NovelToon NovelToon
The Novelist

The Novelist

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.

Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.

Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.

Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.

Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi yang Berhenti

Anjas hanya diam. Dia tidak mengatakan apapun. Dia membiarkan Misty larut dalam kesedihannya dan menumpahkan seluruh airmata yang mungkin sudah dia tahan selama bertahun-tahun.

Anjas masih mengingatnya bagaimana Misty menjadi begitu histeris kemarin saat sepotong ingatan terlintas di benaknya. Kengerian akan kejadian masa lalu tergambar jelas di mata Misty waktu itu.

"Maaf..." ucap Misty dengan suara serak sambil mengusap airmatanya. Anjas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Bukankah aku sudah pernah bilang akan siap mendengarkan kapan saja kamu siap," kata Anjas. Misty menoleh ke arah Anjas sambil tersenyum tipis.

"Terimakasih," ucap Misty. Anjas mengangguk pelan.

Misty kembali menoleh ke arah taman. Perlahan dia meminum air mineral yang sedar tadi di tangannya. Anjas menatap Misty.

"Ada tempat lain yang mau kamu kunjungi?" tanya Anjas pada Misty. Misty menoleh.

"Apa... tidak apa-apa?" tanya Misty ragu-ragu.

Anjas tersenyum sambil menyalakan mesin mobilnya.

"Tenang saja. Aku tidak ada acara hari ini," kata Anjas sambil menginjak pedal gas perlahan dan tersenyum.

Misty menatap Anjas yang fokus menatap jalanan. Ada perasaan hangat menjalar dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, setelah sepuluh tahun, Misty merasa nyaman berada di samping orang yang baru dia kenal.

'Mungkin... sudah saatnya aku kembali mempercayai seseorang,'

***

Indra menatap Arga sambil menarik napas dalam-dalam. Dia benar-benar tidak bisa meremehkan penyidik di hadapannya itu.

"Sudah dikonfirmasi, Pak. Indra Rahardian memang tercatat baru dua hari yang lalu kembali dari perjalanannya ke Seoul," kata Gerry saat kembali masuk ke ruang tamu.

Indra menghela napas panjang. Dengan itu, dia lepas dari dugaan penyidik sebagai pembunuh Nadia. Namun, Indra masih belum bisa bernapas lega. Satu pertanyaan dari Arga yang belum sempat dia jawab menjadi pertarungan terakhirnya.

Arga kembali menatap Indra dengan tatapan tajam. Dia masih menunggu jawaban Indra. Arga merasa, jawaban Indra akan menentukan kemana penyelidikannya akan mengarah.

"Bagaiamana, Saudara Indra?" tanya Arga dengan suara lebih berat. Lutut kanan Indra masih bergerak naik turun seolah menimbang jawaban apa yang akan dia berikan.

"Ehem..." Indra membersihkan tenggorokannya sebelum menjawab.

"Anda tahu, saya sudah bercerai dengan Nadia delapan tahun yang lalu," kata Indra, berusaha menjawab dengan tenang, meski suaranya terdengar sedikit serak.

"Saya bahkan tak punya nomor kontaknya," lanjutnya.

"Dalam rentan waktu selama itu, saya tidak tahu dia berhubungan dengan siapa saja, yang mungkin dapat membuatnya dibunuh seperti itu," tutup Indra.

Arga memundurkan tubuhnya. Dia benar-benar tidak salah menilai Indra sebagai orang yang cukup cerdik. Gerry yang sudah kembali duduk di dekat Arga mencoba membaca situasi dari investigasi mereka.

"Kalau ada kemungkinan teman Anda menghubungi Nadia waktu itu... Mungkinkah Nadia yang mengantar Anda pulang malam itu?" tanya Gerry.

Mata Indra sedikit membulat. Dia berusaha menguasai dirinya. Arga yang sedang mencari cara untuk menggali lebih dalam informasi dari Indra kembali menatap Indra dengan tatapan elangnya.

"Bisa jadi," jawab Indra.

"Saya tidak terlalu ingat. Bukankah saya sudah mengatakannya tadi?" kata Indra cepat.

Gerry menatap Arga yang masih menatap tajam ke arah Indra. Dia tahu, atasannya tidak puas dengan jawaban Indra. Arga memang masih memikirkan cara agar dapat membuat Indra mengatakan lebih banyak. Namun, Arga tahu, dia harus berhenti sekarang. Bukan karena menyerah, melainkan dia merasa tidak akan mendapatkan apapun lagi disana.

