Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rantai di pergelangan
Seharian setelah penghinaan di aula, aku dikurung lagi tapi kali ini beda.
Di pergelangan tangan kiriku... ada gelang. Bukan gelang biasa. Rantai tipis, besi dingin, ujungnya nyambung ke kaki meja kerja kayu jati bunyinya klitik-klitik tiap aku gerak.
“Rantai pengingat,” kata Pak Bara pas masangin tangannya gemetar. Matanya ga berani natap aku. “Perintah Tuan Muda. Biar Nona ingat tempat Nona.”
Rantainya ga panjang cuma 50cm. Cukup buat aku duduk di kursi, ngetik di laptop ganti yang retak kemarin, makan, ke kamar mandi. Ga cukup buat aku rebahan nyaman di kasur atau kabur ke pintu.
Aku ketawa pahit suara serak. “Dia bener-bener nganggep aku hewan peliharaan ya, Pak? Dikasih rantai biar ga kabur.”
Pak Bara diam. Dia cuma naruh salep kecil di meja. Tutupnya udah kebuka. “Olesin. Buat memar kemarin perintah Tuan Muda juga.”
Aku natap salep itu, lalu natap rantai Kontras banget. Nyiksa, tapi ngasih obat Itu Axel Reynard banget.
Jam 8 malam, pintu kebuka tanpa suara. Axel masuk. Jas hitam, dasi dilepas, lengan kemeja digulung sampai siku di tangannya ga ada apa-apa tapi aura tekanannya bikin udara di kamar jadi berat.
Dia liat rantai itu dulu lama. Matanya ngusur dari besi di pergelanganku sampai ujung rantai yang dikunci ke meja hahangnya ngeras ga tau mikir apa.
Lalu dia duduk di kursi depan mejaku. Jarak 2 meter. Jarak aman versi dia. Jarak yang dia pake tiap mau nginterogasi aku tanpa nyentuh.
“Kau masih hidup,” katanya. Kayak dia kaget aku ga nyerah setelah dipermalukan kemarin.
Aku angkat tangan kiri rantai itu bunyi lagi Klitik. Klitik. “Terima kasih atas hadiahnya, Tuan. Sangat... edukatif. Sekarang saya tau rasanya jadi anjing yang dirantai.”
Axel diam 3 detik dia ga marah dia cuma ngeliatin rantainya kayak lagi nilai karya seni.
Lalu tanpa peringatan dia nyambar tanganku yang dirantai. Bukan kasar kayak di aula kemarin. Kali ini pelan hati-hati. Jempolnya ngusap kulit di atas besi dingin itu, pas di titik yang udah mulai lecet merah.
“Aku bilang kau aset,” gumamnya. Matanya masih natap rantai, bukan mataku. Suaranya rendah, kayak ngomong ke dirinya sendiri. “Aset harus dijaga biar ga hilang. Ga pantes kalau kau lari lagi. Lalu balik dengan wajah kasihan.”
Jantungku berdebar aneh. Nada suaranya beda dari kemarin. Kemarin di aula dia hina aku sekarang... dia kayak nahan sesuatu. Nahan buat ga ngeremas tanganku lebih keras.
“Kau mau aku mati di tangan sendiri, kan?” bisikku aku nantang lagi aku udah capek takut. “Kenapa dirantai? Takut aku bunuh diri sebelum Tuan puas nyiksa? Takut dendammu ga lunas?”
Axel mendongak tatapannya tajam, sedingin es. Tapi sedetik doang cepet banget lalu dia lepas tanganku kasar, seolah dia jijik sama dirinya sendiri karena tadi megang aku pelan.
“Bunuh diri itu gampang, Aira,” desisnya. Dia berdiri, kursi kebelakang bunyi nyekit. “Naga ga main yang gampang. Aku mau kau hidup. Hidup dan ngerasain tiap hari kalau kau ga punya tempat lain selain di sini. Di rantainya aku. Di mansion ini. Di bawah namaku.”
Dia jalan ke pintu. Langkahnya berat tapi berhenti pas gagang pintu udah dipegang Punggungnya ke aku bahunya kaku.
“Besok Pak Bara ajarin kau masak,” katanya pelan ga nengok. “Tanganmu ga boleh rusak total. Kau masih harus ngetik kontraknya sampai halaman 200. Aset rusak itu... merepotkan.”
Lalu dia keluar pintu ditutup pelan ga dibanting.
Aku melot ke pintu yang udah ketutup. "Masak? Setelah dia hina aku tubuh bagus di depan bodyguard? Setelah dia rantai aku kayak anjing? Setelah dia bilang aku harus mati di tangan sendiri?.
Itu bukan perintah Tuan ke tawanan. Itu perintah orang yang tiba-tiba peduli asetnya jangan rusak. Peduli tanganku masih bisa dipake.
Aku megang rantai itu erat. Dingin. Besi itu nyekit ke kulit yang udah lecet. Sakit. Tapi anehnya... aku ga nyoba ngelepas kuncinya yang ada di meja. Kuncinya sengaja ditaruh Pak Bara, keliatan banget.
