NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — Malam yang Tidak Lagi Bisa Dijaga

Malam sudah turun sepenuhnya ketika Jifan dan Diara berpamitan dari rumah Kinnas dan Biantara.

Kinnas sebenarnya masih ingin mereka menginap.

“Kalian menginap saja disini, ummi masih kangen,” ucapnya lembut sambil tersenyum.

Namun Diara menggeleng pelan.

“maaf besok saja, Ummi. Kami belum bawa pakaian ganti.”

Jifan hanya mengangguk setuju di sampingnya.

“InsyaAllah lain waktu kami menginap lebih lama.”

Biantara menatap Jifan sebentar.

Lalu mengangguk kecil.

“Baik.”

 

Perjalanan pulang terasa tenang.

Tidak ada percakapan panjang di dalam mobil.

Namun tidak seperti sebelumnya, keheningan itu tidak lagi terasa kaku.

Lebih seperti… istirahat.

Diara duduk di kursi penumpang depan, sesekali menatap jalanan malam Jakarta yang mulai lengang.

Sementara Jifan mengemudi dengan tenang.

Tangannya di kemudi stabil seperti biasa.

Namun pikirannya tidak benar-benar kosong.

Setibanya di rumah, suasana kembali sunyi seperti biasanya.

Lampu halaman menyala lembut.

Mansion Syahrezan berdiri tenang tanpa suara.

Diara turun lebih dulu.

“Capek?” tanya Jifan singkat.

“Sedikit,” jawab Diara sambil tersenyum kecil.

Mereka masuk bersama.

Namun sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Saat Diara berjalan menuju kamar, Jifan justru mengikutinya.

Diara berhenti di depan pintu kamar.

“Mas… kenapa ikut ke sini?”

Jifan berdiri santai di belakangnya.

“Aku mau melakukan apa yang diminta Ummi.”

Diara langsung menoleh.

“…Hah?”

Alisnya mengernyit.

“Ummi minta apa?”

Jifan berpikir sejenak.

Tidak langsung menjawab.

Hanya menatap Diara dengan ekspresi tenang yang… terlalu tenang.

Diara mulai curiga.

Lalu tiba-tiba ia teringat percakapan di meja makan tadi.

“Sudah ada tanda-tanda hamil?”

Wajah Diara langsung berubah merah.

Matanya melebar.

“J-Jangan bilang…”

Jifan belum sempat bereaksi.

Diara sudah lebih dulu mendorongnya keluar kamar.

“AAAAA MAS JIFAN MESUM!”

Suara itu menggema di lorong.

Jifan terhuyung kecil karena dorongan itu.

Tapi—

ia tertawa.

Tawa kecil.

Bukan seringai.

Bukan senyum tipis seperti biasanya.

Tapi tawa yang benar-benar keluar tanpa ia sadari.

“Diara…”

Diara berdiri di balik pintu, wajahnya merah padam.

“Jangan-jangan Mas benar-benar mau—”

“Tidak.”

Jifan masih tertawa pelan.

“Aku hanya menggodamu.”

Diara membeku.

“…Hah?”

Jifan menatapnya dengan santai.

“Reaksimu lucu.”

Diara langsung panik lagi.

“Mas Jifan itu jahat!”

“Kenapa?”

“Bikin aku malu!”

Jifan mengangkat bahu kecil.

“Masalahmu terlalu mudah dipancing.”

Diara mendadak tidak bisa membalas.

Ia hanya berdiri di balik pintu, masih setengah menutup kamar, wajahnya panas tidak karuan.

Sementara Jifan…

masih tersenyum kecil.

“Sudah,” kata Jifan akhirnya.

“Sana Tidur.”

Diara menatapnya.

“…Mas tidak masuk?”

Jifan terdiam sepersekian detik.

Hanya sebentar.

Lalu menjawab ringan.

“Tidak.”

Namun ada jeda kecil setelah itu.

Yang tidak Diara sadari.

“Aku di kamar sendiri,” lanjut Jifan.

