Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Zain baru saja menutup telpon dari saudara kembarnya. Pria berusia 26 tahun itu masuk ke dalam mobil untuk kembali ke hotel. Ia baru saja selesai memantau pembangunan kontrakan 20 pintu di salah satu daerah yang cukup jauh dari kota Semarang. Ia hanya seorang diri, karena Pak Jali yang biasa menemaninya sudah pulang terlebih dahulu.
Kebetulan malam ini listrik mati jadi suasana jalan cukup gelap. Zain harus berkonsentrasi penuh dalam mengemudi karena matanya minus. Meski ia memakai kacamata minus, namun tetap saja kadang penglihatannya kabur kalau malam hari.
"Ya Allah... gelap sekali. Tahu begini, aku pulang sejak sore tadi. Padahal tadi Pak Jali sudah mengingatkanku." Lirihnya.
Tidak berselang lama, terdengar suara yang cukup mengejutkan.
Brak....
Zain menginjak rem secara mendadak. Rupanya ia telah menabrak sesuatu.
"Astaghfirullah.... "
Kemudian terdengar suara rintihan.
Zain segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri suara tersebut dengan menyalakan senter dari handphone nya. .
"Bapak bapak.... "
Seorang perempuan berusia 20 tahun sedang merangkak ke arah sang Ayah yang saat ini tidak sadarkan diri dengan luka cukup parah dan darah yang mengalir dari kepalanya. Melihat hal itu, Zain mendadak panas dingin. motor bapak itu menabrak tiang hingga rusak parah. dan tubuh bapak itu menghantam tiang.
"Hei Tuan! kenapa anda hanya berdiri, tolong bapak saya!" Tertangkap perempuan tersebut dengan suara yang bergetar.
"Eh iya... "
Zain langsung membopong tubuh bapak tersebut ke dalam mobilnya. Sedangkan perempuan itu berusaha untuk bangun. Zain kembali untuk membantunya dan memapahnya masuk ke dalam mobil. Meski ia sempat menolak karena masih bisa berjalan sendiri. Zain langsung menelpon Pak Jali untuk meminta pertolongan.
Di dalam mobil perempuan tersebut menangis tersedu-sedu melihat keadaan sang Ayah. Zain membawa mereka ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Sampai di puskesmas, Bapak dan anaknya itu langsung dibawa ke UGD.
"Pak, keadaan bapak ini cukup parah, alat-alat di sini tidak lengkap. Kami akan merujuknya ke rumah sakit XX karena harus segera ditangani."
"Lakukan yang terbaik, dok!"
Sedangkan anak perempuan bapak tersebut hanya mengalami keseleo dan memar di di siku tangannya. Zain memintanya untuk menghubungi keluarganya. Dengan tubuh gemetar ia segera menghubungi keluarga dari sang bapak, yaitu paman yang merupakan adik bapaknya. Namun ternyata pamannya belum bisa datang karena sedang berada di luar kota.
"Bawa saja bapak saya ke rumah sakit. Saya akan ikut bersamanya."
"Tapi kamu juga butuh perawatan."
"Tidak, saya sudah sembuh. Saya tidak apa-apa."
Ia berusaha kuat demi sang bapak.
Akhirnya setelah mengurus surat rujukan, Bapak tersebut dibawa menggunakan mobil ambulan. Anak perempuannya ikut masuk ke dalam mobil ambulan dengan jalannya yang tertatih. Sedangkan Zain dan Pak Jali naik mobil mengikuti mobil ambulan dari belakang.
Di dalam perjalanan ke rumah sakit, anak perempuan itu menangis tersedu-sedu sambil memegangi tangan sang bapak yang terpasang selang infus.
"Bapak... bapak harus sembu."
Sementara itu di dalam mobil, Zain nampak frustasi.
"Kenapa bisa terjadi, Mas Zain?" Tanya pak Jali.
"Pak Jali, jalanan cukup gelap, dan kebetulan motor bapak itu tidak ada lampunya. Saya tidak sengaja menabraknya."
"Jika begitu, berarti ini bukan kesalahan anda sepenuhnya."
"Meski begitu tetap saja saya khawatir. Bagaimana kalau nyawanya tidak tertolong?"
"Na'udzubillah min dzalik, semoga Pak Zakir selamat."