Karena bagian dari diriku takut kalau rantai ini lepas, Axel beneran ga akan peduli aku lagi. Dia bakal buang aku kayak sampah. Dan itu... lebih ngeri daripada rantainya sendiri.
Malam itu aku tidur di lantai, punggung nempel di kaki meja. Selimut tipis dari Pak Bara. Rantai 50cm itu ikut aku ke mana-mana. Tiap aku muter, bunyinya ngingetin “Kau milik dia.”
Jam 2 pagi aku kebangun karena haus. Jalan ke meja, tuang air. Rantai ketarik. terasa sakit. Aku meringis.
Klek. Pintu kebuka dikit. Cuma celah 10cm. Bayangan tinggi Axel keliatan di koridor. Dia ga masuk cuma berdiri diam kayak patung.
Aku pura-pura tidur lagi, merem rapat. Tapi dari sela bulu mata aku liat dia natap rantai di pergelanganku lama. 1 menit. 2 menit.
Lalu pintu ketutup lagi pelan tanpa suara.
Dia ga masuk dia cuma mastiin mastiin aku masih di sini masih dirantai masih miliknya Masih hidup.
tapi mulai ada celah yang bikin aku bingung kenapa dia ngecek jam 2 pagi? Bodyguard ada 12 orang. Kenapa dia sendiri yang harus liat?
Pagi datang. Pak Bara masuk bawa nampan sarapan dan kotak P3K. Dia liat lecet di pergelanganku, langsung ngeluarin salep.
“Nona harusnya bilang kalau sakit,” gumamnya sambil olesin salep dingin. Tangannya hati-hati banget. “Tuan Muda... dia ga jago nunjukin pedulinya. Caranya salah terus.”
Aku nengok. “Pak Bara kenal dia dari kecil?”
Pak Bara kaku. Sendok salep berhenti sedetik. “Saya... saya pengurus mansion ini sejak Tuan Besar masih ada.”
Tuan Besar. Ayah Axel. Nama yang bikin rahang Axel ngeras tiap disebut.
Aku mau nanya lebih jauh. Tapi Pak Bara udah nutup kotak P3K buru-buru. “Sarapannya dimakan ya, Nona. Nanti jam 10 kita ke dapur. Tuan Muda suruh ajarin Nona masak sup. Katanya... tangan Nona harus dipake buat hal yang berguna, bukan cuma ngetik.”
“Berguna” versi Axel. Kedengerannya kayak hinaan. Tapi entah kenapa, aku ngerasain ada maksud lain di balik kata itu.
Jam 10 pas, Pak Bara ngelepas rantainya sebentar. klek Bebas 2 jam katanya cuma buat ke dapur setelah itu dipasang lagi.
Dapur mansion itu gede banget. Marmer putih, kompor 6 tungku, pisau-pisau gantung rapi kayak di restoran bintang 5. Tapi hawanya dingin. Ga ada suara orang.
Pak Bara ngajarin aku potong wortel. “Pelan, Nona. Tangan kiri Nona masih luka.”
Aku nurut. Tapi tiap iris, memar di pergelangan ketarik. Nyut. Aku nahan biar ga kedengeran.
Tiba-tiba langkah kaki berat Axel masuk dapur Jasnya masih sama kayak semalam Berarti dia ga tidur juga.
Dia berhenti 3 meter dari kami Liatin aku potong wortel dengan tangan kiri yang dirantai, lalu direntengin lagi ke meja dapur pake rantai cadangan yang lebih panjang.
“Pelan,” katanya ke Pak Bara. Suaranya datar. “Kalau dia motong jarinya sendiri, siapa yang ngetik kontrak?”
Pak Bara nunduk. “Siap, Tuan.”
Axel ga pergi. Dia malah bersandar ke meja island, ngelipet lengan kemeja lagi. Matanya ngawasin tiap gerakan pisauku. Awasi kayak elang.
Aku sengaja motong agak cepat. Nantang Biar dia tau aku ga takut.
Srek. Pisau kepleset. Ujungnya nyentuh kulit jari telunjuk kananku. Darah merah muncul, kecil. Cuma goresan.
“tss”. Sakit tapi ga seberapa.
Tapi Axel langsung gerak. Cepet banget 3 meter itu dia tempuh dalam 2 langkah. Tangannya nyambar pergelangan kananku, ngangkat jari itu ke atas biar darah ga netes ke mana-mana.
Dia diem 5 detik matanya ngunci ke goresan kecil itu. Rahangnya ngeras banget. Kayak dia nahan diri buat ga ngamuk ke seluruh dapur.
Lalu dia ngambil tisu, neken ke jariku. Keras. Aku meringis.
“Kau sengaja,” bisiknya napasnya kena di kupingku. “Kau mau aku panik, ya?”
Aku mau jawab nggak. Tapi yang keluar malah. “Tuan yang bilang aset rusak merepotkan. Jadi saya jaga biar ga rusak... terlalu parah.”
