NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelingking Bertaut, Maaf yang Terucap

Aku melihat wajah yang begitu memelas dan memohon yang Kak Revan tunjukkan padaku. Sorot matanya begitu lembut, sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

"Untuk apa aku memelukmu... Kak?" bisikku lirih, sesekali melihat langkah Bu Rahayu yang semakin mendekat ke arah kami.

"Lakukan saja, demi ibu..." bisik Kak Revan, nada suaranya penuh dengan penekanan. Terkesan dengan paksaan.

Aku semakin dibuat bingung, sampai.

"Alya, kamu sayang dengan ayahmu. Begitupun dengan aku sayang dengan ibuku. Ibu tahu kejadian semalam. Aku yang mabuk, dan kejadian setelah itu. Ibu berpikir jika kita sedang bertengkar. Aku nggak mau buat ibu stres... karena hubungan kita..."

Tatapan sendu itu terus menatap lekat.

"Jika kamu masih belum siap untuk memaafkanku. Tolong lakukan sandiwara ini di depan ibu, tunjukkan jika hubungan kita baik-baik saja...."

Bisikan Kak Revan mengalir begitu saja... Aku masih terdiam. Hati ini sama sekali belum tergerak, bukan berarti aku tidak peduli dengan Bu Rahayu. Melainkan, aku takut hubungan ini akan semakin menjadi rumit.

"Aku... aku mohon... Ibu sakit. Alya...."

Mendengar kata sakit, aku langsung teringat dengan ayah di kampung. Kak Revan juga peduli dengan kesehatan ayah, bahkan ia sudah menyiapkan fasilitas untuk pengobatan ayah.

Pada akhirnya aku merentangkan tangan, memeluk tubuh pria yang telah banyak menggoreskan luka di hati. Aku tenggelam dalam pelukannya, dengan air mata yang mulai menetes di pipi. Aku memejamkan mata sejenak, merasakan rengkuhan tangan Kak Revan yang mulai mendekap erat tubuhku. Terasa kaku, tapi aku hargai usahanya. Demi ibu.

Ya Allah... ternyata rasa sayangku pada pria ini lebih besar daripada rasa sakitku.

Kenapa Engkau menciptakan rasa sayang yang begitu dalam ini, ya Allah, sementara pria ini tidak mencintaiku sama sekali.

"Kenapa ibu bisa tahu dengan kejadian semalam di kamar? Apa kamu memasang CCTV yang bisa langsung ibu ketahui?" bisikku pelan, dengan tubuh yang masih berada dalam pelukan Kak Revan.

Terasa helaan napas gusar dari Kak Revan. Hembusan napasnya terasa pada puncak kepalaku.

"Aku yang mabuk dan noda merah di seprai, hingga ibu menyimpulkan hal yang sama seperti yang kamu katakan."

"Ibu nggak salah. Wajar saja jika ibu marah."

"Alya, tolong... mengertilah, aku tidak bermaksud seperti itu."

Dan apa yang dilakukan pria ini sekarang, ia meraih puncak kepalaku serta mendaratkan kecupan di keningku.

Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih, tapi apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Bersandiwara di depan ibunya untuk menutupi kesalahannya dan aku kembali yang menjadi korbannya.

Kecupan itu terasa lama, hembusan hangat napasnya tidak mampu membuat hati ini berdesir. Melainkan rasa perih yang aku rasakan.

"Apa yang kamu lakukan ini salah, Kak. Ini akan semakin mempersulit kita untuk berpisah."

Pandangan kami bertemu sekilas, Kak Revan cepat mengusap air mataku yang kembali menetes di pipi. Bukan karena peduli, melainkan takut ketahuan ibu jika aku menangis.

"Syukurlah kalau kalian sudah baikan..." suara tenang Bu Rahayu mampu mengalihkan tatapan kami.

"Ibu sangat khawatir jika Alya akan sangat marah dengan kelakuan Revan semalam. Ibu tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Kembali meminum minuman terlarang. Padahal sudah lama Revan meninggalkannya."

Berarti saking sakit hatinya Kak Revan, hingga ia kembali melampiaskan amarahnya dengan minum alkohol.

Sungguh, Aira kamu sangat berarti untuk kehidupan Kak Revan.

"Ibu sangat kecewa.."

Aku melirik Kak Revan sekilas, pria itu tampak menundukkan wajahnya.

"Maaf, Bu, malam itu Revan sedang merasa di titik paling lelah. Urusan kantor logistik, evaluasi rumah sakit, kondisi ibu yang semakin menurun itu bagai beban yang terus menumpuk pada bahuku, Bu. Dan berbagai masalah lainnya yang semakin banyak berdatangan.."

Apa iya, itu masalahnya. Bukan hanya diputuskan Aira saja?

Aku ingat, yang waktu itu Kak Revan pulang dengan wajah yang sangat terlihat lelah, sampai ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menarik tanganku untuk ia genggam.

