"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34. Sah
Aiden yang tampak sangat menggemaskan dengan stelan jas cilik berdiri di antara Fitri dan Dokter Danu. Balita itu tertawa riang setiap kali Dokter Danu mengusap kepalanya atau menggendongnya untuk menyapa para tamu undangan. Tidak ada sedikit pun sekat di antara mereka. Danu telah menjadi sosok ayah sejati yang dicintai Aiden sepenuh hati.
Fitri menatap wajah tampan suaminya dengan pendar rasa syukur yang tak terhingga. Air mata haru menggenang halus di sudut matanya yang indah.
"Terima kasih ya, Mas Danu..." bisik Fitri lembut di tengah keramaian pesta. "Terima kasih sudah memilihku dan menerima Aiden dengan seluruh ketulusan hatimu."
Dokter Danu mengulas senyum paling hangat yang ia miliki, menggenggam erat jemari Fitri lalu mengecup punggung tangannya dengan pendar kasih sayang yang teramat dalam.
"Justru aku yang harus berterima kasih, Fitri," jawab Danu dengan suara mengalun rendah yang amat mantap. "Kamu dan Aiden adalah takdir terindah yang Tuhan titipkan untuk melengkapi hidupku. Aku berjanji akan membahagiakan kalian berdua sepanjang sisa usiaku."
Sementara itu, di balik pilar besar dekat pintu keluar gedung resepsi, sosok Adam berdiri membisu. Pria itu mengenakan kemeja batik sederhana yang bersih dan rapi. Ia tidak melangkah naik ke atas pelaminan, sengaja memilih berada di barisan belakang agar tidak mengganggu kekhidmatan acara tersebut.
Dari kejauhan, Adam menatap senyuman bahagia yang mengembang di bibir Fitri—sebuah pendar kebahagiaan sejati dan rasa aman yang tak pernah mampu ia berikan selama tiga tahun masa pernikahan mereka dulu. Ia juga menyaksikan bagaimana Aiden tertawa lepas dalam dekapan hangat Dokter Danu.
Rasa nyesak dan penyesalan di dada Adam kini telah sepenuhnya melebur menjadi rasa damai dan keikhlasan yang tulus. Adam menyadari bahwa kebahagiaan orang-orang yang dicintainya tidak harus berada di samping dirinya.
"Bahagialah, Fitri... Bahagialah, Aiden..." bisik Adam pelan dari balik bibirnya yang menyunggingkan senyuman lega. "Dokter Danu adalah takdir terbaik untuk kalian."
Adam memutar badannya perlahan, melangkah keluar meninggalkan gedung resepsi menuju jalanan kota Bandung yang diterpa angin sore yang sejuk. Pria itu menyapu air mata di pipinya, lalu menarik napas panjang. Ia telah membayar seluruh dosanya, membebaskan hatinya dari belenggu masa lalu, dan siap melangkah menatap masa depannya sendiri dengan kejujuran dan kerja keras.
Di dalam gedung yang megah itu, Fitri, Dokter Danu, dan Aiden melambaikan tangan bersama kepada para tamu menyambut awal dari kehidupan baru yang penuh dengan cinta, ketulusan, dan kebahagiaan yang tak terpisahkan.
***
Di luar kebahagian Fitri dan Dokter Danu, Langkah kaki Adam terasa ringan saat ia menyusuri trotoar Kota Bandung yang mulai berangin. Di belakangnya, lampu-lampu gedung resepsi pernikahan Fitri dan Dokter Danu tampak gemerlap dari kejauhan. Tak ada lagi rasa perih atau sesak di dada. Hari ini, Adam benar-benar merasa lega karena sudah melihat wanita yang pernah disakitinya mendapatkan kebahagiaan sejati.
Ia melangkah menuju halte bus, merapatkan jaketnya, lalu merogoh saku celana. Tangannya menggenggam sebuah kunci bengkel kecil di daerah pesisir yang kini menjadi tempat tinggal barunya. Adam tersenyum tipis, menatap langit malam yang mulai dihiasi bintang.
"Selamat tinggal masa lalu... Aku ikhlas," bisiknya pelan sebelum akhirnya naik ke dalam bus yang membawanya pergi meninggalkan Bandung.
Enam bulan berlalu...