Axel ngelepas jariku. Dorong pelan dia mundur 2 langkah, kayak kebakar. Matanya campur aduk marah, kaget, sama... sesuatu yang lain. Sesuatu yang dia sendiri benci.
“Pak Bara, rantai dia. Sekarang,” perintahnya. Suaranya serak.
Rantai dipasang lagi. Lebih kenceng dari sebelumnya.
klek.
Axel pergi tanpa nengok lagi. Tapi sebelum pintu dapur ketutup, aku denger dia gumam pelan, kayak ke dirinya sendiri “Kenapa kau ga lari waktu dikasih kesempatan... bodoh.”
Malamnya aku duduk di lantai lagi. Rantai 50cm. Laptop retak di meja. File kontrak masih di halaman 147.
Aku megang salep dari Pak Bara. Olesin ke lecet pergelangan kiri. Dingin. Perih.
Aku nyender ke meja. Rantai bunyi klitik. Dalam mimpi yang setengah sadar, aku denger suara Pak Bara lagi, jauh, kayak lagi nelpon di koridor.
“Saya ga setuju, Tuan. Nona Aira itu... dia ga tau apa-apa tentang Tuan Besar. Dia masih...”
Kalimatnya kepotong. Langkah kaki Axel mendekat. Pak Bara langsung diem.
Aku kebangun. Keringat dingin jantung berdebar.
Petunjuk. Secuil petunjuk Tapi aku belum nyambung. Buatku sekarang, Axel cuma naga gila yang obsesif. Yang nyiksa aku karena... karena dia bisa.
Aku meluk rantai itu ke dada. Dingin. Tapi hangat juga. Hangat karena Axel yang masangin. Axel yang nyuruh Pak Bara kasih salep. Axel yang lari ke aku pas jariku kegores.
Dia benci aku. Dia mau aku hancur. Dia mau aku mati di tangan sendiri karena dendam.
Tapi dia juga... ga tega liat aku berdarah.
Konflik itu yang paling nyiksa. Lebih nyiksa dari rantainya.
Sebelum merem lagi, aku bisik ke rantai besi itu. “Tuan Axel... suatu hari aku bakal bikin Tuan ngelepas rantai ini sendiri. Bukan karena kasihan. Tapi karena Tuan udah kalah.”
Di luar pintu, ga ada jawaban Cuma hening.
Tapi hening itu rasanya kayak Axel denger Dan dia... nunggu.
Jam 3 pagi aku kebangun lagi. Kali ini bukan karena haus tapi karena rantai ketarik keras.
Aku buka mata. Axel berdiri di depan mejaku. Kali ini dia masuk. Ga cuma ngintip dari celah pintu.
Dia liat aku, liat salep yang tumpah di meja, liat tanganku yang masih merah. Tanpa ngomong, dia jongkok. Sejajar sama aku yang duduk di lantai.
Dia ambil salep itu. Buka tutupnya. Lalu... dia ambil tanganku sendiri. Pelan. Hati-hati banget, kayak megang kaca.
Aku mau narik tangan, tapi dia neken pelan. “Diem.”
Dia olesin salep ke lecet pergelanganku. Dingin. Jarinya kasar, tapi gerakannya lembut. Lembut yang ga masuk akal buat naga yang kemarin nyeret kerahku di depan bodyguard.
“Kenapa Tuan lakuin ini?” bisikku. Suaraku serak karena kurang tidur. “Tuan benci saya, kan?”
Axel ga jawab. Matanya fokus ke pergelanganku. Pas udah selesai, dia nutup salep, naruh balik ke meja.
Baru dia nengok ke mataku. 2 detik doang. “Aku benci kelemahan,” katanya pelan. “Dan kau... terlalu banyak nunjukin kelemahan di depanku.”
Lalu dia berdiri. Jalan ke pintu.
Sebelum keluar, dia berhenti. Punggungnya ke aku lagi. “Rantai itu ga akan aku lepas sampai kau berhenti bikin aku ngecek kau jam 3 pagi, Aira.”
Klek. Pintu ketutup.
Aku duduk di lantai, megang pergelangan yang udah dikasih salep. Dinginnya salep udah ilang, ganti hangat dari sentuhan jarinya.
Aku merem. Air mata jatuh. Bukan karena sakit. Tapi karena bingung.
Dia ngerantai aku. Dia hina aku. Dia mau aku mati di tangan sendiri.
Tapi dia juga yang olesin salep jam 3 pagi. Dia juga yang bilang “jangan mati. ataum... belum. "
Obsesi. Kekerasan. Siksaan.
Tapi di sela itu semua... ada celah kecil bernama peduli yang Axel sendiri ga ngerti.
Dan celah kecil itu... yang bakal bikin aku tetap di sini. Bukan karena rantai. Tapi karena aku mau tau naga ini... sebenarnya mau apa dariku.
kalo berkenan mmpir juga thor😉