Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
#5
“Tolong kami, Dind.”
Pada akhirnya kalimat itulah yang berhasil memaksa Dinda menuruti permintaan Eyang Tuti, untuk makan malam. Sebab untuk bersandiwara, Dinda tak mempertimbangkannya sama sekali.
Meski begitu, Bagas begitu bahagia, hingga ia datang 30 menit lebih awal dari jadwal yang semula ia janjikan untuk menjemput sang mantan istri.
“Kurang kerjaan amat jam segini udah datang,” gerutu Dinda, yang langsung melongok melalui kaca transparan ruang kerjanya setelah Adara memberitahunya perihal kedatangan Bagas.
Bahkan Dinda saja masih sibuk dengan sketsa gambar sebab dia sama sekali tak mengharap datangnya saat-saat seperti ini. “Katakan saja padanya, aku masih repot.”
“Sudah, Mbak.”
“Lalu, dia bilang apa?” Entah kenapa Dinda Kepo dengan tanggapan Bagas.
“Mas Bagas bilang dia akan menunggu dengan sabar sampai Mbak Dinda benar-benar selesai,” jawab Dara dengan nada dan lirikan menggoda, sebab Dara mengenal dengan baik siapa Bagas dan apa hubungannya dengan Dinda.
Jelas Dinda sedikit kesal melihat tingkah asistennya. “Gak usah genit, Dara. Dah, sana lanjut kerja.”
“Ya— Mbak. Masa gak ada dispensasi, sih? Kan udah ditungguin, tuh,” keluh Adara merajuk.
Dinda kembali ke kursinya. “Gak ada dispensasi, ya. Kamu tahu kita sedang sangat sibuk saat ini. Waktu dua puluh menit itu sangat berharga.”
Terpaksa Dara meninggalkan ruangan Dinda, karena misinya merayu sang atasan telah resmi gagal total.
Kenyataannya, setelah Dara pergi, Dinda justru tak bisa lagi berkonsentrasi. Pikirannya tak tenang sebab sudah ditunggu oleh seseorang.
Akhirnya Dinda menyerah, dia pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri, sebelum berganti kostum dengan gaun malam berwarna pastel dengan riasan menyesuaikan. Bagas sampai tak sanggup berkata-kata, pria itu benar-benar terpukau dengan kecantikan mantan istrinya yang masih paripurna.
Adara ikut mesem-mesem melihat Dinda keluar dari ruangan tepat waktu, “Jangan khawatirkan soal butik, Mbak, percayakan pada kami,” celetuknya, lalu kembali senyum-senyum sendiri.
“Thank you,” kata Bagas, karena Dinda bersedia keluar ruangannya tepat waktu. Tapi, dasar Adara suka iseng, dia justru menyelewengkan ucapan Bagas.
“Apa, Mas. Love you? Kalau itu pasti untuk Mbak Dinda, kan?”
Adinda melotot tajam, dasar Adara ember, bisa-bisanya ia meledek kakak perempuannya di depan banyak karyawan butik. Sebelum dia kehilangan muka, Adinda langsung keluar dari butik diikuti bagas.
“Lho, mobilku di sebelah sana, Dind.”
“Aku bawa mobil sendiri, jadi nanti malam kamu tak perlu repot mengantar.” Ucapan Dinda membuat kuncup bunga di hati Bagas layu secara tiba-tiba.
Bagas terus mengikuti langkah kaki Dinda. “Kita bareng aja, nanti pulangnya aku antar.”
Dinda berbalik, hingga mereka berdiri berhadapan, “Tidak perlu repot-repot untuk wanita yang tak punya hubungan apa-apa denganmu.”
Wajah Bagas seketika berubah sendu, “Kok bilang gitu, sih? Biar bagaimanapun kamu, kan tetap mamanya Abel, dan aku juga yakin kita masih menyimpan harap yang sama, bahwa suatu saat bertemu dengannya,” ujar Bagas, suaranya rendah dan serak menahan tangis.
Karena Bagas menyebut-nyebut nama anak mereka, Adinda pun diam, ia menurut saja saat Bagas menuntun tangannya dengan lembut, menuju mobil mewah pria itu. “Biar Dara yang membawa pulang mobilmu, malam ini aku yang bertanggung jawab atas keselamatanmu,” ujar Bagas.
•••
Rupanya pilihan Dinda untuk datang dan memenuhi undangan keluarga Bagas memang salah, karena Bagas terlihat sangat menikmati perannya sebagai suami. Semua aktivitas serta gerak-gerik Bagas tak luput dari keberadaan atau bantuan Adinda yang kini sedang berperan sebagai istrinya.
Dimulai dari kedatangan mereka, Bagas langsung menggandeng tangan Dinda sejak turun dari mobil, di sini Adinda masih bisa mengelak, sebab mereka masih berada di luar ruangan. Tapi, ketika di dalam ruangan, bukan lagi keberadaan Bagas yang menggoda dirinya tapi juga dua orang sepupu Bagas yang malam ini ikut hadir.
