Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Joo Orange
...⚜️⚜️⚜️...
SEJAK Nicholas meninggalkannya begitu saja dengan langkah gusar, Anastasia didera kebingungan. Ia tidak tahu ke mana pangeran itu pergi. Bahkan, beberapa pengawal yang bersiaga di depan pintu ruangan mengaku sama sekali tidak melihat Nicholas melintas. Perasaan Anastasia mulai tidak tenang. Muncul secercah sesal di hatinya, mungkinkah Nicholas marah karena untai kalimat yang diucapkannya tadi?
Demi mengusir rasa sepi serta kabut pikiran yang kian suntuk, Anastasia memutuskan untuk menyusuri koridor-koridor istana, melangkah perlahan menuju gerbang utama. Ia berniat menghirup udara segar di taman depan yang tampak begitu asri dan menenangkan.
Di sepanjang jalan, sesekali ia menyapa ramah dan berbincang ringan dengan para pengawal yang ditemuinya. Bagi Anastasia, berinteraksi dan bertukar senyum dengan sesama selalu menjadi sumber energi positif yang mampu mengembalikan semangatnya.
Anastasia akhirnya mengambil posisi duduk di tepi kolam ikan hias yang dangkal. Ia mengulurkan tangan, menyusuri permukaan air yang jernih dan dingin dengan jemari lentiknya. Gerakan itu seketika memancing beberapa ekor ikan hias untuk berenang mendekat.
Di sekeliling kolam, bunga-bunga beraroma semerbak tampak mekar dengan anggun, menciptakan suasana yang memanjakan netra. Anastasia mengulum senyum riang, benar-benar menikmati keindahan sederhana tersebut.
Salah satu ekor ikan mendadak menarik perhatian Anastasia. Setiap kali ia menggerakkan jemarinya di dalam air, ikan kecil itu selalu mengikuti pergerakannya dengan lincah. Bahkan, saat Anastasia mengusap punggungnya dengan lembut, ikan itu tampak begitu tenang dan jinak. Warna tubuh makhluk air itu adalah yang paling mencolok di antara yang lain, jingga terang benderang dengan proporsi tubuh yang mungil namun tampak lebar menggemaskan.
"Hai, Ikan Kecil. Kau senang ya jika aku mengusapmu seperti ini?" tanya Anastasia, mulai mengajak ikan itu berbicara.
"Aku yakin kau pasti sangat menyukainya, makanya kau betah diam di dekatku, kan?" Anastasia tertawa lirih, merasa terhibur oleh tingkah polos makhluk di hadapannya.
"Kau benar-benar lucu dan menggemaskan. Siapa namamu? Atau... jangan-jangan kau belum memiliki nama?" lanjut Anastasia, seolah menanti sang ikan akan memberikan jawaban. "Oh, jadi kau belum punya nama? Bagaimana jika aku yang memberikannya?"
Anastasia menumpukan dagunya di tepi kolam, mendekatkan wajahnya ke permukaan air seolah sedang berbisik rahasia. "Uhm... bagaimana jika kupanggil Joo Orange? Bagaimana menurutmu?"
Ia memiringkan kepala, berpura-pura menunggu respons dari Joo Orange. "Kau setuju? Baiklah. Mulai detik ini, namamu adalah Joo Orange."
Beberapa pengawal yang berjaga di sekitar taman diam-diam menyunggingkan senyum simpul menyaksikan pemandangan tersebut. Di mata mereka, Putri Anastasia tidak sekadar memiliki paras yang rupawan, melainkan juga menyimpan pesona yang teramat polos, lucu, dan menggemaskan. Mereka benar-benar dibuat kagum oleh tabiat rendah hati sang Putri baru.
Beberapa menit berlalu, keheningan taman terusik oleh suara derap langkah kaki kuda. Agast, Ramond, dan Eknath baru saja tiba di pelataran istana dengan tunggangan masing-masing. Ketiganya seketika dibuat bingung saat mendapati para pengawal taman justru sibuk melemparkan pandangan takjub ke arah tepi kolam.
"Apa yang sedang mereka tonton?" tanya Agast heran.
