Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapar
Ketut Candra beranjak bangkit dengan wajah pucat.
Ia melihat jelas bola api yang melintas di atap rumahnya, lalu melintasi rumah pamannya Nyoman Lingga, lalu berakhir di rumah sang Kadek Cempaka.
Mendadak langit menghitam. Bulan meredupkan cahayanya, dan langit desa malam ini gelap gulita, bahkan tanpa bintang.
Ketut Candra ingin mengejar bola api tersebut, tetapi tiba-tiba sang bapa memanggilnya.
"Ketut, bisa tolong kamu ambilkan bapa obat, perut bapak terasa nyeri," ucap sang ayah yang tampak sakit-sakitan setelah sang istri meninggal.
Langkah Ketut Candra terhenti, dan ia memilih untuk masuk ke dalam rumah, lalu mengambil obat yang diminta.
"Iya, Pak. Sebentar," ucapnya dengan cepat, lalu memilih masuk ke dalam rumah.
Ia mengambil obat lambung dan membawa segelas air hangat untuk ia berikan kepada sang ayah.
Tangan Putu Gantari bergetar saat menerima obat tersebut.
"Biar Ketut yang minumkan," ia mengambil alih, dan menyuapkan obat tersebut.
Akan tetapi, ia merasa sangat tak nyaman, bayangan bola api yang tadi melintas di atap rumah sudah mengganggu pikirannya.
Sementara itu, tampak bola api yang berputar diatas rumah Kadek Cempaka yang saat ini sedang tertidur dengan posisi miring, karena kehamilan yang sudah memasuki trisemester tiga membuatnya sering kesulitan mencari posisi yang nyaman saat tidur.
Sementara itu, sebuah besek berisi rambut, kuku, dan tanah kuburan yang di letakkan di depan patung Dewa Durga adalah milik Kadek Cempaka, sebagai persembahan untuk menjemput jiwa yang tergadai.
Sesajen tersebut bergetar, saat bola api melesat masuk menuju kamar tempat di mana Kadek Cempaka sedang tertidur.
Sosok bola api berubah menjadi kepala yang berwajah seram yang sedang membawa isi jeroannya.
Matanya terlihat berbinar, bukan karena binar rasa bahagia saat melihat cucunya akan segera lahir, tetapi binar rasa lapar yang belum juga terpuaskan.
"Wayan Bintari, anakku..." bisiknya. Suaranya terdengar sangat serak, dan seperti dua orang yang sedang berbicara. Dimana suara nenek tua dan juga suara yang bukan milik manusia.
"Darahmu sudah kubayar ke Pura Dalem. Nyawamu untuk umurku, nyawa cucuku, juga untuk untuk pengganti," bisiknya.
Perlahan ia cekikikan, dan suara cekikikannya membuat anjing yang berada di sekitar desa melolong bersamaan.
Sementara itu, Saraswati mendengar trisulanya bergetar di dalam laci nakasnya. Ia terbangun dari tidurnya, dan dan membuka laci nakas, lalu memegang trisula tersebut.
Wuuuussh!
Satu bayangan terlintas di benaknya, dimana Wayan Ratri terlihat sedang berada di dalam sebuah rumah yang di dalamnya terdapat wanita hamil sedang di jemput oleh sosok Leak.
Mata merah menyala, gigi taring yang mencuat, dan lidah yang berwarna merah panjang menjulur ke lantai menjilat perut yang membuncit.
"Darah segar... Rasanya sangat manis," desisnya dengan suara yang sera.
Kadek Cempaka yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba tersentak kaget, saat merasakan sapuan sesuatu yang basah di atas perutnya.
Janin di dalam perutnya yang berusia sembilan bulan bergerak dengan reaksi yang sangat kuat.
Kadek Cempaka meringis kesakitan, dan kedua matanya membeliak saat melihat sosok mengerikan sedang menyapu perutnya menggunakan lidah.
"Aaaaargh..." erangnya kesakitan, sembari mencoba menyingkirkan lidah tersebut dari perutnya.
Akan tetapi, tangannya tak dapat di gerakkan, seolah ada beban berat yang sedang menghimpitnya.
Saat lidah berukuran panjang itu akan masuk ke dalam rahimnya dan ingin mengambil janinnya, sesuatu datang dengan cepat dan menghantam sang Leak dengan cukuo keras.
Buuum!
