Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24: Another Magic Practice
Udara pagi masih terasa sangat dingin, lembap, dan diselimuti kabut tipis saat Amorette dan Algernon sudah tiba di lapangan latihan. Langit baru saja mulai memutih, dan suasana masih sangat sunyi, hanya terdengar suara angin berdesir serta kicauan burung yang baru bangun. Kesunyian ini mereka manfaatkan sepenuhnya untuk berkonsentrasi, menyadari bahwa ancaman semakin dekat dan mereka harus memperkuat diri secepat mungkin.
Mereka mulai berlatih dengan tenang, saling memberi ruang agar masing-masing bisa fokus sepenuhnya pada elemen yang mereka kuasai. Amorette berdiri agak terpisah, memejamkan mata, dan menarik napas panjang serta teratur. Ia memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam dirinya sendiri, merasakan aliran energi yang berbeda dari elemen biasa—panas yang pekat, gelap namun menyala, berat namun mematikan. Itu adalah kekuatan langka dan berbahaya: Api Kegelapan. Dengan suara rendah dan berirama, ia merapalkan mantra yang sudah sering ia hafal dan latih:
"Api yang tidak diterangi cahaya, panas yang membakar hingga ke dasar, berkumpullah dalam genggamanku—kuat, mematikan, dan sepenuhnya di bawah kendaliku."
Perlahan, di telapak tangannya terbentuk bola api berwarna merah gelap, hampir hitam pekat, yang memancarkan hawa panas yang pekat dan mendesak. Berbeda dengan api biasa yang berwarna terang dan menyala-nyala, api ini tampak tenang, padat, dan menyerap cahaya di sekelilingnya.
Awalnya, kekuatan ini sangat sulit dikendalikan. Kadang apinya meledak tiba-tiba, kadang panasnya berlebihan hingga membakar rumput di dekat kakinya, atau justru meredup seolah hilang ditelan tanah. Api Kegelapan adalah elemen yang liar dan sulit dijinakkan karena sifatnya yang merusak dan menguasai. Namun Amorette terus berlatih, menyesuaikan napas dan keteguhan hatinya, menanamkan kendali mutlak di setiap aliran energinya. Lama-kelamaan, bola api itu menjadi stabil sempurna: ukurannya tetap, panasnya terkontrol agar tidak membakar apa pun yang tidak ia kehendaki, dan warnanya menyala merata, menunjukkan penguasaan yang mendalam atas kekuatan gelap itu.
Di sisi lain lapangan, Algernon juga sibuk menyempurnakan kemampuannya. Sihirnya berunsurkan Cahaya dan Pelindung, kekuatan yang berfokus pada pertahanan mutlak, kemurnian, dan ketahanan. Ia berdiri tegak, matanya terpejam rapat, dan merapalkan mantranya dengan nada yang mantap, dalam, dan penuh keyakinan:
"Sinar yang tak tergoyahkan, perisai yang menahan badai, jadilah benteng yang kukuh namun lentur—teguh dan terjaga."
Di sekeliling tubuhnya, perlahan muncul lapisan cahaya berwarna perak pucat yang bersinar lembut namun kokoh. Tantangan terbesarnya adalah kepadatan energi. Awalnya lapisan itu terlihat tebal, berat, dan memakan banyak tenaga. Namun berkat pemahaman teorinya yang luar biasa, ia belajar memadatkan energi tersebut. Ia membuatnya semakin tipis hingga hampir tak terlihat oleh mata telanjang, namun kekuatannya tetap terjaga—saat ia melemparkan kerikil kecil ke arah dirinya sendiri, batu itu memantul menjauh seolah menabrak dinding baja yang tak kasat mata. Ia terus berlatih mengubah bentuknya: kadang menjadi perisai datar di depan dada, kadang membungkus seluruh tubuhnya, hingga ia merasa energi itu mengalir lancar tanpa membebani pikiran atau tenaganya sedikit pun.
