Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Dekapan hangat di antara mereka bertiga perlahan terurai di tengah restoran privat Adhitama Tower.
Devran bangkit berdiri terlebih dahulu, lalu dengan lembut membantu Alana untuk berdiri dari lantai marmer. Senyuman tipis namun tulus masih tersisa di sudut bibir pria yang biasanya berwajah kaku itu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Leo tiba-tiba melangkah mundur satu langkah.
Bocah kecil itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Devran dengan mata bulatnya yang berkedip jenaka, kembali ke mode interogasi cerdasnya yang biasa.
"Tunggu dulu, Papa," cetus Leo, mengangkat satu jari telunjuknya ke udara.
"Kesempatan untuk menjadi ayah yang baik itu baru disetujui oleh Mommy. Aku belum memberikan stempel persetujuanku secara resmi."
Devran menaikkan sebelah alisnya, merasa terhibur dengan tingkah putranya. Ia kembali berlutut dengan satu kaki agar bisa sejajar dengan tinggi Leo.
"Oh, ya? Jadi, Singa Kecil belum memberikan restunya? Katakan, protokol apa lagi yang harus Papa penuhi untuk mendapatkan stempel resmimu?"
"Leo, jangan menggoda Papamu," tegur Alana pelan, meski sudut bibirnya menahan senyum melihat interaksi keduanya.
"Aku tidak sedang menggoda, Mommy. Ini negosiasi serius antar pria," sahut Leo dengan wajah yang dibuat seformal mungkin.
Ia kembali menatap Devran. "Papa adalah orang paling kaya di Adhitama Group, kan"
"Dan karena Papa sudah membuat Mommy menangis dan bekerja sangat keras selama lima tahun di Swiss, Papa harus membayar kompensasinya."
"Sebutkan saja harganya, Leo. Papa akan membelikan apa pun yang kamu minta," ujar Devran percaya diri.
"Aku tidak meminta mainan atau server komputer baru untukku," potong Leo cepat.
"Syaratku adalah... Papa harus membelikan Mommy sebuah studio desain sendiri di pusat kota Jakarta. Studio yang paling besar, paling mewah, dengan peralatan paling canggih."
"Dan yang paling penting, kepemilikannya seratus persen atas nama Alana Kirana. Tanpa ada campur tangan atau embel-embel saham dari Adhitama Group. Bagaimana? Apakah Papa berani menyetujuinya?"
Alana tertegun mendengar penuturan putranya. "Leo... Mommy tidak butuh..."
"Tawaran diterima," potong Devran mutlak, menatap Leo dengan binar bangga yang makin berkobar.
Pria itu berdiri kembali dan menoleh ke arah Reno yang sejak tadi berdiri setia di dekat pintu masuk.
"Reno, hubungi agen properti terbaik di kawasan Sudirman sekarang juga. Cari gedung atau ruang komersial terbaik, beli secara tunai atas nama Alana Kirana, dan siapkan tim arsitek untuk mendesain studionya sesuai keinginan ibunya Leo."
"Baik, Tuan Besar. Segera saya laksanakan," jawab Reno dengan sigap, langsung merogoh ponselnya untuk melakukan panggilan.
Leo tersenyum lebar, menepuk kedua tangannya dengan puas.
"Bagus. Enkripsi persetujuanku sudah selesai. Sekarang Papa resmi menjadi ayahku di dunia nyata, bukan cuma di laboratorium."
Alana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana cepatnya kedua pria Adhitama itu mencapai kesepakatan.
Namun, rasa hangat dan aman yang mendalam kini benar-benar memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi berjalan sendirian di dunia ini.
BRAKK!
Kebahagiaan kecil di dalam ruangan itu seketika hancur berkeping-keping ketika pintu ganda restoran privat tersebut didorong terbuka dengan paksa secara kasar.
Bunyi hantaman pintu kayu berat itu bergema keras, membuat Leo refleks berjengit dan bersembunyi di balik kaki Alana.
"Pemandangan yang sangat menjijikkan dan murahan!"
Sebuah suara wanita paruh baya yang melengking tinggi, tajam, dan sarat akan keangkuhan memotong aliran udara hangat di dalam ruangan.
Dari ambang pintu, seorang wanita berusia sekitar awal lima puluhan melangkah masuk dengan anggun namun angkuh.
