Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Akhirnya Terbongkar
Suasana seketika berubah menjadi hening total, hening yang begitu mengerikan, hingga suara jarum jam pun seolah bisa terdengar. Semua orang terpaku di tempatnya, mata mereka membelalak lebar penuh keterkejutan, mulut mereka terbuka karena tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat dan dengar di depan mata mereka sendiri. Tidak ada lagi pujian, tidak ada lagi senyum hormat, yang ada hanyalah tatapan kaget, tatapan jijik, dan tatapan kecewa yang ditujukan sepenuhnya kepada Ferdi.
Ferdi sendiri berdiri kaku bagaikan patung, darahnya seolah berhenti mengalir, wajahnya yang tadinya merah padam karena bangga kini berubah menjadi pucat pasi seperti kain kafan. Kakinya gemetar hebat, keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhnya, mulutnya terbuka namun tidak mampu mengeluarkan satu kata pun. Ia mengenal betul rekaman itu, itu adalah rekaman yang dilakukan Kiara hari itu, rekaman di hari ia menemui Emely.
"Bagaimana bisa terjadi."
Di sudut ruangan, Emily yang melihat kejadian itu pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya pucat ketakutan, tubuhnya terhuyung hampir jatuh karena kaget dan panik luar biasa. Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi, tidak menyangka rahasia terbesar mereka akan terbongkar di momen paling penting seperti ini.
Di antara kerumunan itu, Baskara yang sejak tadi diam mengamati, kini berdiri dengan mata terbelalak lebar, tubuhnya kaku karena keterkejutan yang luar biasa. Ia benar-benar tidak menyangka sama sekali, tidak menyangka bahwa Kiara akan melakukan tindakan seberani dan sebesar ini. Ia ingat percakapan mereka dulu, saat Kiara berkata ia bisa mengatasi semuanya sendiri, dan saat ia salah mengira bahwa Kiara diam karena terlalu mencintai Ferdi. Ternyata… semua itu hanyalah kepura-puraan belaka. Ternyata Kiara sudah menyiapkan pembalasan yang sangat hebat ini sejak lama, diam-diam, dengan penuh perhitungan yang matang.
Hati Baskara yang tadinya penuh rasa sakit dan kekecewaan kini berubah menjadi rasa kagum yang luar biasa, sekaligus rasa lega yang besar. Ia menatap sosok Kiara yang berdiri tegak di sebelah Ferdi, wanita itu tampak begitu tenang, begitu dingin, dan begitu berwibawa di tengah kekacauan yang baru saja terjadi. Baru sekarang Baskara benar-benar mengerti isi hati Kiara, baru sekarang ia sadar betapa salahnya pemikiran dirinya selama ini. Kiara bukanlah wanita yang lemah yang rela disakiti demi cinta, melainkan wanita yang cerdas, tegar, dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk membalas semua perbuatan jahat yang menimpanya.
Di atas panggung, rekaman video itu masih terus berputar, membongkar satu per satu kebohongan dan kejahatan yang selama ini tersembunyi rapi, sementara Ferdi hanya bisa berdiri diam di tengah tatapan jijik dan marah dari semua orang, menyadari bahwa hidupnya yang indah dan penuh kemewahan itu baru saja runtuh hancur lebur di depan matanya sendiri.
"Matikan video nya, matikan, itu bukan aku, itu psti editan."Ucap Ferdi dengan suara yang gemetar.
Pak Edward datang menghampiri Ferdi, lalu melayangkan sebuah tamparan yang membuat semua orang terkejut.
Ferdi memegang pipi yang terasa kebas.
"Ayah."
"Menantu kurang ajar kamu, kurang apa kami pada kamu, ketulusan putri ku kau balas dengan penghianat semenjijikan ini."Ucap Pak Edward.
"Ayah saya bisa menjelaskan."
"Dasar tidak tahu diri, sudah di angkat derajat nya oleh keluarga Wijaya malah main serong." terdengar cibiran dari tamu-tamu yang ada di sana.
"Iya, dulu aku dengar Ferdi ini orang miskin, tidak nyangka dia tidak tahu terima kasih." Yang lain menimpa lagi.
Ferdi merasa malu, pujian yang tadinya terdengar merdu kini berganti penghinaan dan pandangan yang menyakitkan.