NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Dibeli

Jodoh Yang Dibeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Q Lembayun

Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.

Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.

Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.

Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semuanya berakhir

Diana tampak frustasi. Ia mencoba membuka pintu apartemen menggunakan kombinasi tanggal lahirnya dan Abimana, namun hasilnya tetap gagal.

Dengan kesal, Diana menendang pintu itu.

“Ini pasti rusak… bagaimana bisa?” gumamnya, napasnya mulai tidak stabil. “Kami baru putus beberapa minggu yang lalu. Dia pasti belum melupakanku secepat ini. Hubungan kami hampir 7 tahun, jadi bagaimana mungkin dia bisa move on secepat ini?”

Diana benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa Abimana kini sepenuhnya mulai dekat dengan wanita lain. Ia teringat beberapa saat sebelumnya, ketika ia pergi ke bar tempat mereka bertiga biasa minum. Saat itu ia tanpa sengaja mendengar komentar dari security yang cukup akrab dengannya.

“Loh, Bu Dokter, tumben tidak datang bersama dua Pak Dokter lainnya?”

Diana hanya tersenyum kecil. Ia memang sering datang ke tempat itu bersama Abimana dan Reza. Keduanya biasanya selalu ikut untuk memastikan Diana tidak mabuk atau diganggu laki-laki lain. Namun kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang menemaninya karena keduanya sedang marah padanya.

Sebenarnya, Diana datang sendiri malam itu karena ingin menenangkan diri dan merenungkan pilihannya. Ia berpikir, mungkin pilihannya terhadap Reza adalah kesalahan. Seharusnya ia memilih Abimana dan menikah dengannya. Namun Diana terlalu malu untuk mengakui penyesalannya. Ia hanya ingin sedikit melarikan diri dari rasa itu dengan alkohol malam ini.

“Ya, mereka sedang sibuk,” jawab Diana ramah.

Security itu tampak sedikit heran.

“Bukannya tadi Pak dokter sudah pulang bersama seorang wanita lainnya?”

Diana langsung tersenyum kaku. Mereka bertiga—Abimana, Reza, dan Diana—biasanya tidak pernah datang ke tempat ini bersama orang lain. Tempat ini memang seperti ruang kecil yang mereka anggap sangat pribadi. Jadi siapa wanita yang dimaksud?

“Memangnya yang datang tadi siapa, Dokter Abimana atau Dokter Reza?” tanya Diana, suaranya mulai tidak stabil.

“Dokter Abimana.”

Jawaban itu membuat Diana membeku.

Ia tidak menyangka Abimana akan ‘move on’ secepat itu, bahkan membawa wanita lain ke tempat yang selama ini mereka anggap istimewa. Seketika dadanya terasa sesak. Hubungan hampir 7 tahun itu terasa runtuh begitu saja.

Perasaan kalut dan takut membuat Diana semakin gelisah. Ia tidak ingin Abimana melupakannya secepat ini. Apalagi ia sendiri baru saja meyakinkan dirinya untuk kembali pada Abimana. Lalu bagaimana mungkin ia sanggup menerima kenyataan bahwa laki-laki itu sudah bersama wanita lain?

Kegelisahan itu membuat Diana kehilangan kendali. Ia minum terlalu banyak hingga mabuk, lalu tanpa sadar kembali ke tempat di mana Abimana pernah menyiapkan tempat tinggal untuk mereka berdua.

Dalam pikirannya, itulah rumahnya—rumah yang seharusnya ia tempati bersama Abimana setelah menikah. Ia mencoba masuk menggunakan kode yang pernah ia ketahui. Namun setelah berkali-kali mencoba, ia akhirnya harus menerima kenyataan: kode itu sudah diganti.

Untuk pertama kalinya, Diana benar-benar frustasi. Ia hanya bisa duduk di depan pintu sambil menangis dan meratap. Penyesalan itu menekan dadanya tanpa ampun. Ia seharusnya lebih sabar, lebih berhati-hati… agar tidak kehilangan Abimana.

Di tengah tangisnya, Diana merasa melihat bayangan Abimana. Seketika, seluruh rasa frustasinya seolah menghilang. Seperti oasis di tengah padang pasir, hanya ada satu hal yang bisa ia lihat.

Abimana.

Ia bangkit dan berlari ke arah sosok itu, memeluknya erat. Namun pelukan itu langsung dilepaskan secara paksa.

Pada saat yang sama, Abimana dan Arla baru saja tiba di depan apartemen mereka. Kebahagiaan kecil yang mereka bawa dari hari itu langsung terhenti ketika mereka melihat seorang wanita berdiri di depan pintu.

Lebih tepatnya—Diana.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Abimana datar.

“Aku menunggumu… aku mencoba masuk pakai kode tanggal lahir kita, tapi pintunya rusak dan aku tidak bisa masuk,” ucap Diana tergesa.

“Pintunya tidak rusak,” jawab Abimana tenang. “Aku memang sudah mengganti kodenya dengan kombinasi tanggal lahir yang berbeda.”

Diana terdiam.

Lalu perlahan, air matanya jatuh. Tangisnya berubah semakin keras. Ia menatap Abimana dengan tatapan yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati laki-laki itu. Namun kali ini, tidak ada reaksi seperti dulu.

Diana panik. Ia merasa ini adalah titik terakhirnya—jika ia membiarkan Abimana pergi sekarang, ia benar-benar akan kehilangan segalanya.

“Bagaimana bisa kamu melupakanku secepat ini? Kita sudah hampir 7 tahun bersama, dan kita baru putus beberapa minggu yang lalu! Bagaimana bisa kamu membawa wanita lain ke bar tempat kita biasanya berkumpul?”

Abimana tertawa kecil, namun tawanya terdengar pahit.

“Ya, hubungan kita hampir 7 tahun… tapi hampir 7 tahun juga aku dibohongi dan dijadikan selingan. Kamu memperlakukanku seperti orang bodoh, padahal kamu tahu aku mencintaimu.”

Kata “cinta” membuat Diana kembali berharap. Ia yakin, perasaan itu masih ada.

“Kalau kamu masih mencintaiku, kenapa kamu melepaskan ku?”

“Diana,” suara Abimana menjadi dingin. “Apa kamu pikir aku bodoh? Kamu menjadikanku selingan dari sahabatku sendiri. Jadi bagaimana aku bisa mencintaimu lagi?”

“Aku… aku bisa kembali padamu…” suara Diana mulai bergetar.

Abimana menggeleng, lalu tertawa sinis.

“Kamu sudah memilih Reza. Kalian sudah bersama lebih dari 7 tahun, dan dia bahkan menyembunyikan hubungan kalian dariku. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk dibohongi olehmu.”

Abimana menatapnya lurus.

“Reza itu baik. Tapi kamu menyakitinya. Aku berharap, sekarang kamu sadar bahwa dia adalah satu-satunya yang kamu miliki. Jadi kembalilah padanya. Jangan datang mencari ku lagi. Perlakukan dia dengan baik, dan jangan mengkhianati cintanya lagi.”

Kata-kata itu terasa seperti kata penutup untuk hubungan mereka yang selama ini tertahan di dada Abimana.

Bukan hanya untuk Diana—tapi juga untuk dirinya sendiri.

Ia akhirnya berhenti berharap. Abimana lalu berbalik, masuk ke apartemen bersama Arla. Pintu tertutup perlahan di belakang mereka, seolah menandai satu hal yang pasti:

bahwa Diana bukan lagi bagian dari hidup yang ingin ia pertahankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!