NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Sketsa di Balik Tirai

Daun pintu jati kamar Xavi menutup dengan debum halus yang diredam oleh karet kedap suara pada bingkainya. Olin masih terpaku di tepi ranjang, meremas tali ransel kecil anaknya hingga buku-buku jarinya terasa pegal. Aroma cendana yang ditinggalkan Zayyan di ambang pintu perlahan memudar, tersapu oleh embusan udara sejuk dari ventilasi pendingin ruangan yang berbisik statis.

Olin mendekati ranjang, meletakkan ransel itu di atas meja nakas tepat di samping kacamata bundar Xavi yang tergeletak pasrah. Dia memandangi wajah tidur putranya yang damai. Dada mungil itu naik turun dengan teratur, kontras dengan gemuruh yang sejak siang tadi mencabik-cabik ketenangan batin Olin. Ungkapan Zayyan tentang garis alis dan keras kepala itu masih terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang enggan berhenti.

Dengan langkah yang diseret pelan di atas karpet beludru, Olin melangkah keluar menuju ruang tengah paviliun barat. Gaun satin hijau zamrudnya yang panjang terasa menyapu lantai dengan bunyi desir yang samar.

Suasana ruang tengah kini sepi. Perapian modern di sudut ruangan hanya menyisakan kerlip barikade bara yang meredup, melemparkan bayang-bayang panjang keunguan di atas sofa abu-abu hangat. Olin berjalan mendekati meja kerja kayu ek tempat laptop stiker robot Xavi berada. Di samping perangkat canggih itu, sebuah buku sketsa bersampul kulit hitam miliknya tergeletak—benda yang selalu dia bawa ke mana pun sejak meninggalkan galeri lamanya.

Olin menduduki kursi kerja Xavi yang terasa terlalu tegak. Dia membuka lembaran buku sketsanya, mengambil sebatang pensil arang dari laci meja, dan mulai menggerakkan tangannya di atas kertas bertekstur kasar.

Sret. Sret.

Ketukan dan gesekan ujung pensil memenuhi kesunyian paviliun. Olin tidak sedang menggambar pola dekorasi atau kurasi seni. Jemarinya bergerak bebas, mengikuti memori visual beberapa jam lalu: siluet bahu tegap seorang pria berjas biru dongker yang berdiri membelakangi jendela menara kaca, menatap hamparan kota dengan keangkuhan mutlak yang tak tergoyahkan. Goresan arangnya tegas pada bagian rahang, namun sedikit memudar di sekitar mata—mencoba menangkap kilat asing yang lamat-lamat muncul saat pria itu mendekap tubuh mungil Xavi di selasar basah tadi.

"Sketsanya terlalu kaku pada sudut bahu kanan, Mommy."

Olin tersentak. Ujung pensil arangnya menorehkan garis tebal yang melenceng dari pola. Dia menoleh cepat dan menemukan Xavi sudah berdiri di celah pintu interkoneksi kamar. Bocah itu tidak lagi mengenakan jas abu-abu arangnya; dia telah berganti pakaian dengan piama katun bergambar rasi bintang, berjalan tanpa alas kaki mendekati meja kerja.

"Kau terbangun, Jagoan?" Olin meletakkan pensilnya, buru-buru menutup buku sketsanya dengan sedikit gugup. "Apakah suara gerimis di luar terlalu bising?"

Xavi menggeleng. Dia memanjat lengan kursi kerja, duduk menyamping di sudut meja dekat tumpukan kabel konektor. Matanya yang bulat tampak agak redup karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang, namun jemarinya sudah kembali meraba permukaan laptopnya. "Peladen sekunder di Menara Utama baru saja melakukan reboot otomatis. Tuan CEO sepertinya benar-benar memecat tim audit hukum Tuan Hendra malam ini. Lalu lintas datanya sangat kacau."

Olin mengusap pundak kecil putranya, merasakan kehangatan katun piama di bawah telapak tangannya. "Biarkan Tuan CEO mengurus urusan kantornya, Xavi. Tugasmu sekarang adalah kembali tidur."

Xavi terdiam sejenak, menatap layar laptopnya yang memantulkan kode-kode enkripsi berwarna biru lembut. "Mommy... pria itu tadi memegang kepalaku saat mengangkatku dari mobil. Telapak tangannya sangat besar. Jauh lebih besar dari tangan Malikh."

Gerakan tangan Olin di pundak Xavi terhenti. Dadanya mendadak terasa sesak oleh kejujuran polos yang keluar dari mulut anaknya. Selama tujuh tahun, Xavi tidak pernah bertanya tentang sosok ayah; bocah itu terlalu sibuk dengan dunia logikanya sendiri untuk memedulikan absennya satu figur di dalam rumah kecil mereka. Namun malam ini, di bawah atap El-Ghazali, tameng logika itu tampaknya mulai tergores oleh sentuhan fisik yang nyata.

"Dia hanya memastikan kau tidak terbangun, Xavi," ucap Olin, suaranya parau, hampir berbisik. Dia menunduk, mengecup pelipis anaknya yang beraroma sabun mandi ringan.

"Aku tahu," sahut Xavi pendek, menutup kembali layar laptopnya dengan bunyi klik yang bersih. Dia melompat turun dari meja, menatap Olin dari balik poninya yang berantakan. "Tapi dia juga menggunakan kode enkripsi pribadi yang sama dengan yang kugunakan untuk mengunci dokumen galeri kita tahun lalu. Dia... tidak sebodoh para komisaris tua itu, Mommy."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!