NovelToon NovelToon
Senja Yang Ku Perjuangkan

Senja Yang Ku Perjuangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Penyesalan Suami / Romantis
Popularitas:51.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.

Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.

Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.

Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.

Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Saja

Pagi buta.

Rumah Dewa masih sunyi. Langit bahkan belum benar-benar terang. Jam baru menunjukkan pukul empat dini hari. Alya baru saja menyelesaikan salat Subuh.

Setelah berdoa, ia melepas mukena Sesaat ia menatap jendela kamar, tempat ia sering berdiri setiap kali rindu pada kamar kost kecilnya.

Alya menyudahi lamunannya itu, perlahan ia mulai menyiapkan satu persatu barang-barang yang tinggal sedikit itu. Mbok Ina membantu Alya mengenakan jaket tebal. Wajah wanita itu sembap karena semalaman sulit tidur.

"Apa semuanya sudah siap, Neng?" tanya Mbok Ina.

Alya mengangguk pelan. "Sudah."

Mereka berjalan berdampingan, Mbok Ina begitu lembut menuntun tangan Alya, dalam posisi seperti ini perempuan itu serasa merasakan pelukan hangat seorang ibu. Namun sebelum keluar rumah, Alya berhenti di ambang pintu.

Ia menoleh sekali lagi ke seluruh isi rumah. Rumah yang hanya beberapa hari ia tempati, tetapi telah memberinya rasa aman yang selama ini tidak pernah ia rasakan.

"Terima kasih..." gumamnya lirih.

Mbok Ina memeluk Alya sambil menangis. "Neng harus bahagia ya."

"Iya, Mbok."

Tak lama kemudian Emil datang dengan mata sembap, sebenarnya ia tidak mau melepas Alya, apalagi di awal pertemuan mereka ia sudah berjanji akan menjaga sama-sama anak yang ada dikandungan Alya akan tetapi cerita sudah berbeda, hidup Alya dengan cepat berubah begitu drastis. Dan Emil pun harus menghargai keputusan Alya. Ia mendekat lalu langsung memeluk Alya erat.

"Jangan lupakan aku ya, Mbak."

Air mata Alya kembali jatuh. "Gak akan."

Emil kemudian berjongkok di depan perut Alya. "Halo, bayi kecil... nanti kalau sudah besar jangan lupa sama Tante Emil ya."

Suasana berubah haru, saat Emil mencium perut rata, itu. Air mata Alya semakin bercucuran. Ia tidak menyangka dipertemukan dengan satu keluarga baik seperti Emil dan Dewa.

  "Senja gak akan melupakanmu Mil, aku pastikan dia tahu kamu," ujar Alya.

 Belum sempat Alya melanjutkan ucapannya itu, tiba-tiba saja ia mendengar sebuah mobil masuk ke halaman rumah. Alya terkejut ketika sebuah mobil hitam memasuki halaman.

Sesaat kemudian Eyang Cintami turun dari mobil.

  "Eyang," gumamnya pelan.

"Aku mengundang Eyang," jelas Dewa.

Wanita sepuh itu menghampiri lalu memeluk Alya dengan penuh kasih sayang. "Pergilah yang jauh Nak, jangan pikirkan dia lagi, karena kamu berhak untuk bahagia."

Alya semakin memeluk erat tubuh Eyang. Karena ia tahu dialah salah satu saksi perjalanan hidupnya yang selama ini penuh lika-liku.

  "Eyang makasih banyak sudah Sayang sama Alya," ucapnya dengan suara bergetar.

 "Kamu anak baik Nak, Eyang akan selalu berdoa untuk kebaikanmu," ujarnya. Lalu mulai melepas pelukan itu perlahan.

Setelah memberi waktu mereka berpamitan, Dewa akhirnya membuka pintu mobil.

"Al... kita harus berangkat."

Alya mengangguk. Sebelum masuk ke mobil, ia kembali menoleh ke arah rumah itu.

Di dalam hati ia berbisik, "Semoga suatu hari nanti aku bisa kembali... bukan sebagai perempuan yang lari, tetapi sebagai perempuan yang sudah menemukan kebahagiaannya."

Mobil perlahan meninggalkan halaman.

Eyang, Emil, Mbok Ina, dan para pekerja rumah hanya bisa melambaikan tangan. Semakin lama mobil itu semakin kecil. Hingga akhirnya benar-benar menghilang di tikungan.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara Arlan baru saja menutup telepon dari anak buahnya ketika sebuah panggilan lain kembali masuk.

"Tuan!"

"Bagaimana?" tanya Arlan dengan napas yang masih memburu.

"Kami baru mendapat informasi. Ada satu penerbangan internasional yang berangkat pagi ini."

Seketika sorot mata Arlan berubah tajam. "Tujuannya ke mana?"

"Masih kami pastikan, Tuan. Tapi kemungkinan besar mereka belum lama masuk ke area bandara."

Arlan langsung berdiri. "Siapkan mobil!"

"Baik, Tuan."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arlan berlari keluar rumah. Beberapa anak buahnya segera mengikuti dari belakang. Pintu mobil dibuka, lalu iring-iringan kendaraan melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi aktivitas pagi.

"Lebih cepat!" bentak Arlan.

Sopir mengangguk gugup, lalu menginjak pedal gas lebih dalam. Sepanjang perjalanan Arlan terus menggenggam ponselnya erat. Bayangan wajah Alya tidak berhenti memenuhi pikirannya.

"Alya... kali ini aku tidak akan kehilangan kalian lagi."

☘️☘️☘️☘️☘️

Mobil Dewa melaju dengan kecepatan stabil menuju kawasan bandara. Alya duduk diam di kursi penumpang. Sejak meninggalkan rumah, perempuan itu hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.

"Mas..." panggilnya lirih.

"Iya."

"Kalau nanti semuanya sudah aman... apa aku boleh pulang lagi ke Indonesia?"

Dewa melirik sekilas ke arahnya. "Boleh."

"Kalau memang saat itu keadaan sudah benar-benar aman."

Jawaban singkat itu membuat Alya menganggukkan kepala pelan. Beberapa menit kemudian mobil tidak menuju pintu keberangkatan utama, melainkan berbelok ke jalur khusus yang jauh lebih sepi.

Alya mengernyit. "Mas... kita salah jalan?"

"Tidak."

"Ini jalur VIP."

"Aku tidak ingin mengambil risiko."

Alya kembali terdiam. Sekali lagi Alya dibuat takjub oleh persiapan Dewa.

Proses pemeriksaan berlangsung jauh lebih cepat. Paspor. Visa. Tiket. Seluruh dokumen diperiksa tanpa kendala. Tak lama kemudian mereka telah melewati pemeriksaan imigrasi.

Di waktu yang sama, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan terminal keberangkatan internasional.

Belum sempat mobil benar-benar berhenti, Arlan sudah lebih dulu membuka pintu lalu turun dengan langkah tergesa-gesa. Napasnya memburu, wajahnya dipenuhi kecemasan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

"Pisah!" perintahnya pada beberapa anak buah yang ikut bersamanya.

"Cari di setiap sudut terminal!"

"Siap, Tuan!"

Mereka langsung berpencar ke berbagai arah.

Sementara Arlan sendiri berlari menuju layar besar informasi penerbangan.

Tatapannya bergerak cepat membaca setiap jadwal yang terpampang. Beberapa detik kemudian matanya berhenti pada satu tujuan penerbangan internasional.

Statusnya masih Boarding.

"Masih ada waktu..."

Tanpa membuang waktu, Arlan kembali berlari menyusuri lorong terminal menuju gate yang tertera di layar. Orang-orang yang berada di sekitarnya spontan menyingkir saat melihat pria itu berlari sekencang mungkin.

"Permisi!"

"Maaf!"

Namun Arlan sama sekali tidak memedulikan tatapan orang lain. Yang ada di kepalanya hanya satu. Alya.

Sementara itu, di area keberangkatan, Dewa dan Alya berjalan berdampingan menuju gate.

Boarding pass masih berada di tangan Dewa.

Beberapa langkah lagi mereka akan memasuki pintu boarding.

Namun tiba-tiba. Langkah Alya melambat.

Dadanya kembali berdebar tidak karuan. Entah kenapa, ia merasa ada seseorang yang sedang memanggilnya. Perlahan perempuan itu menoleh ke belakang.

Dan tepat pada saat itulah. Di ujung lorong, Arlan muncul. Napas pria itu tersengal-sengal. Kemeja yang dikenakannya mulai basah oleh keringat.Saat kedua matanya menemukan sosok Alya, langkahnya mendadak terhenti.

