Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Filter Posesif Park Jimin (2)
Sensasi sentuhan semu dari pakaian sensor J-Hope baru saja mereda ketika fajar hari Kamis menyapa. Bagi Althea, hari Kamis berarti satu hal: ia harus berhadapan dengan Park Jimin.
Jika Rm adalah otoritas dan Jungkook adalah dinding pembatas, maka Jimin adalah racun manis yang perlahan-lahan mengikis ruang privasi mentalnya melalui manipulasi emosi yang pekat.
Pukul sepuluh pagi, pintu paviliun kaca tidak bergeser terbuka secara otomatis seperti biasanya. Alih-alih sistem komputer, sebuah tangan dengan ketukan yang lembut mengetuk kaca tebal itu dari luar.
Jimin berdiri di sana, mengenakan kemeja sutra hitam berkerah rendah yang memperlihatkan garis tulang selangkangan nya yang tegas, dipadukan dengan celana kain berpotongan rapi.
Di tangannya, ia membawa sebuah kotak beludru kecil berwarna merah darah. Senyuman bulan sabitnya yang khas langsung terukir begitu mata mereka bertemu.
"Selamat pagi, Cantik," sapa Jimin setelah melangkah masuk. Suaranya beralun lembut, seperti madu yang menyembunyikan mata pisau di dalamnya. "Hari ini kita ada sedikit agenda. Beberapa kepala divisi yayasan akan datang untuk laporan bulanan, dan aku ingin kau mendampingiku."
Althea melangkah mundur, menatapnya waspada. "Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun, Tuan Jimin."
"Ini bukan tawaran, Althea-ku," Jimin terkekeh halus, namun sorot matanya menggelap dalam hitungan detik.
Ia mendekati Althea, mengabaikan jarak aman, lalu membuka kotak beludru yang dibawanya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung choker kulit hitam tipis dengan sebuah permata safir biru kecil di tengahnya.
Sebelum Althea bisa menolak, jemari Jimin yang lentik dan hangat sudah melingkari leher Althea, memasangkan kalung itu dengan kelembutan yang mencengkeram.
"Kalung yang indah, bukan? Ini bukan sekadar perhiasan," bisik Jimin, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Althea.
"Di dalam safir ini ada mikrofon dua arah yang terhubung langsung ke earpiece ku. Jadi, selama jamuan nanti, setiap kata yang keluar dari mulutmu, bahkan helaan napas mu, hanya boleh kudengar. Dan jika ada pria lain yang menatapmu lebih dari tiga detik..."
Jimin mengusap pipi Althea dengan ibu jarinya, "...aku akan memastikan mereka tidak akan bisa melihat matahari esok hari."
Siang harinya, Althea mendapati dirinya duduk di sebelah Jimin di ruang perjamuan utama mansion. Meja panjang itu diisi oleh lima orang petinggi divisi eksekutif 'Septem' Foundation. Atmosfer ruangan terasa formal dan kaku.
Althea mencoba mencari celah. Ketika Jimin sedang fokus mendengarkan laporan keuangan dari seorang pria paruh baya di ujung meja, Althea sengaja menjatuhkan garpunya ke lantai untuk menarik perhatian pelayan pria yang berdiri di dekatnya.
"Maaf, bisa tolong ambilkan yang baru?" bisik Althea pelan pada pelayan tersebut, mencoba melakukan interaksi paling minim manusiawi yang ia bisa.
Namun, sebelum pelayan itu sempat bergerak, tangan Jimin di bawah meja mahoni tiba-tiba mencengkeram paha Althea dengan tekanan yang sangat kuat, hingga kuku-kukunya hampir menembus kain gaunnya. Althea tersentak, menahan pekikan perih di tenggorokannya.
Melalui earpiece tersembunyi yang dipakai Jimin, suara bisikan Althea terdengar begitu jernih karena mikrofon di kalungnya.
Jimin tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen di depannya, wajahnya masih menampilkan senyuman ramah yang sempurna di depan para eksekutif. Namun, suaranya yang rendah mendesis dari balik bibirnya yang tersenyum.
"Sudah kubilang bukan, Althea? Jangan bicara pada orang lain. Suaramu terlalu berharga untuk didengar oleh telinga-telinga kotor itu."
Jimin kemudian mengangkat tangannya, memberi kode kecil pada Jungkook yang berdiri di sudut ruangan. Dalam sekejap, pelayan pria yang tadi diajak bicara oleh Althea langsung ditarik keluar ruangan oleh dua penjaga berbadan tegap tanpa suara.
Althea menatap Jimin dengan mata terbelalak ngeri. "Apa yang akan kalian lakukan padanya? Dia tidak salah apa-apa!"
Jimin menoleh perlahan, menatap Althea dengan pandangan menjerat yang pekat, penuh dengan kepuasan posesif yang gila.
Ia mengambil jemari Althea yang gemetar, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut di depan semua orang.
"Dia hanya dipindahkan ke divisi luar, Sayang. Tenang saja," bisik Jimin dengan nada manis yang manipulatif.
"Aku hanya sedang membersihkan pandanganmu dari gangguan tidak penting. Di rumah ini, kau hanya perlu melihatku, mendengar suaraku, dan bergantung pada perlindunganku. Mengerti?"
Althea menarik tangannya dengan rasa frustrasi yang membumbung tinggi.
Filter posesif Jimin berhasil mengisolasi dirinya secara sosial di dalam rumah ini. Dan besok adalah hari Jumat hari di mana Kim Taehyung telah menunggu untuk mengunci raganya di atas kanvas keabadian.
Bersambung~