Nada suaranya tetap tenang.

Tapi matanya sedikit menghindar.

Diara mengangguk cepat.

“O-oh… iya.”

Lalu ia menutup pintu kamar.

Klik.

Di sisi lain pintu, Jifan berdiri diam.

Tidak bergerak.

Tidak langsung pergi.

Ia menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Lalu menghela napas pelan.

“Harusnya tadi aku minta saja…”

gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Ia berjalan pelan ke arah kamarnya sendiri.

Namun langkahnya tidak selega biasanya.

Sementara itu di dalam kamar Diara.

Ia berdiri di tengah ruangan.

Masih memegang dada.

Masih merasa panas di wajahnya.

“Mas Jifan itu…”

Ia berhenti.

Tidak melanjutkan kalimatnya.

Karena entah kenapa…

ia malah tersenyum sendiri.

Beberapa menit kemudian.

Diara sudah berganti pakaian tidur.

Ia duduk di tepi ranjang.

Namun pikirannya tidak tenang.

“Dia cuma menggoda…”

“Dia cuma bercanda…”

Tapi kenapa jantungnya tetap tidak mau tenang?

Ia menghela napas panjang.

“Ya Allah…”

🪻🪻🪻🪻

Di kamar sebelah.

Jifan duduk di ranjangnya.

Lampu kamar redup.

Tangannya memegang ponsel, tapi layar tidak benar-benar ia lihat.

Pikirannya kosong… tapi tidak benar-benar kosong.

Ia bersandar.

Menutup mata sebentar.

“…harusnya aku tadi masuk saja?”

gumamnya pelan

Lalu ia langsung membuka mata lagi.

“Tidak.”

Cepat.

Seolah menolak pikirannya sendiri.

Ia bangkit.

Berjalan ke jendela.

Menatap luar.

Rumah itu sunyi.

Terlalu sunyi untuk dua orang yang sebenarnya sudah semakin dekat.

Jifan menyentuh pelipisnya.

“Aku ini kenapa…”

Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu jawabannya.

Ia hanya belum berani mengakuinya.

Di kamar Diara.

Ia sudah berbaring di ranjang.

Menatap langit-langit.

Namun sebelum tidur…

ia berbisik pelan

“Mas Jifan aneh banget hari ini…”

Tapi bibirnya tidak bisa berhenti sedikit tersenyum.

🪻🪻

Jifan sudah berusaha memejamkan matanya sejak beberapa menit terakhir.

Namun semakin ia mencoba tidur, semakin pikirannya justru semakin aktif.

Gelap di dalam kamar tidak membantu meredakan apa pun.

Yang ada justru bayangan yang terus muncul tanpa izin.

Diara.

Wajahnya.

Suaranya.

Dan terutama…

aroma lembut yang sempat sangat dekat dengannya.

Jifan menghela napas pelan.

Ia memutar badan ke samping.

“Kenapa tidak bisa tidur…”

gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar.

Namun bukan hanya itu yang mengganggu pikirannya.

Ada sesuatu yang lebih sederhana.

Lebih manusiawi.

Wangi Diara.

Aroma lembut khas bunga mawar yang menempel samar di ingatannya sejak mereka berbagi ruang yang terlalu dekat beberapa waktu terakhir.

Ia tidak tahu sejak kapan hal itu mulai mengganggu.

Tapi malam ini…

itu terasa terlalu jelas.

Jifan duduk perlahan di tepi ranjang.

Menatap lantai beberapa detik.

Hening.

Tidak ada suara.

Hanya pikirannya sendiri yang tidak mau diam.

“Kalau di sini aku tetap tidak bisa tidur…”

Ia berhenti.

Mengusap wajahnya pelan.

“…lebih baik aku ke sana saja.”

Keputusan itu datang tanpa banyak perdebatan lagi.

Seolah pikirannya sudah lelah bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

Jifan berdiri.

Lalu berjalan keluar kamar.

Lorong rumah Syahrezan malam itu sunyi.