Setelah merasa cukup dengan latihan masing-masing dan merasa dasar kekuatan mereka sudah matang, mereka berhadapan satu sama lain dengan jarak sekitar tiga meter. Mereka saling bertatapan sebentar, seolah saling mengirimkan isyarat diam dan kesepakatan, lalu menarik napas panjang secara bersamaan. Kini tibalah saat yang paling menantang: menggabungkan dua elemen yang sangat bertolak belakang—Api Kegelapan yang panas, gelap, dan merusak, dengan Cahaya Pelindung yang terang, murni, dan menjaga.
Keduanya merapalkan mantra gabungan yang sudah mereka susun dan persiapkan bersama:
"Gelap dan Terang, Bakar dan Lindungi, hilangkan batas, satukan irama. Biarkan api menghangatkan benteng, biarkan cahaya menuntun nyala—bangkitlah kekuatan yang selaras dan tak tergoyahkan!"
Percobaan pertama belum berjalan sempurna, bahkan cukup berbahaya. Energi mereka saling menolak keras—panas Api Kegelapan Amorette bertabrakan dengan kekokohan Cahaya Algernon, menciptakan ledakan kecil dan suara mendesis yang keras. Mereka terhuyung mundur beberapa langkah karena guncangan energi itu, namun tidak berhenti. Pada percobaan-percobaan berikutnya, mereka mulai menyesuaikan diri dengan hati-hati. Amorette belajar meredam sifat destruktif apinya, menjadikannya energi murni yang kuat namun tidak sembarangan merusak. Sementara Algernon melunakkan kekakuan pertahanannya, membiarkan hawa panas itu masuk dan bercampur menjadi bagian dari kekuatannya, bukan musuh yang harus ditolak.
Setelah berkali-kali mencoba dan menyesuaikan, akhirnya sesuatu yang luar biasa terjadi. Alih-alih bertabrakan atau saling menghancurkan, energi mereka mulai saling melengkapi dan menyatu secara harmonis. Api merah gelap milik Amorette berpadu dengan cahaya perak milik Algernon, membentuk pusaran energi besar berwarna ungu kemerahan yang misterius namun sangat indah dan kuat. Pusaran itu berputar dengan kecepatan tetap, memancarkan getaran kekuatan yang terasa berat, hangat, namun juga aman dan terlindungi.
Inilah wujud nyata dari pencapaian Sihir Tingkat Empat: Harmoni Terstruktur. Di tingkat ini, kekuatan mereka tidak lagi sekadar dijumlahkan, melainkan menciptakan jenis kekuatan baru yang jauh lebih hebat. Ketika Algernon memusatkan niat untuk melindungi, pusaran itu memadat menjadi kubah pelindung yang tidak hanya kokoh, tapi juga membakar siapa saja atau apa pun yang berani menyentuh permukaannya. Ketika Amorette mengarahkan niat untuk menyerang atau bergerak, energi itu berubah menjadi serangan yang cepat, panas, dan sulit dihalangi oleh pertahanan biasa karena sifat gandanya. Gabungan ini jauh lebih hemat energi, sangat fleksibel, dan memiliki keseimbangan sempurna antara kekuatan serangan tertinggi dan pertahanan mutlak. Mereka terus berlatih mengubah wujud dan fungsi energi gabungan itu, merasakan bagaimana jiwa dan kekuatan mereka terhubung seolah menjadi satu kesatuan, hingga waktu berlalu begitu cepat tanpa disadari.
Ketika matahari sudah naik cukup tinggi dan hawa pagi mulai terasa hangat, Amorette menyeka keringat yang membasahi dahinya. Tubuhnya terasa panas sisa penggunaan api, namun hatinya puas. “Sudah cukup untuk sementara,” katanya sambil tersenyum lelah namun bangga. “Perutku sudah keroncongan, tadi pagi hanya sempat makan roti isi selai saja.”