Arga menghela napas panjang sebelum akhirnya beranjak dari duduknya.

"Baiklah. Terimakasih atas kerjasamanya," kata Arga membuat Gerry sedikit terkejut.

Indra menaikkan kedua alisnya dan ikut berdiri.

"Sama-sama. Senang bisa membantu Anda, Pak," kata Indra. Nada suaranya terdengar ringan.

"Kami akan datang lagi untuk menanyakan satu dua hal terkait kasus pembunuhan mantan istri Anda nanti," kata Arga sambil mengulurkan tangan. Kedua alis Indra naik.

"O-oh... Tentu saja. Silakan, Pak. Saya akan membantu semampu saya," kata Indra sambil menjabat tangan Arga. Arga dapat merasakan telapak tangan Indra yang basah dan dingin.

Arga tersenyum tipis lalu keluar dari ruang tamu Indra. Gerry dengan alis berkerut, berjalan mengikuti Arga. Dia masih memikirkan apa yang membuat Arga menghentikan interogasinya di saat Indra terlihat sudah tersudut.

Indra merasakan lututnya seketika lemas. Dia langsung terduduk lemas di atas sofanya. Dia menarik napas dalam-dalam. Dia pikir interogasi kedua petugas itu tak akan pernah berakhir. Namun, sedetik kemudian dia menegakkan tubuhnya.

'Mereka akan kembali lagi. Apa yang harus aku katakan?'

Sementara itu, diluar rumah Indra...

"Mengapa Anda berhenti, Pak? Dia sudah sangat tersudut," tanya Gerry pada Arga saat keduanya sudah di dalam mobil Arga. Arga menggenggam kemudi mobilnya erat-erat.

"Dia bukan orang yang akan begitu saja membeberkan semuanya, Ger," kata Arga sambil menatap tajam ke arah rumah Indra.

"Kita butuh taktik," lanjutnya.

Gerry ikut menatap ke arah rumah Indra. Dia pikir, Arga ada benarnya. Selama interogasi, Indra selalu dapat menjawab pertanyaan dengan kalimat aman. Meskipun pada akhirnya pertahanannya goyah. Indra tetap bisa menjawab pertanyaan mereka dengan kalimat tidak mengarahkan mereka pada apapun.

"Lagipula," kata Arga sambil menyalakan mesin mobilnya.

"Kita masih punya lima nama penghuni kamar dua kosong enam yang harus kita selidiki," lanjut Arga sambil menginjak pedal gasnya perlahan meninggalkan rumah Indra yang masih menyimpan rahasia.

Gerry mengangguk tipis. Dia baru ingat bahwa masih ada nama-nama yang mungkin akan jadi kunci dari kasus pembunuhan itu. Gerry membuka buku catatannya lagi. Dia menatap kelima nama yang dia tulis.

'Yang mana yang akan membawa kita pada jalan keluar? Atau mungkin... justru jalan buntu?'

***

"Gawat, Pak," kata Roy pada Dani.

Dani yang sedang duduk di ruangannya mengernyit.

"Kenapa?" tanya Dani.

Roy menarik napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat pucat.

"Saya mendapat laporan... kalau ada dua petugas yang mendatangi Indra Rahardian," kata Roy.

Dani yang semula duduk santai di kursi kerjanya seketika menegakkan tubuhnya mendengar laporan Roy.

"Kamu yakin?" tanya Dani memastikan. Roy mengangguk mantap.

"Dia sendiri yang mengatakannya," kata Roy.

Dani menggerakkan bola matanya perlahan. Jari jemarinya mengeteuk-ngetuk meja.

"Dua petugas..." gumamnya.

"Siapa?" tanya Dani pada Roy.

"Sayangnya, dia lupa nama petugas yang mendatanginya," kata Roy.

Dani masih memikirkan siapa yang datang untuk menanyai Indra.

"Untungnya, Indra tidak mengatakan apapun selain korban kedua dari kasus pembunuhan ini adalah mantan istrinya," kata Roy.

Dani kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya. Dia menghela napas lega. Dia menatap Roy dalam-dalam.

"Roy..." panggil Dani dengan suara berat.

