⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8
Ren tidak menghentikan gerakan menyumpit makanannya, wajahnya datar seolah tidak mendengar provokasi pamannya sendiri. Namun, suasana di aula makan itu jelas semakin menegang.
Aiko hanya diam, menatap mangkuk nasinya. Namun, dari sudut matanya, ia melihat sesuatu yang aneh. Di belakang kursi Kaito, sesosok arwah wanita tua berwajah pucat dengan leher yang terlilit tali tambang tampak berdiri melayang. Arwah itu menatap Kaito dengan mata melotot penuh dendam, lalu perlahan mendekati Aiko dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Kaito... pria serakah itu... dia menggelapkan uang kas klan di wilayah barat minggu lalu... dia menyuap akuntan klan agar kesalahannya tidak ketahuan oleh Ren..."
Aiko meneguk ludahnya pelan. Informasi dari arwah itu sangat jelas. Perlahan, Aiko mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Kaito yang masih menatapnya dengan pandangan meremehkan.
"Tuan Kaito," ucap Aiko dengan suara yang tenang namun terdengar jelas di seluruh ruangan. "Aku mungkin tampak lemah di matamu. Tapi setidaknya, aku datang ke rumah ini dengan membawa kehormatan klan Kurogawa. Jauh lebih baik daripada seseorang yang menyandang nama Tachibana, namun diam-diam memakan uang dari wilayah barat demi kepentingannya sendiri."
BRAK...
Kaito secara refleks menggebrak meja hingga mangkuk ocha miliknya terguling. Wajah pria tua itu mendadak berubah dari sinis menjadi pucat, matanya membelalak panik menatap Aiko. "Kau... omong kosong apa yang kau bicarakan, Gadis Sialan?!"
Para tetua lain langsung saling berbisik dengan nada curiga. Sementara itu, Ren menghentikan gerakan sumpitnya. Matanya berkilat tajam, beralih menatap pamannya yang kini mulai berkeringat dingin, lalu beralih menatap Aiko dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Cukup."
satu kata dari Ren yang diucapkan dengan nada rendah langsung membungkam seluruh ruangan. Suasana aula makan kembali dingin seketika. "Daichi, urus masalah wilayah barat setelah sarapan ini selesai. Dan untuk paman... Jika itu terbukti, kuharap kau bisa menjelaskan semuanya padaku."
Kaito tidak berani membantah lagi. Ia kembali duduk dengan tubuh yang gemetar menahan malu dan takut. Aiko kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan sarapannya dengan tenang. Di sudut ruangan, arwah wanita tua itu tampak tersenyum puas sebelum akhirnya menghilang.
Setelah sarapan yang mencekam itu selesai, Aiko berjalan mengikuti Ren menuju ruang kerja pribadinya di lantai dua. Ketika pintu geser ditutup rapat, menyisakan mereka berdua, Ren langsung berbalik dengan tatapan menginterogasi.
"Dari mana kau tahu soal wilayah barat, Aiko?" tanya Ren langsung ke inti masalah, suaranya terdengar berbahaya. "Jangan bilang Kurogawa-gumi menanam mata-mata di dalam sistem keuangan klan-ku?"
Aiko bersedekap, bersandar pada dinding kayu di dekat pintu. "Sudah kubilang semalam, aku tidak tertarik memata-matai klanmu. Dan mengenai dari mana aku tahu, itu bukan urusanmu. Anggap saja itu adalah keuntungan kecil yang bisa kuberikan sebagai istrimu." ucap Aiko dengan wajah tenangnya.
Ren menyipitkan matanya. Pria itu mendengus pelan, lalu berjalan ke balik meja kerjanya. "Lalu, apa yang kau inginkan sekarang hingga mengikutiku ke sini?"
"Aku mau membahas soal kuliahku," jawab Aiko tanpa basa-basi.
Ren mengerutkan alisnya. "Kuliah?"
"Ya. Mulai besok aku harus kembali masuk ke kampus untuk melanjutkan semesterku. Aku tidak mungkin terus mengurung diri di rumah ini sepanjang hari."ucap Aiko tegas.
Ren terdiam selama beberapa detik, mengetukkan jemarinya di atas meja kayu. "Kau adalah istri dari pemimpin Tachibana-gumi sekarang, Aiko. Di luar sana, musuh-musuhku bisa mengincarmu kapan saja hanya untuk menjatuhkanku atau memancing kemarahan ayahmu. Tempat umum seperti kampus adalah target yang terlalu mudah."
