NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Jebakan di Balik Kamera

Malam turun lebih cepat dari biasanya di Jakarta.

Langit seperti ditutup lapisan abu gelap, menahan cahaya terakhir sebelum benar-benar padam.

Di SMA Wijaya, hampir semua siswa sudah pulang.

Koridor yang siang tadi ramai kini sunyi, hanya suara lampu neon yang berdengung pelan di langit-langit.

Namun di ruang OSIS, satu sosok masih bertahan.

Arsen Rafardhan.

Ia duduk di kursi utama, layar laptop di depannya menyala.

Di sana, rekaman CCTV ruang arsip diputar ulang.

Frame demi frame.

Gerakan kecil.

Tatapan mata.

Dan satu detik yang tidak konsisten.

Arsen memutar ulang bagian itu lagi.

Dan lagi.

“Berhenti di sini,” gumamnya pelan.

Gambar berhenti.

Anya Clarissa berdiri di depan rak.

Tangannya memegang map.

Wajahnya terlihat biasa.

Terlalu biasa.

Tapi Arsen tidak melihat wajahnya.

Ia melihat reaksi mikro.

Hanya sedikit.

Tapi cukup.

Saat kamera berbunyi klik, jari Anya berhenti sepersekian detik.

Bukan panik.

Bukan takut.

Tapi… perhitungan.

Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Ketemu,” bisiknya pelan.

Di sisi lain kota.

Mobil van hitam melaju pelan di jalan sepi.

Di dalamnya, Anya melepas kacamata bulatnya.

Suasana langsung berubah.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

Tulus duduk di depan, matanya terus mengamati layar kecil.

“Arsen sedang memutar ulang rekaman itu,” katanya.

Anya tidak bereaksi langsung.

Ia hanya mengikat rambutnya ulang.

“Sudah kuduga,” jawabnya santai.

Tulus menoleh sedikit.

“Dia tidak hanya curiga sekarang.”

Anya tersenyum tipis.

“Dia sudah yakin ada sesuatu.”

Keheningan singkat mengisi mobil.

Lalu Tulus berkata lebih pelan.

“Queen… itu berarti kita sudah masuk fase bahaya.”

Anya menatap jendela.

Refleksi wajahnya sendiri terlihat di kaca gelap.

Dua versi dirinya.

Gadis sekolah.

Dan sesuatu yang lain.

“Fase bahaya baru dimulai kalau aku sampai terlihat,” jawabnya akhirnya.

“Dan aku belum terlihat.”

Namun di gedung Rafardhan Group, Arsen sudah bergerak lebih jauh.

Baskoro berdiri di belakangnya, tegang.

“Tuan, Anda yakin ingin melanjutkan ini?”

Arsen berdiri.

Jasnya tergantung di kursi.

“Kirimkan perintah,” katanya.

“Perintah apa?”

Arsen menatap layar.

“Nonaktifkan semua akses CCTV sekolah selama 3 menit jam 07.12 besok pagi.”

Baskoro terdiam.

“Itu akan membuat sistem keamanan sekolah terbuka.”

Arsen mengangguk.

“Justru itu tujuannya.”

Baskoro mulai paham.

“Ini jebakan…”

Arsen tidak membantah.

“Kalau dia benar hanya gadis biasa, dia tidak akan peduli.”

Ia berhenti.

“Tapi kalau dia bukan…”

Arsen menatap layar dengan dingin.

“…dia akan bereaksi dalam tiga menit itu.”

Pagi berikutnya.

SMA Wijaya tampak seperti biasa.

Murid-murid datang, suara sepatu memenuhi koridor, dan kehidupan sekolah berjalan tanpa tahu bahwa sesuatu sedang disusun di belakang layar.

Anya berjalan masuk seperti biasa.

Kepala tertunduk.

Buku dipeluk.

Topeng sempurna.

Namun di telinganya, suara Tulus masuk pelan.

“Jam 07.12… sistem sekolah akan blackout.”

Anya tidak langsung bereaksi.

Ia hanya melangkah.

“Selama berapa lama?” bisiknya.

“Tiga menit.”

Anya berhenti di depan kelas.

Lalu tersenyum kecil.

“Cukup.”

07.11.

Arsen sudah berdiri di koridor utama.

Matanya mengarah ke CCTV di langit-langit.

“Siapkan,” katanya pada Baskoro melalui earpiece.

“Siap, Tuan.”

Detik berjalan lambat.

07.12.

Klik.

Semua kamera mati.

Seluruh layar monitoring di ruang keamanan berubah hitam.

Dan di saat yang sama—

Arsen bergerak.

Di ujung koridor.

Anya juga bergerak.

Tapi bukan panik.

Bukan lari.

Ia berjalan santai menuju tangga samping yang jarang dipakai.

“Dia mulai,” kata Tulus.

Anya mengangguk.

“Aku tahu.”

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh—

langkah lain muncul dari belakang.

Satu.

Dua.

Tiga.

Arsen.

Ia berdiri tidak jauh darinya.

Hanya beberapa meter.

Tanpa kamera.

Tanpa saksi.

Hanya mereka berdua di koridor kosong.

Tiga menit.

Dan waktu mulai berjalan lebih cepat dari seharusnya.

Anya berhenti.

Tidak menoleh langsung.

“CCTV mati,” suara Arsen terdengar tenang.

Anya diam.

Arsen melangkah sedikit lebih dekat.

“Aneh, ya?”

Masih diam.

“Setiap kali aku mendekat ke sesuatu yang penting,” lanjut Arsen, “hal itu selalu mencoba bersembunyi.”

Anya perlahan menoleh.

Wajah polosnya kembali aktif.

“Ibu guru bilang CCTV lagi maintenance, Kak.”

Arsen tersenyum tipis.

Tapi bukan senyum hangat.

Lebih seperti senyum seseorang yang sudah tahu jawabannya.

“Maintenance mendadak,” katanya.

Ia berhenti.

“Di jam yang sama setiap sistem sekolah terbuka selama tiga menit.”

Anya berkedip pelan.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Tepat di batas normal.

Namun Arsen melihat itu.

Semuanya.

“Menarik,” kata Arsen akhirnya.

Langkahnya berhenti tepat di depan Anya.

Jarak terlalu dekat.

“Kalau kamu benar hanya anak beasiswa biasa…”

Ia menatap langsung ke mata Anya.

“…kenapa dunia di sekitarmu selalu terasa seperti sedang disembunyikan?”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Anya tersenyum kecil.

“Dunia semua orang memang punya rahasia, Kak.”

Arsen tidak langsung menjawab.

Namun tangannya bergerak sedikit ke arah saku jaketnya.

Dan di sana—

alat kecil berbentuk tracker aktif.

Bip.

Terdeteksi.

Arsen baru saja menempelkan sesuatu di tas Anya tanpa disadari.

Di dalam mobil van.

Tulus langsung berdiri.

“Queen, kita dilacak.”

Anya menutup mata sebentar.

Lalu tersenyum.

“Bukan dilacak.”

Ia membuka mata.

“Dia mengundang kita.”

Arsen mundur satu langkah.

“Jangan terlalu sering sendirian di tempat sepi,” katanya tenang.

Lalu berbalik.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Namun saat ia berjalan menjauh—

sudut bibirnya naik sedikit.

“Hampir.”

Anya tetap berdiri di tempat.

Tangannya perlahan meraba tasnya.

Sebuah alat kecil tertempel di bagian dalam.

Ia tidak langsung melepasnya.

Ia hanya menatapnya.

Lalu tersenyum tipis.

“Arsen…”

bisiknya pelan.

“Kamu mulai main kotor.”

Dan di saat itu juga—

permainan berubah.

Bukan lagi sekadar saling curiga.

Tapi saling menjebak.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!