NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 #Terkunci

​Sedan hitam mewah milik Calvin perlahan berhenti tepat di depan teras megah kediaman keluarga Sanjaya. Rumah bergaya klasisisme Eropa itu berdiri kokoh bagai istana modern di kawasan elit Jakarta, lengkap dengan pilar-pilar putih raksasa yang menjulang tinggi dan taman depan yang dirawat dengan presisi sempurna.

​Calvin mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh ke arah Anya yang sedang merapikan tas kuliahnya di kursi penumpang. "Sudah sampai, Anya."

​Anya menoleh, mengulas senyum tipis yang terlihat jauh lebih rileks dibandingkan saat mereka pertama kali berangkat tadi siang. "Iya. Kamu tidak mau mampir dulu ke dalam, Calvin?"

​Calvin menggelengkan kepalanya dengan sopan. "Terima kasih atas tawarannya, tapi aku harus segera kembali ke kantor. Masih ada beberapa tumpukan pekerjaan operasional yang harus kuselesaikan sebelum rapat direksi besok pagi. Tolong titip salam saja pada Om Tito."

​"Iya, nanti kusampaikan kalau Papa sudah pulang. Terima kasih ya untuk tumpangan dan obrolannya hari ini," jawab Anya tulus.

​Sebelum Calvin sempat turun untuk membukakan pintu, seorang pelayan pria berseragam rapi yang memang selalu standby di area lobi depan sudah melangkah maju. Dengan gerakan cekatan dan penuh hormat, pelayan itu membuka pintu mobil di sisi Anya, menyambut sang putri tunggal pemilik rumah.

​Anya melangkah turun dari mobil, sementara Calvin memberikan klakson pendek sekali sebagai tanda pamit sebelum melajukan kembali sedan hitamnya membelah gerbang besi tinggi yang terbuka otomatis.

​Begitu Anya melangkah memasuki ruang dalam rumahnya yang super luas, dia langsung disambut oleh dua pelayan, Mbok Sumi dan Mbak Ira, yang memang ditugaskan khusus untuk mengurus segala keperluan pribadinya. Langkah kaki Anya yang anggun bergema di atas lantai marmer impor yang berkilau.

​"Selamat sore, Nona Anya," sapa Mbok Sumi dengan membungkuk hormat. Dia bersama Mbak Ira segera mengambil alih tas kampus Anya yang tampak menggembung dan sedikit berat karena berisi laptop serta beberapa buku diktat manajemen bisnis.

​"Sore, Mbok, Mbak," jawab Anya, mengibaskan rambut cokelat bergelombangnya yang terasa gerah. Matanya mengedar ke sekeliling aula utama yang tampak sepi. "Papa ke mana, Mbak? Kok sepi sekali?"

​"Tuan Tito belum pulang dari kantor, Nona. Tadi sekretaris beliau sempat menelepon, katanya Tuan ada janji temu dengan kolega bisnis sampai makan malam," jelas Mbak Ira sembari merapikan tali tas Anya di lengannya. "Oh ya, Nona... nanti malam mau disiapkan menu makan malam apa? Biar saya sampaikan ke koki dapur."

​Anya mengibaskan tangannya santai sembari mulai berjalan ke arah tangga melingkar yang megah. "Apa saja, Mbak. Yang penting segar dan tidak terlalu berat. Aku mau langsung ke kamar dulu ya."

​"Baik, Nona."

​Begitu tubuhnya berbelok di anak tangga pertama dan memastikan kedua pelayannya sudah berjalan ke arah ruang belakang, topeng keanggunan yang sejak pagi melekat di wajah Anya runtuh seketika. Sifat aslinya yang kekanak-kanakan, lincah, dan penuh energi langsung keluar.

​Anya berlari kecil menaiki anak tangga marmer satu per satu, sesekali melakukan gerakan menari-nari kecil dan melompat dengan riang. Bibirnya menyanyikan nada acak yang terdengar sangat gembira. Plong. Rasa sesak yang menghimpit dadanya sejak makan malam menegangkan kemarin seketika menguap. Obrolannya dengan Calvin di kafe tadi benar-benar membuahkan hasil yang melegakan. Setidaknya, Calvin adalah pria lurus yang tidak egois, dia tidak akan menuntut pernikahan cepat, bersedia diajak berkompromi, dan mau menuruti persyaratannya untuk saling mengenal dalam waktu lama.

​Anya tertawa kecil sendirian saat sampai di tangga atas. Dia membayangkan jika saja papanya, Tito Sanjaya, berada di rumah sekarang dan melihat putrinya berteriak kecil serta melompat-lompat tidak jelas di atas tangga mewah ini, Anya pasti sudah diceramahi habis-habisan selama dua jam tentang bagaimana etiket dan pembawaan seorang wanita kelas atas yang terhormat.

