Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Beberapa anak buah Bram yang belum melihat langsung kejadian Raka mulai tertawa pelan, tapi tawa itu terdengar tidak yakin.
Salah satu dari mereka berkata, “Mungkin kalian cuma takut.”
Preman yang tadi membawa pisau langsung mengangkat wajah. Matanya merah, antara malu dan ketakutan.
“Takut? Kau pikir aku mau dipermalukan di depan orang pasar? Pisauku patah, Dan. Patah cuma karena disentuh satu jari.”
Orang bernama Dan itu terdiam.
Bram menatap meja.
Tangannya mengepal.
Ia ingin marah. Ia ingin memukul orang di depannya. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini omong kosong.
Tapi ia sendiri pernah merasakannya.
Ia tahu mereka tidak sepenuhnya berbohong.
Raka memang berbeda.
Namun masalahnya, Bram tidak punya pilihan untuk mundur.
Reza Mahendra sudah memberi perintah.
Surya Mahendra sudah mendengar semuanya.
Hei Yan bahkan telah menandainya dengan sesuatu yang dingin dan mengerikan di dahi.
Bram merasakan bekas sentuhan itu meski tanda hitamnya sudah tidak terlihat.
Setiap kali ia berpikir untuk lari, kepalanya terasa sakit seperti ada duri menancap di dalam tengkorak.
Ia terjebak.
Pintu ruko tiba-tiba terbuka.
Seorang pemuda masuk dengan pakaian mahal dan wajah penuh kesombongan. Reza Mahendra.
Semua anak buah Bram langsung berdiri lebih tegak.
Bram juga ikut berdiri.
“Bang Reza.”
Reza menatap seluruh ruangan dengan jijik.
“Hebat. Preman pasar sekarang kalah sama anak yatim.”
Tidak ada yang berani menjawab.
Reza berjalan masuk, lalu menendang salah satu kursi plastik hingga terbalik.
“Apa kalian semua sudah lupa siapa yang membayar kalian?”
Bram menunduk. “Tidak, Bang.”
“Kalau tidak, kenapa nama Raka masih terdengar di pasar?”
Bram menarik napas pelan.
“Bang, anak itu berbahaya.”
Reza langsung menatapnya tajam.
“Kau mulai lagi?”
Bram tidak menunduk kali ini. Ia memang takut kepada Reza, tapi rasa takutnya kepada Raka membuatnya berani bicara lebih serius.
“Saya tidak bilang kita mundur. Tapi kalau kita mau pancing dia, jangan asal. Dia bukan seperti orang biasa.”
Reza tertawa dingin.
“Justru karena dia bukan orang biasa, aku ingin lihat.”
Bram mengangkat wajah.
Reza tersenyum miring.
“Malam ini, kita pakai cara yang lebih sederhana.”
Bram merasa tidak enak.
“Cara apa, Bang?”
Reza mengambil ponsel dari sakunya, lalu menunjukkan foto warung kopi Pak Harun.
Bram langsung membeku.
“Pak Harun?” gumamnya.
Reza menatap foto itu dengan senyum tipis.
“Orang tua ini dekat dengan Raka, kan?”
Bram tidak langsung menjawab.
Ia teringat ucapan Hei Yan.
Sentuh orang yang ia pedulikan.
Bram menelan ludah.
“Bang, lebih baik jangan.”
Reza menatapnya seolah tidak percaya.
“Kau melarangku?”
“Saya cuma bilang, kalau kita sentuh orang itu, Raka mungkin—”
“Bagus,” potong Reza. “Memang itu tujuannya.”
Bram merasa darahnya mendingin.
Reza berjalan mendekat. Suaranya menurun, tapi justru terdengar lebih berbahaya.
“Dengar, Bram. Orang seperti Raka tidak akan datang kalau cuma dipanggil. Tapi kalau tempat yang dia anggap aman dihancurkan, dia akan muncul.”
Salah satu anak buah Bram bertanya hati-hati, “Bang Reza mau kami bakar warungnya?”
Reza meliriknya.
“Jangan bodoh. Kalau dibakar, polisi ikut campur. Cukup rusak sedikit. Pukul orang tuanya kalau perlu. Buat Raka marah, tapi jangan sampai mati.”
Bram menatap Reza dengan dada berat.
Ia tahu Reza kejam.
Tapi kali ini, kebodohan Reza jauh lebih besar daripada kekejamannya.
Mereka bukan sedang memancing anak yatim biasa.
Mereka sedang mengetuk pintu sesuatu yang bahkan Hei Yan pun tampak waspada saat mendengar nama pedang itu.
Namun tidak ada yang bisa menghentikan Reza.
