Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror dari Masa lalu
Kemenangan kecil di meja makan keluarga Mahardika lewat diplomasi sambal terasi setidaknya memberikan helaan napas lega bagi Nayla selama beberapa hari. Namun, kehidupan tidak pernah membiarkan seorang Nayla bersantai terlalu lama.
Seperti pepatah yang mengatakan bahwa mendung tidak perlu durasi lama untuk menurunkan hujan, masa lalu yang paling ingin dikuburnya dalam-dalam kini justru mengetuk pintu dengan cara yang paling kasar.
Siang itu, udara Jakarta terasa sangat menyengat. Nayla baru saja selesai merapikan pakaian Gibran di dalam walk-in closet yang luasnya hampir sama dengan ukuran kontrakan lamanya. Ketika ia baru saja mendudukkan diri di sofa ruang tengah sambil meneguk segelas air es, ponsel di atas meja kaca bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal berkedip di layar.
Nayla mengernyitkan kening. Dengan perasaan agak ragu, ia menggeser tombol hijau. "Halo, selamat siang."
"Siang, Nayla. Wah, wah ... suara kamu sekarang sudah kedengaran seperti suara nyonya besar ya. Sudah lupa dengan bau tanah di kampung halaman?"
Suara parau, berat, dan dipenuhi tawa sinis yang sangat khas itu seketika membuat seluruh tubuh Nayla membeku. Gelas es di tangan kirinya bergetar pelan, hampir saja lolos dari genggamannya jika ia tidak segera menaruhnya di atas meja.
"Pak ... Pak Hartono?" bisik Nayla, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Darah seolah mengalir turun dari wajahnya, meninggalkannya dalam keadaan pucat pasi.
"Bagus, kamu ternyata masih ingat saya, calon istriku yang gagal," sahut suara di seberang sana dengan kekehan yang membuat bulu kuduk Nayla merinding.
Pak Hartono. Pria paruh baya bertubuh tambun,berkepala botak yang di kampungnya dikenal sebagai pengusaha tengkulak sukses sekaligus rentenir berdarah dingin. Dialah pria yang dua tahun lalu memanfaatkan keterpurukan keluarga Nayla ketika Adi, adiknya, divonis kanker darah. Hartono meminjamkan uang dalam jumlah besar dengan bunga berbunga yang mencekik leher, lalu menawarkan satu-satunya syarat pelunasan yang paling menjijikkan bagi Nayla: menjadikan Nayla sebagai istri simpanan ketiganya.
"Mau apa lagi Anda menelepon saya? Utang ibu saya sudah dicicil setiap bulan! Saya tidak pernah telat mengirim uang dari Jakarta!" seru Nayla, mencoba menguatkan suaranya meski kedua lututnya kini terasa lemas seperti jeli.
"Cicilan? Hahaha! Nayla, Nayla ... kamu pikir uang receh yang kamu kirim setiap bulan itu cukup untuk menutupi bunga dan denda keterlambatan?" Hartono berdeham, lalu terdengar suara ia meludah di seberang sana. "Sekarang saya tidak mau tahu. Saya sudah ada di Jakarta. Saya sudah mendatangi rumah kontrakan kamu yang reot itu, tapi tetangga bilang kamu sudah pindah dan menikah dengan bos kaya."
Nayla menutup mulutnya dengan tangan, air mata kecemasan mulai menggenang di sudut matanya. "Jangan berani-berani Anda mengganggu ibu dan adik saya di kampung!"
"Saya tidak akan mengganggu mereka, asal kamu bayar seluruh sisa utang dan dendanya sekarang juga. Tunai! Totalnya seratus lima puluh juta rupiah. Kalau dalam waktu dua puluh empat jam uang itu tidak ada di tangan saya, saya akan datangi kantor suami kayamu itu. Saya akan bawa semua surat perjanjian utang ibu kamu, dan saya akan teriak ke semua wartawan kalau istri CEO Mahardika Group adalah anak dari keluarga penipu yang mengemis uang pada rentenir!"
"Anda ... Anda licik, Pak Hartono!" Tangis Nayla akhirnya pecah.