​"Ah, indahnya kebebasan!" gumam Anya riang sembari mendorong pintu ganda kamarnya yang bernuansa gold and white.

​Di dalam kamar, Mbok Sumi ternyata sudah menyiapkan air mandi hangat yang mengepulkan uap tipis di dalam bathtub porselennya, lengkap dengan taburan kelopak mawar dan wewangian aromaterapi lavender yang menenangkan. Tanpa membuang waktu, Anya segera menanggalkan kemeja putih pas badannya dan menenggelamkan seluruh tubuh indahnya ke dalam air hangat. Dia memejamkan mata, menikmati sensasi relaksasi yang perlahan mengendurkan otot-ototnya yang tegang akibat perang dingin dengan Bara semalam.

​Satu jam berlalu. Anya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar, mengenakan jubah mandi sutra putih yang longgar. Dia duduk di depan meja riasnya, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.

​Bzzzt... Bzzzt...

​Suara getaran nyaring dari ponsel yang tergeletak di atas kasurnya memecah kesunyian kamar. Anya meletakkan handuknya, lalu melangkah santai menuju kasur. Dia meraih ponselnya, mengira itu adalah pesan dari Alena atau Bella yang ingin bergosip ria.

​Namun, dahi Anya seketika berkerut saat melihat sebuah rentetan nomor baru yang tidak dikenal tertera di layar. Anya membuka bilik pesan tersebut. Hanya butuh membaca kata pertama di baris paling atas untuk membuat seluruh tubuh Anya mendadak menegang kaku, dan senyum riangnya sejak sore tadi lenyap tak berbekas.

📱 Hai, gadis ceri. Masih ingat janjimu semalam di toilet, kan? Besok jam 2 siang tepat, datang ke penthouse-ku di Tower Mandala, Lantai 45. Jangan terlambat.

​Anya membelalakkan matanya tidak percaya. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak. Bara Fernandez! Bagaimana bisa om-om mesum itu mendapatkan nomor pribadiku?! batin Anya menjerit panik. Ah, tapi tentu saja, bagi seorang taipan properti sekaliber Bara, melacak nomor telepon seorang anak kuliahan adalah perkara yang terlalu mudah, semudah membalikkan telapak tangan.

​Anya menatap layar ponselnya lama, otaknya mendadak berputar memikirkan kata penthouse.

​Penthouse? Untuk apa pria arogan itu menyuruhku datang ke apartemen pribadinya yang privat?!

​Anya menelan ludahnya dengan susah payah. Wajah cantiknya seketika merona merah padam saat ingatan gila semalam mendadak terputar otomatis di kepalanya. Dia teringat bagaimana tubuh tegap Bara mengurungnya di sudut wastafel, bagaimana tatapan mata elangnya menembus jantungnya, dan bagaimana bibir dingin pria itu mendarat panas, melumat bibirnya dan menciumi lehernya hingga napasnya memburu berantakan.

​Anya menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir bayangan intim tersebut. Tidak, tidak! Apa dia berniat melakukan tindakan mesum itu lagi di dalam penthouse-nya yang sepi?! Dasar pria mesum gila! maki Anya dalam hati, wajahnya semakin memanas antara kesal dan panik.

​Anya tidak boleh pasrah begitu saja. Dia harus mencari alasan untuk mengalihkan lokasi pertemuan. Berada di dalam ruang privat yang tertutup bersama Bara Fernandez sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam kandang singa yang kelaparan.

​Dengan jemari yang sedikit gemetar karena gugup, Anya mengetik balasan dengan menyusun deretan alasan yang terdengar masuk akal.

Maaf, Om. Besok aku tidak bisa ke sana. Jadwal kuliahku padat sekali dan ada tugas kelompok yang sangat banyak. Tidak bisakah kita bertemu di kafe dekat kampus saya saja? Lagipula, lokasi penthouse Om itu terlalu jauh dari rute saya.

​Anya menekan tombol kirim, lalu melempar ponselnya ke atas kasur, menanti jawaban dengan perasaan waswas yang luar biasa. Dia berharap argumen sibuk kuliah dan jarak jauh bisa membuat pria berumur tiga puluh lima tahun itu melunakkan perintahnya.

​Bzzzt...

​Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Bara untuk membalas. Anya dengan cepat menyambar kembali ponselnya.

📱 Aku tidak menerima penolakan, Zevanya. Dan aku juga tidak menerima pergantian lokasi. Besok jam 2 siang, atau cerita asli tentang buah ceri itu akan sampai ke telinga papamu sebelum jam makan malam. Pilihan ada di tanganmu, Gadis Manis.

​Anya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, menatap layar ponsel dengan pandangan ingin menguliti sosok Bara hidup-hidup. Pria itu benar-benar licik, mutlak, dan sama sekali tidak memberikan celah untuk melarikan diri. Jebakan itu kini telah mengunci langkah Anya sepenuhnya.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!