NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kodim / ruang jendral

*Bab 2*

Ruangan itu sunyi.

Hanya ada suara kipas angin di sudut yang berputar pelan, dan sesekali gemerisik kertas ketika jari-jari panjang membalik halaman.

Raditya duduk tegak di belakang meja. Punggung lurus, mata bergerak cepat menelusuri baris demi baris dokumen di hadapannya.

Dia berkepribadian dingin, tubuhnya besar dan kekar—khas seorang tentara. Pangkatnya letnan.

Wajahnya tampan: rahang tegas, mata tajam, alis tebal, hidung mancung, dan bibir sedikit kemerahan. Dahinya sedikit mengerut. Bukan karena bingung, tapi memang begitu wajahnya ketika sedang fokus. Seperti mesin yang sedang memproses—dingin, presisi, tidak membuang energi untuk hal yang tidak perlu.

_Tok, tok, tok._

Ketukan di pintu.

“Masuk,” ucap Raditya tanpa menoleh.

Seorang prajurit muda melangkah masuk, berdiri tegak, tangan di sisi tubuh.

“Lapor, Letnan. Anda dipanggil Jendral. Beliau minta Anda segera ke ruangannya.”

Raditya tidak langsung menjawab. Matanya masih sedetik di dokumen itu, seolah menyelesaikan satu kalimat terakhir sebelum mengangkat kepala.

“Ada apa?” tanyanya datar.

“Siap, Letnan. Saya tidak tahu.”

Raditya mengernyit tipis. Ia menutup dokumen itu dengan tenang, lalu berdiri—satu gerakan yang tidak terburu-buru, tapi juga tidak lambat.

“Siap. Izin,” ucapnya singkat, lalu sedikit mengangguk.

Prajurit itu mundur dan menutup pintu.

Raditya mengambil topinya dari gantungan di dinding, memakainya tanpa cermin, lalu melangkah ke luar ruangan. Sepatunya berbunyi tegas di atas lantai semen—_tak, tak, tak_—teratur.

_Hal penting apalagi,_ gumamnya dalam hati, tanpa memperlambat langkah.

 

_Tok. Tok. Tok._

Tiga ketukan. Tegas.

Raditya melangkah masuk.

Ruangan ini entah kenapa selalu terasa lebih besar dari ukuran sebenarnya. Mungkin karena minim hiasan, atau mungkin karena udara di dalamnya terasa berbeda—lebih berat.

“Duduk, Letnan.”

Raditya duduk di kursi yang tersedia, punggung tegak, tangan bertumpu simetris di atas lutut. Matanya lurus ke depan—menunggu, tanpa gelisah.

“Langsung saja,” Jendral membuka map di atas meja, mendorongnya sedikit ke arah Raditya. “Ada konflik di luar kota. Daerahnya bernama Karang Wilis—populasi sekitar empat ratus jiwa.”

Raditya menatap dokumen itu sekilas, lalu kembali ke wajah Jendral.

“Penyebabnya?”

“Perebutan wilayah ,” Jendral bersandar ke kursinya, jari-jari bertautan di atas meja. “Pihak keamanan setempat sudah berusaha, tapi situasinya tidak bisa dikendalikan. Justru makin memanas.”

Hening sedetik.

Raditya tidak berkedip.

“Siap, Jendral,” jawabnya singkat.

Jendral melanjutkan, “Anda ditugaskan ke sana. Sekitar tiga puluh prajurit telah disiapkan untuk menemani Anda. Letkol Aldi dan Sersan dimas akan ikut.”

“Siap, Jendral.”

Jendral membuka halaman berikutnya di map itu. Sejenak beliau berhenti, seperti mengingat sesuatu.

“Oh ya—satu lagi,” beliau menatap Raditya. “Ada dokter yang akan ikut dalam penugasan ini. Anda yang akan menjemputnya di rumah sakit.”

Raditya mengernyit tipis—satu-satunya perubahan ekspresi yang ia izinkan keluar.

“Maaf, Jendral,” suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu di baliknya—keberatan yang dikemas rapi dalam kalimat sopan. “Kenapa melibatkan dokter? Ini bukan KRI. Ini zona konflik aktif. Membawa warga sipil justru akan mempersulit pergerakan tim. Lebih berbahaya.”

Jendral tidak langsung menjawab. Beliau menatap Raditya sebentar, lalu mengangguk pelan—bukan setuju, tapi mengakui bahwa pertanyaan itu memang layak dijawab.

“Pertanyaan bagus, Letnan.”

Beliau membuka peta Karang Wilis di atas meja—wilayah yang ditandai lingkaran merah di bagian yang jauh dari pusat kota.

“Karang Wilis bukan daerah biasa. Infrastrukturnya tertinggal jauh: jalan rusak, listrik tidak merata, sinyal hampir tidak ada. Warga di sana hidup jauh dari akses layanan dasar,” Jendral mengetuk peta itu pelan. “Konflik yang terjadi bukan hanya soal keamanan, Letnan. Warga sipil di tengah konflik—anak-anak, lansia, ibu hamil—mereka tetap butuh pertolongan medis. Dan tim medis lapangan tidak cukup untuk menangani kondisi di sana.”

Raditya diam, mendengarkan.

“Dokter yang akan ikut bertugas memberikan pelayanan medis darurat kepada warga, mendampingi korban sipil yang tidak bisa dievakuasi, dan memastikan tidak ada nyawa yang jatuh karena alasan yang sebenarnya bisa dicegah,” Jendral menutup petanya. “Bukan hanya peluru yang membunuh orang di zona konflik, Letnan. Penyakit dan luka yang tidak tertangani juga membunuh.”

Hening.

Raditya menatap meja sebentar. Rahangnya bergerak sedikit—mengunyah kata-kata yang tidak ia ucapkan.

Lalu ia mendongak.

“Siap, Jendral. Mengerti.”

“Bagus,” Jendral menyatukan kedua tangannya. “Besok pagi Anda jemput dokter itu. Jam tujuh. Jangan telat.”

Raditya berdiri, sikap sempurna.

“Siap, Jendral. Izin keluar.”

 

Raditya mendorong pintu ruangan Jendral dan melangkah keluar.

Lorong itu panjang dan sepi. Hanya suara langkahnya sendiri yang memantul pelan di dinding beton. Lampu neon di atas kepala berdengung tipis, cahayanya putih dan dingin, seperti suasana tempat itu sendiri.

Di ujung lorong, ada sesosok yang berjalan dari arah berlawanan.

Letkol aldi.

Posturnya hampir serupa dengan Raditya—tinggi, bahu lebar, langkah terlatih. Tapi di situlah kesamaan mereka berhenti. Kalau Raditya adalah batu—keras, diam, tidak terbaca—maka aldi adalah batu yang setidaknya pernah kena sinar matahari. Tatapannya tidak sedingin Raditya. Ada sesuatu yang lebih hidup di sana, meski sama-sama terlatih untuk tidak banyak bicara.

Mereka berpapasan tepat di tengah lorong.

Raditya memperlambat langkah, tapi tidak berhenti.

“Besok. Jam tujuh pagi. Kita berangkat.”

Singkat. Padat. Jelas. Tanpa menoleh.

Dimas berhenti sedetik, memandang punggung Raditya yang sudah mulai menjauh.

“Hah.”

Satu helaan napas pendek. Bukan kesal—lebih ke pasrah, karena sudah lama mengenalnya. Dia tidak berubah.

Dimas menggelengkan kepala pelan. Satu senyum tipis yang hampir tidak terlihat muncul di sudut bibirnya. Lalu ia membalikkan badan, berjalan ke arah yang sama.

 

 

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!