Qiarra dan Queen Gallagher adalah kembar identik yang sangat dekat satu sama lain. Hingga mereka berusia 25 tahun, dan sudah menjadi dokter, salah satu rekan bisnis opanya ingin menjodohkan cucunya dengan salah satu dari si kembar. Sang cucu bernama Jupiter Samudra Prawira jatuh cinta dengan Qiarra tapi Queen lah yang jatuh cinta pada Samudra. Saat menikah, Queen menggantikan Qiarra yg tidak mencintai Samudra. Usai pernikahan, Qiarra terbang ke Hokkaido dan menjadi dokter di desa nelayan disana. Qiarra tidak mau Samudra mencarinya dan memakai nama depannya, Nabila. Di desa itu Qiarra bertemu dengan nelayan bernama Kaito Yamada yang tidak suka melihat gadis bule tapi jago bahasa Jepang itu menjadi dokter disana. Dua orang keras kepala itu akhirnya jatuh cinta.
Sementara Samudra merasa dibohongi karena bukan Qiarra yang menikah dengannya, marah besar. Samudra hendak menceraikan Queen tapi gadis itu meminta agar mereka menikah selama enam bulan dulu.
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Harry Galau
Glasgow University Hospital
Dokter Harry Gregg merasa dirinya akan bersalah jika tidak memberitahukan pada Billy. Bagaimana pun Queen adalah putrinya tapi kerahasiaan pasien, juga merupakan janjinya. Pria itu benar-benar galau.
Suara ketukan terdengar dan dokter Harry Gregg mendongak. Tampak Ron Walcott berdiri di depan pintu yang terbuka.
"Anda baik-baik saja Professor?" tanya Ron Walcott.
"Moi? Tidak terlalu, Ron."
Ron Walcott pun duduk di kursi depan meja kerja dokter Harry. "Apa ada pasien yang membuat Anda down?"
"Ada. Dan aku harus berperang dengan prinsipku atau nuraniku," jawab dokter Harry.
"Jika memang untuk menyelamatkan nyawa ... kenapa tidak Prof," ucap Ron.
"Ini akan sulit, Ron. Tidak semua orang bisa menghadapi semuanya. Aku tidak tahu harus bagaimana," keluh dokter Harry.
Ron Walcott hanya diam. Dia tahu, pasti ini masalah pelik.
***
Apartemen Samudra
Queen tiba di apartemen Samudra dengan taksi karena Ron masih ada penelitian di laboratorium. Dia merasa senang karena akan mulai bekerja besok menjadi asisten dokter Harry Gregg. Professor tepatnya. Gadis itu pun masuk ke dalam apartemen setelah mendapatkan nomor kodenya dari Samudra yang sudah diberikan lewat pesan di ponselnya.
Queen baru saja masuk ke dalam apartemen ketika ponselnya berbunyi. Tampak ibunya yang ada di layar. Queen pun menerimanya.
"Ya Mommy?" sapa Queen sambil melepaskan sepatunya.
"Apa kamu tahu Qia ke Jepang?" hardik Eléonore dengan nada gusar.
"Tahu Mommy. Qia memang ingin ke Jepang," jawab Queen kalem.
"Tahu nomor ponselnya? Mommy kesal karena Grizelda membuatkan paspor palsu buat Qia! Iya benar Zelda orang FBI dan Wolf orang MI6. Tapi kita orang tuanya! Ya ampun!" omel Eléonore.
"Mom, aku tidak tahu nomornya Qia yang baru. Kemana Qia pergi di Jepang, aku tidak tahu," jawab Queen.
Terdengar helaan nafas yang keras di seberang. "Queen, apakah kamu bahagia dengan Sam? Mommy tahu kalian berdua sudah dewasa tapi ... Kalian masih anak-anak Mommy dan Daddy! Jangan menyimpan masalah kalian sendirian! Mommy dan Daddy akan selalu berusaha membantu kalian! Dengar, kalian itu dua bersaudara. Mommy tahu alasan Qia karena dia tidak mau pernikahan yang bertepuk sebelah tangan. Lalu bagaimana dengan kamu? Apa Sam bisa menerima kamu?"