Cahaya keperakan yang datang menyerang membuatnya terpental, dan saat bersamaan, janin tersebut meluncur dari liang rahim sang wanita.
Dari balik cahaya, Saras muncul dengan trisula di genggamannya, dan dengan cekatan memutus tali pusat dengan senjata di tangannya.
Suara tangisan sang bayi cukup keras, sedangkan Kadek Cempaka merasakan tubuhnya gemetar.
Ketika Saras sibuk dengan sang bayi, Leak tersebut melesat menghampiri Kadek Cempaka, lalu menghisap darah yang keluar dari rahim tersebut, dan menyesapnya hingga habis dalam sekejap saja.
Tak hanya itu, ia juga bergerak menyesap ubun-ubun Kadek Cempaka yang mengalami kejang.
Ketika Saras menyadarinya Leak ia melesat dengan cepat.
"Kelancanganmu, telah membuat mengurangi jatah hari perjanjian dengan Dwi!" ucapnya dengan sangat marah.
Saras tercengang, dan saat bersamaan, suami Kadek Cempaka terbangun,
Wuuuuussh!
Saraswati melesat kembali ke raganya, dan tubuhnya terasa lemah karena peristiwa barusan.
Sedangkan Ketut Wira tersentak kaget saat melihat penampakan sang istri sedang mengalami pendarahan.
Tubuh istrinya terbaring di ranjang dengan kondisi melahirkan tanpa perantara seorang medis kesehatan.
Bayi mereka selamat, hanya saja yang membuat bingung, tali pusarnya sudah terpotong dan diikat dengan sehelai rambut.
Akan tetapi, kondisi Kadek Cempaka sudah tak lagi bernyawa, dan seolah kehabisan darah, tetapi bercak darah cukup sangat sedikit.
Ketit Wira berteriak histeris, dan membuat tetangga sekitarnya terbangun, begitu juga dengan Ketut Candra yanh sedang memijat ayahnya.
"Bapak, aku mendengar suara paman Wira terpekik. Apakah aku boleh melihatnya? Mungkin saja Bibi Cempaka akan melahirkan," ia menyudahi pijatannya.
Putu Gantari hanya mengangguk lemah. Tetapi perasaannya mulai tak nyaman. Ia merasa sedang di awasi.
Sementara itu, tetangga dan juga bidan desa telah hadir. Mereka memeriksa rumah Ketut Wira yang saat ini terdengar sedang meraung dengan luka hatinya.
Sang bidan memeriksa kondisi bayi yang menangis, dan ia langsung membersihkan dengan alkohol, kemudian membedongnya.
Akan tetapi, saat ia memeriksa denyut jantung Kadek Cempaka, ia memasang wajah lemah.
"Ibunya sudah meninggal dunia," ucapnya dengan wajah yang lesu.
Suasana semakin heboh. Nyoman Lingga sang kakak merasakan lututnya lemah.
Pria itu seakan tak percaya. Baru saja sepekan ia kehilangan kakak perempuannya—Putu Bintari, kini Kadek Cempaka ikut pula menyusul pergi dalam waktu yang bersamaan.
Ketut Candra yang baru saja tiba merasakan hatinya terpukul.
Tiba-tiba saja ia teringat akan bola api yang melintas di atap rumahnya, lalu melintasi rumah paman Lingga, dan berakhir di rumah bibi Kadek Cempaka. Bola api tadi malam. Ingat tatapan dadongnya ke perut Bibi Cempaka.
"Ketut Candra, panggil dadongmu, katakan padanya, jika anaknya sudah meninggal.
Mendadak Ketut Candra tersentak. Ia langsung membayangkan wajah Wayan Ratri yang waktu pemakaman, dan tatapannya yang begitu berbinar saat menelan saliva ketika melihat perut buncit bibi Cempaka.
"Dadong?" gumamnya dengan lirih. Akan tetapi, tangannya mengepal, ia merapatkan giginya, dan entah mengapa hatinya memiliki firasat buruk tentang wanita tua itu.
Ia berlari keluar, lalu mengendarai motornya, dan ingin menemui Wayan Ratri, hatinya di penuhi amarah.
Sementara itu, Dwi terbatuk, dan terbangun dari tidur lelapnya.
Tiba-tiba saja, ia mengalami mimisan, dan tubuhnya sedikit menggigil. Ia mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh