NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Malam ini di rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Lampu-lampu taman masih menyala hangat di balik jendela besar kamarku, memantulkan cahaya ke lantai kayu yang mengkilap. Aku duduk bersandar di kepala ranjang dengan ponsel yang sejak tadi berada di genggamanku. Grup percakapanku dengan Linda, Brie, dan Amber masih terbuka di layar. Namun yang terus terngiang di kepalaku justru satu kalimat sederhana dari Linda.

'Kau terlalu sibuk membuatnya mencintaimu, Hazel.'

Aku menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Kalimat itu terus berputar di kepalaku sejak sore tadi. Selama ini, aku memang terus berlari ke arah Mason tanpa benar-benar berhenti untuk memahami siapa pria itu sebenarnya. Aku terlalu fokus mencari celah agar ia membuka hati untukku, sampai lupa bahwa hati seseorang tidak bisa dipaksa terbuka hanya karena kita terus mengetuknya.

Aku menghela napas panjang dan memejamkan mata sejenak. "Aku bahkan belum benar-benar mengenalnya," gumamku lirih.

Aku tahu makanan favoritnya, minuman favoritnya, warna kemeja yang sering ia pakai, dan jam berapa biasanya ia berangkat bekerja. Tapi semua itu hanyalah sebagian kecil tentangnya. Aku tidak pernah benar-benar mengenal isi kepalanya, ketakutannya, atau alasan mengapa ia begitu dingin terhadap dunia.

Malam semakin larut, sementara suara langkah kaki Mason belum juga terdengar di lorong luar kamar. Sudah hampir dua minggu sejak kami menikah, namun rasanya aku masih hidup bersama seseorang yang sangat jauh. Kadang aku berpikir, bahkan orang asing di jalan mungkin bisa lebih mudah memahami Mason dibanding aku yang setiap hari tinggal satu atap dengannya.

Aku turun dari ranjang perlahan lalu berjalan menuju jendela. Kota Chicago terlihat indah dari lantai dua rumah ini. Cahaya gedung-gedung tinggi memenuhi langit malam seperti lautan bintang buatan. Dulu aku membayangkan hidup setelah menikah akan terasa hangat dan penuh kebersamaan. Namun sekarang, aku justru belajar bahwa berada sangat dekat dengan seseorang tidak selalu berarti benar-benar memilikinya.

Tidak lama kemudian, suara pintu utama terdengar dari lantai bawah. Aku langsung menoleh refleks. Detak jantungku berdegup sedikit lebih cepat sebelum akhirnya aku memaksakan diri tersenyum kecil.

"Lihat?" bisikku pada diri sendiri. "Kau masih terus menunggunya."

Namun kali ini aku tidak berlari keluar kamar seperti biasanya. Aku tidak turun hanya untuk menyambutnya atau bertanya apakah ia sudah makan malam. Aku hanya berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya kembali duduk di tepi ranjang. Dan anehnya, untuk pertama kali sejak menikah, aku merasa sedikit lebih tenang.

Keesokan paginya aku bangun lebih awal seperti biasa. Cahaya matahari masih lembut ketika aku turun menuju dapur. Para pelayan tampak sedikit terkejut melihatku sudah berada di sana sepagi ini.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa salah satu dari mereka.

Aku membalas dengan senyum kecil. "Pagi. Aku akan menyiapkan sarapan sendiri hari ini."

Mereka tidak membantah. Aku mulai menyiapkan kopi hangat dan sarapan sederhana untuk Mason. Gerakanku jauh lebih pelan dibanding biasanya. Tidak terburu-buru. Tidak dipenuhi kegugupan seperti seorang gadis yang sedang mencoba menarik perhatian pria yang dicintainya. Aku hanya melakukannya dengan benar.

Beberapa menit kemudian suara langkah kaki terdengar dari tangga. Aku menoleh dan mendapati Mason berjalan turun dengan setelan kerjanya yang rapi. Jas gelap yang melekat di tubuhnya membuat pria itu selalu terlihat terlalu sempurna untuk disentuh.

"Selamat pagi," ucapku lebih dulu.

Mason menatapku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Pagi."

Hanya satu kata. Namun entah mengapa, pagi ini suasananya terasa berbeda. Aku tidak lagi sibuk mencari arti tersembunyi di balik nada bicaranya. Aku tidak lagi memaksa diriku berharap terlalu banyak dari hal-hal kecil.

"Aku membuat sarapan," kataku sambil menarik kursi untuknya. "Kopimu juga sudah siap."

"Terima kasih," balasnya singkat.

Aku duduk di hadapannya setelah itu. Biasanya aku akan mulai mencari topik pembicaraan agar suasana tidak terasa canggung. Tapi pagi ini aku justru membuka buku kecil yang semalam kubawa dari perpustakaan rumah dan mulai membacanya sambil menikmati sarapan.

Keheningan pun perlahan mengisi meja makan. Namun anehnya, kali ini keheningan itu tidak terasa menyakitkan.

Aku bisa merasakan tatapan Mason beberapa kali mengarah padaku. Sangat singkat dan hampir tidak terasa. Tapi aku menyadarinya.

"Kau membaca apa?" tanyanya tiba-tiba.

Aku sedikit terkejut sampai hampir menjatuhkan sendokku. Selama ini, Mason hampir tidak pernah memulai percakapan lebih dulu.

