"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Kecil yang Hilang
Perlahan-lahan, suasana kelas 10-2 yang tadinya riuh akibat puisi gombal Bagas mulai berubah menjadi tenang dan kondusif. Setelah memastikan perhatian seluruh siswa kembali terpusat ke depan, Nadia mulai berbicara dengan nada suara yang ramah namun tetap berwibawa.
"Hari ini Pak Jaka gak bisa masuk kelas dikarenakan beliau sedang sakit," ujar Nadia menyampaikan amanat. "Dan Pak Jaka berpesan, tugas kalian hari ini adalah merangkum materi pelajaran geografi yang ada di buku paket."
Mendengar kata 'merangkum', terdengar helaan napas pasrah dari beberapa murid. Namun, Nadia segera mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding kelas, lalu tersenyum misterius yang langsung membuat anak-anak kembali fokus.
"Dan... seperti biasa, ya. Lima belas menit sebelum bel istirahat kedua berbunyi, aku akan memberikan satu pertanyaan kuis. Aturannya: siapa cepat, dia dapat," ucap Nadia sembari mengulas senyum manisnya. "Barisan atau siswa yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan benar, boleh keluar untuk istirahat duluan."
Nadia mengetuk meja guru pelan, memberikan penekanan. "Ingat, cuma ada satu pertanyaan. Jadi, selagi kalian merangkum, sekalian dipelajari dan diingat apa yang kalian tulis itu. Oke, sekarang silakan mulai dikerjakan."
"Siap, Kak!" sahut anak-anak kompak.
Suasana kelas langsung berubah produktif. Bunyi gesekan pena dan lembaran buku yang dibalik mulai mendominasi ruangan. Karena keterbatasan fasilitas, Bagas dan Alvin terpaksa saling berbagi satu buku paket geografi yang sama demi bisa menyelesaikan rangkuman mereka.
Sembari menggerakkan penanya di atas kertas, Alvin bergumam pelan pada Bagas. "Nasib anak baru ya gini... semuanya ketinggalan. Buku paket aja gue belum dapet," keluh Alvin lirih, merasa sedikit kerepotan.
Bagas yang juga sedang sibuk merangkum menoleh sekilas, lalu menimpali dengan nada meledek. "Ternyata lo bisa mengeluh juga, ya? Ya elah, ini kan udah bagi-bagi bukunya," ucap Bagas santai.
Tepat saat Alvin bersiap untuk membalas ucapan sahabatnya itu, sebuah bayangan tiba-tiba berhenti di samping meja mereka. Tanpa Alvin sadari sedari tadi, langkah kaki sang Ketua OSIS rupanya telah bergerak anggun menyusuri celah bangku dan kini sudah berdiri tepat di sisi mejanya.
"Hai, Alvin," sapa Nadia lembut sembari mengulas senyuman manis yang begitu tulus.
Alvin seketika terkejut. "Eee...?" Gumamnya tertahan. Matanya langsung melebar saat melihat sebuah buku paket geografi baru yang disodorkan oleh tangan lentik Nadia tepat di hadapannya.
"Ini buku paket buat kamu. Pakai saja," lanjut Nadia ramah, memberikan perhatian khusus pada sang murid baru agar tidak kesulitan belajar.
Bukan cuma Alvin, Bagas yang duduk di sebelahnya pun ikut terkejut setengah mati melihat perlakuan istimewa dari sang primadona sekolah. Namun, hanya butuh waktu sefersekian detik bagi otak jahil Bagas untuk langsung memanfaatkan situasi.
Bagas menyenggol lengan Alvin dengan bersemangat, lalu bersiul menggoda dengan suara berbisik yang sengaja dikeraskan. "Cuit, cuit... Beruntung banget ya sifu kita ini! Baru masuk udah dapet perhatian jalur VIP dari Ketua OSIS!" goda Bagas dengan kedipan mata yang menyebalkan.
Wajah Alvin mendadak kaku menahan malu akibat celetukan nekat sahabatnya itu. Sembari menerima buku paket dari tangan sang senior, Alvin berusaha mengabaikan Bagas dan mendongak sopan. "Terima kasih banyak, Kak," ucap Alvin tulus sembari menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman tipis yang ramah.
Begitu Nadia berbalik untuk kembali ke depan kelas, Alvin langsung melayangkan lirikannya yang paling sewot dan tajam ke arah Bagas. "Sifu... sifu... Dasar Wong Fei Hung lo!" umpat Alvin kesal dengan suara tertahan.
"Haha!" Bagas justru tertawa puas melihat Alvin yang biasanya lempeng kini bisa salah tingkah. Dia menepuk-nepuk bahu Alvin dengan akrab, sama sekali tidak merasa bersalah setelah membuat pertahanan ketenangan sang murid baru runtuh seketika.
Sementara itu, Nadia yang berjalan kembali menuju meja guru sempat mencuri dengar bisikan sewot Alvin dan tawa lepas Bagas dari barisan belakang. Bukannya terganggu, Nadia justru menundukkan kepalanya sedikit, menyembunyikan rona merah tipis dan senyuman geli yang tertahan di sudut bibirnya.
Nadia merasa interaksi Alvin dengan teman sebangkunya itu sangat menggemaskan, sekaligus ada rasa hangat yang tak biasa menjalar di hatinya setiap kali dia menatap mata tenang milik Alvin dari dekat.
Sebelum benar-benar melangkah kembali ke meja guru di depan, pandangan mata Nadia sengaja menyapu barisan bangku depan. Atensinya seketika tertuju pada Luna yang tampak sedang duduk sendirian di kursinya.
Dari gerak-geriknya, Luna terlihat sedang menggerakkan pena di atas buku tulis. Namun, Nadia yang peka bisa melihat kalau fokus gadis itu tidak sepenuhnya ada pada tugas rangkumannya. Tatapan mata Luna tampak gelisah, menyiratkan badai pikiran yang sedari tadi berkecamuk hebat akibat menyatukan detail cerita masa lalu Alvin.
Melihat bangku di sebelah Luna kosong, Nadia melangkah anggun mendekat, lalu perlahan mendudukkan tubuhnya di kursi kosong tersebut.
Merasa ada pergerakan di sebelahnya, Luna menoleh dan langsung tersentak. "Eh, Kak Nadia...?" ucap Luna sedikit terkejut, buru-buru membenarkan posisi duduknya.
Nadia mengulas senyuman tipis yang menenangkan agar adik kelasnya itu tidak tegang. "Hai, Luna," sapa Nadia lembut dengan suara berbisik, menghargai suasana kelas yang sedang hening merangkum. "Kamu sendirian duduknya? Apa teman sebangkumu gak masuk hari ini?"
Luna mengangguk kaku, mencoba menata detak jantungnya yang mendadak kembali berdegup kencang. "Oh, iya, Kak. Anindia, Ketua Kelas kami, hari ini gak masuk karena sedang sakit," timpal Luna menjelaskan.
"Oh, begitu... Aku harap dia cepat sembuh, ya," ucap Nadia tulus, menunjukkan rasa kepeduliannya yang tinggi sebagai seorang pemimpin OSIS.
Di bangkunya, Luna termenung kaku selama beberapa detik sembari menatap wajah cantik seniornya dari dekat. Jarinya mencengkeram erat pena di tangannya. Otaknya langsung berputar cepat, menyadari situasi langka yang sedang berpihak kepadanya saat ini.
'Kursi ini kosong... Kak Nadia duduk di sebelah aku... Kelas lagi tenang...'
Luna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki. 'Ini kesempatan emas buat aku. Aku harus nanya soal detail kecelakaan masa kecil itu sekarang juga ke Kak Nadia!' tekad Luna membara di dalam hatinya, bersiap melontarkan pertanyaan pancingan demi menguak kebenaran identitas Alvin.
Jantung Luna berdegup kencang, bertalu-talu di dalam rongga dadanya. 'Tenang, Luna... tenang... Huuuh...' Luna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa gugupnya.
Setelah mengumpulkan seluruh keberanian, dia akhirnya bertanya dengan suara berbisik yang diusahakan se-natural mungkin, "Kak Nadia... maaf sebelumnya. Tadi pas Kakak melihat jambu air di meja guru, Kakak sempat nyebut 'buah lonceng' ya? Kakak emang suka manggil jambu dengan sebutan itu dari dulu?"
Nadia yang mendengar pertanyaan itu tersenyum kecil. Pandangan matanya perlahan beralih menatap lurus ke arah papan tulis di depan kelas, seolah jiwanya sedang terbang mundur, membuka kembali lembaran masa lalu yang sudah berdebu.
"Itu pahlawan kecil aku yang memberi nama itu," ucap Nadia diiringi kekehan pendek yang terdengar getir.
"Pahlawan kecil?" tanya Luna, sengaja berpura-pura bingung demi memancing cerita lebih dalam.
"Iya," sahut Nadia lembut. "Waktu itu di taman kota N-Park. Di sana banyak banget pohon, dan anak cowok itu hobinya selalu memanjat pohon jambu. Aku sendiri selalu main sendirian di sana setiap sore. Terus, suatu hari dari atas pohon, ada yang bernyanyi... 'Buah lonceng, buah lonceng, enaknya, enaknya dong... ding... dong... dong... ding... dong... mau lagi dong!' ucap cowok itu dari atas pohon, lalu dia tertawa."
