Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24 Ide baru
Kenzo masuk ke dalam mobil Fela. Suasana di dalam mobil terasa sunyi karena Fela tidak mengajak ngobrol anak ini.
"Sepi," celetuk Kenzo sambil menoleh ke arah dashboard dan area kemudi.
Fela tidak peduli. Ia tetap fokus memundurkan mobilnya keluar dari area parkir gedung kantor tanpa melirik sedikit pun pada penumpang di sebelahnya.
"Nyalakan musik dong. Sepi gak enak," pinta Kenzo lagi. Tangannya sudah gatal ingin menyentuh layar audio mobil. Namun ia masih menahan diri untuk tidak mengacak-acak dasboard mobil.
"Aku tidak memintamu ikut," sahut Fela dingin. "Kamu bisa turun sekarang jika mau."
Kalimat dingin itu langsung menghentikan gerakan tangan Kenzo. Namun bukannya kapok atau diam, bocah jangkung itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. Seolah ucapan ketus Fela barusan hanyalah angin lalu baginya.
"Ketus amat," cicit Kenzo pelan.
Fela tidak menanggapi. Ia tetap menatap lurus ke depan, memperhatikan jalanan raya di hadapan mereka setelah keluar dari gerbang parkir.
"Aku setel aja ya."
"Hei!" protes Fela cepat. Tangan kirinya sempat bergerak ingin menepis tangan Kenzo, tetapi terlambat. Tangan Kenzo lebih cepat.
Kenzo maksa menyalakan musik karena melihat ada flashdisk yang tertancap di lubang audio dashboard. Jarinya langsung menekan tombol power pada layar LCD mobil tanpa menunggu persetujuan lagi.
Musik sudah mulai menyala. Suara gitar langsung memenuhi kabin mobil yang semula sunyi.
Kenzo mengerjap. Dia sedikit terkejut. "Ow, nu Metal? Tidak menyangka," gumam bocah itu sambil menoleh ke arah Fela dengan pandangan baru. Ada kaget, kagum.
Fela melirik sekilas dari balik kemudi. Bibirnya menipis. Menahan diri untuk tidak menanggapi komentar anak magang di sebelahnya itu. Ia memang suka mendengar lagu semacam itu kalau lagi suntuk. Situasi rumit dengan Dion saat ini jelas membuatnya sangat membutuhkan musik keras untuk meluapkan kekesalan di kepalanya.
"Kamu mendengarkan ini?" tanya Kenzo masih tidak percaya. Ia menatap Fela dengan ekspresi heran sekaligus tertarik. Lagi. padahal tadi sudah.
"Matikan kalau kamu tidak mau mendengarkan," geram Fela. Suaranya terdengar ketus karena merasa selera musik pribadinya yang agak ekstrem baru saja tertangkap basah oleh anak magangnya sendiri.
"Enggak. Aku suka. Daripada sunyi," sahut Kenzo cepat. Ia malah menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada sandaran kursi. Membiarkan alunan musik keras itu terus menghentak di dalam kabin mobil.
Fela juga setuju daripada sepi. Akhirnya ia pun membiarkan musik itu tetap berputar tanpa berniat mengecilkan volumenya. Suara bising dari speaker mobil itu setidaknya jauh lebih baik untuk meredam kekesalan di kepala Fela. Ketimbang harus terjebak dalam keheningan yang canggung bersama Kenzo sepanjang perjalanan riset mereka.
"Aku dengar kemarin mantan kekasihmu bikin ulah," kata Kenzo membuka obrolan lagi. Suaranya hampir kalah saing dengan dentuman musik di dalam mobil.
Fela mengetatkan genggamannya pada roda kemudi. "Jangan mengurusi urusan orang," potongnya cepat. Tidak ingin kehidupan pribadinya diungkit-ungkit lagi.
"Ya. Maaf. Aku hanya cemas," sahut Kenzo pelan. Nada suaranya terdengar tulus. Membuat suasana di dalam kabin sedikit berubah.
Fela mendengus pelan. Merasa lucu sekaligus jengkel dengan perhatian anak magangnya ini. "Aku ini orang dewasa. Kenapa kamu harus cemas? Bahkan kamu sendiri aja masih SMA."
"Bentar lagi aku lulus," koreksi Kenzo tidak terima. Dia langsung menegakkan posisi duduknya untuk membela diri.
"Sama aja," balas Fela pendek dan telak. Bagi perempuan itu, mau kurang beberapa bulan atau sudah lulus sekalipun, bocah di sampingnya ini tetaplah seorang remaja yang belum tahu kerasnya dunia kerja dan kerumitan hubungannya dengan Dion.
Kenzo hanya bergumam tidak jelas. Memilih mengalah dan kembali menyandarkan punggungnya. Setelah beberapa menit keheningan kembali merayap di antara dentuman musik nu metal, Fela akhirnya membuka suara untuk mengalihkan topik.
"Kemana?" tanya Kenzo.
"Kita menuju lokasi pertama," ujar Fela sambil melirik GPS di ponselnya yang terpasang di dashboard. "Aku ingin memahami target pasar mobil listrik premium secara langsung. Kita butuh melihat tampilan nyata bagaimana calon konsumen kelas atas berinteraksi dengan kendaraan mereka atau apa yang mereka sukai sekarang."
Kenzo mengangguk paham.
Fela mengarahkan mobilnya menuju area pameran otomotif terbatas yang diadakan di salah satu hotel bintang lima. Namun, sesampainya di lobi, langkah mereka langsung terhenti.
Petugas keamanan dengan sopan dan sedikit agak kaku memberitahu, " Maaf. pameran hari ini ditutup untuk umum. Karena sedang ada akses khusus bagi tamu undangan VIP dan pengusaha besar yang memiliki undangan, Mbak."
Fela mengembuskan napas frustrasi. "Baik. Terima kasih." Fela kembali masuk ke dalam mobil. Ia mengetuk-ngetuk setir mobilnya dengan gusar saat terpaksa memutar balik keluar dari area hotel. Ia kesal jika agendanya berantakan.
Di sampingnya, Kenzo memperhatikan raut kecewa Fela.
"Enggak punya ide?"
Fela melirik Kenzo tajam. "Kenapa? Kamu punya ide, anak muda?" tanya Fela sarkas sambil mengarahkan mobil keluar dari area hotel.
"Enggak ada. Aku belum pernah kerja, kan?"
Fela mendengus.
"Lapangan golf," ujar Kenzo asal. Dia hanya sekadar menyebut kata itu setelah matanya menangkap tulisan di papan penunjuk jalan yang baru saja mereka lewati.
Fela melirik sekilas ke arah anak magangnya yang masih mengenakan seragam sekolah di balik jaketnya. "Apa?'
"Enggak. Aku cuma baca penunjuk jalan." Kenzo mengoreksi kata-katanya.
Namun, dari kata-kata yang diucapkan asal oleh Kenzo itu, kepala Fela langsung memproses sebuah strategi baru. Matanya berbinar sesaat saat insting manajernya mengambil alih.
"Bagus, bocah. Kita akan ke lapangan golf," putus Fela mantap.
"Ya?" Kenzo menoleh cepat. Ia agak terkejut dengan reaksi Fela yang mendadak serius.
"Banyak orang bisnis berada di sana, bukan hanya sekedar berolahraga," ujar Fela sambil memutar kemudi dengan tegas. Langsung mengubah rute GPS di ponselnya menuju Lapangan Golf Glantangan.
"Itu target pasar riil yang aku cari," ujar Fela bersemangat.
Kenzo mendadak membeku di kursinya. Senyum di wajahnya langsung lenyap.
Sial. Kenapa aku malah menyebut lapangan golf? sesal Kenzo dalam hati.
****
Mobil Fela melaju menuju pinggiran kota menuju lapangan golf yang ada di daerah selatan.
Sepanjang perjalanan Kenzo terdiam. Dia memikirkan banyak hal disana. Fela melirik curiga bocah ini diam seribu bahasa. Padahal sejak tadi bicara.
Begitu mobil Fela berbelok memasuki gerbang megah Lapangan Golf Glantangan, pemandangan hijau yang membentang luas langsung menyambut mereka. Di area parkir luar, beberapa mobil mewah lansiran Eropa dan SUV premium berjejer rapi. Persis seperti visualisasi target pasar yang dicari Fela sejak tadi.
Fela memarkirkan mobilnya di area yang agak teduh. Ia mematikan mesin. Perempuan itu langsung meraih tasnya dan keluar. Namun Kenzo malah tetap duduk di dalam.
"Hei, ayo turun," ajak Fela. "Kamu tidak mungkin tiba-tiba jadi enggak mood ikut riset, kan?" tebak Fela.
"Tidak. Aku masih mau ikut kok," bantah Kenzo.
"Bagus. Karena sudah terlanjur ikut, kamu harus ikuti aku." Setelah mengatakan itu Fela membalikkan badan. Mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Aku tidak bisa bilang tidak mau karena aku sendiri yang memaksa ikut, batin Kenzo. Kenzo menarik napas dalam-dalam. Baiklah.