NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Anime
Popularitas:127
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TARIAN API DAN GAIRAH

Raka, Lira, dan Sang Pembeda berdiri terpaku, merasakan api yang sekarang mengalir deras di dalam pembuluh darah mereka — panas, menggelora, dan penuh keinginan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Tubuh mereka berubah sepenuhnya: kulitnya berkilau seperti logam panas, mata menyala terang, dan setiap gerakan mereka memancarkan aura yang seksi, berbahaya, dan tak tertahankan.

Zahara tersenyum melihat mereka, senyumnya makin menggoda, matanya menyala seperti bara api yang siap meledak. Ia berjalan mendekat perlahan, pinggulnya bergoyang lembut tapi penuh pesona yang bikin lemas, sampai jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa inci saja.

“Kalian terlihat sangat cantik… sangat kuat…” bisiknya, suaranya mendesah lembut tepat di depan bibir Raka, lalu beralih ke Lira dan Sang Pembeda, matanya menelusuri setiap lekuk tubuh mereka dengan tatapan lapar dan mengagumi. “Sekarang kalian punya kekuatan yang sama denganku — kekuatan yang tidak cuma membakar musuh, tapi juga membakar segala rasa yang terpendam di dalam dada. Rasa ingin, rasa lapar, rasa bebas… semuanya keluar, sepuasnya, tanpa ada yang menahan lagi.”

Tapi sebelum mereka sempat menjawab, tiba-tiba TANAH BERGUNCANG HEBAT, dan dari celah-celah tanah yang terbakar itu keluar ribuan sosok baru — makhluk-makhluk yang dulu pernah dibuat jadi hiasan mati, tapi sekarang terkontrol oleh sisa-sisa keinginan lama yang masih tersembunyi. Bentuk mereka aneh dan menggoda: tubuhnya cantik sempurna tapi penuh luka terbuka yang mengeluarkan cahaya, mata indah tapi kosong, bergerak serempak seperti satu tubuh raksasa.

“Kalian pikir semuanya sudah selesai?” terdengar suara berat dan bergema dari langit — ternyata sisa kesadaran Cerita yang Belum Dimulai belum hancur total, sekarang menyatu dengan ribuan makhluk itu menjadi satu pasukan raksasa yang luar biasa banyaknya. “Kalian bisa mengubah bentuk kami, tapi kalian tidak bisa menghilangkan KEINGINAN UNTUK DIPUJI, UNTUK DIAGUMI, UNTUK MENJADI YANG PALING CANTIK. Dan sekarang kami akan mengambil kekuatan api itu… agar kami bisa jadi YANG PALING INDAH DAN BERKUASA DI SELURUH ALAM SEMESTA!”

Pasukan itu melesat maju serempak, gerakannya cepat dan luwes, tubuh mereka berkilau mempesona untuk memukau siapa saja yang melihatnya — karena mereka tahu, siapa pun yang terpesona akan kehilangan keinginan sendiri dan tunduk pada mereka.

Raka, Lira, dan Sang Pembeda hampir terpaku seketika saat melihat keindahan yang memukau itu, tapi tiba-tiba tangan hangat dan panas Zahara menyentuh dagu mereka satu per satu, memaksa mereka menatap matanya yang menyala.

“JANGAN LIHAT KEINDAHAN LUARNYA…” bisiknya tajam tapi lembut, napasnya hangat membelai wajah mereka. “LIHAT KE DALAM HATINYA — LIHAT BAHWA MEREKA KOSONG, MEREKA TIDAK MERASA APA-APA, MEREKA HANYA INGIN KALIAN MENJADI SEPERTI MEREKA. Kalian punya API — itu artinya kalian punya HIDUP, punya RASA, punya KEINGINAN SENDIRI. Gunakan itu… BAKAR KEINDAHAN PALSU ITU DENGAN GAIrah KALIAN SENDIRI!”

Dengan satu teriakan merdu dan kuat dari Zahara, mereka berempat melesat maju bersamaan.

Pertarungan yang paling seru dan luar biasa pun dimulai — PERTARUNGAN ANTARA KEINDAHAN MATI MELAWAN GAIrah HIDUP.