Nadia tersenyum manis mengenang momen itu. "Aku yang di bawah pohon otomatis langsung mendongak ke atas. Dan dengan cepat, anak cowok itu turun, mendekatiku, lalu menyodorkan buah jambu air yang dia petik. Dia berkata, 'Eh eh, kamu ngapain? Nih ada buah lonceng, enak tau!' Aku melihatnya sambil tertawa karena anak cowok itu sangat ceria."
"Aku nanya ke dia, 'Buah lonceng apanya?' Terus anak cowok itu memegang buahnya dan berkata, 'Lihat dong bentuknya kayak lonceng kecil!' Aku ketawa lagi sambil memakan buah itu, lalu bilang, 'Ini mah jambu air. Kalau orang sini billing, bell fruit.' Ternyata anak cowok itu pintar, dia langsung menyahut, 'Nah, kan! Betul buah lonceng, bell fruit! Haha!' Anak cowok itu tertawa begitu renyah."
Tatapan mata Nadia melembut. "Aku gak tau nama aslinya siapa. Tapi sore itu, tiba-tiba anak cowok itu menatapku dan berkata... 'Eh eh, kamu mirip Nana...' "
Deg!
Saat itu juga, jantung Luna berdegup begitu kuat hingga rasanya mau copot. Tangan kirinya meremas pena di atas meja dengan sangat kencang sampai buku-buku jarinya memutih. Panggilan "Nana" itu... adalah nama kecil dirinya yang hanya dipanggil oleh Alvin!
"Tapi saat aku baru mau nanya siapa itu Nana," lanjut Nadia, yang kini kepalanya perlahan tertunduk, "dia malah terdiam. Di matanya... dia meneteskan air mata."
Nadia menghela napas pendek. "Melihat dia sedih, saat itu juga aku langsung mengajak dia bermain petak umpet. Dan seketika, dia kembali bersemangat. Dia kembali tertawa sambil mengusap air matanya menggunakan punggung tangan, lalu langsung menarik tanganku."
Luna menahan napasnya erat-erat. 'Petak umpet... Yaa Tuhan, sama persis!' batin Luna menjerit. Dia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Nadia.
"Setelah hari itu, aku dan anak cowok itu selalu bermain, berlari, dan bercanda bersama. Aku gak akan pernah lupa cara dia tertawa, dan momen saat aku berhasil ditemukan olehnya waktu bermain petak umpet... 'Nana ketemu yaa, haha!'" Nadia menirukan suara ceria anak cowok itu.
Luna semakin menunduk, meremas kedua telapak tangannya sendiri di bawah meja. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, siap tumpah kapan saja.
"Saat kami mau pulang, anak cowok itu melambaikan tangan dan berkata... 'Nana... Nana, besok main lagi yaa...'"
Tubuh Luna bergetar pelan. 'Sama persis... persis seperti yang dibilang Pipin (Alvin) waktu itu...' batin Luna terisak, namun dia buru-buru menyeka sudut matanya dengan cepat. Dia harus kuat agar Nadia terus bercerita.
Luna berdeham pelan untuk menetralkan suaranya. "Terus... Kak, gimana kelanjutannya?"
Kini, giliran Nadia yang tertunduk dalam. Bahunya tampak sedikit merosot. "Yaaa... sore berikutnya kami kembali bertemu dan bermain tanpa ada rasa lelah. Tapi saat sore itu... aku pergi membeli es krim di seberang jalan, dan aku berniat ingin memberikan es krim itu juga untuknya."
Nadia menoleh, menatap Luna dengan sepasang mata yang kini sudah memerah, menahan bendungan air mata yang siap runtuh. "Aku terlalu bersemangat saat itu, Luna. Aku berlari kecil sambil tertawa. Dan tepat saat aku ingin menyeberang jalan..."
Nadia berhenti sebentar, menarik napasnya yang terasa sesak.
"Anak cowok itu berteriak, 'Nana, awas!!' sambil berlari sangat kencang ke arahku. Lalu... dia mendorong tubuhku sampai terpental ke tepi jalan. Aku hanya luka-luka kecil..."
Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Nadia. "Tapi saat aku berbalik... aku melihat anak cowok itu sudah bersimbah darah. Di pipinya... dia tergeletak di tengah jalan. Dan yang bikin aku paling terpukul... dia tidak menangis, dia bahkan tidak berteriak kesakitan..."
Melihat kesedihan mendalam sang Ketua OSIS, Luna tidak tahan lagi. Dia langsung mengulurkan tangannya, menggenggam erat tangan Nadia untuk memberikan ketenangan, meskipun batin Luna sendiri sudah hancur lebur mendengarnya.
"Dan sejak saat itu... hari itu adalah hari terakhir aku melihat anak cowok itu. Gak lama setelah kejadian, keluargaku pindah kembali dan sekolah di sini. Sampai sekarang, aku gak pernah tau lagi gimana kabar pahlawan kecilku itu..." tutup Nadia dengan suara bergetar di balik genggaman tangan Luna.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya