Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAJA ALARIC
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah atap paviliun yang hancur, menyinari lantai yang kini sudah bersih dari mayat, namun masih menyisakan bau anyir darah yang samar.
Di atas ranjang yang mulai reot itu, dua anak manusia masih tenggelam dalam mimpi nya, mereka tertidur dengan saling menggenggam.
Elena mengerjap kan matanya, dan hal pertama yang dia rasakan adalah beban berat di pinggangnya dan rasa hangat yang menjalar di telapak tangannya.
"Ternyata sudah pagi," batin Elena, sedikit menguap.
Dia menoleh perlahan dan mendapati Pangeran Arlon masih tertidur lelap dengan posisi memeluk lengannya erat, wajah pria itu tampak sangat damai dalam tidur nya.
"Pangeran, bangun, matahari sudah tinggi," ucap Elena sambil menggoyangkan bahu Arlon dengan sebelah tangannya.
"Unggghhhh!"
Pangeran Arlon melenguh pelan, dengan pelan, matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, tapi bukannya melepaskan, justru dia semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elena, menghirup aroma tubuh istrinya yang segar meski semalam habis bertarung.
"Lima menit lagi, tubuhku terasa sangat nyaman hari ini..." gumam Pangeran Arlon dengan suara khas orang bangun tidur, serak namun terdengar seksi.
Elena mendengus, lalu dengan gemas, dia mencubit lengan Arlon cukup keras.
"Aduh! Sakit, Elena!" teriak Pangeran Arlon langsung terduduk tegak, matanya kini terbuka lebar sambil mengusap lengannya yang memerah.
"Bagus, sekarang kamu sudah bangun. Cepat bersiap, para anjing Selena pasti sebentar lagi datang menjemput ku," ucap Elena, sambil turun dari ranjang dan merapikan gaunnya yang compang-camping.
Elena berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di pojok kamar nya.
Benar saja, baru saja Elena selesai membasuh wajahnya dengan air dingin, suara derap langkah kaki dan teriakan prajurit terdengar dari depan paviliun.
Namun, kali ini suaranya berbeda, bukan hanya pengawal Arkan, tapi ada pengawal pribadi Raja
"Nona Elena! Raja memanggilmu ke aula utama sekarang juga!" teriak seorang prajurit dari luar.
"Raja? Bukan Ratu?" tanya Elena, mengerutkan keningnya.
"Iya, cepat pergi, sebelum kami bertindak kasar," jawab prajurit, istana.
Pangeran Arlon yang sedang berusaha memakai jubah luarnya tampak menegang, saat mendengar perkataan dari prajurit istana
"Ayahanda... Raja Alaric. Ternyata berita semalam sampai ke telinganya lebih cepat dari dugaan," bisik Arlon, berjalan mendekati Elena.
langkah Pangeran masih sedikit kaku namun terlihat jauh lebih berenergi dibanding kemarin.
"Dengarkan aku, Elena. Ayahku bukan orang bodoh seperti Arkan, dia pria yang memegang kendali atas Kerajaan Belmont dengan tangan nya sendiri, dia jarang bicara, tapi matanya bisa melihat kebohongan sekecil apa pun," lanjut Arlon sambil memegang pundak Elena, dengan tatapan yang sulit diartikan.
Elena menatap balik mata Pangeran Arlon, mencari kepastian.
"Lalu, apa aku harus tetap pada cerita pria berjubah itu?"tanya Elena.
"Ya. Ayahku sangat membenci penyusup," jawab Arlon mengangguk mantap.
Jika kamu bilang ada orang asing masuk ke istananya, dia akan lebih fokus memburu orang itu daripada mencurigai mu. Gunakan ego-nya untuk melindungi mu," ucap Arlon, penuh penekanan.
"Hem, aku tahu," jawab Elena, mengangguk kan kepala nya.
Sementara itu di Aula utama Kerajaan Belmont terasa sangat mencekam pagi itu, di atas singgasana tertinggi, duduklah seorang pria paruh baya dengan janggut rapi dan mata yang sangat tajam.Raja Alaric.
Di sebelah kiri sang Raja, ada Ratu Selena yang duduk dengan wajah yang dipaksakan tenang, meski matanya berkilat penuh dendam saat melihat Elena masuk.
Elena berjalan di tengah aula, melewati barisan bangsawan yang berbisik-bisik menghina dirinya, dia tidak perduli, dan terus berjalan dengan dagu terangkat menuju singgasana Raja.
"Salam Yang Mulia Raja Alaric Belmot," ucap
Elena membungkuk hormat, namun punggungnya tetap tegap, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
Tentu saja Elena hanya memberi hormat pada Raja, dan sengaja mengabaikan keberadaan Ratu Selena.
"Jadi, kamu adalah pengantin Arlon?" tanya Raja Alaric, dengan suara menggelegar, rendah dan berwibawa.
"Benar, Yang Mulia Raja," jawab Elena datar.
Raja Alaric berdiri, berjalan menuruni tangga singgasana mendekati Elena.
Tekanan auranya membuat beberapa pelayan di sekitar gemetar, namun Elena tetap tidak bergeming.
Setelah menuruni beberapa anak tangga, Raja Alaric berhenti tepat di depan Elena, menatap Elena, dengan tatapan penuh selidik.
"Putraku, Arkan, melapor bahwa semalam ada pembantaian di Paviliun Bintang, puluhan pembunuh bayaran tewas dengan cara yang mengerikan," ucap Raja Alaric sambil mengelus dagunya.
"Dan kau bilang, ada orang asing yang membantu kalian?" tanya Raja Alaric, dingin.
"Benar, Yang Mulia, seorang pria berjubah hitam, tiba-tiba datang, dia bergerak secepat bayangan," jawab Elena tanpa berkedip, sangat meyakinkan.
"Bohong! Yang Mulia, jangan percaya pada gadis rendahan ini!" sela Ratu Selena dengan nada tinggi.
"Mana mungkin ada penyusup yang bisa masuk ke istana tanpa diketahui penjaga? Pasti gadis ini menyembunyikan sesuatu!" teriak Ratu Selena, menunjuk-nunjuk Elena.
Raja Alaric mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Ratu diam, dia masih menatap Elena, seolah sedang membedah isi kepala gadis itu.
"Jika benar ada pria sekuat itu masuk ke istanaku hanya untuk menyelamatkan putraku yang sekarat, itu artinya keamanan istana ini sampah," desis Raja Alaric dingin, membuat para jenderal perang yang hadir langsung berlutut ketakutan.
"Arkan, kamu bilang kamu melihat mayat-mayat itu. Apa benar mereka terluka yang sangat parah?" tanya Raja Alaric, beralih menatap Pangeran Arkan yang berdiri di samping ratu.
"B-benar, Ayahanda. Tulang mereka hancur, seperti dipukul oleh kekuatan monster," jawab Pangeran Arkan gugup.
Raja Alaric kembali menatap Elena, tiba-tiba, dia menarik belati kecil dari pinggang salah satu pengawalnya dan melemparkannya ke arah Elena dengan kecepatan tinggi.
Sret!
Elena reflex memiringkan kepalanya sedikit, sebagai seorang pembunuh bayaran, dia memiliki insting yang sangat tajam.
Belati yang di lempar oleh Raja Alaric itu lewat hanya beberapa milimeter dari pipi Elena dan menancap kuat di dinding aula, belakang Elena.
Semua orang yang ada di sana, terlihat menegang dan menahan nafas nya, tapi tidak dengan Elena, dia tetap tenang, tidak berteriak, bahkan matanya tidak berkedip.
"Instingmu bagus untuk seorang gadis desa, Arlon beruntung mendapatkan istri yang memiliki nyali," ucap Raja Alaric menyeringai tipis.
"Yang Mulia! Anda tidak akan membiarkannya begitu saja, kan?" protes Ratu Selena, wajahnya memerah karena kesal rencana interogasinya digagalkan oleh suaminya sendiri.
"Cukup, Selena! Jika benar ada penyusup sehebat itu, prioritasku adalah menemukannya, bukan menginterogasi pengantin baru yang bahkan belum sempat menikmati malam pertamanya," ucap Raja Alaric, tegas.
"Mulai hari ini, tingkatkan keamanan!" perintah Raja Alaric, menatap seluruh orang di aula.
"Dan untuk kamu, Elena, bawa Arlon ke sini sekarang juga! Aku ingin melihat sendiri apakah keberuntungan ini juga menyembuhkannya," lanjut Raja Alaric, kembali melirik Elena.
"Baik Yang Mulia," jawab Elena menunduk hormat, namun di dalam hatinya dia menyeringai.