"Walaupun ibu sangat kecewa, tapi sejuta maaf ibu pasti akan berikan. Ibu tahu, Revan, kamu pasti lelah dengan ini semua setelah ayahmu pergi...."

"Ibu, jangan ikut menanggung bebannya. Biar aku saja.."

"Terima kasih, Nak, semoga semua masalah cepat diselesaikan."

"Alya..?" panggil Bu Rahayu lembut.

"Iya, Bu?"

"Kamu tidak apa-apa?"

Aku mengangguk dengan mengulas senyum tipis pada wajah.

"Alya baik-baik saja, Bu."

🌸🌸🌸

Satu minggu setelah kejadian itu, aku dan Kak Revan bagai dua insan yang tidak saling mengenal yang hidup dalam satu ruangan.

Aku dengan kesibukanku dan Kak Revan dengan sejuta kesibukannya.

Kami hanya menjalankan kehidupan masing-masing. Tanpa kata, obrolan, atau sapaan. Karena aku masih sering menarik diri dari pria itu.

Tapi apa yang membuatku malu, aku masih tetap saja tidak sadar, tertidur di samping Kak Revan sambil memeluknya. Aku sudah berusaha keras untuk menghilangkan kebiasaan itu, tapi kenapa itu sangat susah. Alam bawah sadarku, sulit aku kendalikan.

Seperti pagi ini, kami sama-sama bersiap untuk berangkat kerja. Aku yang sibuk menumpuk buku pembelajaran sesekali melirik ke arah pria yang tengah sibuk mempersiapkan alat kerja yang akan dibawa. Terlihat sangat keteteran, karena aku tahu semalam Kak Revan pulang tengah malam dari rumah sakit.

Guratan wajah lelah, dengan cekung bola mata yang semakin dalam. Kak Revan sangat bekerja keras untuk menstabilkan masalah di rumah sakit dan kantornya.

Sesekali pria itu melirik jam di tangannya, mungkin sedang buru-buru. Sementara jas kerja dan alat kerjanya belum siap sama sekali.

"Biar aku bantu, Kak Revan pakai saja sepatu kerjanya."

"Makasih, Al." Aku hanya mengangguk sebagai respons.

Mengambil jas putih yang sudah rapi di dalam lemari, melepas gantungannya dan melangkah untuk memberikannya pada Kak Revan.

"Makasih, udah gak marah. Dosa loh, marahan lebih dari tiga hari."

Nyes... banget hati ini. Aku tidak menyangka Kak Revan bisa berkata seperti itu.

"Dosa mana sama minum yang dilarang..?" Aku masih belum bisa menatap wajah pria itu.

"Janji gak minum itu lagi."

Kemudian Revan mengulurkan jari kelingkingnya di hadapanku.

Membuat hati ini kembali berdenyut hangat.

"Demi ibu lagi... atau demi sandiwara kita, tapi setidaknya kamu tidak minum alkohol lagi sampai pernikahan ini selesai."

Ada anggukan samar dan alis yang dinaik-turunkan, sebuah respons setuju dari pria ini. Pada akhirnya aku mengulurkan jari kelingking tanda kesempatan maaf untuknya.

"Demi ibu, juga demi maaf dari Alya..."

Nyes... denyutan hangat itu kembali hangat. Berdesir perlahan.

Beberapa jam kemudian, siang harinya seperti biasa aku akan asyik bertukar cerita dengan Zara, bedanya kini Zara yang mendatangi ruang kelas.

"Korban tanah longsor di daerah Mekar Ranum sudah mencapai tiga ratus orang?"

Aku yang sedang menatap layar laptop sontak teralihkan dengan berita yang dibaca oleh Zara.

"Di mana itu, Ra?"

"Mekar Ranum, daerah perbukitan sekitar empat jam atau tiga jam dari sini."

"Kok aku baru tahu beritanya..?"

"Longsor parah, tau, Ra. Sekitar dua ratus rumah warga tertimpa tanah longsor."

"Innalillahi... kok aku sampai ketinggalan beritanya."

"Dibutuhkan donasi, berupa pakaian, alat tulis untuk anak-anak belajar, tenaga medis, dan juga tenaga pengajar...."

"Kamu tertarik gak, Ra? Kayaknya sih butuh tenaga pengajar karena buat mengalihkan rasa trauma anak-anak yang terkena bencana."

"Mau sih... tapi aku harus minta izin dulu dari Kak Revan.."

Tok tok tok...

"Assalamualaikum, permisi..."

Aku menoleh dan Ciara berada di ambang pintu sambil tersenyum dengan tampilan gigi yang copot dua.

"Bu Guru Alya, Dokter Revan pacar ibu, ya? Kok dia ke sini terus buat jemput Bu Guru Alya.."

Sontak Zara tersenyum menggoda ku.

"Eleh.... masih berusaha untuk meraih maaf dari Alya kali. Makanya Dokter Revan jemput ke sini."

"Kata Pak Dokter suruh panggil Bu Guru Alya... katanya Pak Dokter sudah nunggu di taman sekolah."

Bersambung.

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!