Secara serentak, ketiga lord muda itu mengikuti arah pandang para pengawal. Detik saat netra mereka menangkap sosok Anastasia yang tengah bercengkerama dengan air kolam, ketiganya saling bertukar lirik. Seolah mampu membaca isi pikiran satu sama lain tanpa perlu bersuara, Agast, Ramond, dan Eknath langsung melompat turun dari pelana kuda masing-masing dan berlari kencang menuju arah kolam.
"Aku yang harus menyapanya duluan!" seru Ramond penuh antusias, memasang langkah seribu.
"Diam kau, Monyet! Siapa cepat, dia yang berhak!" timpal Agast tidak mau kalah, menambah kecepatan larinya.
"Enak saja kau ba—AAAWW!" Akibat terlampau bersemangat dan kehilangan fokus, kaki Ramond tersangkut undakan rumput hingga tubuhnya terjungkal secara dramatis sebelum sempat menapakkan kaki di area kolam.
Sementara itu, Eknath memilih bungkam. Pria itu fokus mengayunkan langkah secepat mungkin demi mencapai tempat Anastasia lebih dulu. Namun, kompetisi ini jelas tidak berjalan mudah. Agast yang licik tidak sudi mengalah begitu saja, ia nekat menjangkau dan menarik ujung jubah mewah Eknath dengan sentakan kuat. Alhasil, tubuh tegap Eknath tertarik mundur seketika, membuat bagian belakang tubuhnya mendarat telak di atas tanah.
"Dasar pengacau!!" teriak Eknath gusar, menatap Agast dengan pandangan membunuh.
Suara keributan yang cukup gaduh itu seketika memecah fokus Anastasia. Ia tersentak, lalu bergegas menoleh ke arah sumber suara. Kerutan samar langsung terbentuk di dahi mulusnya saat menyaksikan pemandangan janggal di depannya, ketiga lord sahabat suaminya itu tampak tengah bergulat hebat seolah sedang memperebutkan sesuatu yang teramat penting.
Namun, Anastasia sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi. Terlebih saat melihat Agast kini justru sibuk membungkus kepala Ramond menggunakan jubahnya sendiri, lalu memutar-mutar tubuh pria itu hingga limbung.
...***...
Anastasia menatap heran ke arah tiga sahabat Nicholas di hadapannya. Mereka saat ini telah berpindah ke ruang makan istana yang megah.
"Jadi... para lord yang terhormat ini, tadi sampai bertengkar hebat di taman hanya karena ingin menjadi orang pertama yang menyapaku?"
Ketiganya mengangguk serempak dengan wajah tanpa dosa, persis seperti anak kecil yang tertangkap basah berbuat usil. Anastasia mati-matian menahan senyum agar tidak kelepasan, ekspresi mereka benar-benar terlihat lucu.
"Kenapa harus sampai berebut begitu? Siapa pun boleh menyapaku terlebih dahulu, dan aku akan dengan senang hati menyambut kalian."
Mendengar penuturan lembut itu, ketiganya kompak terdiam seraya menunduk. Tangan mereka kompak bergerak menggaruk bagian belakang kepala masing-masing, walaupun Anastasia sangat yakin area itu sama sekali tidak gatal. Tingkah mereka sungguh menggelikan. Sejak awal berkenalan di pondok dulu, Anastasia memang selalu dibuat terhibur oleh tabiat unik tiga serangkai ini.
Keheningan sempat menyelimuti ruangan untuk beberapa saat.
"Uhm... bagaimana jika sebagai camilan, aku membuatkan para lord yang baik hati ini pai labu dan pai apel hangat?" tawar Anastasia, mencoba mencairkan suasana.
Mendengar kata 'pai', ketiganya seketika menegakkan tubuh dan memandang Anastasia dengan binar mata yang antusias.
"Aku setuju!" Ramond menjadi yang pertama mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Aku juga!" Agast dan Eknath menyusul bergantian, tidak mau ketinggalan.
Anastasia tertawa kecil melihat kekompakan mereka, lalu mengangguk-angguk paham. "Kalau begitu, mohon tunggu sebentar, ya. Aku akan menyiapkannya di dapur."
Ketiga lord itu mengacungkan jempol sebagai tanda setuju. Anastasia pun membalikkan tubuh, melangkah anggun memasuki area dapur istana untuk meracik pai pesanan mereka.
Baru saja ranum bibir Ramond terbuka, berniat menanyakan keberadaan Nicholas kepada pelayan yang lewat, tiba-tiba saja sosok yang mereka bicarakan muncul dari balik dinding kokoh yang menyekat ruang makan.
Ramond bergegas bangkit dari kursinya dan berlari kilat menghampiri Nicholas. "Dari mana saja kau, Nicholas? Kami lelah mencarimu ke sekeliling istana," cetus Ramond tanpa basa-basi sembari merangkul pundak sahabatnya secara tiba-tiba, sukses membuat Nicholas tersentak kaget.
"Sejak kapan kau dan yang lain berada di sini?" tanya Nicholas, menepis pelan lengan Ramond.
"Sedari tadi. Aku datang bersama Agast dan Eknath," sahut Ramond, mengarahkan ibu jarinya ke meja makan, di mana kedua pria yang dimaksud tengah melambaikan tangan dengan semangat.
"Untuk apa kalian kemari?"
"Halah, ketus sekali. Pertanyaanku saja belum kau jawab, tetapi kau sudah balik menginterogasiku dengan banyak pertanyaan. Jawab dulu pertanyaanku yang tadi."
Nicholas terdiam sejenak, memperbaiki posisi kerah jasnya. "Aku baru saja menghadap Baginda Raja untuk menuntaskan urusan wilayah Swindon."
Ramond memicingkan sepasang matanya penuh selidik. Ia memasang raut tidak percaya, lalu secara mendadak mendekatkan hidungnya ke bahu Nicholas, mengendus-endus aroma jas sahabatnya demi mencari tahu apakah ada jejak minyak wangi wanita lain yang tertinggal di sana.
"Ck! Apa yang sedang kau lakukan, Bodoh?" tegur Nicholas jengkel, mendorong wajah Ramond menjauh.
"Hanya memastikan sesuatu."
"Kau pikir aku ini mahluk sepertimu, yang bisa meniduri wanita kapan saja tanpa kenal tempat dan waktu?" cibir Nicholas tajam.
Ramond justru meletupkan tawa meremehkan. "Kau pikir aku baru mengenalmu sehari dua hari, Nicholas? Jangan mengira aku buta dan tidak melihat apa yang kau lakukan bersama Lady Katherina di dalam ruang koleksi seni saat pesta pernikahanmu kemarin."
Manik mata abu-abu Nicholas seketika membelalak sempurna. Dengan gerakan secepat kilat, ia membekap mulut ember Ramond menggunakan telapak tangannya. "Kau!! Jaga ucapanmu jika sedang berada di lingkungan istana! Bagaimana jika ada pelayan atau pengawal yang mendengarnya, hah?!" kecam Nicholas dengan bisikan.
Nicholas mengempaskan tubuh Ramond ke samping dengan gusar, lalu melangkah lebar menuju meja makan, mengabaikan celotehan Ramond yang menggerutu akibat diempas begitu saja.
"Silakan duduk, Tuanku Pangeran yang Agung," goda Agast ceria sembari menarik salah satu kursi untuk Nicholas.
PLAK!
Nicholas tanpa ragu menggeplak bagian belakang kepala Agast dengan gemas. Sebenarnya Agast ingin sekali membalas, namun ia buru-buru sadar bahwa pria di hadapannya ini adalah seorang pangeran berdarah murni yang haram untuk disentuh secara fisik. Alhasil, Agast hanya bisa menggerutu panjang lebar di dalam hati.
"Sebenarnya, ada angin apa kalian berbondong-bondong kemari?" tanya Nicholas dengan jengah, menopang dagunya di atas meja.
"Memangnya kami tidak diperbolehkan berkunjung? Kau terkesan semakin sombong dan sulit digapai semenjak menyandang status sebagai pria beristri," canda Agast, menuangkan air ke cangkir Nicholas.
"Kalian bertiga tidak akan sudi menginjakkan kaki ke sini jika tidak ada maksud terselubung. Katakan dengan jelas, jangan bertele-tele."
Agast dan Ramond saling melempar pandangan untuk sejenak. "Uhm... sebenarnya kami agak ragu apakah kau masih memiliki minat untuk bergabung atau tidak. Namun, kami rasa tidak ada salahnya untuk menyampaikan informasi ini terlebih dahulu. Selebihnya, keputusan ada di tanganmu."
"Ya sudah. Informasi apa?" desak Nicholas mulai tidak sabar.