Kehidupan berputar begitu cepat. Setelah pernikahan yang penuh kedamaian itu, Fitri, Dokter Danu, dan Aiden kini menetap di sebuah rumah berarsitektur modern yang asri di kawasan Bandung Atas. Danu tak pernah absen memberikan perhatian dan kasih sayang utuh, baik untuk Fitri maupun Aiden. Bagi Aiden, Dokter Danu bukan sekadar sosok 'Papa', tapi juga pahlawan dan teman bermain yang paling ia sayangi.
Sore itu, langit kota Bandung terhias semburat jingga yang amat indah. Angin sejuk bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan tanaman hias di teras belakang rumah. Dokter Danu baru saja melangkah keluar dari dalam rumah setelah melepaskan jas kerjanya pasca menyelesaikan dua jadwal operasi besar di rumah sakit hari ini.
Di meja kayu teras, Fitri duduk menyambut suaminya dengan senyuman paling anggun dan hangat yang selalu menjadi penawar lelah terbaik bagi Danu.
"Mas Danu sudah pulang? Bagaimana operasinya hari ini?" sapa Fitri lembut sembari bangkit berdiri dan mencium punggung tangan suaminya dengan penuh rasa hormat.
Danu mengulas senyum tulus, merangkul pinggang Fitri dengan kelembutan yang sangat alami lalu mengecup dahi istrinya mesra. "Alhamdulillah berjalan lancar, Sayang. Semua pasien dalam kondisi stabil di ruang pemulihan."
Danu mendudukkan dirinya di kursi kayu, menyandarkan punggungnya yang agak pegal. "Aiden mana, Fitri? Biasanya jam segini dia sudah sibuk menyambut Papa di depan pintu."
"Aiden baru saja ketiduran di kamarnya, Mas," kekeh Fitri pelan. "Tadi siang dia puas main sepeda di halaman rumah sama Mbak pengasuh, jadi pas mandi sore langsung kecapekan dan lelap."
Danu mengangguk-angguk paham sembari tersenyum manis. Pria itu menyandarkan kepalanya, mengamati wajah cantik istrinya yang sore itu tampak makin berseri-seri dengan pendar kebahagiaan yang berbeda dari biasanya.
"Kamu kelihatan bahagia sekali sore ini, Fitri," goda Danu dengan nada mengalun rendah yang amat hangat. "Ada kabar bagus dari klinik?"
Fitri merona halus, jemarinya bergerak mengambil sebuah kotak hadiah kecil berbalita pita kain emas yang sejak tadi disembunyikannya di balik meja. Ia menyerahkan kotak tersebut ke atas pangkuan Dokter Danu.
"Ada kado kecil dari aku buat Mas Danu," bisik Fitri dengan pendar mata yang berkaca-kaca menahan rasa haru.
Danu menatap kotak itu dengan dahi berkerut heran namun penasaran. "Kado? Hari ini kan bukan ulang tahunku, Sayang?"
"Buka saja dulu, Mas," pinta Fitri lembut sembari mengulurkan tangannya menggenggam jemari hangat Danu.
Dengan perlahan, Dokter Danu membuka pita emas tersebut dan mengangkat tutup kotaknya. Di dalam kotak beludru merah itu, terbaring dua buah alat tes kehamilan garis dua berwarna merah tegas, berdampingan dengan foto hasil pemeriksaan USG kandungan yang memperlihatkan kantung janin kecil berusia delapan minggu.
Tangan Danu seketika gemetar hebat. Pria tegap yang biasanya sangat tenang di ruang operasi itu kini membelalakkan matanya dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
"Fitri... ini..." suara Danu serak, matanya berkaca-kaca menatap foto USG tersebut lalu beralih menatap wajah anggun istrinya.
Fitri mengangguk mantap, air mata kebahagiaan mengalir mulus menelusuri pipi mulusnya. "Iya, Mas... Alhamdulillah, Tuhan menitipkan adik baru buat Aiden di dalam perutku."
Danu seketika bangkit dari kursinya, berlutut di hadapan Fitri lalu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang teramat erat dan hangat. Pria itu menumpahkan air mata syukurnya di balik pundak Fitri, mencium pipi dan kening istrinya bertubi-tubi dengan pendar cinta yang tak terhingga.
"Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih banyak, Fitri..." rintih Danu haru dengan suara bergetar. "Ini adalah kado terindah dalam hidupku..."
