"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. (Jebakan Rasa Bersalah)
Perjalanan di dalam mobil mewah milik Mike terasa lebih panjang dari biasanya. Wiper mobil bergerak ritmis, menyapu sisa-marena hujan yang mulai mereda di kaca depan. Di dalam kabin yang kedap suara itu, hanya ada keheningan yang mencekam. Alisha mencengkeram sabuk pengamannya dengan erat, sementara matanya sesekali melirik ke arah Mike yang fokus mengemudi dengan rahang yang mengeras.
Sejak mereka meninggalkan lobi kampus, Mike tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sikapnya dingin, kaku, dan menyimpan aura intimidasi yang membuat Alisha enggan membuka suara. Namun, di dalam kepala Alisha, badai pikiran justru sedang berkecamuk.
*Kasihan Pak Mike,* batin Alisha lagi. Kalimat ibunya tentang rumor kemandulan Mike terus bergema di kepalanya bagai kaset rusak.
Alisha membayangkan bagaimana rapuhnya posisi Mike saat ini. Sebagai penerus tunggal Raharja Group, dia pasti menjadi bulan-bulanan keluarga besarnya yang haus akan kekuasaan. Di dunia seketat itu, tidak memiliki keturunan adalah cacat terbesar. Pantas saja Anita—wanita sesempurna itu—memilih mundur. Siapa wanita dari kalangan sosialita yang mau menyerahkan masa depannya untuk menikah dengan pria yang dianggap tidak bisa memberikan ahli waris? Di kalangan mereka, pernikahan adalah tentang kelangsungan dinasti. Tanpa anak, posisi seorang istri di keluarga Raharja akan menjadi neraka.
Mobil akhirnya berhenti di depan pagar rumah minimalis Alisha. Mike mematikan mesin mobil, namun tidak segera membuka kunci pintu. Ia bersandar pada kemudi, lalu memutar tubuhnya menghadap Alisha.
"Kita sudah sampai," ucap Mike pendek. Tatapannya datar, seolah-olah ia sedang menahan beban yang sangat berat di pundaknya.
Alisha tidak langsung bergerak. Ia menatap Mike dengan sepasang mata jernihnya yang kini dipenuhi rasa simpati yang mendalam. "Pak Mike... jika ada hal yang mengganggu pikiran Anda, Anda bisa membaginya dengan kami. Saya dan Ibu selalu siap mendengarkan. Anda sudah melakukan terlalu banyak hal untuk kami."
Mike menatap Alisha lekat-lekat. Di dalam hatinya, Mike harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak tersenyum. *Rencana ini berjalan jauh lebih sempurna dari yang kukira,* pikir Mike. Rasa bersalah dan kepolosan Alisha adalah kombinasi terbaik yang sedang ia manfaatkan saat ini.
"Kamu tidak akan paham, Alisha," Mike mengalihkan pandangannya ke luar jendela, berpura-pura menunjukkan gurat frustrasi yang dramatis. "Duniaku berbeda dengan duniamu. Saat ini, seluruh keluarga besarku sedang bersiap untuk mendepakku dari kursi CEO hanya karena... karena aku dianggap tidak berguna lagi bagi masa depan perusahaan."
Jantung Alisha mencelos. "Apakah karena rumor itu? Itu tidak adil! Anda yang membesarkan perusahaan ini setelah orang tua Anda..." Alisha menghentikan kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca karena ikut merasakan ketidakadilan yang menimpa Mike.
"Kakek memberikan syarat yang mustahil," Mike kembali menatap Alisha, kali ini dengan tatapan yang sengaja dibuat layu dan putus asa. "Beliau menuntutku untuk menikah lagi dalam waktu tiga bulan dengan wanita yang tulus, yang mau menerimaku apa adanya, tanpa memedulikan rumor itu. Tapi kamu tahu sendiri, Alisha... di kalangan duniaku, tidak ada satu pun wanita yang mau mengorbankan diri mereka untuk pria mandul sepertiku. Mereka hanya menginginkan harta dan anak untuk mengamankan posisi mereka."
Mike mengembuskan napas berat, lalu membuka kunci pintu mobil. "Sudahlah. Masuklah ke rumah. Jangan pikirkan masalahku."
Alisha terpaku di kursinya. Kata-kata Mike seperti belati yang menusuk rasa kemanusiaannya. Pria ini telah kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan yang juga merenggut nyawa kakaknya. Pria ini yang memastikan Alisha bisa kuliah dan hidup layak. Dan sekarang, ketika pria ini berada di titik terendahnya dan membutuhkan pertolongan, apakah Alisha hanya akan diam dan menonton?
"Bagaimana jika... ada wanita yang mau?" suara Alisha memecah keheningan, sangat pelan namun terdengar jelas di telinga Mike.
Mike membeku, berpura-pura terkejut. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika ada wanita yang tidak peduli dengan rumor itu? Yang tidak peduli apakah Anda bisa memberikan keturunan atau tidak, karena dia hanya ingin membantu Anda mempertahankan apa yang menjadi hak Anda?" Alisha menatap Mike dengan keberanian yang mendadak muncul dari rasa bersalahnya yang besar.
Mike menatap Alisha dengan tatapan tajam, mengintimidasi. "Jangan bicara sembarangan, Alisha. Siapa yang kamu maksud? Wanita dari mana yang cukup bodoh untuk menyerahkan hidupnya pada pria sepertiku?"
Alisha menarik napas panjang, meremas jemarinya sendiri untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Saya, Pak Mike. Saya yang akan menjadi wanita itu."
