Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Mimpi Buruk
Rania memasukkan bukunya ke dalam tas dengan asal-asalan lalu bergegas keluar dari kelas. Masuk ke dalam kerumunan mahasiswa lain yang berbondong-bondong keluar dari kelas. Ia berharap dia orang di luar kelasnya tidak melihat dirinya keluar dari kelas. Rania menundukkan kepala hingga wajahnya tertutup rambutnya yang tergerai. Untungnya keduanya tidak sadar kalau orang yang ditunggu sudah keluar.
Salsa yang sedang bermain ponsel pun mendongak melihat ke depan saat merasa kelas sudah mulai sepi. Begitu juga dengan Arya yang kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana kemudian masuk ke dalam kelas untuk menjemput Rania. Tapi keduanya harus kecewa karena Rania sudah tidak berada di dalam kelas.
"kalian mencari Rania?" tanya Dewi yang masih duduk di kursinya dengan laptop yang masih menyala.
"iya, dia kemana?" tanya Salsa.
"tadi buru-buru keluar, sepertinya ada janji sama Bagas," ucap Dewi dengan jujurnya. Ia tadi berdiri di samping Rania saat Bagas mengajaknya untuk bertemu. Ia juga tidak tau kalau diantara mereka bertiga ada hubungan yang aneh.
Salsa langsung berlari keluar saat mendengar nama itu lagi. Ia yakin ingatannya tidak mungkin salah. Bagas bukan orang baik dan suka memanfaatkan orang kaya. Ia merasa sangat khawatir saat mendengar Llyn akan menemuinya seorang diri.
Sedangkan Arya masih berdiri di tempatnya sambil menatap Dewi, "dimana mereka janjiannya?" tanyanya sambil memeriksa ponselnya dan sesuai dugaannya, GPS Rania masih tidak terlihat. Itu artinya ponsel yang dipegangnya sekarang bukanlah ponsel yang sebelumnya.
"di kafe tempat kerja Bagas, kafe baru yang di belakang kampus."
Setelah mendapat informasi tersebut, Arya langsung berlari keluar. Ia berlari langsung ke area belakang kampus dan memanjat pagar melompatinya begitu saja.
"ternyata memang sudah ketahuan ya," gumamnya lirih.
Sementara itu Rania duduk di satu meja yang sama dengan Bagas. Sejak awal bertemu, belum ada satupun diantara mereka yang membuka percakapan.
"kalau tidak ada apapun yang ingin disampaikan, aku pulang dulu."
Rania sudah merasa lelah dan muak dengan sikap Bagas.
"tunggu, jangan pergi! aku.. aku bisa menyelamatkanmu dan Salsa!"
Kalimat itu membuat Rania berfikir ke satu hal, yaitu reinkarnasinya dan Salsa. Tapi tidak ada yang tahu hal itu selain dirinya dan Salsa.
"apa maksudmu? aku dan Salsa baik-baik saja, memangnya mau diselamatkan dari apa?"
"dengarkan aku, Arya dia tidak sekejam itu. Sifatnya bisa diubah, dan yang bisa mengubahnya hanya kamu seorang. Hanya jika sifatnya bisa berubah, maka takdirmu dan Salsa baru bisa diubah."
Saat Rania ingin mengatakan sesuatu, lonceng pintu masuk berbunyi menandakan ada seorang pengunjung datang. Pengunjung itu adalah Salsa dan Arya. Keduanya sampai secara bersamaan dan masuk bersama. Salsa langsung menghampiri Rania lalu memeriksanya dari atas sampai bawah. Kemudian ia menoleh ke arah Bagas dan menatapnya tajam.
Sementara Arya langsung menarik kerah Bagas dan hampir saja sebuah tinju melayang di wajahnya jika Rania tidak menghentikan aksinya itu.
"jangan ribut, aku tidak apa-apa dan tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula aku cuma ketemu sama Bagas, bukan ketemu sama pembunuh berantai."
Dahi Arya mengerut sesaat setelah mendengar ucapan Rania. Tapi kemudian wajahnya berubah datar lagi seperti biasanya. Tanpa aba-aba, ia langsung menarik tangan Rania agar mengikutinya keluar dari tempat itu menuju mobil. Salsa bergegas mengikutinya dari belakang meninggalkan Bagas yang masih berdiri di tempatnya.
Selama perjalanan, Rania dan Salsa sama-sama diam membisu. Mereka merasa suasana di dalam mobil terlalu mencekam. Arya terlihat begitu serius dan melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
"di mana rumahmu?"