Queen hanya terdiam. Dia pun duduk agar nyaman.
"Mom, aku dan Mas Sam baik-baik saja. Apalagi aku sudah mendapatkan pekerjaan disini," jawab Queen antusias.
"Kamu dapat pekerjaan dimana?" tanya Eléonore.
"Mommy ingat dosen mentor aku di onkologi? Dokter Harry Gregg? Dia sekarang Professor di Glasgow University dan dokter di rumah sakit universitas. Aku ditarik menjadi asistennya. Aku memang belum membicarakan gaji tapi ...."
"Kamu jadi asisten Gregg?" potong Eléonore.
"Iya Mommy. Seusai kan dengan bidang pendidikan aku?" senyum Queen.
"Queeny, jika ada masalah, cerita ke Mommy. Jangan kamu pendam sendiri. Masalah seburuk apapun itu!" pinta Eléonore membuat Queen merinding.
Apa yang Mommy tahu soal aku? - batin Queen.
***
Samudra pulang dari kampus dan melihat Queen sedang membuka-buka jurnal ilmiah tentang kanker. Pria itu mengacuhkan Queen tapi dia melirik di meja makan sudah ada makanan di sana.
"Kamu tadi jam berapa pulang dari rumah sakit?" tanya Samudra basa basi.
"Jam tiga siang. Aku hanya mengurus administrasi dan besok sudah mulai kerja dengan Professor Harry Gregg," jawab Queen sambil terus mencatat detail jurnal di bukunya.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Aku tidak tahu kamu pulang jam berapa jadi aku makan duluan. Aku harus tertib soal jam makan," jawab Queen.
"Kamu memangnya ada GERD? Seingat aku, kamu tidak apa-apa," ucap Samudra sambil melihat menu makanan di meja.
"Tapi aku kan selalu tertib jam makannya bukan?" senyum Queen.
Samudra hanya menatap wajah polos Queen. "Ya sudah. Aku mandi dulu." Pria itu masuk ke dalam kamarnya dan Queen hanya menghembuskan napas lega.
"Tidak mungkin kan aku kasih menu makanan punyaku. Nanti kamu protes karena isinya sayur saja makanan aku," gumam Queen.
Malam ini Queen hanya makan malam dengan sup lentil ( lentil soup ) hangat yang dimasak dengan wortel, seledri, dan tomat, disajikan dengan satu potong roti gandum utuh.
Lentil Soup
***
Sapporo Hokkaido.
Sanrio Store
Qiarra tampak heboh sendiri saat berada toko Sanrio di Apia Sapporo. Gadis itu tahu dia bisa khilaf di sini namun dia tidak perduli. Qiarra pun mulai mencari pernak pernik yang belum pernah dia punya. Tanpa terasa, keranjangnya pun banyak barang disana.
"Duh, bisa habis sepuluh ribu yen ini!" keluhnya.
Qiarra tidak perduli karena dia sudah menyimpan uang cash senilai lima juta yen untuk bertahan hidup di Hokkaido. Qiarra memang sebisa mungkin untuk tidak menggunakan kartu kredit atau debit atau e-banking agar tidak terlacak ayahnya.
"Kalau Mbak Zelda kasih tahu gegara pakai serum Tante Nyun ... Sudah pada tahu aku disini sepertinya," gumam Qiarra. "Aku harus cari kerja ini! Kalau seperti ini, celengan aku bisa habis."
Qiarra lalu membayar barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam ranselnya. Gadis itu pun berjalan keluar menuju kota Sapporo.
"Sayang bukan musim.dingin. Bisa main salju deh!" gumam Qiarra.