"Buku tentang bisnis." jawabku jujur.

Alis Mason terangkat samar. "Sejak kapan kau tertarik membaca itu?"

Aku tersenyum kecil sambil menutup bukunya perlahan. "Sejak aku sadar aku tidak pernah benar-benar memahami duniamu."

Mason diam. Ia tidak langsung menjawab seperti biasanya. Tatapannya jatuh pada buku di tanganku selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

"Buku itu cukup membosankan," katanya akhirnya.

Aku terkekeh pelan. "Ya. Aku baru membaca beberapa halaman dan hampir menyerah."

Untuk sepersekian detik, sudut bibir Mason tampak bergerak tipis. Sangat tipis sampai aku hampir mengira itu hanya halusinasi. Namun itu cukup membuat dadaku terasa hangat.

Setelah sarapan selesai, Mason berdiri sambil merapikan jasnya. "Aku pergi dulu," katanya.

Biasanya aku akan ikut berdiri dan mengantarnya sampai pintu depan. Namun kali ini aku hanya mengangguk kecil.

"Hati-hati di jalan."

Mason menatapku sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar pergi. Aku baru sadar sejak tadi aku menahan napas saat suara pintu utama tertutup. Dan untuk pertama kali sejak menikah, aku tidak merasa kecewa setelah ditinggal sendirian.

Siang harinya aku memutuskan masuk ke perpustakaan kecil di lantai dua. Ruangan itu jarang kugunakan sebelumnya karena sebagian besar buku di sana berkaitan dengan bisnis, ekonomi, dan politik internasional. Hal-hal yang selama ini terasa terlalu jauh dari duniaku.

Namun sekarang aku mulai memahami sesuatu. Kalau aku ingin mengenal Mason, maka aku harus mulai mengenal dunia yang selama ini membentuk dirinya.

Aku berjalan perlahan di antara rak-rak tinggi yang dipenuhi buku hardcover tebal. Aroma kertas dan kayu memenuhi udara ruangan itu. Di salah satu sudut terdapat meja kerja kecil dengan beberapa dokumen yang tersusun sangat rapi. Aku mengambil satu buku tentang strategi bisnis internasional dan duduk di sofa dekat jendela.

Lima belas menit kemudian, aku sudah mengernyit frustrasi. "Bagaimana bisa seseorang membaca ini hingga halaman terakhir?" gumamku pelan. Namun aku tetap melanjutkan, sedikit demi sedikit.

Aku mulai memahami bahwa hidup Mason benar-benar dipenuhi angka, keputusan besar, dan tekanan yang tidak pernah berhenti. Bahkan dari isi buku-buku yang ia baca saja, aku bisa merasakan betapa berat dunia yang setiap hari ia hadapi.

Sore menjelang tanpa terasa. Aku masih berada di perpustakaan ketika salah satu pelayan masuk membawakan teh. "Nyonya belum beristirahat sejak tadi," katanya hati-hati.

Aku tersenyum kecil. "Aku hanya sedang mencoba memahami sesuatu."

Pelayan itu tampak bingung, tapi tidak bertanya lebih jauh. Hingga malam pun datang perlahan. Dan tanpa sadar aku tertidur di sofa perpustakaan dengan buku yang masih terbuka di atas dada.

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur sampai akhirnya suara langkah kaki membuatku membuka mata samar. Lampu perpustakaan sudah lebih redup sekarang. Dan Mason berdiri tidak jauh dariku.

Aku langsung duduk tegak dengan gugup. "Maaf... aku tidak sengaja tertidur di sini."

Mason tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada buku yang masih berada di pangkuanku. "Kau membaca itu sampai tertidur?"

Nada suaranya terdengar datar seperti biasa. Namun aku menangkap sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lebih lembut.

Aku tersenyum malu. "Aku mencoba bertahan. Tapi ternyata buku bisnis lebih ampuh daripada obat tidur."

Anehnya, Mason tidak pergi setelah itu. Ia justru berdiri di sana beberapa detik lebih lama. "Kau bisa sakit kalau tidur di sofa seperti ini," katanya akhirnya.

Aku menatapnya sedikit terkejut. Karena itu mungkin salah satu kalimat paling manusiawi yang pernah ia ucapkan padaku sejak kami menikah.

Aku menggenggam buku di pangkuanku perlahan. "Aku hanya ingin memahami apa yang setiap hari membuatmu begitu lelah."

Keheningan kembali hadir di antara kami. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Tatapan Mason tidak lagi setajam biasanya. Dan untuk pertama kali, aku merasa pria itu benar-benar melihatku sebagai seseorang, bukan sekadar bagian dari perjodohan yang terpaksa ia jalani.

Mason menghela napas kecil sebelum akhirnya mengambil buku di tanganku dan menutupnya.

"Kalau kau ingin memahami dunia itu," katanya pelan, "jangan mulai dari buku yang paling membosankan di perpustakaan."

Aku menatapnya bingung. "Jadi ada yang lebih tidak membosankan?"

"Sedikit." Jawabannya singkat, tapi kali ini aku benar-benar melihat senyum tipis di wajahnya. Dan entah mengapa, hal kecil itu terasa cukup untuk membuat seluruh malamku menjadi lebih hangat.

1
Dew666
😍😍
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!