“Terima kasih sudah mau datang, Sayang,” sambut Mama Yanti dengan pelukan hangatnya, begitupun Papa Kaitaro Samudera, pria itu juga menyambutnya dengan senyuman ramah.
“Ayo, duduk dulu.” Mbak Tari mempersilahkan Dinda untuk duduk nyaman. “Pilih saja tempat mana yang kamu suka, Bagas lagi jemput Eyang ke kamar beliau.”
Adinda hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Sini, Dind.” Dewa sepupu Bagas menepuk sofa kosong di dekatnya. Dinda cukup akrab dengan Dewa yang hingga kini masih betah menjomblo itu.
“Eh, ada Mbak Dinda. Apa kabar?” Satu lagi sepupu Bagas ikut datang bergabung, pria itu datang dari dalam ruangan yang terhubung dengan dapur. Di tangannya terdapat garpu dengan sepotong chicken katsu yang masih mengepulkan asap.
“Baik, Jim.”
“Luluh juga Mbak Dindaku ini. Siapa yang berhasil menyeret Mbak Dinda kemari?” goda Jim, jangan lupakan matanya yang mengerling jenaka.
“Mama, Mbak Tari, dan … “ Dinda memberikan isyarat ketika melihat kedatangan Bagas sambil memapah langkah Eyang Tuti.
“Oh— baguslah, semoga Mbak Dinda tetap waras menghadapi Mas Bagas.”
Dinda makin cemberut, namun, itu tak berlangsung lama, sebab tak lama kemudian, Eyang Tuti memilih duduk di sofa yang sama dengannya, kemudian memeluknya dengan erat. “Eyang kangen, loh, sama kamu. Bagas itu selalu saja beralasan aneh-aneh setiap kali Eyang minta untuk datang bersamamu.”
“Iya, Eyang, maaf. Mas Bagas tak bermaksud berbohong, Dinda memang sibuk.”
Eyang Tuti kembali memeluk Adinda erat-erat, “Nggak papa, sekarang Eyang mengerti. Lalu, Abel mana? Eyang kangen timang-timang dia.”
Deg!
Suasana yang mulai cair, mendadak diam, bisu, dan kian mencekam. Tak ada yang bisa menjelaskan situasi ini, sebab mereka pun tak tahu ada dimana Abel saat ini, apakah masih hidup, atau sudah wafat. Andai ada kejelasan, sudah wafat sekalipun, Adinda dan Bagas akan berusaha sekuat tenaga mengikhlaskannya. Tapi ini— benar-benar masih menjadi misteri.
“Eyang, kita mulai makan, yuk. Sebelum semua makanan menjadi dingin.”
Untungnya Eyang Tuti segera melupakan pertanyaannya barusan, wanita itu menuruti ajakan Btari dan langsung berjalan menuju meja makan, diiringi Gunadi suaminya.
“Kalian pergilah duluan ke sana, nanti kami menyusul,” kata Bagas pada Jim dan Dewa.
Setelah sepupu Bagas berlalu pergi, Dinda pun menghapus kasar air matanya, ia berdiri cepat, hingga tanpa sengaja menubruk dada Bagas. Dengan sigap Bagas memeluk pinggang ramping mantan istrinya agar mereka berdua tidak terhempas di waktu bersamaan.
“Maaf—”
Dinda buru-buru mendorong pelan tubuh Bagas, “Nggak papa, Sayang, sering-sering juga boleh.”
Bibir Dinda tersenyum miring, “Dih, ogah! Gak usah macem-macem, ya, Mas. Ingat, ini cuma sandiwara,” dengus Dinda sewot, lalu berjalan cepat menyusul yang lain.
“Sayang, tunggu.”
Ucapan Bagas semakin membuat Dinda bergidik geli. Dan bisa ditebak jika Bagas semakin berulah selama makan malam berlangsung.
“Yang, Ambilin, dong,” pinta Bagas pada awalnya, ia meminta diladeni seperti dulu, saat masih berstatus sebagai suami Adinda.
Hal itu, sukses membuat Jim dan Dewa ingin muntah seketika, karena gaya dan ucapan Bagas yang mendayu manja, membuat gatal telinga mereka.
“Bagas, kedua tanganmu masih berfungsi, kan?” sindir Eyang Tuti, yang jelas ditujukan pada Bagas.
“Masih, Eyang. Kenapa?”
“Kalau begitu pakai tanganmu, jangan hanya merepotkan istrimu! Kasihan Dinda, sudah lelah mengurus anakmu, masih juga harus mengambilkan makananmu.”
“Habis, kalau bukan Dinda yang ambilin, rasanya gak enak, Eyang.”
Ya, Tuhan. Andai dinda bisa, ingin rasanya ia menguncir bibir Bagas, pria itu selalu bisa menjawab apapun ucapan orang padanya.
Di dalam hatinya, Dinda hanya bisa berteriak. “Tolong, bawa aku pergi dari sini!”
aku lupa nama Kaka nya bagas