" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
" Nyonya...itu ,anu..." seorang pelayan di kediaman keluarga Lennox menghampiri nyonya Vanessa yang tengah menemani suaminya di ruang kerja.
" Ada apa bi? coba bicara yang jelas" nyonya Vanessa merasa aneh melihat art nya berbicara dengan gaya gugup.
" Itu...di luar ada pangeran Rafael, katanya ingin bertemu" wajah wanita paruh baya itu tampak begitu gugup, bagaimana tak gugup, seseorang yang ia tau adalah calon raja negaranya bertemu langsung dengan nya, walaupun hal itu bukan pertama kali terjadi,tapi itu dulu saat Meera dan Rafael masih kecil,belum se dewasa sekarang.
Sesaat nyonya Vanessa mengangguk menandakan beliau paham apa yang pelayan nya sampaikan " tolong bibik siapkan minuman,saya akan menemui pangeran" ucap nyonya Vanessa cepat.
" Apakah kamu tau ada hal penting apa yang membawa putra mahkota mendatangi rumah kita?" ayah meera yang merasa sedikit terkejut langsung bertanya pada sang istri,seraya ikut bangkit dari duduknya.
Nyonya Vanessa menggeleng mendengar pertanyaan suaminya" aku tidak tau persis, mungkinkah karena berita yang tengah viral itu? atau mungkin ada hal lain,aku tak bisa menebaknya,Meera juga tak mengatakan mereka bertemu saat ia di istana sore tadi" jawab nyonya Vanessa.
Tak menanggapi berlebihan,sang suami hanya mengangguk sambil ikut melangkah keluar menuju ruang tamu,art kediaman itu memang telah mempersilahkan tamu terhormat itu untuk masuk.
" Aku merasa hubungan mereka semakin hari semakin renggang, mungkinkah pertunangan itu masih akan terus kita lanjutkan? aku khawatir putri kita akan menderita" akhirnya nyonya Vanessa mengungkapkan perasaan tak nyaman nya tentang hubungan sang putri dengan pangeran Rafael.
Mendengar ungkapan kegelisahan sang istri,tuan Amran Lennox menggeleng seraya berkata serius" kamu tak perlu terlalu khawatir,aku laki-laki dan aku bisa melihat dengan jelas, bagaimana perasaan pangeran pada putri kita,tatapan matanya saat menatap putri kita tak pernah bisa berbohong,bahwa ia benar-benar sangat menyayangi dan mencintai Meera,ia menatap Meera bukan seperti seorang laki-laki menatap adik atau sahabat nya,tapi tatapan nya selayaknya tatapan laki-laki pada wanitanya, tatapannya posesif dan penuh minat,namun sekuat tenaga ia menyembunyikan itu semua, terlebih semakin mereka dewasa, tatapan nya semakin terlihat jelas" jawab tuan Amran begitu yakin.
" Semoga seperti yang kau pikirkan,aku khawatir jika sampai apa yang kamu yakinkan itu ternyata salah,kita hanya memiliki Meera,aku tak ingin harta paling berharga ku itu hancur oleh cinta nya sendiri, karena aku juga yakin perasaan putri kita pada pangeran juga bukan perasaan main-main atau sesaat,ia benar-benar sangat mencintai pangeran,aku tak akan membiarkan cintanya menghancurkan nya" nyonya Vanessa berkata lirih.
" Buang jauh-jauh pikiran mu itu, mereka akan bersama dan pasti akan sangat bahagia,hanya saja mungkin cobaan yang harus mereka hadapi tidak mudah,dan itulah resiko dalam hubungan mereka,tapi percayalah,cinta mereka kuat" tuan Amran Lennox berusaha meyakinkan sang istri.
" Maafkan kami telah membuat pangeran menunggu " dengan penuh rasa hormat dan sopan,tuan Amran dan sang istri menyapa pangeran Rafael, walaupun mereka telah mengenal nya sejak pemuda itu terlahir dan bahkan sudah di tetapkan akan menjadi menantu mereka,semua itu tak membuat mereka mengurangi rasa sungkan dan hormat nya pada sang calon pemimpin negara mereka itu.
" Om, Tante,tidak perlu se sungkan dan se formal itu,kita tidak sedang dalam jamuan kerajaan, saya yang salah datang secara tiba-tiba tanpa memberikan kabar terlebih dahulu " dengan cepat pangeran Rafael bangkit dari duduknya dan menyambut sang pemilik rumah.
" Ayo duduklah kembali,apa yang membawa pengeran harus mendatangi rumah kami malam-malam begini? apakah telah terjadi sesuatu? atau mungkin ada hal yang sangat penting dan mendesak? Meera membuat masalah?" sebagia seorang ibu,nyonya Vanessa merasa sangat khawatir putrinya membuat masalah,maka itu beliau langsung memberikan pertanyaan beruntun pada pemuda di hadapannya itu.
" Ma.. pelan-pelan bertanya nya,pangeran akan kesulitan untuk menjawab pertanyaan mu yang tak berjeda itu,maafkan istri saya pangeran " dengan cepat tuan Amran menegur sang istri dan meminta maaf pada sang putra mahkota.