"Aamiin.... "
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Pasien langsung dibawa ke IGD dan langsung ditangani. Melihat dari ekspresi dokter, sepertinya cukup mengkhawatirkan.
Pasian akhirnya dibawa ke ruang Rontgen sebelum akhirnya dibawa ke ICU.
"Dok, biarkan saya menemani bapak."
"Maaf, mbak. Belum bisa ya. Ini demi kebaikan bersama. Nanti jika diperlukan, mbak akan kami panggil. Mohon pengertiannya."
"Baiklah, tolong selamatkan bapak saya."
Dokter hanya mengangguk.
Tiyas pun duduk di bangku yang tidak jauh dari ruang ICU.
Pak Jali menghampiri perempuan tersebut.
"Maaf nduk, namamu siapa?"
"Tiyas, Ayu Ning Tiyas. "
"Bagaimana, apa keluargamu sudah bisa dihubungi?"
Tiyas hanya bisa menggelengkan kepala. Ia bingung mau menjawab apa. Selama ini ia hanya tinggal berdua dengan bapaknya yang hanya seorang buruh tani. Sedangkan ibunya, sudah lama telah meninggal saat melahirkan adik Tiyas yang juga meninggal di dalam perut. Saat itu Tiyas masih duduk di bangku SD kelas 1. Sejak saat itu, Ayah Tiyas pun tidak pernah menikah lagi. Hari-hari Tiyas dihabiskan bersama sang bapak. Bapak Tiyas bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama anak semata wayangnya. Sedangkan keluarga yang lain tidak pernah menoleh pada mereka. Mereka dijauhi oleh saudara sendiri karena dianggap orang tidak mampu. Setelah lulus SMK dia tahun yang laku, Tiyas berniat untuk mencari pekerjaan di kota. Namun, bapaknya melarang dengan alasan tidak ingin jauh-jauh dari Tiyas. Karena kalau Tiyas bekerja jauh dari rumah, otomatis ia harus meninggalkan rumah. Karena mencari pekerjaan di kampung sangat sulit. Akhirnya Tiyas menuruti apa kata sang bapak. Ia pun mencari pekerjaan yang ada di kampungnya. Ia bekerja sebagai penjaga warung. Meski gajinya tidak seberapa, namun ia tetap menjalaninya. Hal tersebut dilakukannya untuk meringankan beban sang bapak. Karena menjadi buruh tani tidak selalu ada kerjaan. Hanya ketika musiman saja.
Pak Jali tidak melanjutkan pertanyaannya karena melihat kondisi Tiyas yang masih syok.
Zain pun hanya melihat mereka dari kejauhan sebelum akhirnya ia pergi ke Mushalla rumah sakit untuk shalat isya'. Dalam do'anya Zain meminta kesembuhan untuk Pak Zakir.
Setelah selesai shalat, Zain pergi ke kantin untuk membeli air mineral dan roti. Ia juga membelikannya untuk pak Jali dan Tiyas. Lalu ia kembali menemui mereka.
"Pak, minum dulu." Ujar Zain sambil menyodorkan dia botol air mineral kepada Pak Jali.
Ia juga memberi kode agar Pak Jali memberikannya kepada Tiyas.
"Nduk, ayo minum dulu. Kamu pasti haus."
Tiyas menggelengkan kepala.
"Nduk, jangan siksa dirimu. Kamu juga harus sehat agar bisa menemani dan mendo'akan bapakmu."
Seketika Tiyas sadar bahwa dirinya belum shalat isya'. Shalat Maghribnya pun sudah terlewat.
"Astaghfirullah.... "
"Kenapa, nduk?"
"Saya belum shalat, pak."
"Ini minum dan makan dulu rotinya biar kamu punya tenaga. Setelah itu pergilah shalat!"
Akhirnya Tiyas menerima roti dan air mineral tersebut. Ia pun langsung memakan rotinya. Karena jujur saja sebenarnya ia sudah sangat lapar karena dari tadi siang ia belum makan lagi.
Zain sedikit lega melihat Tiyas mau makan.
Setelah menghabiskan rotinya, Tiyas pun pamit untuk pergi ke mushalla.
"Nduk, apa kamu perlu bantuan? Biar bapak antar ke Mushalla."
"Em... tidak perlu, pak. Saya bisa kok."
"Ya sudah, hati-hati."
Tiyas mengangguk.
Ia melangkah perlahan masuk ke dalam lift.
Bersambung....
...****************...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe