Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Belas — Memilih Gaun Pengantin
Dahi Pei Chanqing masih mengernyit dalam, merasa heran bagaimana bisa pelaku penembakan itu begitu cepat menghilang tanpa jejak. Tak lama kemudian, suara derap langkah kecil terdengar mendekat dari area toko. Putri Bangsawan Cheng bersama beberapa putri bangsawan lainnya muncul dari sana.
"Ada apa ini?" tanya sang Putri Bangsawan Cheng lembut. Begitu melihat sosok Pei Chanqing berdiri di dekat kereta, ia buru-buru memberi hormat dengan anggun. "Salam, Tuan Pei. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
"Hanya sedikit kekacauan kecil," jawab Pei Chanqing singkat dengan nada datar.
Tidak berselang lama, Yueli akhirnya keluar dari dalam kereta dengan dibantu oleh Bai Ting. Melihat calon istrinya turun, Pei Chanqing segera melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk membantu Yueli berpijak dengan aman.
"Apakah kau menemukan sesuatu, Pei Gege?" bisik Yueli cemas.
Pei Chanqing menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada," ucapnya, meskipun secara diam-diam tangan pria itu meremas erat batang panah berlabel Panah Api tadi sebelum akhirnya membuangnya ke semak-semak.
Wajah Yueli tertunduk sesaat, lalu ia mendongak dengan senyum tipis yang menyiratkan sindiran halus. "Kira-kira, apakah ini hanya anak panah latihan yang melesat sembarangan?" tanyanya dengan nada getir.
Beberapa gadis bangsawan di sekitar mereka langsung saling bertukar pandangan dan berbisik-bisik. Sementara itu, Putri Bangsawan Cheng yang menyadari keberadaan Yueli mendadak merona merah, wajahnya menegang.
"Anda di sini rupanya, Nona Yueli," sapanya kaku.
Yueli menoleh, mendapati gadis yang hampir mempermalukannya dengan sikap sok lugu di acara jamuan milik istana tempo hari berdiri tidak jauh darinya.
"Salam, Putri Bangsawan Cheng," balas Yueli memberikan salam formal. Ia berjalan mendekat, berdiri berdampingan secara alami dengan Pei Chanqing. "Kebetulan, hari ini kami datang untuk mencari pakaian upacara pernikahan kami."
Bisikan-bisikan dari para gadis bangsawan lain terdengar kian keras, menusuk pendengaran. Di sisi lain, kepalan tangan Putri Bangsawan Cheng di balik lengan bajunya kian mengerat, dadanya bergemuruh menahan amarah dan rasa terkejut yang luar biasa.
"Begitu rupanya... Nona Yueli," ucap Putri Bangsawan Cheng dengan gigi yang terkatup rapat.
Dengan langkah pelan, dituntun oleh calon suaminya, mereka melewati gerombolan putri bangsawan tersebut. Lirikan mata Yueli menyipit, ia tersenyum puas—merasakan sedikit kemenangan di atas angin sebagai balasan atas perbuatan Putri Bangsawan Cheng sebelumnya.
Ia memasuki area toko pakaian, lalu mendongak menatap Pei Chanqing. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan suara rendah.
"Hanya orang ceroboh yang salah melesatkan panah," jawab pria itu datar.
Kekehan rendah terdengar dari bibir Yueli begitu seorang pelayan wanita mendekat. "Apakah ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya pelayan itu ramah.
"Aku ingin sepasang gaun pengantin," ucap Yueli dengan senyuman. "Tunjukkan yang paling bagus menurut Anda untuk saya," lanjutnya.
Begitu wanita itu pergi bersama pelayan lainnya untuk mengambil pesanan, Yueli mengeratkan pegangannya di lengan Pei Chanqing, lalu berbisik tajam, "Apakah seorang jenderal besar sepertimu benar-benar tidak bisa mencari pelakunya?"
Ucapan itu membuat Pei Chanqing terdiam sesaat. Pria itu menundukkan kepalanya, menatap langsung ke dalam mata Yueli. Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki yang rendah terdengar kembali mendekat. Gerombolan Putri Bangsawan Cheng ikut masuk ke dalam toko.
"Kalian tampak begitu serasi," ucap salah seorang gadis dari rombongan itu dengan nada dibuat-buat.
"Terima kasih atas pujiannya," balas Yueli tenang.
Putri Bangsawan Cheng melangkah maju mendekat. "Aku dengar pernikahan kalian hanya terpaut satu hari dengan pernikahanku."
"Iya, Nona," jawab Yueli tanpa gentar.
"Kau begitu ingin menarik perhatian Putra Mahkota hingga terburu-buru?" sindirnya pelan dengan nada merendahkan.
Yueli justru mengeratkan pelukannya di lengan sang calon suami, lalu tersenyum manis penuh percaya diri. "Tentu tidak. Suamiku jauh lebih mempesona daripada siapa pun, Nona."
Mendengar balasan telak itu, mata Putri Bangsawan Cheng membelalak tajam. Wajahnya yang semula memerah menahan malu kini berubah kelam, nyaris sepucat kertas. Para gadis bangsawan di sekelilingnya seketika membeku, tidak ada yang berani berbisik-bisik lagi di bawah tatapan dingin Pei Chanqing yang mengayomi Yueli dengan postur tubuhnya yang kokoh.
Yueli mempertahankan senyum kemenangannya, membiarkan keheningan yang menyesakkan itu menghantam balik pihak sang putri.
"Ah, tentu..."