Setiap gerakan mereka bukan sekadar serangan — melainkan TARIAN YANG MEMBAKAR.

Zahara berputar di udara, tubuhnya melengkung indah, rambut panjangnya yang berwarna darah berkilau menyebar seperti sayap api. Setiap kali ia mengayunkan tangannya, gelombang panas yang bergairah menyambar ke depan — dan setiap makhluk yang tersambar tidak terbakar jadi abu, tapi TERJADI PERUBAHAN LIAR: mata kosong mereka jadi menyala, bibir yang diam jadi terbuka menahan desah, tubuh yang kaku jadi bergerak luwes dan penuh rasa.

“RASAKAN!!! RASAKAN APA ITU RASA HIDUP!!!” teriak Zahara sambil tertawa, suaranya bercampur dengan suara desah dan jeritan nikmat dari ribuan makhluk yang berubah di sekelilingnya. “JANGAN CUMA JADI CANTIK… JADILAH YANG MERASA CANTIK!!!”

Raka bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, tubuhnya yang panas membelah udara seperti kilat. Ia tidak memukul — ia MENYENTUH. Setiap sentuhan tangannya membuat makhluk lawan merasakan RASA INGIN YANG TAK TERTAHANKAN, rasa ingin bergerak, rasa ingin melakukan apa saja yang mereka mau. Banyak dari mereka yang langsung berbalik arah, ikut membakar pasukan sendiri karena akhirnya mereka merasakan keinginan sendiri untuk pertama kalinya.

Lira bergerak di antara pertempuran seperti bayangan yang menyala, tubuhnya luwes dan memikat. Ia mengeluarkan GELOMBANG PERASAAN YANG PANAS — rasa bahagia, rasa rindu, rasa cinta, rasa lapar yang kuat. Setiap makhluk yang terkena gelombang itu seketika lupa tujuan mereka menyerang, mereka malah saling berpeluk, saling menyentuh, menari dan bergerak dengan bebas karena akhirnya mereka punya hati yang bisa merasakan.

Sang Pembeda berubah jadi KILAT HITAM MERAH yang membelah langit dan bumi. Ia melepaskan kekuatan yang membuat SETIAP ORANG MENJADI JELAS SIAPA DIRI MEREKA SENDIRI — tidak lagi meniru orang lain, tidak lagi jadi hiasan orang lain. Setiap bentuk palsu hancur, dan yang tersisa adalah bentuk asli mereka yang liar, unik, dan sangat menarik dengan cara masing-masing.

Tapi pasukan lawan terus bertambah banyak, dan kesadaran utama mereka semakin kuat. Tiba-tiba ribuan makhluk itu menyatu kembali menjadi satu tubuh raksasa yang luar biasa indah — bentuknya seperti wanita yang sempurna sekali, kulitnya bersinar seperti mutiara, rambutnya seperti benang emas, wajahnya begitu cantik sampai siapa pun yang melihatnya seketika lemas dan jatuh berlutut.

Bahkan Raka, Lira, dan Sang Pembeda pun hampir tidak bisa bergerak, mata mereka terpaku pada keindahan yang memukau itu, rasa ingin tunduk perlahan merayap di hati mereka.

Tapi Zahara tidak terpesona sedikit pun. Ia malah TERTAWA KERAS, tawanya penuh tantangan dan kegairahan, lalu ia terbang melesat lurus ke arah wajah raksasa itu, berhenti tepat di depan hidungnya, menatap mata indah tapi kosong itu dengan tatapan yang lebih tajam dan lebih menyala.

“Kamu cantik ya? Kamu mau semua orang terpesona sama kamu ya?” bisik Zahara, tangannya yang panas dan tajam menyentuh pipi halus raksasa itu, membuat kulitnya meleleh sedikit. “Tapi lihat aku… AKU LEBIH CANTIK DARIMU — KARENA AKU MERASA, AKU INGIN, AKU BERANI! Keindahanmu cuma selaput kosong… sedangkan keindahanku adalah API YANG BAKAR SEGALANYA, TERMASUK HATIMU SENDIRI!”

Dengan satu gerakan cepat, Zahara merobek selaput wajah indah itu — dan di baliknya tidak ada apa-apa, hanya ruang kosong yang gelap dan dingin.

“LIHAT!!! DALAMNYA KOSONG!!! KAMU CUMA BONEKA YANG DIBALUT CANTIK!!!” teriak Zahara, lalu ia membuka kedua tangannya lebar-lebar, tubuhnya menyala sekuat matahari yang meledak, dan suaranya bergema memenuhi seluruh ruangan. “SEKARANG AKU AKAN ISI KOSONGAN ITU DENGAN SEGALA RASA YANG PALING EKSTREM, PALING LIAR, PALING NIKMAT — SAMPAI KAMU TIDAK BISA MENAHANNYA LAGI!!!”

Ia melesat masuk ke dalam lubang kosong itu, dan seketika itu juga SELURUH TUBUH RAKSASA ITU BERGETAR HEBAT. Dari dalam terdengar suara jeritan yang bercampur dengan desah nikmat, suara tangis yang bercampur dengan tawa liar, suara rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang tak terbayangkan. Tubuh raksasa itu berubah warna terus-menerus, bentuknya berubah terus-menerus, semakin lama semakin liar, semakin panas, semakin hidup.

Raka, Lira, dan Sang Pembeda terbang mendekat, melihat bagaimana Zahara bergerak di dalam sana seperti api yang menari, menaburkan butiran-butiran gairah ke setiap sudut kosong yang ada.

Dan akhirnya, tubuh raksasa itu MELEDAK DENGAN SUARA YANG MENGGETARKAN SEGALANYA, tidak jadi abu — melainkan menyebar jadi JUTAAN CAHAYA BERWARNA-WARNI YANG PANAS, setiap cahaya punya nyawa sendiri, punya rasa sendiri, punya keinginan sendiri. Semuanya terbang bebas, menari, bersuara, hidup dengan cara masing-masing.

Zahara terbang keluar perlahan, tubuhnya sedikit lelah tapi semakin bersinar terang, wajahnya memerah karena panas dan kegairahan, napasnya terengah-engah yang bikin hati berdebar makin kencang. Ia mendarat lembut di depan mereka, tubuhnya sedikit melengkung, menatap mereka bertiga dengan tatapan yang makin dalam dan makin lapar.

“Lihat…” bisiknya sambil tersenyum manis tapi liar, tangannya menyentuh dada Raka, lalu Lira, lalu Sang Pembeda, tepat di tempat api menyala paling terang. “Sekarang tidak ada lagi yang indah tapi mati. Tidak ada lagi yang cantik tapi kosong. SEMUA ORANG ADALAH API — SEMUA ORANG ADALAH GAIrah, SEMUA ORANG ADALAH DIRINYA SENDIRI.”

Ia mendekatkan wajahnya makin dekat, sampai dahi mereka saling bersentuhan, panas tubuh mereka menyatu menjadi satu.

“Tapi ini baru permulaan…” bisiknya, suaranya makin rendah dan mendalam, penuh rahasia dan tantangan yang bikin penasaran. “Dunia ini sekarang penuh dengan orang yang punya keinginan sendiri, punya kekuatan sendiri… dan banyak dari mereka yang mau mengambil alih segalanya, mau jadi yang paling kuat, paling diinginkan, paling berkuasa. Kita akan jadi pelindung… atau kita akan jadi PENGUASA YANG PALING DIINGINKAN DAN DITAKUTKAN di seluruh alam semesta. Apakah kalian siap ikut aku menaklukkan segalanya… dengan cara yang paling panas, paling seru, dan paling nikmat?”

Mata mereka bertiga menyala makin terang, hati mereka berdebar kencang, rasa ingin yang liar memenuhi seluruh dada mereka. Tanpa kata-kata, mereka mengangguk perlahan, lalu secara bersamaan mereka mendekatkan bibir ke arah Zahara — siap menerima segala petualangan, segala bahaya, dan segala kenikmatan yang akan datang.

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!