Lampu redup otomatis menyala saat ia melintas.

Langkahnya pelan.

Tapi pasti.

Di depan kamar Diara, ia berhenti.

Beberapa detik.

Seolah memastikan ulang apa yang akan ia lakukan.

Lalu…

tok.

tok.

Ketukan pelan terdengar.

Di dalam kamar.

Diara yang hampir tertidur langsung terbangun.

Matanya masih berat.

Ia duduk perlahan di ranjang.

“Mas…?”

Suaranya pelan, setengah mengantuk.

Ia bangkit dan membuka pintu sedikit.

Dan benar.

Jifan berdiri di sana.

“Kenapa, Mas?” tanya Diara pelan.

“Ada yang Mas butuhkan?”

Jifan menatapnya.

Beberapa detik.

Tidak langsung menjawab.

Seolah mencari kata yang tidak terdengar terlalu jujur.

Namun akhirnya…

ia berkata pelan.

“Aku tidak bisa tidur.”

Diara mengerutkan alis sedikit.

“…kenapa?”

Jifan menarik napas pelan.

Lalu menatap Diara lebih lama dari biasanya.

“Sepertinya…”

Ia berhenti sejenak.

“…aku mulai kecanduan wangi tubuhmu.”

Hening.

Diara langsung terdiam.

Matanya sedikit melebar.

“Mas…”

Namun Jifan belum selesai.

Suaranya tetap rendah, tapi jujur tanpa filter seperti biasanya.

“Boleh aku tidur di sini?”

Diara langsung panik kecil.

“Ha?!”

Jifan melanjutkan cepat.

“Aku janji, hanya tidur.”

“Tidak yang lain.”

Diara masih terdiam.

Wajahnya mulai panas.

Antara bingung, kaget, dan tidak tahu harus bagaimana.

“Aku… aku sudah mau tidur,” jawab Diara akhirnya pelan.

Jifan menatapnya sebentar.

Tidak memaksa.

Tidak menekan.

Hanya menunggu.

Dan mungkin karena rasa kantuk yang terlalu berat…

atau karena suara Jifan yang terdengar lebih jujur dari biasanya…

Diara akhirnya menghela napas.

“…iya boleh."

Jifan mengangguk kecil.

“Terima kasih.”

Diara membuka pintu lebih lebar.

Jifan masuk perlahan.

Kamar itu redup.

Hening.

Hangat.

Diara kembali ke ranjang.

Jifan mengikuti, lalu berbaring di sisi yang cukup jauh.

Awalnya

Beberapa detik hanya keheningan.

Diara membalik badan, mencoba tidur.

Jantungnya masih belum tenang.

Namun tanpa ia sadari…

Jifan bergerak sedikit lebih dekat.

Dan perlahan…

tangannya melingkar di pinggang Diara.

Diara langsung membuka mata.

“Mas…”

Suaranya pelan.

Protes kecil.

Namun Jifan hanya berbisik.

“Sebentar saja.”

Diara ingin menolak.

Ingin protes lebih tegas.

Namun kantuknya lebih kuat dari semuanya.

“Mas jangan aneh-aneh ya…”

gumamnya pelan.

Jifan tidak menjawab.

Namun pelukannya tetap di sana.

Tenang.

Stabil.

Tidak agresif.

Hanya… ingin merasa dekat.

Beberapa menit berlalu.

Napas Diara mulai melambat.

Matanya perlahan tertutup lagi.

Dan sebelum benar-benar tertidur…

ia masih sempat berpikir samar.

“Kenapa… rasanya tidak mengganggu…”

Di sisi lain, Jifan masih terjaga beberapa saat.

Menatap wajah Diara yang sudah tenang.

“Aku benar-benar tidak bisa jauh dari ini…”

gumamnya pelan.

Lalu perlahan…

ia akhirnya ikut memejamkan mata

Malam itu, tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Hanya dua orang yang perlahan berhenti melawan perasaan yang sejak awal sudah tumbuh tanpa izin.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!