"Sebelumnya, Ayahku tetap mengizinkanku untuk kuliah, dan kau lihat... Aku bisa menjaga diriku sendiri," balas Aiko. "Dan jika kau takut reputasimu tercoreng karena aku terluka, kau bisa mengirim orang-orangmu untuk mengawasiku dari jauh. Aku tidak keberatan, asal mereka tidak mengganggu aktivitasku."
Ren menatap Aiko dalam-dalam, mengamati ketegasan di mata gadis itu. Ia menyadari bahwa mengurung Aiko di rumah ini justru akan memicu konflik baru dengan Hiroshi Kurogawa yang saat ini masih memegang kendali atas wilayah selatan Kyoto.
"Baik," ucap Ren akhirnya. "Kau boleh tetap kuliah. Tapi Daichi akan mengatur dua mobil pengawal untuk mengikutimu setiap hari. Jika kau mencoba melarikan diri atau bertindak mencurigakan di luar sana, hak kuliahmu akan resmi kucabut. Paham?"
Aiko mengangguk pelan. "Kesepakatan yang adil, Tuan Tachibana."
Keesokan paginya, suasana di depan gerbang utama kediaman Tachibana tampak sibuk. Dua mobil sedan hitam sudah terparkir rapi dengan mesin yang menyala. Beberapa pria berjas hitam tampak berdiri siaga di dekat pintu mobil.
Aiko melangkah keluar dari dalam rumah, mengenakan pakaian kasual berupa celana denim dan sweter rajut longgar yang biasa ia gunakan ke kampus. Di tangannya, ia membawa tas kuliah dan kotak kayu kecil ibunya yang selalu ia bawa ke mana-mana sebagai jimat pelindung.
Saat Aiko hendak melangkah menuju mobil barisan kedua, pintu penumpang mobil tersebut tiba-tiba terbuka dari dalam.
Aiko tertegun di tempatnya.
Di dalam mobil itu, duduk Ren Tachibana dengan pakaian jas hitam rapinya yang formal. Pria itu sedang membaca beberapa berkas di pangkuannya tanpa menoleh ke arah Aiko.
"Apa yang kau lakukan di mobil ini, Tuan Tachibana?" tanya Aiko bingung, tertahan di depan pintu mobil yang terbuka.
Ren akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap Aiko dengan ekspresi datarnya yang biasa. "Masuklah. Hari ini aku kebetulan ada urusan bisnis dengan salah satu kolega di faksi wilayah utara yang jalurnya melewati kampusmu. Jadi aku yang akan mengantarmu langsung."
Daichi yang sudah duduk di kursi kemudi depan hanya bisa tersenyum penuh arti melalui kaca spion, membuat Aiko merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, karena tidak ingin membuang waktu dan berdebat di depan para pengawal, Aiko akhirnya menarik napas panjang dan melangkah masuk ke dalam mobil, duduk di sisi kiri tepat di samping Ren.
Pintu mobil ditutup rapat dari luar oleh pengawal, dan kendaraan itu perlahan mulai bergerak meninggalkan kompleks kediaman Tachibana.
Di dalam sedan mewah yang tertutup rapat itu, kini terasa hening. Ren kembali sibuk dengan lembaran dokumen di pangkuannya, sementara Aiko memilih untuk melempar pandangannya keluar jendela, menyaksikan deretan pertokoan yang mulai ramai oleh aktivitas pagi hari.
"Kau belum menjawab pertanyaanku kemarin, Aiko," suara berat Ren tiba-tiba memecah kesunyian di dalam mobil. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari berkas yang ia baca. "Mata-mata klan Kurogawa sehebat apa yang bisa mengendus penggelapan dana milik pamanku dalam waktu singkat? Bahkan Daichi saja butuh waktu tiga hari untuk mengumpulkan buktinya."
Aiko tidak menoleh, jemarinya bergerak perlahan mengusap permukaan kotak kayu peninggalan ibunya di atas pangkuan. "Sudah kukatakan Tuan Tachibana. Dari mana aku tahu, itu rahasiaku. Kau tidak perlu mencurigai ayahku. Anggap saja aku punya 'informan' yang selalu mengawasiku di mana saja."
Ren mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. Ia akhirnya menutup dokumen tersebut dan menoleh ke arah Aiko. "Informan? Menarik. Kuharap informanmu itu tidak bosan mengawasimu, karena mulai hari ini, orang-orangku juga akan melakukan hal yang sama."
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren