatornya, menyelipkan pistol taktisnya ke dalam sarung tersembunyi di balik jas hitamnya yang rapi, lalu berjalan keluar dari barak keamanan menuju rumah utama untuk memulai tugas paginya.

Di ruang makan utama kediaman Wijaya, aroma kopi arabika yang harum bercampur dengan wangi roti panggang mentega memenuhi ruangan yang dilapisi marmer putih tersebut.

Elena Wijaya duduk di kepala meja panjang, mengenakan setelan gaun kerja berwarna biru dongker yang memancarkan otoritas seorang CEO. Di samping kanannya, Clara sedang mengoleskan selai stroberi pada sepotong roti dengan gerakan yang lambat. Wajah gadis itu tampak sedikit pucat, menyiratkan bahwa ia tidak tidur dengan nyenyak semalam.

Nathan melangkah masuk ke dalam ruangan dengan keheningan seorang bayangan, lalu berdiri tegak di sudut ruangan dekat pintu masuk posisi penjagaan klasiknya.

"Selamat pagi, Nyonya Elena. Selamat pagi, Nona Clara," ucap Nathan dengan suara berat dan membungkuk hormat dengan kemiringan 15 derajat yang sempurna.

"Selamat pagi, Nathan," sahut Elena dengan nada ramah namun profesional. Ia meletakkan cangkir kopinya, menatap pengawal barunya dengan pandangan menilai. "Aku mendengar laporan dari sistem keamanan otomatis bahwa kamu melakukan pemeriksaan perimeter luar secara fisik di tengah badai semalam pukul 01.30 dini hari?"

"Benar, Nyonya," jawab Nathan datar, wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun. "Kelembapan tinggi dan petir terkadang memicu fluktuasi tegangan mikro pada kabel sensor getar di dinding belakang. Saya ingin memastikan tidak ada celah keamanan fisik sedikit pun."

Elena mengangguk puas, senyum tipis mengembang di wajahnya yang tegas. "Dedikasi yang luar biasa, Nathan. Aku sangat senang tidak salah memilihmu sebagai Kepala Keamanan di sini. Dengan kepemimpinanmu, aku bisa pergi ke Bandar Samudra pekan depan dengan hati yang tenang."

Mendengar ucapan ibunya, Clara menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia melirik ke arah Nathan, matanya yang bulat tampak membawa binar kecemasan yang mendalam. Ia teringat kembali momen semalam di dapur remang-remang, saat ia melihat rambut Nathan basah oleh hujan malam demi memastikan keselamatannya.

"Ibu..." Clara membuka suara, nadanya terdengar sedikit ragu. "Apakah Ibu benar-benar harus pergi ke Bandar Samudra pekan depan? Maksudku... situasi belakangan ini masih terasa sangat tidak stabil sejak masalah Paman Suryadi."

Elena menghela napas lembut, menatap putrinya dengan tatapan protektif namun tegas. "Ini adalah pertemuan tahunan konsorsium maritim nasional, Clara. Posisi Megantara sedang dalam masa transisi sensitif setelah penangkapan Suryadi. Ibu harus hadir secara fisik untuk menunjukkan pada para pemegang saham bahwa kendali perusahaan tetap berada di tangan kita secara kokoh."

Elena kemudian menatap Nathan kembali. "Lagipula, kita memiliki Nathan di sini. Dia telah membuktikan kemampuannya melenyapkan penyusup sebelumnya, dan seluruh sistem keamanan rumah ini sekarang berada di bawah kendali langsungnya. Kamu akan sangat aman di sini bersama Nathan, Clara."

Clara terdiam, lalu menatap roti di piringnya dengan pandangan kosong. Ia tahu ia tidak bisa membantah keputusan ibunya jika sudah menyangkut urusan bisnis korporat. Namun, di dalam batinnya yang rapuh, ketakutan akan serangan penculikan kedua masih membayang-bayangi setiap langkahnya.

Satu-satunya hal yang membuatnya merasa sedikit tenang adalah kehadiran sosok tegap berjas hitam yang berdiri diam di sudut ruangan itu. Nathan.

"Baiklah, Ibu," bisik Clara pasrah.

Pukul 09.00 pagi, setelah Elena berangkat menuju kantor pusat di Menara Adiwangsa dengan iring-iringan mobil pengawal intinya, suasana di kediaman Jalan Widya Mulia kembali menjadi sunyi.

Clara memutuskan untuk melukis di area halaman samping rumah, di bawah naungan pergola kayu yang ditumbuhi tanaman rambat bunga kertas berwarna ungu cerah. Di tempat ini, ia bisa melihat pemandangan taman depan sekaligus kolam air mancur kecil yang menenangkan.

Nathan berdiri sekitar 3 meter di belakang Clara, matanya terus menyapu sekeliling perimeter halaman luar dengan kewaspadaan penuh.

"Nathan," panggil Clara lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari sketsa bunga kertas yang sedang ia warnai menggunakan cat air.

"Ya, Nona Clara?"

"Apakah menurutmu... dunia ini memang selalu dipenuhi oleh orang-orang jahat yang ingin saling menyakiti?" tanya Clara, suaranya terdengar melankolis diiringi suara gemercik air mancur.

Nathan terdiam sejenak. Pertanyaan itu terdengar sangat kontras dengan kepolosan gadis di depannya. Pikirannya melayang kembali ke masa lalunya sendiri, pembantaian keluarganya, parit-parit pertahanan yang dipenuhi jasad prajurit, dan pengkhianatan politik yang berdarah.

"Dunia ini tidak peduli dengan kebaikan atau kejahatan, Nona," jawab Nathan dingin namun jujur. "Dunia ini hanya dikendalikan oleh mereka yang memiliki kekuatan untuk mengambil apa yang mereka inginkan, dan mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya."

Clara menghentikan kuasnya, lalu berbalik menatap Nathan dengan tatapan mata yang dalam dan penuh rasa ingin tahu. "Kamu terdengar seolah-olah telah melihat banyak sekali hal yang mengerikan, Nathan. Apakah itu yang membuatmu memilih untuk menutup hatimu rapat-rapat?"

"Tugas saya adalah menjadi pelindung Anda, Nona. Hati yang terbuka hanya akan memperlambat waktu reaksi saya terhadap ancaman," jawab Nathan taktis, mencoba menjaga jarak profesionalnya.

Clara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa sedikit rasa sedih. Ia meletakkan kuasnya, lalu berjalan mendekati Nathan. Langkah kakinya sangat ringan, hingga ia berdiri tepat di hadapan pengawal tegap tersebut.

Aroma parfum lavender yang lembut kembali menyergap indra penciuman Nathan, aroma yang sama yang menempel pada handuk putih di kamarnya pagi ini.

"Mungkin kamu benar, Nathan," bisik Clara, mendongak menatap mata gelap Nathan yang sedalam sumur tua tanpa dasar. "Tapi aku ingin kamu tahu... semalam, saat aku melihatmu berdiri di dapur dengan pakaian basah demi menjagaku, aku merasa sangat bersyukur. Aku merasa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki seseorang yang benar-benar berdiri di sisiku bukan karena uang ibuku, tapi karena ia benar-benar peduli."

Nathan merasakan getaran halus di dalam dadanya, sebuah guncangan emosional yang sangat jarang ia rasakan selama 15 tahun terakhir. Ia menatap mata jernih Clara yang tidak menyimpan satu pun niat jahat atau kepalsuan politik. Gadis ini adalah bunga murni yang tumbuh di tengah rawa-rawa konspirasi berdarah yang diciptakan oleh ayahnya sendiri di masa lalu.

"Tugas saya adalah memastikan Anda tetap hidup untuk melihat hari esok, Nona," jawab Nathan lirih, suaranya kali ini membawa getaran emosi yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Dan saya akan memastikan hal itu terjadi, apa pun taruhannya."

Clara mengangguk lembut, merasa puas dengan jawaban tulus di balik kata-kata dingin pengawalnya. Ia berbalik kembali ke kanvasnya, melanjutkan lukisannya dengan hati yang jauh lebih tenang.

Sementara itu, di dalam saku jas hitamnya, tangan Nathan meremas pelan ponsel taktisnya yang baru saja menerima pesan berkode dari Rendra:

Vera Sterling baru saja memesan tiket penerbangan domestik pribadi menuju Sektor Utara Megapura. Operasi Gergaji Besi akan dimulai dalam waktu lima hari dari sekarang.

Nathan menatap siluet Clara yang sedang melukis dengan tenang di bawah sinar matahari pagi. Saraf-saraf tempurnya mulai menegang, dan insting predatornya berbisik dengan kejam di dalam kepalanya.

Datanglah, Vera, batin Nathan dingin. Mari kita lihat seberapa tajam gergaji besimu saat berhadapan dengan murka sang Raja Perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!