Danu melepaskan pelukannya perlahan, merendahkan posisinya lalu menempelkan telinganya di atas perut datar Fitri, mengusapnya dengan kelembutan seorang ayah sejati.
"Halo, Anak Papa..." bisik Danu penuh kehangatan. "Tumbuh yang sehat ya di dalam sana. Papa, Ibu, dan Kakak Aiden sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu."
Fitri mengusap rambut suaminya dengan penuh rasa cinta. Di bawah naungan senja yang begitu indah, keluarga kecil itu resmi melangkah menuju babak baru kebahagiaan yang makin lengkap, utuh, dan tak terpisahkan oleh apa pun.
Malam harinya, sekitar pukul sembilan, suasana rumah sudah sepi dan tenang. Aiden masih tertidur pulas di kamarnya, sementara Fitri tertidur lelap di kamar utama karena efek rasa lelah dan mual di awal kehamilannya.
Dokter Danu duduk di ruang kerja pribadinya yang terletak di lantai dua. Cahaya lampu meja menyorot beberapa lembar dokumen medis yang sedang dianalisisnya. Senyum bahagia masih sesekali terulas di bibirnya setiap kali ia teringat foto USG di dalam saku kemejanya.
Ting!
Suara notifikasi ponsel Danu berbunyi, memecah keheningan ruangan. Danu melirik layarnya. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan sebuah pesan singkat melalui aplikasi percakapan, lengkap dengan sebuah lampiran dokumen format PDF.
Dahi Danu mengerut. Ia menggeser layar dan membuka pesan tersebut.
Nomor Tak Dikenal:
"Selamat atas kebahagiaan barumu bersama Fitri, Dokter Danu. Tapi sebelum kamu melangkah lebih jauh sebagai suami dan calon ayah, ada baiknya kamu buka dokumen ini. Jangan sampai kamu membesarkan anak dari hasil kebohongan besar yang disimpan Fitri selama tiga tahun terakhir."
Jantung Danu seketika berdesir aneh. Tatapannya terpaku pada nama file PDF di pesan itu: Rekam_Medis_Fitri_2023_Kerahasiaan_Pasien.pdf.
Napas Danu mendadak terasa agak berat. Sebagai seorang dokter senior, ia tahu betul kerahasiaan rekam medis adalah hal yang sangat sakral. Bagaimana bisa ada orang tak dikenal mengirimkan rekam medis masa lalu istrinya?
Dengan jemari yang sedikit ragu, Danu menekan tombol download dan membuka file tersebut.
Layar ponsel memancarkan dokumen bertanda tangan resmi dari sebuah rumah sakit di daerah Jawa Tengah. Danu membaca baris demi baris rekam medis milik Fitri tiga tahun lalu—saat Fitri baru saja berpisah dari Adam.
Mata Danu membelalak hebat saat membaca hasil diagnosis dan catatan operasi darurat di lembaran kedua.
Catatan Medis:
"Pasien Ny. Fitri telah menjalani tindakan komprehensif pasca trauma parah... Risiko medis berlanjut: Kondisi rahim dan riwayat komplikasi masa lalu menunjukkan ketidakmungkinan secara medis untuk hamil kembali tanpa penanganan khusus."
Danu terpaku di kursinya. Wajahnya berubah pucat pasi.
Jika rekam medis ini asli, lalu... siapakah janin yang baru saja dinyatakan dikandung Fitri sore tadi? Apakah ada rahasia medis besar yang disembunyikan Fitri darinya selama ini, ataukah ada dalang misterius yang sengaja ingin menghancurkan kebahagiaan rumah tangga mereka?
Sebelum Danu sempat mencerna rasa syoknya, ponsel di tangannya mendadak bergetar kembali. Kali ini sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama.
Danu menelan ludah yang terasa pahit, lalu menggeser tombol hijau ke telinganya dengan tangan bergetar.
"Hallo..." suara Danu terdengar begitu dingin dan tegang.
Suara tertawa kecil yang serak dan penuh misteri terdengar dari seberang telepon.
"Sudah dibaca dokumennya, Dokter Danu yang terhormat? Sekarang... mari kita bicara soal rahasia kecil yang ditinggalkan mantan suami Fitri sebelum dia pergi."
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.