Ia mengenakan gaun sutra desainer luar negeri berwarna marun, lengkap dengan mantel bulu mahal yang tersampir di bahunya, serta perhiasan berlian yang berkilau mencolok di leher dan jemarinya.
Wajahnya yang penuh riasan tebal memancarkan aura dingin dan permusuhan yang teramat pekat.
Marlina Adhitama. Ibu tiri Devran yang selama bertahun-tahun terkenal kejam dan ambisius di dalam lingkaran elit keluarga.
"Nyonya Marlina...?" Reno terkejut, langsung memosisikan dirinya di depan pintu, mencoba menghalanginya.
"Maaf, Nyonya, Tuan Besar Devran sedang mengadakan pertemuan privat. Anda tidak seharusnya..."
"Singkirkan tangan kotormu dari hadapanku, Reno!" bentak Marlina kejam, mengibaskan tas Hermes nya hingga memukul lengan Reno.
"Aku adalah Nyonya besar di keluarga ini! Aku baru saja mendarat dari Paris setelah mendengar kabar bahwa anak tiri sialanku ini telah mengacaukan bisnis keluarga dengan memenjarakan Siska Lorenza!"
Devran melangkah maju, memosisikan tubuh jangkungnya tepat di depan Alana dan Leo, melindungi mereka sepenuhnya dari tatapan beracun Marlina.
Aura hangat yang tadi ia tunjukkan pada anak dan wanita yang dicintainya seketika hilang, digantikan oleh hawa membunuh yang teramat dingin dan pekat.
"Siapa yang memberimu izin untuk menginjakkan kaki di gedungku, Marlina?" desis Devran, suaranya begitu rendah hingga membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding.
Marlina tertawa sinis, melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya yang mengetuk lantai marmer dengan angkuh.
"Gedungmu? Jangan lupa, Devran, sebagian saham Adhitama Tower ini masih terikat atas nama mendiang ayahmu, yang artinya aku juga memiliki hak di sini!"
"Dan apa ini?!" Marlina menunjuk Alana dan Leo dengan pandangan yang penuh rasa jijik yang teramat sangat.
"Jadi, desas-desus itu benar? Kamu mencampakkan Lorenza Corp yang bernilai triliunan hanya demi wanita kelas bawah dan anak haram hasil skandal murahan ini?!"
"Jaga bicaramu, Marlina, sebelum aku melupakan fakta bahwa kamu pernah menyandang nama belakang ayahku," ancam Devran, rahangnya mengetat sempurna dengan urat-urat yang menonjol di lehernya.
"Aku tidak akan menjaga bicaraku untuk wanita penggoda seperti dia!" pekik Marlina, matanya menatap Alana dengan kilat kebencian yang mendalam.
"Dengar kamu, wanita jalang! Aku tahu trik kotormu! Kamu sengaja menjebak Devran lima tahun lalu di Swiss dan memelihara anak itu agar suatu hari bisa kembali dan mengemis harta keluarga Adhitama, kan"
"Kamu pikir dengan wajah polosmu itu kamu bisa naik kasta menjadi Nyonya Adhitama?!"
Alana meremas gaunnya, tubuhnya gemetar menahan amarah dan penghinaan yang dilemparkan wanita itu di depan anaknya.
"Aku tidak pernah mengemis harta siapa pun, Nyonya! Dan anakku bukan anak haram!"
"Diam kamu!" bentak Marlina lagi.
Ia kembali menatap Devran dengan senyuman licik yang penuh kemenangan.
"Devran, jika kamu berpikir kamu bisa hidup bahagia dengan wanita ini setelah menyingkirkan Siska, kamu salah besar. Kakek buyutmu sudah tahu tentang skandal memalukan ini di Paris."
"Dan aku datang ke sini membawa perintah langsung dari tetua keluarga. Hubungan menjijikkan ini harus dihentikan total detik ini juga, atau seluruh hak waris utamamu di Adhitama Group akan dicabut tanpa sisa!"
Suasana di dalam restoran privat itu mendadak mendingin hingga ke titik beku.
Ancaman Marlina bukanlah gertakan, wanita itu memegang kartu kuasa dari kakek buyut yang sangat memegang teguh tradisi dan nama baik keluarga besar Adhitama.