Gadis itu pun berkeliling pusat kota Sapporo sambil melihat-lihat barang lucu. Qiarra tampak menikmati acara jalan-jalannya.
Malam mulai menyelimuti Kota Sapporo ketika Qiarra akhirnya keluar dari deretan toko di kawasan perbelanjaan. Kedua tangannya penuh dengan kantong belanja berisi bahan makanan, pakaian musim dingin, dan beberapa pernak-pernik khas Hokkaido yang menarik perhatiannya.
Dia melirik jam tangan. "Waduh..." Mata Qiarra membelalak. Kereta terakhir yang seharusnya ia naiki sudah berangkat beberapa menit yang lalu.
Gadis itu segera berlari kecil menuju stasiun, berharap masih ada kesempatan. Namun layar keberangkatan hanya menampilkan tulisan bahwa layanan kereta menuju tujuannya telah selesai untuk hari itu.
Qiarra mengembuskan napas panjang sambil tersenyum masam. "Dasar aku. Terlalu asyik belanja sampai lupa waktu."
Sebagai dokter bedah yang terbiasa mengambil keputusan cepat, ia tidak membiarkan dirinya panik. Memesan taksi untuk perjalanan jauh terasa kurang efisien, sementara kembali berbelanja hingga pagi jelas bukan pilihan.
Dia membuka ponselnya dan mencari penginapan terdekat.
Beberapa hotel berbintang masih tersedia, tetapi tarifnya cukup tinggi karena pemesanan mendadak. Tak lama kemudian matanya berhenti pada sebuah hotel kapsul yang hanya berjarak sekitar tiga menit berjalan kaki dari Stasiun Sapporo.
"Ini saja," gumamnya. "Yang penting ada tempat tidur dan bisa mandi."
Beberapa menit kemudian, Qiarra berjalan menyusuri trotoar yang diterangi lampu kota. Udara malam Sapporo terasa sejuk, membuatnya semakin bersyukur mengenakan mantel tebal.
Hotel kapsul itu tampak sederhana tetapi sangat bersih. Resepsionis menyambutnya dengan ramah dan proses check-in berlangsung cepat. Setelah menerima kartu akses, Qiarra diberi loker untuk menyimpan koper kecil dan kantong-kantong belanjaannya.
Dia memasuki area khusus wanita yang tenang. Deretan kapsul putih tersusun rapi dengan pencahayaan hangat yang menenangkan.
Saat berbaring di dalam kapsulnya, Qiarra sempat tertawa kecil mengingat kecerobohannya hari itu. "Besok harus pasang alarm. Jangan sampai ketinggalan kereta lagi."
Dia mematikan lampu baca kecil di dalam kapsul. Di luar hanya terdengar suara langkah kaki yang sesekali melintas dan dengungan pendingin ruangan yang lembut.
Meski ukurannya tidak besar, kapsul itu terasa nyaman untuk beristirahat. Setelah hari yang panjang berkeliling Sapporo, Qiarra menutup matanya dengan senyum tipis, siap melanjutkan perjalanannya keesokan pagi.
"Jangan sampai kesiangan besok!"
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kamu pasti akan sangat menyesal Sam
Alhamdulillah semua keluarga mendukungmu queen
cepat sembuh ya queen, gapai bahagiamu lagi dengan laki-laki yang tulus menyayangimu
dukungan keluarga ke Queen smg bs menjadi penyemangat utk sembuh dan ingat hati yg gembira adalah obat
dan akhirnya keluarga pun tau Qia ada di furubira yg amaze nya mlh pada gatau itu ada di mana, sama nek aku 🤭 soale kalo di Osaka ntar gampang cepet ketahuannya 😆😆
untung aku bacanya pagi habis sarapan
coba kalo belum, bisa nggak jadi sarapan aku😭😭😭😭
kamu kuat queeny😓😓
kira kira Jodoh Queen ada yang baru atau masih Samudera yang pikirannya cupet , Mbak Hana ?