Sedangkan Rafael yang awalnya akan menjawab,menjadi sedikit sungkan dan salah tingkah" tidak apa Om,hanya saja saya datang bukan karena ada masalah,saya hanya ingin bertemu Meera" wajah Rafael seketika berubah menjadi memerah saat mengatakan ingin bertemu Meera.
" Baiklah akan saya panggilkan" dengan cepat nyonya Vanessa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga.
Sedangkan tuan Amran memutuskan untuk berbincang kecil dengan sang tamu, hingga beberapa saat kemudian, terlihat nyonya Vanessa turun dengan wajah yang menunduk dan canggung.
" Mana Meera ma?" tanya tuan Amran pada sang istri saat melihat tak ada sang putri bersama istrinya.
" Em...maaf kan Meera pangeran,Meera tidak mau menemui anda" jawab nyonya Vanessa pelan.
Rafael tampak terdiam sejenak kemudian ia mengangguk seraya tersenyum tipis" kalau begitu bolehkah saya yang menemuinya om, Tante?" walaupun ia seorang putra mahkota dan memiliki kekuasaan,namun terhadap Meera dan kedua orang tuanya, Rafael tak pernah bersikap tak sopan,ia selalu sangat menghormati keluarga itu bahkan sejak ia masih kecil.
Tak langsung menjawab,pasangan paruh baya itu justru saling tatap,tuan Amran Lennox mengangguk kecil, mengiyakan, sedangkan nyonya Vanessa terlihat begitu enggan,dan Rafael menyadari itu.
" Tolong om, Tante,ada yang sangat ingin saya sampaikan pada nya" pinta Rafael sedikit memohon.
" Baiklah" putus nyonya Vanessa mengangguk berat setelah melihat anggukan sang suami yang menandakan ia harus memberikan izin.
" Mari saya antar" nyonya Vanessa mempersilahkan pangeran Rafael untuk mengikutinya menuju tangga, untuk menuju ke kamar sang putri.
Dengan patuh pangeran Rafael mengangguk-anggukkan kepalanya dan melangkah mengikuti wanita yang telah ia anggap seperti ibunya itu,ya Rafael sejak kecil memang menyayangi nyonya Vanessa selayaknya seorang ibu baginya,itu karena memang nyonya Vanessa juga sangat menyayangi nya.
Tiba di depan pintu kamar sang putri, nyonya Vanessa tak langsung mempersilahkan Rafael masuk, beliau terlebih dahulu memanggil putrinya.
" Meera..." baru saja sang mama memanggilnya, terdengar suara sahutan dari dalam kamar.
" Ma....Meera ga mau,Meera ga mau ketemu kak El,suruh pulang aja ma,Meera ngantuk" jawab Meera tegas, nada suaranya terdengar menggeram,tanda bahwa ia sedang tidak suka.
Nyonya Vanessa tersenyum sungkan menatap wajah kaku pangeran Rafael, padahal faktanya pangeran muda itu tengah sekuat tenaga menahan diri nya agar tak menunjukkan tawanya di hadapan siapapun,Rafael mengulum bibir nya menahan senyuman.
" Maafkan Meera pangeran" dengan nada tulus dan sungkan,nyonya Vanessa meminta maaf pada pangeran Rafael.
" Izinkan saya masuk,dan Tante bisa tolong tinggalkan kami" pinta Rafael serius dan tegas.
" Baiklah,sekali lagi maafkan Meera, sikapnya masih sama seperti dulu" ucap nyonya Vanessa merasa bersalah.
Tak menjawab, pangeran Rafael mengangguk mengiyakan seraya tersenyum tipis, menimbulkan kelegaan di hati nyonya Vanessa,wanita paruh baya itu memutuskan meninggalkan tempat itu, mempercayai sang pangeran menemui putri kesayangannya.
dia hanya rubah yang licik
apakah kamu penggemar rahasia
sebab Iya ingin anaknya masuk dalam kawasan keluarga istana
bukan sekedar pelayan, yang di anggap rendahan🤭😔
kira kira siapa si dia
bikin penasaran aja
ngelunjak ya
minta di geprek kau
dan ternyata Dai si penghianat kerajaan
ada disampingmu Rafael
ular kadut
apakah dia termasuk anak bangsawan
sampai dgn percaya dirinya
selalu mengincar pangeran
ternyata ada pria lain yang Akan melindungi meera
dan Rafael seolah menerima perjodohan itu
hanya karena ingin menutupi bhubungannya dgn camel🤭🤭
ish is tak patut
tak patut
Baru juga lihat Meera ketawa ketiwi sama kaka2 OSIS, udah kebakaran jenggot aja. Gimana kl Gio atau cwo lain bisa deketin Meera ?
ah elah EL EL...gemes pengen cubit ginjalmu EL 😂😂
asal lu tau aja..Camila itu siluman ular.
Ayo Gio..aku mendukungmu 💪