Tak perlu menunggu lama, wanita kepala toko beserta para pelayannya kembali dengan membawa beberapa setelan pakaian yang digantung rapi. Warna merah menyala mendominasi dengan pola sulaman benang emas yang rumit dan tampak sangat mewah. Mata Yueli seketika sedikit berbinar melihat keindahan gaun-gaun tersebut. Ia menarik lengan Pei Chanqing, memaksa pria itu mendekat untuk melihat deretan pakaian pengantin tersebut.
"Bagus yang mana?" tanya Yueli antusias.
"Sama saja," jawab Pei Chanqing singkat.
Yueli langsung berdecih pelan. "Semua pria memang sama saja."
"Semua pria?" tanya Pei Chanqing dengan nada rendah dan menyelidik.
Namun Yueli mengabaikannya. Ia mengambil satu setel gaun pertama, lalu mengangkatnya untuk melihat tampilannya di cermin.
"Ini bagus?"
"Bagus."
Ia mengambil gaun yang lain. "Bagaimana dengan ini?"
"Lumayan."
Yueli melemparkan gaun itu ke tempat lain dengan gemas, lalu meraih setelan berikutnya. "Kalau yang ini?"
"Iya."
Mendapat jawaban yang monoton itu, beberapa putri bangsawan di sekitar mereka mulai saling berbisik rendah dengan nada mengejek. Bahkan Putri Bangsawan Cheng tampak tersenyum sinis, menikmati pemandangan bagaimana sang jenderal tampak tidak peduli pada pilihan busana calon istrinya.
Yueli mendengkus kesal. Ia melangkah mendekat, berdiri sangat dekat dengan Pei Chanqing hingga aroma kayu manis dan maskulin pria itu menguar. Suaranya dibuat mendesah lembut, sengaja memancing reaksi. "Pei Gege, katakan padaku... pakaian mana dari semua ini yang benar-benar mampu membuat jantungmu berdebar?"
Mendengar pertanyaan frontal itu, Pei Chanqing mengernyit bingung, alisnya menyatu rapat. Suara Yueli yang menggoda membuat ketenangannya sedikit goyah. Pria itu menatap lurus ke manik mata Yueli sebelum akhirnya menjawab jujur, "Apapun itu... asalkan kau yang memakainya."
Tawa kecil yang tertahan dari para penonton di sudut toko langsung terdengar. Rona merah yang langka seketika merayap naik ke leher dan wajah sang jenderal yang biasanya selalu dingin. Merasa salah tingkah, Pei Chanqing berdehem pelan. "Pilihlah sesukamu yang mana saja."
"Baiklah," ucap Yueli puas melihat reaksi pria itu. Ia menoleh ke arah pelayan toko, lalu menunjuk beberapa setel secara acak. "Ambilkan satu pasang ini, sesuaikan dengan ukuran tubuh kami, dan tambahkan sepasang sepatu pengantin yang senada."
"Aku dengar rumahmu kebakaran?" pertanyaan Bangsawan Cheng mengalihkan fokus Yueli.
"Ternyata kabar tersebar begitu cepat..." Yueli terdiam sesaat, matanya menatap lurus gadis itu. "Sepertinya angin kebakaran semalam sampai ke tempatmu..."
"Bukan begitu, aku turut berduka atas kabar itu..."
"Tidak ada yang tewas, hanya saja pelakunya tidak mau mengaku."
"Pelaku?"
"Ya, dia bahkan memilih menutup mulutnya rapat-rapat daripada membongkarnya..." Yueli melangkah lebih dekat. "Karena ya... surat-surat dari Yang Mulia juga ikut terbakar."
Bangsawan Cheng terdiam, ia mundur selangkah. "Surat Yang Mulia?"
"Ya... surat-surat mesra itu... Membayangkannya saja aku jijik."
Bangsawan Cheng terdiam, tangannya terkepal. Ia menghentakkan kaki keras-keras, lalu tanpa berpamitan langsung melangkah keluar. Beberapa orang dari rombongannya ikut bergegas pergi bersamanya, sementara Pei Chanqing mendekat.
"Kau terlalu berani," ujar pria itu.
"Untuk apa?"
"Membuka skandalmu sendiri."
"Tidak, aku hanya tidak memberinya kesempatan menjadi penggosip nomor satu."
Pei Chanqing justru menggelengkan kepalanya pelan.
Pelayan toko dengan cekatan membungkus gaun pesanan mereka setelah pembayaran diselesaikan. Namun, tepat ketika Yueli dan Pei Chanqing hendak melangkah keluar dari area butik, pintu utama kembali berderit terbuka.
Xuer melangkah masuk ke dalam toko dengan wajah tertekuk masam, ditemani oleh seorang pria berpostur tegap yang berjalan di belakangnya.
Melihat kehadiran sang adik di tempat ini setelah insiden pingsan sebelumnya, Pei Chanqing langsung menyipitkan mata, mengenali sosok pria yang mendampinginya.
"Pei Yu..." panggil Pei Chanqing rendah, suaranya mengandung nada peringatan sekaligus keheranan.
Mendengar panggilan itu, Xuer mendongak. Langkahnya terhenti, lalu ia menatap ke arah pasangan di hadapannya dengan ekspresi serba salah.
"Pei Gege..." panggil Xuer pelan, suaranya terdengar ragu-ragu. Gadis itu menoleh sekilas ke arah wanita di samping pria itu, lalu melanjutkan dengan nada semakin lirih, "Kak Yueli..."
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu