NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina: "Kenapa kamu kembali, Arka? Untuk menghancurkanku?"

Arka: "Aku datang untuk menghancurkanmu... tapi malah jatuh cinta."

Farhan: "Kalau begitu pergilah. Karena aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."

CINTA DAN DENDAM

Sepuluh tahun lalu, Alina menjadi korban pelecehan oleh kekasihnya sendiri, Raka. Tanpa ia sadari, semua perhatian dan cinta yang diberikan Raka hanyalah topeng. Di balik senyumnya, tersimpan rencana keji untuk menghancurkan hidup Alina dan ayahnya demi membalaskan dendam keluarganya.

Tepat sepuluh hari menjelang pernikahan Alina dengan Farhan, Raka dengan identitas baru sebagai Arka. Di balik topeng pria yang tampak baik, berwibawa, dan penuh pesona, tersimpan dendam yang siap menghancurkan kebahagiaan Alina.

Namun, semakin dekat dengan Alina, hati Arka justru goyah. Dendam yang ia pelihara selama sepuluh tahun perlahan berubah menjadi cinta dan obsesi untuk memiliki wanita itu, meski harus merebutnya dari pelukan Farhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 : HlDUP BERDUA YANG SELALU DIRINDUKAN

...BAB 33...

...HIDUP BERDUA YANG SELALU DIRINDUKAN...

Mentari pagi baru saja menampakkan semburat keemasannya ketika suara adzan Subuh berkumandang dari masjid di ujung jalan. Udara masih terasa sejuk, sementara embun masih menggantung di dedaunan halaman rumah mungil yang kini menjadi tempat bertumbuhnya cinta Farhan dan Alina.

Sudah hampir dua bulan mereka menjalani kehidupan sebagai suami istri.

Tak ada pesta yang setiap hari menghiasi rumah itu.

Tak ada kemewahan yang dipamerkan.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mahal.

Ketenangan.

Dan setiap pagi, ketenangan itu selalu dimulai oleh satu sosok.

Farhan.

Seperti biasa, ia bangun lebih dahulu sebelum alarm berbunyi. Setelah mengusap wajah dan mengucap hamdalah, ia menoleh ke sisi tempat tidur.

Alina masih terlelap dengan wajah yang damai.

Senyum kecil terbit di bibir Farhan.

"Alhamdulillah..."

Ia berbisik pelan agar tak membangunkan istrinya.

Dengan langkah hati-hati, Farhan menuju kamar mandi. Ia menyiapkan air hangat untuk berwudu, lalu kembali ke kamar.

"Sayang..."

Suara lembutnya nyaris seperti hembusan angin.

"Waktunya bangun. Adzan sudah berkumandang."

Alina membuka mata perlahan. Saat pandangannya bertemu wajah suaminya, senyum itu langsung hadir tanpa dipaksa.

"Subuh ya, Mas?"

"Iya."

Farhan mengulurkan tangan.

"Ayo."

Alina menggenggam tangan itu. Farhan membantunya bangun, lalu tanpa sadar mengecup lembut kening istrinya.

"Semoga Allah memberkahi harimu."

Alina menunduk malu. Meski sudah menjadi istri, perhatian sederhana itu masih mampu membuat pipinya memerah.

"Mas juga."

Setelah berwudu, mereka melaksanakan salat Subuh berjamaah.

Usai berdoa, keduanya tak langsung beranjak. Mereka duduk berdampingan sambil membaca wirid pagi.

Rumah itu begitu sunyi.

Namun sunyi yang menenangkan.

Farhan lalu membuka mushaf Al-Qur'an.

"Hari ini lanjut Surah Yusuf?"

Alina mengangguk semangat.

"Iya."

Mereka membaca bergantian. Jika Alina keliru membaca panjang pendek ayat, Farhan tidak pernah menyalahkan. Ia hanya membetulkan dengan suara yang lembut.

"Coba diulang lagi, Sayang."

"Oh... yang tadi kurang panjang ya?"

"Iya."

Alina tersenyum.

"Terima kasih sudah sabar ngajarin."

Farhan menggeleng.

"Kita sama-sama belajar."

Kalimat itu selalu membuat hati Alina hangat.

Tak pernah sekali pun Farhan merasa dirinya lebih baik.

Setelah matahari mulai meninggi, mereka berbagi tugas seperti yang telah disepakati.

Farhan masuk ke dapur.

Alina sempat tertawa saat melihat suaminya sudah mengenakan celemek.

"Mas lagi?"

Farhan mengangguk.

"Hari ini aku yang bikin sarapan."

"Nanti gosong."

Farhan pura-pura tersinggung.

"Suamimu ini semakin jago."

Tak lama kemudian terdengar suara minyak yang mulai mendesis.

Aroma telur dadar dan nasi goreng memenuhi rumah.

Sementara itu, Alina menyetrika kemeja kerja Farhan, menyiapkan jam tangan, dompet, tas kerja, serta menyelipkan bekal makan siang ke dalam tas.

Ia bahkan tak lupa memasukkan selembar kertas kecil.

Farhan baru menemukannya saat jam istirahat.

"Jangan lupa makan tepat waktu. Semoga Allah menjaga setiap langkahmu. Aku menunggumu pulang. — Istrimu."

Farhan membaca kalimat itu sambil tersenyum sendiri.

Rekan kerjanya sempat menggoda.

"Lagi senyum-senyum sendiri?"

Farhan hanya tertawa kecil.

"Ada yang ngingetin makan."

"Wah... pengantin baru memang beda."

Farhan tidak membantah.

Ia justru semakin bersyukur.

Sebelum berangkat ke kantor, Farhan menghampiri Alina yang sedang merapikan kerah bajunya.

"Sudah rapi?"

"Sudah."

Alina membenarkan sedikit letak dasinya.

"Nah, sekarang baru tampan."

Farhan tersenyum jahil.

"Memangnya tadi enggak?"

"Tadi tampan."

"Sekarang?"

"Lebih tampan."

Farhan tertawa pelan.

Lalu, dengan penuh kasih sayang, ia memeluk Alina. Pelukan itu hangat, tidak tergesa-gesa, seolah menjadi bekal kekuatan sebelum memulai hari. Setelah itu ia mengecup lembut kening istrinya.

"Titip rumah kita."

Alina membalas pelukannya sesaat.

"Iya. Mas juga hati-hati di jalan."

Farhan mengangguk.

"Doakan semua pekerjaanku dimudahkan."

"Pasti."

Sebelum pintu ditutup, Alina selalu berdiri di teras.

Ia melambaikan tangan sampai mobil Farhan menghilang di tikungan jalan.

Barulah ia masuk kembali sambil tersenyum sendiri.

Di rumah, Alina mengisi hari dengan berbagai kesibukan. Membersihkan rumah, mencoba resep baru, sesekali membantu usaha kecil Bu Kirana secara daring, lalu menyempatkan membaca beberapa halaman buku agama.

Sesekali ia melihat jam.

Bukan karena bosan.

Melainkan karena rindu.

Sementara di kantor, Farhan juga beberapa kali membuka ponselnya.

Bukan untuk bermain media sosial.

Melainkan memastikan istrinya baik-baik saja.

"Sudah makan?"

Beberapa menit kemudian balasan masuk.

"Sudah. Mas jangan telat makan juga."

"Siap, Bu Istri."

"Jangan godain."

Farhan terkekeh pelan hingga rekan kerjanya kembali menggeleng sambil tersenyum melihat tingkahnya.

Menjelang sore, suara mobil yang berhenti di depan rumah selalu menjadi momen yang ditunggu.

Begitu mendengar pagar dibuka, Alina segera keluar.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Farhan belum sempat melepas sepatu ketika Alina sudah mengambil tas kerjanya.

"Capek?"

Farhan mengembuskan napas.

"Sedikit."

"Lapar?"

"Kalau lihat kamu... capeknya berkurang."

Alina terkekeh malu.

"Mas ini..."

Farhan kembali meraih tangan istrinya, lalu mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat.

"Terima kasih sudah menungguku pulang."

Ucapan sederhana itu selalu berhasil membuat hati Alina berbunga-bunga.

Mereka lalu duduk menikmati teh hangat.

Tak pernah ada hari tanpa saling bertanya.

"Hari ini bagaimana?"

Farhan mulai bercerita tentang pekerjaannya, tentang rekan kantor yang lucu, tentang tantangan yang dihadapinya. Alina mendengarkan tanpa memotong, kadang tertawa, kadang memberi semangat.

Lalu giliran Alina yang bercerita.

Tentang tanaman cabai yang mulai berbuah.

Tentang resep baru yang hampir gagal.

Tentang tetangga yang datang meminjam gula.

Cerita-cerita kecil.

Namun justru itulah yang membuat rumah terasa hidup.

Suatu malam, saat listrik sempat padam beberapa menit, mereka duduk di teras diterangi cahaya bulan.

"Mas..."

"Hm?"

"Ingat enggak waktu dulu kita hampir batal menikah?"

Farhan mengangguk pelan.

"Ingat."

"Aku kadang masih enggak percaya kita akhirnya sampai di titik ini."

Farhan menatap langit.

"Aku juga."

Ia meraih tangan Alina.

"Dulu kita berjuang supaya bisa bersama."

"Sekarang?"

"Sekarang kita berjuang supaya tetap bersama."

Kalimat itu membuat mata Alina berkaca-kaca.

Tanpa berkata apa-apa, ia menyandarkan kepala di bahu suaminya. Farhan merangkulnya dengan hangat, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Malam demi malam mereka lalui dengan cara yang hampir sama.

Salat Magrib berjamaah.

Makan malam bersama.

Salat Isya berjamaah.

Lalu belajar agama berdua.

Kadang Farhan membacakan hadis dan mereka mendiskusikannya. Kadang Alina membaca kisah para sahabat Nabi, lalu mereka saling mengambil pelajaran.