Pertanyaan mendadak itu membuat Rania dan Salsa kebingungan. Merasa tidak sabar, Arya kembali mengulang pertanyaannya dengan sedikit lebih tegas.
"oh anu, rumahku sudah kelewatan, hehe."
Salsa menjawab pertanyaan Arya dengan penuh ketakutan. Tangannya terus menepuk paha Rania agar temannya itu menyelamatkan hidupnya.
"ke rumahku saja," perintah Rania.
Arya melirik dari spion melihat ke belakang, tempat Rania dan Salsa duduk. Kemudian ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan lanjut mengemudi dengan tenang.
Sesampainya di rumah Rania, Arya langsung pulang begitu saja tidak seperti biasanya. Biasanya dia baru pergi setelah memastikan Rania masuk ke dalam rumah dengan aman. Atau kadang juga menawarkan diri untuk mampir.
"dia sepertinya marah besar."
"baguslah, semoga besok tidak bertemu lagi."
"ceritakan apa yang tadi dikatakan Bagas."
Rania merangkul Salsa dan membawanya masuk ke dalam rumah. Saat ini, perutnya menjadi prioritas utama. Ia sudah merasa lapar sejak siang karena tidak makan dengan benar.
Sementara itu, Arya di dalam ruang kerjanya terlihat gelisah. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali melirik ke luar jendela melihat rumah Rania yang terletak di ujung.
"tuan muda, ini data pemuda itu," asisten kepercayaan mendiang ayahnya yang kini menjadi kepercayaannya, masuk ke dalam ruang kerja setelah mengetuk pintu.
Arya mengambil dokumen itu dan langsung memeriksanya.
"tidak ada yang spesial, kenapa Rania mau bertemu dengannya?"
Arya memegang kepalanya yang mulai berdenyut nyeri.
"apa mimpi buruk itu masih sering datang?"
"ya."
"apa saya perlu memanggil dokter lain?"
"tidak ada gunanya."
"kalau begitu saya akan menyiapkan obat sesuai resep terakhir."
Setelah mengatakan itu, pria paruh baya itu langsung keluar dari ruangan Arya dan melanjutkan tugasnya.
Arya merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak di ruang kerjanya dan memejamkan matanya. Pening di kepalanya semakin terasa membuatnya kesulitan mempertahankan kesadaran dirinya.
"Arya aku bawa bekal buat kamu, ayo makan bersama."
Wajah yang terlihat begitu ceria itu memanggilnya dan seperti biasa, membawa makanan untuknya. Makanan yang dimasaknya dengan susah payah. Meskipun ia tidak memberikan reaksi sama sekali, tapi gadis itu tetap terlihat begitu ceria.
"Arya tadi aku lihat kucing di jalan, aku jadi ingin pelihara kucing."
"Arya... Arya... Arya..."
Hari tiba-tiba berubah menjadi gelap dan suasana yang cukup mencekam. Di depan matanya terbaring sosok yang paling ia cintai terbaring dengan penuh darah.
"Arya, kenapa kamu tidak mempercayaiku?"
Pertanyaan itu tiba-tiba terdengar di telinganya dan tidak ada siapapun di sekitarnya. Hanya ada dia yang terbaring di depannya.
"Arya, kamu yang membunuhku!"
"HAH!"
Kedua mata Arya langsung terbuka lebar dengan keringat sebesar biji jagung memenuhi tubuhnya. Bayangan itu sungguh mengerikan, membuatnya tidak bisa memejamkan mata lagi. Sudah berhari-hari ia tiba-tiba mengalami teror mimpi buruk seperti ini. Dan isi mimpinya selalu sama, antara dirinya dan Rania. Ada kejadian yang sudah terjadi, dan ada juga kejadian yang belum pernah terjadi seperti kejadian penuh darah itu.
"dia berubah," gumamnya saat teringat dengan adegan manis di dalam mimpinya, lalu ia bandingkan dengan sifat Rania yang sekarang. Sifatnya memang berubah drastis.
"tuan, anda mimpi buruk lagi?" sang asisten bergegas masuk mendengar suara dari dalam ruang kerja atasannya. Sambil membawa obat dan air minum untuk Arya.
"hm."
"ini obatnya, minum dulu lalu lanjut tidur lagi."
Tanpa berkata apapun lagi, ia menuruti asistennya lalu berpindah ke kamar setelah meminum obatnya.