Algernon mengangguk setuju, juga merasakan lelah dan lapar setelah berlatih berjam-jam menguras tenaga dan konsentrasi. “Baiklah, kita kembali dulu untuk makan siang.”
Namun saat mereka berbalik hendak pergi, langkah mereka terhenti. Dari arah jalan setapak masuk lapangan, tampak Elarise berjalan mendekat dengan langkah ringan dan senyum manis yang terukir rapi di wajahnya. Penampilannya sangat rapi, bersih, dan wangi, sangat berbeda dengan mereka yang tampak berkeringat, rambut sedikit berantakan, dan aura sihir yang masih terasa tebal di sekeliling mereka.
“Ternyata kalian masih di sini,” sapanya dengan suara lembut yang berusaha terdengar polos dan bersahaja, padahal ia sudah memperhatikan mereka dari kejauhan cukup lama. “Kebetulan sekali aku lewat. Bolehkah aku ikut berlatih juga? Aku ingin mengasah kemampuanku lebih lanjut.”
Tanpa menunggu jawaban atau izin, Elarise melangkah mundur sedikit dan mengangkat kedua tangannya dengan gerakan anggun. Ia merapalkan mantra singkat namun jelas. Dalam sekejap, dari telapak tangannya memancarkan cahaya putih bersih yang sangat terang dan menyilaukan, disertai kristal-kristal es halus yang berputar indah membentuk pola bunga yang mempesona dan berkilauan terkena sinar matahari.
“Aku menguasai gabungan sihir Cahaya dan Es,” ujarnya dengan nada yang terdengar rendah hati namun menyembunyikan rasa bangga yang meluap-luap. “Kata banyak orang, cahaya milikku sangat murni, indah, dan kuat. Sepertinya sihir cahayaku akan sangat cocok jika digabungkan dengan sihir cahaya milik Algernon—kita bisa menciptakan kekuatan yang jauh lebih hebat, lebih bersih, dan lebih indah daripada gabungan sihir gelap, bukan?” ucapnya tersirat merendahkan kekuatan Amorette.
Amorette dan Algernon saling bertatapan sekilas. Keduanya paham betul maksud di balik tawaran itu—bukan semata ingin berlatih atau belajar, melainkan ingin menunjukkan keunggulannya sekaligus berusaha mendekati dan menggantikan posisi Amorette di sisi Algernon. Bagi mereka, ini adalah tantangan halus yang layak diterima dan dijawab dengan tenang. Senyum tipis dan penuh pengertian muncul di sudut bibir Algernon, yang tidak terlihat oleh Elarise.
“Tentu saja boleh,” jawab Algernon tenang dan sopan. “Semakin banyak yang berlatih dan saling bertukar wawasan, semakin bermanfaat waktu kita.”
Wajah Elarise berseri-seri mendengar jawaban itu, merasa langkah pertamanya sudah berhasil. “Baiklah, izinkan aku memperlihatkan sedikit kemampuanku terlebih dahulu, agar kita bisa menyesuaikan diri satu sama lain,” ujarnya bersemangat.
Kali ini ia menarik napas lebih dalam dan memusatkan seluruh energinya hingga rambutnya melayang tertiup hawa dingin yang diciptakannya. Cahaya yang dipancarkannya kali ini jauh lebih besar dan terang, disertai es yang membentuk bilah-bilah tajam yang berputar cepat di udara, mengeluarkan hawa dingin yang menusuk tulang dan terasa sampai ke tempat Amorette dan Algernon berdiri.
“Ini adalah Sihir Tingkat Lima: Cahaya Es Penusuk. Aku sudah menguasainya dengan sangat baik sejak lama,” ujarnya dengan nada yang sedikit angkuh namun berusaha disembunyikan di balik senyum manisnya. Ia berharap kekuatan tingkat lima ini akan membuat mereka kagum dan merasa rendah diri, apalagi dibandingkan elemen Amorette yang dianggapnya gelap dan kasar.
Namun reaksi yang diharapkannya tidak datang. Amorette dan Algernon hanya menatapnya dengan tenang, datar, dan penuh pertimbangan, tanpa terlihat terkejut, takjub, atau terintimidasi sedikit pun. Tanpa berkata apa-apa, mereka kembali berdiri berdampingan, saling membagi pandangan sekilas, dan merapalkan mantra gabungan mereka sekali lagi.
Pusaran energi ungu kemerahan itu terbentuk kembali—stabil, tenang, padat, dan sangat terkontrol sempurna. Ukurannya memang tidak sebesar sihir Elarise, dan bentuknya tidak seindah kristal es yang berkilauan, namun ada kekuatan dahsyat yang terasa mengalir dari sana. Panas Api Kegelapan yang mematikan berpadu dengan kokohnya Cahaya Pelindung, menciptakan aura berbahaya yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Itulah wujud nyata dari pencapaian tingkat empat mereka, gabungan dua elemen bertolak belakang yang menghasilkan keseimbangan kekuatan mutlak, jauh lebih berharga dan berbahaya dibandingkan sekadar keindahan atau kilau semata.
Di dalam hatinya, Elarise menggeram kesal dan cemburu. Ia telah menunjukkan kekuatan tingkat yang lebih tinggi, lebih terang, dan lebih indah, namun pasangan di hadapannya tampak tidak tergoyahkan, seolah pencapaian mereka sendiri memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dan lebih penting.
Latihan berlanjut selama beberapa jam berikutnya dalam suasana yang sangat kaku dan penuh persaingan diam-diam. Elarise terus berusaha memamerkan variasi sihirnya—membuat es yang lebih besar, cahaya yang lebih terang, bentuk yang lebih rumit, berharap bisa membuat mereka terkesan dan menarik perhatian Algernon sepenuhnya. Sebaliknya, Amorette dan Algernon tetap fokus menyempurnakan kestabilan, kecepatan pembentukan, dan efektivitas serangan serta pertahanan sihir gabungan mereka. Mereka tidak berusaha bersaing dalam hal ukuran atau keindahan, melainkan menunjukkan kualitas yang matang, terkontrol, dan sangat mematikan jika diperlukan.
Ketika bayangan pohon mulai memanjang dan posisi matahari menunjukkan waktu sudah lewat tengah hari, Amorette akhirnya menurunkan tangannya dan membubarkan energi apinya. Rasa lapar yang terpendam sedari tadi kini terasa sangat menyiksa. “Maaf, aku benar-benar tidak bisa menahan lapar lagi. Kita berhenti dulu ya?” katanya terus terang dan sopan.
Algernon mengangguk setuju sambil menyeka keringat di lehernya. “Baiklah, kita lanjutkan lain waktu.”
Mereka menoleh ke arah Elarise yang masih berdiri dengan rapi namun wajahnya mulai terlihat tegang karena iri hati. “Terima kasih sudah berlatih bersama,” ucap Amorette sopan namun dingin.
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, keduanya berbalik dan berjalan berdampingan meninggalkan lapangan, meninggalkan Elarise yang berdiri sendirian di tengah rerumputan. Senyum manis di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah kesal, marah, dan kecewa yang berusaha ia sembunyikan. Ia mengepalkan tangannya erat-erat di balik punggungnya hingga buku jarinya memutih, menatap tajam punggung mereka yang semakin menjauh.
Kegagalannya membuat tekad jahat di hatinya semakin mengeras. Ia tidak hanya ingin mengalahkan Amorette dalam hal kekuasaan dan kasih sayang ayahnya, tetapi ia kini bertekad sepenuhnya untuk merebut Algernon—pria yang kini dipandang semua orang jauh lebih berharga, cerdas, dan hebat, serta mampu menerima bahkan kekuatan gelap milik kakaknya—hanya untuk melihat Amorette kehilangan segalanya dan hancur sepenuhnya.