Bram mencoba untuk terakhir kalinya.
“Bang, kalau Raka datang…”
Reza tersenyum.
“Kalau dia datang, kalian bawa dia ke gudang lama. Di sana, Tuan Hei Yan sudah menyiapkan sesuatu.”
Mendengar nama Hei Yan, Bram langsung diam.
Jadi semuanya sudah diatur.
Raka akan dipancing.
Warung Pak Harun akan disentuh.
Dan mereka semua hanya umpan.
Bram menutup mata sebentar.
Dalam hatinya, ia tiba-tiba merasa iba kepada siapa pun yang nanti berdiri di depan Raka.
Bukan karena Raka pasti menang.
Tapi karena Bram mulai memahami satu hal.
Raka bukan tipe orang yang akan marah seperti manusia biasa.
Raka akan diam.
Dan justru diam itulah yang paling menakutkan.
Malam turun perlahan di Pontianak.
Warung kopi Pak Harun masih buka seperti biasa. Lampu kuning menggantung di depan warung, menerangi meja-meja kayu yang sudah tua. Beberapa pelanggan duduk santai, menikmati kopi, gorengan, dan obrolan ringan setelah seharian bekerja.
Pak Harun sedang menuangkan air panas ke gelas ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh dari warung.
Beberapa lelaki turun.
Mereka bukan pelanggan.
Pak Harun langsung menyadarinya dari cara mereka berjalan.
Terlalu santai.
Terlalu percaya diri.
Terlalu terbiasa membuat orang lain takut.
Salah satu dari mereka menendang kursi di depan warung.
BRAK!
Obrolan pelanggan langsung berhenti.
Pak Harun mengangkat wajah.
“Ada apa, Nak?”
Lelaki itu tersenyum kasar.
“Pak tua, warung ini tutup dulu malam ini.”
Pak Harun meletakkan teko air panas dengan tenang.
“Kalau mau minum, duduk. Kalau mau bikin ribut, jangan di sini.”
Beberapa pelanggan mulai berdiri perlahan. Sebagian mundur. Mereka tahu ini bukan urusan sederhana.
Lelaki itu tertawa.
“Wah, orang tua ini berani juga.”
Ia mengangkat tangan dan menepis salah satu gelas di meja.
PRAK!
Gelas itu pecah di lantai.
Pak Harun menatap pecahan kaca itu. Wajahnya masih tenang, tetapi matanya mengeras.
“Kalian anak buah Bram?”
Tidak ada jawaban.
Salah satu dari mereka mendorong meja hingga miring. Kopi tumpah. Gorengan jatuh. Pelanggan yang duduk di dekat sana langsung mundur ketakutan.
“Panggil Raka,” kata lelaki itu.
Pak Harun diam.
“Kami tahu dia sering ke sini. Panggil dia.”
Pak Harun menatap mereka satu per satu.
“Raka tidak ada di sini.”
“Kalau begitu, kami tunggu sambil merapikan tempat ini.”
Kata merapikan keluar bersama tendangan ke kursi lain.
BRAK!
Kursi itu patah.
Pelanggan mulai pergi satu per satu. Beberapa ingin membantu, tetapi takut. Orang-orang itu membawa tongkat pendek dan pisau kecil di balik jaket mereka.
Pak Harun berdiri di balik meja.
“Jangan libatkan anak itu.”
Lelaki pertama menoleh.
“Anak itu?”
Ia tertawa.
“Pak tua, anak itu yang membuat masalah. Kau cuma alat supaya dia datang.”
Pak Harun menatapnya tajam.
“Kalau kalian punya urusan dengan dia, hadapi dia langsung. Jangan ganggu warung kecil seperti ini.”
Lelaki itu berjalan mendekati Pak Harun.
“Masalahnya, kami tidak sedang minta pendapatmu.”
Tangannya bergerak cepat.
Sebuah pukulan menghantam wajah Pak Harun.
Tubuh pria tua itu terdorong ke belakang dan menabrak rak kecil berisi gelas. Beberapa gelas jatuh dan pecah di lantai.
“Pak Harun!” teriak salah satu pelanggan.
Pak Harun memegang sudut bibirnya yang berdarah. Ia masih berdiri, tetapi napasnya mulai berat.
Lelaki itu tersenyum puas.
“Nah, begitu. Sekarang panggil Raka.”
Pada saat yang sama, beberapa ratus meter dari warung itu, Raka sedang berjalan di tepi jalan.
Ia berhenti mendadak.
Dadanya berdenyut.
Bukan sakit.
Bukan lelah.
Sesuatu di dalam dirinya bergerak.
Cahaya berbentuk mahkota retak menyala samar di balik dadanya.