Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Hermawan memegang kertas itu dan membacanya dengan tangan gemetar, benar itu adalah fotokopi surat perjanjian lama yang dia lupakan saat pengalihan harta istrinya yang ternyata dialihkan kepada semua anaknya dan Biah adalah orang yang menjaga semuanya dan berhak membaginya kepada kedua adiknya itu.
Tangannya mengepal erat, dia tidak menyangka jika istrinya tahu jika dirinya sangat senang semuanya dialihkan dan membuatnya lupa point utama.
Tatapannya membelalak melihat beberapa foto dirinya melakukan kekerasan pada ketiga anaknya sebelumnya belum lagi foto perselingkuhan saat dia dan masih berstatus suami dari istrinya Nuraini
Dia menelan salivanya bulat-bulat bahkan ketika obat yang dia dan istri barunya ini tukar dan bagaimana kematian istrinya saat itu terpampang jelas .
"Ini". Tubuhnya bergetar hebat begitu juga dengan istri barunya.
"Mas bagaimana bisa?". Wajahnya memucat melihat beberapa fotonya dan suaminya saat kematian istri tua sang suami.
Ingatannya terlempar, dia melupakan sesuatu yang penting yaitu putri sulungnya yang memang sangat cerdas sejak kecil dan mampu memahami apa yang terjadi sekeliling nya bahkan mencari cara untuk mendapatkan bukti.
"Ini semua Biah yang mengumpulkannya?". Ucapnya pelan dengan suara bergetar hebat
Mata Anita melotot sempurna mendengar perkataan suaminya, jadi putri sulung suaminya itu sudah merencanakan semua ini sejak dia masih kecil, itu artinya perencanaan matang ini akan menjadi bom waktu yang menghancurkan mereka semua jika mereka tidak menuruti perkataan Biah barusan.
Melihat keadaan orangtuanya seperti patung, ras penasaran Maya semakin membesar, dia mengambil foto-foto dan surat perjanjian itu dan menatap ibu dan ayahnya dengan tatapan tidak percaya bahkan foto itu tertera tanggal pengambilannya.
"Ayah, mommy katakan semua ini tidak benar, kalian tidak melakukannya kan?". Tanyanya dengan mata sendu.
Dia menggeleng berusaha untuk tidak percaya apa yang dia lihat tapi kenyataannya tidak semudah itu karena dia memegang semua bukti bahkan tanggalnya.
"Tutup mulutmu, kita akan bahas ini setelah acara selesai, lihat kita jadi bahan tontonan sekarang". Ucapnya sambil mengedarkan pandangannya melihat mereka semua mulai mencemooh dirinya dan keluarganya.
Mereka akhirnya membubarkan pesta itu dengan alasan yang masuk di akal agar para undangan tidak berspekulasi yang tidak-tidak diluar sana nanti.
Biah yang kini berada didalam mobilnya mengepalkan tangannya, dia jelas mengingat setiap detail yang dilakukan ayahnya saat ibunya mulai sakit-sakitan saat melahirkan adik ketiganya, dia juga menyaksikan sendiri perselingkuhan dan percobaan pembunuhan pada ibunya saat itu, itu sebabnya dia merekam sekaligus memotret apa yang dia lihat tanpa ada yang tahu bahkan tangganya pun sengaja dia atur pada handphonenya saat itu.
"Dulu aku diam dan menyimpan segalanya karena aku masih kecil, sekarang akan ku hancurkan siapapun yang berani mengganggu Keluargaku termasuk kamu ayah".
Tangannya mengepal, matanya berkaca-kaca mengingat segalanya, karena perbuatan ayahnya yang serakah dan berselingkuh dia kehilangan ibunya dan nyaris kehilangan adiknya juga saat itu.
"Kamu membuat rasa hormat, cinta dan sayangku menjadi benci karena perbuatanmu sendiri, selain tidak bertanggungjawab kamu juga membuang kamu seperti sampah".
Matanya menunduk mengingat betapa keterlaluan nya ayahnya saat itu padahal itu adalah kewajibannya tanpa harus diberi tahu
Kejadian 28 tahun yang lalu saat adiknya masih berusia satu tahun lebih itu, bermain diluar rumah.
"Rosyid". Teriaknya melihat adiknya terlempar karena ditabrak lari oleh mobil tidak dia kenal.
Dengan tangan gemetar dirinya berlari membela jalanan untuk menolong sang adik dan menyetop kendaraan untuk meminta tolong membawa adiknya itu
"Dokter, tolong adik saya, saya mohon". Biah kecil menangis meraung-raung meminta belas kasihan atas nyawa adiknya itu.
Dokter mengangguk dan mengurus sang adik untuk mendapatkan perawatan.
"Nak, di keluargamu ada yang miliki golongan darah yang sama dengan adikmu?". Tanya suster yang datang dengan wajah panik.
"Ada suster, ayah saya, tolong berikan handphone atau apapun agar saya bisa menghubungi dirinya
Suster mengangguk dan mengambil handphonenya untuk diberikan kepada anak kecil itu.
"hallo ayah, ini aku Biah". Ucapnya dengan tangis berlinang
"Mau apa?, ayah sibuk!".
"Ayah, tolong kerumah sakit sekarang, Rosyid tertabrak mobil dan membutuhkan darah ayah karena satu-satunya yang memiliki golongan darah yang sama adalah ayah, stock darah disini lagi kosong".
"Baik, saya datang, rumah sakit mana?".
"Pelita harapan ayah".
"Tunggu disana".
Setelah sampai dirumah sakit sang ayah hanya menatapnya dengan tatapan datar kemudian mendekati sang anak, tidak ada rasa sayang apalgi kasihan pada anaknya ini.
"Saya harus menyumbangkan darah saya begitu?".
Biah yang tengah duduk dan menunduk itu akhirnya mengangkat kepalanya melihat sang ayah akhirnya datang.
Matanya yang tadinya berbinar melihat sang ayah langsung meredup melihat siapa yang datang bersama ayahnya tapi dia berusaha mempertahankan senyumannya agar ayahnya mau memberikan darahnya pada sang adik
"Akhirnya ayah datang, aku takut sekali". Biah langsung bangkit dan ingin memeluk sang ayah.
Sang ayah mendorongnya pelan seolah tidak ingin disentuh olehnya
"Ayah". Cicitnya tidak percaya
"Tidak usah banyak drama, kalau saya menyumbangkan darah saya, kamu harus perkataan saya nanti, jangan membantahnya, kamu mengerti?". Tanyanya dengan keras.
Dia menyeringai licik karena tahu sang anak tidak punya pilihan lain selain menurut padanya karena dia tahu anak sulungnya ini sangat menyayangi kedua adiknya apalagi setelah istrinya meninggal.
Biah hanya bisa menunduk sambil mengepalkan tangannya, dia masih berusia 6 tahun dan belum bisa melakukan apapun tentang apa yang dilakukan ayahnya lakukan.
"Bagus, antar saya kesana". Jawabnya memerintah
Lagi-lagi Biah hanya diam dan berjalan mengantar sang ayah untuk donor darah, jika bukan karena adiknya dia tidak akan meminta pertolongan pada ayahnya karena ayahnya sangat sibuk dan tak punya waktu untuk mereka belum lagi dia selalu membawa selingkuhannya itu.
Setelah tragedi itu dan pendonoran darah, Biah dan kedua adiknya akhir diusir dan di suruh kerumah sang nenek, dia yakin ayahnya sengaja menekan dirinya karena rasa sayangnya kepada adiknya itu.
Air matanya kembali menetes, beban berat sebagai anak sulung membuatnya begitu kuat dan penuh kehati-hatian, dia tidak bisa percaya pada siapapun makanya tidak pernah mengatakan siapa dirinya termasuk kepada suaminya sendiri.
Dia memang memiliki banyak usaha dan orang-orang yang mengerjakannya , dia hanya berjualan makanan dijalan agar berusaha menghilangkan identitas dirinya sebagai CEO banyaknya usaha miliknya salah satunya adalah peternakan ayam potong, usaha peternakan sapi dan kambing yang besar, banyaknya kebun dan juga tanah pertanian miliknya belum lagi firma hukum yang dia dirikan
"Aku kembali merebut semua yang menjadi milik kami ayah, dan ayah tidak akan pernah bisa menghentikan anak yang terluka ini".