Keheningan yang pekat kembali merayap di antara mereka. Mike menatap Alisha dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan yang dibuat-buat dan sebuah perhitungan matang.
"Kamu? Menikah denganku?" Mike mendengus pelan, menggelengkan kepalanya. "Jangan konyol, Alisha. Kamu baru dua puluh satu tahun. Masa depanmu masih panjang. Kamu menawarkan diri hanya karena rasa kasihan dan utang budi atas masa lalu? Aku tidak seputus asa itu sampai harus menumbalkan adik dari mendiang ajudanku sendiri."
"Ini bukan sekadar utang budi!" bantah Alisha cepat, wajahnya memerah karena merasa diremehkan. "Kakak saya meninggal untuk melindungi orang tua Anda. Dan Anda sudah menjaga saya dan Ibu selama sepuluh tahun ini tanpa mengeluh. Jika pernikahan ini bisa menyelamatkan posisi Anda dari keluarga besar Anda yang kejam, maka biarkan saya melakukannya. Saya tidak butuh kemewahan, saya juga tidak peduli dengan rumor mandul itu. Saya hanya ingin Anda tahu... Anda tidak sendirian."
Mike memandangi Alisha yang sedang menggebu-gebu dengan rasa emosional yang murni. Di dalam kepalanya, Mike bersorak kemenangan. Bidak catur yang ia gerakkan sejak empat tahun lalu, mengorbankan pernikahan kontrak dengan Anita, menyebarkan rumor memalukan tentang dirinya sendiri, semuanya berujung pada detik ini: Alisha menyerahkan dirinya sendiri ke dalam pelukannya dengan sukarela.
Namun, Mike tidak boleh terburu-buru. Jika ia langsung menyetujuinya, Alisha akan curiga. Pria itu harus melakukan tarik ulur untuk mengunci komitmen Alisha agar tidak bisa lepas lagi.
Mike memajukan tubuhnya, mencengkeram kedua bahu Alisha dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatapnya langsung. "Pikirkan baik-baik, Alisha. Jika kamu menikah denganku, publik akan menatapmu dengan pandangan miring. Mereka akan mengiramu wanita gila harta yang mau menikahi pria mandul demi uang. Kamu tidak akan bisa memiliki anak seumur hidupmu jika bersamaku. Apakah kamu siap menanggung semua sanksi sosial itu?"
Alisha menelan ludah, menatap mata elang Mike yang berkilat intens. Pertanyaan Mike sangat berat, namun rasa bersalah dan keinginan besarnya untuk membalas budi serta melindungi Mike mengalahkan segalanya. "Saya siap, Pak Mike. Saya tidak takut dengan omongan orang luar."
Mike menatap mata jernih Alisha selama beberapa detik, seolah sedang menguji kesungguhan gadis itu. Perlahan, Mike melepaskan cengkeramannya dari bahu Alisha dan menyandarkan punggungnya kembali, memasang wajah sedih yang teramat dalam.
"Tidak, Alisha. Aku tidak bisa membiarkanmu mengorbankan masa mudamu untukku," ucap Mike, suaranya terdengar bergetar hebat—akting yang sangat memukau dari seorang CEO berdarah dingin. "Pergilah masuk. Lupakan apa yang kita bicarakan malam ini. Aku akan mencari jalan keluar lain, bahkan jika aku harus kehilangan Raharja Group."
"Tapi, Pak Mike—"
"Masuk, Alisha," potong Mike dengan nada mutlak, namun matanya memancarkan kepedihan yang dibuat-buat.
Alisha menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalahnya kini berlipat ganda. Melihat Mike yang begitu protektif dan menolak memanfaatkannya justru membuat Alisha semakin yakin bahwa Mike adalah pria yang sangat baik yang harus ia selamatkan.
Dengan perasaan campur aduk, Alisha akhirnya membuka pintu mobil. "Saya tidak akan mengubah keputusan saya, Pak Mike. Saya akan bicara pada Ibu malam ini. Dan saya harap... Anda mau mempertimbangkannya."
Alisha keluar dari mobil dan berlari kecil menembus gerimis menuju teras rumahnya.
Di dalam mobil, Mike memperhatikan punggung Alisha yang menghilang di balik pintu rumah sampai pintu itu tertutup rapat. Begitu Alisha tak lagi terlihat, perlahan-lahan gurat kesedihan dan keputusasaan di wajah tampan Mike memudar, digantikan oleh sebuah senyuman tipis yang sangat dingin namun penuh kemenangan.
Mike mengambil ponselnya, lalu menekan sebuah nomor.
"Halo, Kakek," ucap Mike begitu panggilan tersambung. Suaranya kembali menjadi bariton yang tegas dan tanpa celah. "Persiapkan acara makan malam keluarga di kediaman utama minggu depan. Aku sudah menemukan calon istri baru yang bersedia menerima 'kekuranganku'."
Setelah menutup telepon, Mike menyandarkan kepalanya pada jok mobil, menatap rumah Alisha dengan binar posesif yang menyala-nyala.
"Maafkan aku karena harus menipumu dengan cara seperti ini, Alisha," bisik Mike pada keheningan kabin mobil. "Tapi empat tahun menunggumu dalam sunyi sudah cukup membuatku gila. Kamu sendiri yang melangkah masuk ke dalam sangkarku... dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Mobil sedan hitam itu kemudian melaju membelah malam yang basah, meninggalkan Alisha yang malam itu mulai menyusun kalimat untuk meyakinkan ibunya agar diizinkan menikah dengan sang CEO yang 'malang'.