"Alya..." Suara itu keluar hampir seperti bisikan.

Detik berikutnya Arlan kembali berlari. "ALYA!"

Teriakan itu menggema memenuhi lorong keberangkatan. Tubuh Alya langsung menegang. Bibirnya bergetar.

"Mas Arlan..."

Waktu seolah berhenti. Di antara riuh suara bandara, hanya mereka yang saling memandang tanpa mampu berkata apa pun.

Arlan kembali berlari. "Alya... jangan pergi!"

"Aku mohon... dengarkan aku!"

Dewa yang sejak tadi memperhatikan situasi langsung menoleh. Sorot matanya berubah tajam. Tanpa berkata apa-apa.Jemarinya menggenggam tangan Alya sedikit lebih erat.

"Ayo."

Alya masih terpaku. Dewa kembali menariknya dengan lembut. "Kita harus masuk."

Arlan semakin mendekat. Jarak mereka kini tinggal beberapa meter saja.

"Alya!"

Pria itu mengulurkan tangannya seolah masih ada kesempatan untuk meraih perempuan yang selama ini ia sia-siakan akan tetapi di saat yang bersamaan. Petugas boarding memberikan isyarat agar para penumpang terakhir segera masuk.

"Silakan, Pak."

Dewa menganggukkan kepala, lalu membawa Alya melangkah melewati pintu boarding. Begitu tubuh mereka melewati ambang pintu.

Sreeet...

Perlahan pintu kaca otomatis mulai menutup di antara mereka.

"Jangan...!"

Arlan mempercepat langkahnya, tinggal selangkah lagi tapi pintu itu telah tertutup rapat tepat di hadapannya.

Brak!

Telapak tangan Arlan menghantam kaca dengan keras, ia baru saja kehilangan sosok wanita yang sedang mengandung darah dagingnya.

Pria itu berteriak sekencang mungkin memenuhi area penerbangan, sementara itu ia hanya bisa melihat punggung Alya yang semakin jauh dengan seorang pria yang menggenggam tangannya erat, seolah tak akan membiarkan siapa pun merebutnya lagi.

Arlan memukul kaca sekali lagi. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun. "Sial!"

Bersambung...

Selamat Pagi ...

Semoga suka ....

1
Lisa
Dia adalah putrimu Arlan..
Nar Sih
arlann ..gk segaja kmu ketemu putri mu yg blm kamu kenal
Lisa
ya nih gmn y reaksinya Arlan ketika bertemu dgn Alya
Nar Sih
padahal sdh penasaran lihat reaksi arlan saat ketemu alya,tpi...sabarr lgi blm waktu nya kata kak ayu😂
Lisa
Selamat malam Kak Ayu..terimakasih y utk updatenya..wah berarti waktu acara gala dinner itu Alya pasti bertemu dengan Arlan.
Yati Susilawati
tak sabar nunggu al dan ar.. bertemu
Nar Sih
sore kak ayuu,dan aku slalu suka dgn senja🥰🥰
Lisa
Semangat y Alya & team..kalian pasti bisa 🙏💪
Nar Sih
semagat alya ,kmu pasti bisa dan semoga kmu berhasil💪
falea sezi
kenapa belom hamil lagi 😒
Ayumarhumah: sabar kak ...
total 1 replies
Nar Sih
sore kak ayu ,makasih ya udah updet 2kali sehari senja nya🙏🥰
Lisa
👍 Sukses y Alya
Nar Sih
waah...alya kmu bnr,,👍🥰🥰
Lisa
Jadi deg²an nih..pertanyaan terakhirnya apa nih 🤔
Suanti
semoga, aja viral dan masuk acara tv biar menyesal sekeluarga mantan alya membuang berlian demi kerikir 🤭🤣
Nar Sih
mlm kak ayu,selamat alya ahir nya presentasi berjln lsncar👍🥰
Adinda
semoga alya Dan dewa punya anak kembar
Nar Sih
pagi kak ayu,semagatt alya dan senja florist siap melangkah menuju sukses dan bahagia
Nar Sih
kasihan kmu arlan ,karma mu yg telah menyia,,kan alya kmu gk bisa punya keturunan dri amara
Lee Mba Young
Syukurin arlan gk akn punya anak lagi 🤣. karma tak semanis kurma.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!