Jika ada perbedaan pendapat, mereka mencari jawabannya dari buku atau bertanya kepada ustaz yang mereka percaya. Tidak ada suara yang ditinggikan, tidak ada ego yang dibiarkan tumbuh.

Sebelum tidur, mereka selalu saling memaafkan.

"Mas..."

"Iya?"

"Kalau hari ini aku ada salah, maaf ya."

Farhan tersenyum.

"Aku juga minta maaf kalau ada kata atau sikap yang kurang berkenan."

Kemudian Farhan mengecup lembut kening Alina, sementara Alina memeluk suaminya dengan penuh rasa aman. Pelukan itu bukan sekadar ungkapan rindu, tetapi juga tempat pulang setelah panjangnya hari.

"Terima kasih sudah menjadi rumah untukku," bisik Alina.

Farhan mengusap pelan punggung istrinya.

"Rumah ini indah karena ada kamu."

Alina mengangkat wajahnya, lalu mengecup lembut pipi suaminya. Farhan tersenyum lebar, membalas dengan kecupan hangat di kening Alina.

"Tidak pernah bosan?" goda Alina.

Farhan menggeleng mantap.

"Bagaimana mungkin bosan kepada perempuan yang setiap hari aku syukuri dalam doa?"

Air mata Alina kembali menggenang.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena bahagia yang terasa begitu penuh.

Ia teringat hari-hari ketika hidup mereka dibayangi ancaman, fitnah, dan dendam Raka. Saat itu, setiap langkah dipenuhi rasa cemas, setiap rencana pernikahan seolah selalu dihalangi. Mereka bahkan pernah bertanya-tanya apakah kebahagiaan itu benar-benar akan menjadi milik mereka.

Namun Allah membuktikan bahwa kesabaran tidak pernah sia-sia.

Kini, kebahagiaan mereka tidak hadir dalam bentuk kemewahan, melainkan dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain—menyiapkan air wudu, menyetrika pakaian, saling menunggu pulang, berbagi cerita setelah bekerja, belajar Al-Qur'an bersama, salat berjamaah, pelukan hangat ketika lelah, dan doa yang tak pernah putus untuk satu sama lain.

Mungkin bagi dunia, hidup mereka terlihat biasa.

Tetapi bagi Farhan dan Alina, setiap hari adalah hadiah.

Setiap pagi adalah awal baru untuk saling mencintai karena Allah.

Setiap senja adalah kesempatan untuk kembali ke pelukan yang dirindukan.

Dan setiap malam adalah waktu terbaik untuk bersyukur atas takdir yang dulu harus diperjuangkan dengan begitu banyak air mata.

Karena mereka akhirnya mengerti, surga tidak selalu berarti tempat yang jauh. Kadang, surga itu terasa begitu dekat—di sebuah rumah sederhana, saat dua hati saling menjaga, saling memeluk, saling mendoakan, dan tak pernah berhenti memilih satu sama lain dalam ridha Allah.

Bersambung....

1
Kam1la
cepet amat kak, alurnya. kesehatan Alina sendiri bagaimana? semoga cepat pulih
Kayla Rane: iya k, nnti bakal ada konflik lagi setelah Fikri nikah sama Dila. dan disini bakal serunya 🤭 ujian Alina tambah berat lagi
total 1 replies
Kam1la
Sari tidak punya perasaan
Kam1la
pasti ada jalan keluarnya
Kam1la
malah sakit yang kerepotan sendiri , mama Sari kemana ?
Kam1la
ya Allah, ada apa dengan Alina...semoga tidak serius lukanya
Kam1la
keren.... akhirnya Mama Sari sadar juga...
Kam1la
untung saja, Nisa ketahuan kalau tidak bakal sembunyi terus🤭
Kam1la
kalau Alina bekerja lagi dan kaya. pasti Sari gk ngejek
Kam1la
kalau ditinggal beneran, baru tahu rasa Farhan...🤭
Kam1la
jangan2 akal -akalan Sari...
Kam1la
alhamdulillah...sudah lahir anak cewek. siapa nama bayinya ....
Kam1la
nah kan, Farhan bakal kena akibatnya
Kam1la
Alina yg kuat ya....mending di rumah sendiri saja, cari pembantu....🤭
Kam1la
syukurlah...hamil juga. selamat ya Alina...😍
Kam1la
semoga saja dikemudian waktu Laila bisa terbuka sama Fikri, biar Alina bisa tenang.
Kam1la
Laila punya banyak rencana, tapi Alina punya seribu cara untuk menangkisnya
Kam1la
nah ...kan, Farhan mulai bercanda nya kelewatan...jangan-jangan dia juga berencana poligami
Kam1la
greget sama Laila.... Farhan kira - kira bagaimana ya hatinya? kan dia begitu mengagumi Laila
Kam1la
rencana apa yang disusun Laila?
Kam1la
aku takut, jika setiap hal Farhan ingat Laila, justru jatuh cinta padanya...😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!