"Ya, Pak,"

"Cari tahu siapa petugas yang bergerak diam-diam itu dan apa saja yang mereka ketahui," perintah Dani.

"Siap, Pak!" kata Roy sambil berjalan meninggalkan ruangan Dani.

Dani terpekur. Dia sudah bisa menebak, siapa di antara para bawahannya yang sedang bergerak tanpa sepengetahuannya.

'Pasti dia...'

***

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat kak... ditunggu karya misteri misteri lain nya ya.

Semua yang bersalah di cerita ini udah mendapatkan hukuman nya masing masing ya...

Kek Hendratmo yg menutupi kasus tabrak lari anaknya, juga dokter Maya sendiri.
Mungkin dendam dokter Maya ini nggak akan ada klo Hany nggak jadi pasien nya.
tapi apapun alasannya menghabiskan nyawa orang itu tidak benar dan Maya udah dapet hukuman nya, dipenjara iya hukuman mental juga iya.

Misty sama Michael hanya orang yg dimanfaatkan.


panjang ulasan ku wkwkwk

ditunggu next karya kak
Purnamanisa: siap kak😊😊
total 3 replies
Purnamanisa
terimakasih sudah menyimak sampai akhir kak 🙏🙏🙏

utk misteri thrillernya nunggu wangsit dulu, kak... ternyata cukup melelahkan nulis cerita berat 😅😅😅
Rahma Amma
suka skli ceritanya, di tunggu karya selanjutnya yg bergenre misteri thriller💪
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Susahnya dokter Maya bwt ngaku
Purnamanisa
semoga nggak bosen ya kak 🙏🙏
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : aman kak
total 1 replies
Rahma Amma
makin deg degkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tiga puluh apa tuh ini?
Purnamanisa: tiga puluh menit kak 😅😅
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh loh ternyata sama maya juga kek misty, Michell, juga hanny trauma kecelakaan 10 taun lalu. bener nggak tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
duhh gantung trs, susah nya buka mulut dokter Maya wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bingung euyyy mo komen apa wkwkwk
Siapa lagi yg Maya tutupi?
Rahma Amma
dugaan awalku ternyata benar,dokter maya pelakunya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
sepandai pandainya tunai melompat ya akhirnya jatuh juga... mungkin itu istilah bwt dokter Maya. nggak aneh sih klo dia bisa setenang itu sblm nya kna selain blom ada bukti jelass dia juga seorang dokter, psikiater yang udah pasti bisa mengatasi ketenangan nya.

Sbnrnya aku ada sedikit tebakan yg ntah ini betul atw nggak setelah sampe babb ini aku baca.

Dalang dari kematian Hany dan Nadia ya Maya ini, ntah memanfaatkan Michael saat dia nggak sadar, atw dokter Maya sendiri pelaku nya. kna ntah aku lupa di babb brp ada percakapan antara sii pelaku dan korban yg tetangga misty klo nggak salah, ngomong soal jadwal konsultasi.

Motif Maya jelas balas dendam kna kasus Rachel tabrakan lari 10 thn lalu itu.

Klo Misty aku lihat mungkin dia hanya alur, ide cerita nya di novelist yg di manfaatkan.

duhh panjang komentar ku😄
Rahma Amma
bkn michael pelakunya
Purnamanisa: 🤭🤭
tinggal beberapa bab menuju akhir. semoga ga bosen dg ceritanya ya 😊😊
terimakasih sudah menyimak sejauh ini🙏🙏🙏
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
next kak

jadi ikut mikirin teka teki naskah novelist ini wkwkwk
Purnamanisa: makasih udah setia baca kisah ini 😊😊
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pisau nya kah?
Rahma Amma
pisau kah..?
Rahma Amma: boleh..boleh..😄🤭
total 2 replies
Rahma Amma
apakah Dr.Maya?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : Alex keknya ya wkwkwk
total 2 replies
Rahma Amma
kayaknya michael bkn pelakunya deh...
Purnamanisa: terimakasih kak 😊😊 tambah semangat kalau banyak yg baca, like dan komen 😁😁
total 3 replies
Rahma Amma
apakah pelakunya maya atau michael????
penasarannya sampai ke ubun2🤣🤣
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : tebakan aku malah direktur nya misty, Kaka nya bimbim
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, masih aku tungguin bab selanjutnya bwt saya baca.
Purnamanisa: terimakasi kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!