NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34• Musuh Yang Tak Patuh

Dua bulan kemudian.

Pukul tujuh malam, lampu gudang masih menyala. Naya berdiri di depan papan absensi, mengecek daftar lembur anak buahnya satu per satu. Pulpen di tangannya bergerak cepat. Sejak dipromosikan jadi ketua regu bulan lalu, ia yang terakhir pulang.

“Kamu nggak capek, Nay?” tanya Rina, staff baru yang sering ia ajak kerja bareng.

Naya menoleh. “Capek. Tapi kalau kerjaan beres, tidurnya nyenyak.”

Ia tersenyum tipis. Sebulan ini hidupnya penuh angka dan kardus. Tapi juga penuh pujian dari kepala gudang. “Kerja kamu rapi, tanggung jawab,” katanya waktu mengumumkan kenaikan pangkat Naya. Gaji naik. Tunjangan bertambah.

Malam itu Naya tidak pulang ke kontrakan kecilnya. Ia mengendarai motor bututnya melewati perumahan baru di pinggir kota. Berhenti di depan rumah mungil cat krem dengan pagar besi hitam.

Kuncinya masih seret. Rumah KPR pertama. Cicilan 15 tahun, DP ngos-ngosan dari gaji dua bulan terakhir. Tapi ini miliknya. Atas namanya sendiri. Tidak ada yang bisa mengusirnya.

Di dalam, ruang tamu masih kosong. Hanya kasur lipat, kipas angin, dan kardus berisi piring. Naya meletakkan tas kerja di lantai, lalu duduk di ambang pintu.

Angin malam masuk lewat jendela yang belum pakai gorden. Luka di dadanya masih ada, tapi sudah mengering. Tidak perih lagi kalau disentuh. Ia menatap langit-langit rumahnya sendiri dan berbisik pelan.

“Akhirnya.”

Di luar sana, di kota yang masih sama. Tapi Naya sudah bukan Naya yang sebulan lalu.

......................

Malam itu rumah Arkan terang benderang. Di ruang tamu, beberapa kantong belanjaan berisi buah impor, obat-obatan mahal, dan selimut wol tergeletak di meja. Dewi datang membawa semua itu untuk Ibu Desy.

“Ma, ini Dewi bawa vitamin sama selimut baru. Biar tidurnya Ibu lebih nyenyak,” katanya sambil merapikan bantal di belakang punggung Ibu Desy.

Ibu Desy tersenyum tipis. “Makasih. Kamu baik banget.”

Dewi mengangguk. Matanya lalu melirik ke arah Bara yang duduk di kursi sebelah jendela. Sejak masuk tadi, Bara diam. Wajahnya tirus, matanya sayu. Tidak ada lagi sorot tajam yang dulu selalu ia tunjukkan waktu bicara soal kerja.

Dewi berpamitan sebentar ke Ibu Desy, lalu berjalan mendekati Bara. Ia berhenti tepat di samping kursi Bara, berjongkok agar sejajar.

“ Bara,” bisiknya pelan.

Bara menoleh. Ia menatap Dewi dengan pandangan kosong.

Dewi menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Bara. Suaranya nyaris tidak terdengar.

“Aku tau Naya dimana"

Bara tidak langsung bereaksi. Napasnya tertahan. Tangannya yang bertumpu di sandaran kursi mengepal perlahan.

Di belakang mereka, Ibu Desy tertawa kecil waktu membuka kotak buah. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja Dewi bisikkan.

Tapi udara di sekitar Bara berubah. Berat. Seperti ada sesuatu yang baru menyala lagi di dalam dadanya.

“Ikut gue ke belakang,” gumam Bara pelan.

“Bu, aku ke toilet dulu ya. Gak apa-apa kan kalau aku tinggal bentar?” ujar Dewi agak keras agar terdengar sampai ke ruang tamu.

Ibu Desy hanya mengangguk pelan sambil mengunyah camilan yang Dewi berikan.

Langkah Dewi berhenti di taman belakang rumah. Kebun bunga itu masih sama indahnya, dengan latar matahari yang nyaris tenggelam.

Bara duduk di bangku kayu panjang. Dewi melangkah mendekat.

“Apa bayaran yang lo mau,... Mas Arkan?” tebak Bara.

Dewi tersenyum singkat lalu duduk di samping Bara. “Aku mau Arkan nikah sama aku,” ujarnya lirih.

Bara menatap Dewi dengan sorot serius. “Gue bakal bantu sebisa gue. Tapi tolong kasih tau di mana Naya.”

Dewi mengalihkan pandangan, bukan jawaban itu yang ia mau dari Bara, tapi ia juga tak tega dengan Bara saat itu. Setelah diam dan berpikir beberapa detik, Dewi membuka mulutnya. “Dia di Surabaya. Tinggal di Perumahan Aurora nomor 23,” jawab Dewi.

“Gue kasian sama lo. Semakin hari semakin kurus. Lo gak seharusnya mikirin dia segitunya, Bar,” ujar Dewi kemudian.

Bara terdiam. “Tau dari mana dia disana?”

Dewi langsung bangkit dari duduknya. Ia tidak menjawab. Ia pergi dengan langkah cepat. Bara tidak menoleh ke belakang. Matanya masih menatap lurus ke arah kebun bunga, ke tempat yang sama seperti tiga bulan lalu saat Naya duduk di sana.

Tak lama, Bara beranjak. Ia masuk ke kamar, mengambil kunci mobil dan jaket. Hari itu juga ia harus pergi ke kota itu. Bertemu Naya. Bertemu cinta pertamanya.

Ibu Desy yang melihat Bara terburu-buru berusaha bertanya, tapi Bara mengabaikannya.

“Mungkin ada urusan mendadak, Bu,” ujar Dewi menenangkan Ibu Desy.

Di garasi, saat Bara hendak masuk ke mobil, pintu mobilnya ditahan Arkan yang baru pulang kerja. Tangannya mencengkeram pintu itu kuat.

“Mau ke mana lo?” tanya Arkan. Matanya menatap Bara tajam.

"Bukan urusan lo" bisik Bara, rahangnya mengeras, tangannya mencengkram tangan Arkan yang menghalangi pintu masuk mobilnya.

Bara tidak peduli. Ia mendorong Arkan hingga terhuyung ke samping, lalu masuk ke dalam mobil dan tancap gas, menjauh dari rumah.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!