NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Rumah yang Terlalu Sunyi

Rumah itu terlalu besar untuk disebut hangat.

Diara berdiri di tengah ruang tamu utama, matanya perlahan menyapu setiap sudut mansion modern milik Jifan Artha Syahrezan.

Lantai marmer putih keabu-abuan memantulkan cahaya lampu gantung minimalis di atasnya. Dinding tinggi tanpa banyak dekorasi membuat ruangan terasa luas, tetapi justru menekan, bukan menenangkan.

Tidak ada suara.

Tidak ada langkah kaki yang biasa terdengar di rumah manusia pada umumnya.

Hanya keheningan yang stabil, seperti sesuatu yang sudah menjadi bagian permanen dari tempat itu.

Diara menarik napas pelan.

Ini rumahnya sekarang.

Atau setidaknya… secara status.

Sejak malam setelah akad, Jifan tidak banyak bicara.

Lebih tepatnya, tidak bicara lebih dari yang diperlukan.

Ia menunjukkan kamar yang sudah disiapkan untuk Diara di lantai atas. Ruangan itu rapi, bersih, dengan warna netral yang tidak terlalu mencolok. Seperti seluruh rumah ini: sempurna, tetapi tidak memiliki sentuhan personal.

“Ini kamarmu,” ucap Jifan singkat malam itu.

Tidak ada penjelasan lain.

Tidak ada sambutan.

Tidak ada kalimat tambahan yang bisa memberi rasa “selamat datang”.

Setelah itu ia langsung berbalik dan pergi.

Seolah tugasnya sudah selesai.

🪻🪻🪻🪻

Hari pertama Diara di rumah itu berjalan tanpa percakapan berarti.

Pagi datang tanpa suara.

Diara turun ke dapur dengan pakaian rumah sederhana. Ia berharap mungkin akan bertemu seseorang, atau setidaknya pembantu rumah yang bisa memberi sedikit kehangatan manusiawi.

Namun rumah itu terlalu sunyi.

Seorang asisten rumah tangga akhirnya datang

dan menyapa dengan sopan.

“Selamat pagi, Nyonya.” Sapa mbak Ana

Diara terdiam sepersekian detik.

Nyonya.

Kata itu masih terasa asing.

“Pagi,” jawabnya pelan.

Pelayan itu kemudian menunjukkan beberapa hal sederhana: ruang makan, jam makan, dan beberapa aturan rumah yang sudah ditetapkan.

Dan di sana Diara mulai menyadari sesuatu.

Rumah ini tidak hanya sunyi.

Rumah ini terstruktur seperti sistem.

Aturan itu disampaikan tanpa emosi.

“Pak Jifan biasanya tidak makan pagi di rumah.”

“Beliau pulang larut malam.”

“Ruangan kerja di lantai dua tidak boleh dimasuki tanpa izin.”

“Area tertentu di rumah bersifat privat.”

Semua disampaikan seperti daftar instruksi.

Bukan sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga.

Diara mendengarkan dengan tenang.

Namun di dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak pelan.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Lebih seperti… kesadaran bahwa ia sedang tinggal di tempat yang sudah lebih dulu memiliki batas antara dirinya dan pemilik rumah.

Hari-hari berikutnya tidak banyak berubah.

Jifan dan Diara jarang bertemu.

Kalaupun bertemu, hanya di ruang yang sama dalam waktu singkat.

Di pagi hari, Diara kadang melihat Jifan sudah berpakaian rapi, siap pergi ke kantor.

Ia tidak pernah menyapa lebih dulu.

Tidak pernah menanyakan hal pribadi.

Hanya satu dua kalimat jika diperlukan.

“Pintu garasi jangan ditutup terlalu cepat.”

“Jangan ubah pengaturan ruangan tanpa konfirmasi.”

Selesai.

Tidak lebih.

Diara mencoba beradaptasi.

Ia mulai mengatur kamar yang diberikan untuknya.

Tidak banyak perubahan.

Hanya sedikit sentuhan: tanaman kecil di sudut meja, aroma ringan di ruangan, dan penataan ulang buku-buku desain interior miliknya.

Itu saja.

Selebihnya ia membiarkan rumah tetap seperti itu—dingin, rapi, dan terlalu sempurna untuk disebut hidup.

Suatu sore, Diara turun ke dapur untuk mengambil air.

Ia mendengar suara langkah di lorong.

Jifan.

Pria itu baru pulang.

Jasnya masih rapi, rambutnya sedikit berantakan dari angin luar, tapi ekspresinya tetap sama seperti biasanya: tenang tanpa emosi.

Mereka berpapasan di dapur.

Hening.

Tidak ada sapaan spontan.

Tidak ada “sudah makan?”

Tidak ada “hari ini bagaimana?”

Hanya jarak beberapa meter yang terasa seperti dunia yang berbeda.

Diara menunduk sedikit sebagai bentuk sopan.

“Assalamualaikum,” ucapnya pelan.

Jifan berhenti sepersekian detik.

“Waalaikumsalam,” jawabnya datar.

Lalu ia berjalan melewati Diara.

Tanpa berhenti.

Tanpa menoleh.

Diara berdiri di dapur beberapa detik setelahnya.

Air di gelas yang ia pegang terasa semakin dingin.

Bukan karena suhu.

Tapi karena kesadaran yang perlahan masuk ke pikirannya:

Ini bukan rumah yang ditinggali bersama.

Ini dua kehidupan yang kebetulan berada di satu bangunan.

Malamnya, Diara duduk di kamar.

Ia membuka laptopnya, mencoba bekerja.

Namun fokusnya tidak benar-benar ada.

Matanya sesekali melayang ke pintu kamar.

Keheningan di luar terasa terlalu stabil.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada tanda bahwa orang lain juga hidup di rumah ini dengan cara yang sama seperti dirinya.

Diara menutup laptopnya perlahan.

Ia bersandar di kursi.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, ia mengajukan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar ingin ia pikirkan terlalu dalam.

“Ini… akan selalu seperti ini?”

Suara itu keluar pelan.

Tidak ada jawaban.

Tentu saja.

Hari-hari berubah menjadi pola yang sama.

Jifan pergi pagi.

Diara tinggal di rumah.

Jifan pulang larut.

Diara sudah berada di kamar.

Interaksi hanya terjadi jika diperlukan.

Formal.

Singkat.

Terukur.

Seperti transaksi yang tidak pernah benar-benar selesai.

Suatu malam, Diara turun lebih larut dari biasanya.

Ia tidak bisa tidur.

Langkahnya pelan di lorong rumah yang gelap sebagian.

Lampu sensor menyala otomatis saat ia lewat.

Rumah itu terasa hidup… tetapi tidak benar-benar hangat.

Ia melihat cahaya dari ruang kerja lantai bawah.

Pintu sedikit terbuka.

Jifan ada di dalam.

Diara berhenti.

Ia tidak masuk.

Hanya berdiri di ambang pintu.

Dari sana, ia bisa melihat Jifan duduk di meja kerja besar, dikelilingi layar laptop dan dokumen. Ekspresinya fokus, dingin, tidak terganggu.

Ia terlihat seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Bukan karena ambisi.

Tapi karena mungkin… tidak tahu bagaimana berhenti menjadi dirinya sendiri.

Diara menatap beberapa detik.

Lalu mundur pelan.

Tidak masuk.

Kembali ke kamar, Diara duduk di tepi ranjang.

Tangannya berada di pangkuan.

Jilbabnya sudah diganti dengan yang lebih sederhana.

Wajahnya tenang.

Tapi pikirannya tidak.

Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan sesuatu dengan jujur.

Bukan hanya tentang Jifan.

Tapi tentang dirinya sendiri.

“Kenapa aku di sini?”

Pertanyaan itu tidak datang dengan emosi besar.

Tidak dramatis.

Hanya sunyi.

Seperti rumah ini.

Ia mengingat kembali pernikahan itu.

Ballroom mewah.

Ijab kabul singkat.

Tatapan Jifan yang tidak pernah benar-benar berubah.

Dan kini… rumah ini.

Di mana ia tidak ditolak.

Tidak juga diterima.

Hanya ditempatkan.

Seperti bagian dari sistem yang sudah disusun sebelumnya.

Diara menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menenangkan dirinya dengan alasan keluarga.

Tidak dengan “ini takdir”.

Tidak dengan “butuh waktu”.

Ia hanya duduk dalam kejujuran yang sederhana:

Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

Dan di balik pintu kamar yang sunyi itu, Diara mulai memahami satu hal yang lebih berat dari pernikahan tanpa cinta:

Ini bukan hanya tentang tidak dicintai.

Ini tentang tidak benar-benar dianggap hadir.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!