"Saya tunggu di kafe depan stasiun Sudirman jam lima sore ini. Bawa uangnya, atau kamu lihat sendiri besok pagi wajah cantikmu masuk berita gosip!" Klik. Sambungan telepon diputus sepihak.
Nayla melempar ponselnya ke sofa, lalu memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya berguncang hebat. Seratus lima puluh juta? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu beberapa jam? Jika ia meminta pada Mama Renata, ia terlalu malu. Jika ia meminta pada Gibran, ia takut pria itu akan berpikir bahwa tuduhan Papa Baskoro tempo hari adalah benar bahwa dirinya adalah gadis oportunis yang hanya memanfaatkan pernikahan kontrak ini untuk menguras harta keluarga Mahardika.
"Kenapa ... kenapa di saat aku mulai merasa bahagia, semuanya harus hancur lagi?" gumam Nayla di sela-sela isak tangisnya.
Satu jam berlalu dalam kepanikan. Nayla mondar-mandir di dalam kamar seperti orang linglung, mencoba mencari perhiasan atau barang berharga pemberian Mama Renata yang sekiranya bisa ia gadaikan secepatnya. Namun, semua perhiasan itu disimpan di dalam brankas berkode yang ia sendiri tidak tahu nomor kombinasinya.
Klek.
Suara pintu utama griya tawang terbuka mengejutkan Nayla. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan, berusaha bersikap senormal mungkin.
Namun, langkah kakinya yang tergesa-gesa langsung terhenti begitu melihat siapa yang melangkah masuk ke dalam kamar.
Gibran berdiri di sana. Ia baru saja pulang dari kantor untuk mengambil beberapa dokumen penting yang tertinggal.
Kemeja kerjanya sedikit berantakan di bagian kerah, dan jas abu-abunya tersampir di lengan kiri.
Begitu mata elangnya menangkap sosok Nayla yang berdiri dengan mata bengkak dan hidung kemerahan, langkah kaki Gibran langsung berhenti.
Gibran meletakkan jasnya di atas tempat tidur, lalu berjalan mendekat. "Nay, lu kenapa?" tanyanya, suaranya yang biasa datar kini menyiratkan rasa khawatir yang nyata.
Nayla menggeleng cepat, memaksakan sebuah senyuman kaku. "Enggak ... enggak apa-apa, Mas. Tadi ... tadi cuma kelilipan waktu beres-beres lemari."
Gibran mengernyitkan kening. Ia tidak sebodoh itu untuk mempercayai alasan klise ala drama televisi swasta. Pria itu mengulurkan tangannya, meraih dagu Nayla dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke dalam matanya. "Kelilipan tidak akan bikin bahu lu gemetaran seperti ini, Nayla. Ada apa? Bilang sama gue."
Nayla mencoba mengalihkan pandangannya, namun cengkeraman lembut Gibran di dagunya mengunci gerakannya. Rasa takut, panik, dan gengsi bertarung hebat di dalam dada Nayla.
Akhirnya, pertahanannya runtuh lagi. Air mata baru meluncur mulus melewati pipinya. "Mas ... tolong jangan benci aku. Aku ... aku bener-bener gak bermaksud memanfaatkan kamu."
Tepat pada saat itu, ponsel Nayla yang tergeletak di sofa kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sama. Gibran melepaskan tangannya dari dagu Nayla, lalu berjalan cepat mengambil ponsel tersebut sebelum Nayla sempat mencegahnya.
Gibran membaca pesan di layar dengan cepat: ["Jangan coba-coba kabur, Nayla. Jam lima sore, kurang dari dua jam lagi. Sediakan seratus lima puluh juta, atau suami CEO-mu itu akan tahu masa lalu kelam keluargamu dengan Hartono."]
Seketika, atmosfer di dalam kamar mewah itu berubah drastis. Rahang Gibran mengeras, garis-garis wajahnya menegang, dan matanya memancarkan kilatan amarah yang begitu pekat hingga membuat hawa ruangan terasa mendingin beberapa derajat. Pria itu meremas ponsel Nayla di tangannya dengan kuat.
"Siapa Hartono?" tanya Gibran, suaranya terdengar sangat rendah, jenis suara yang biasa ia gunakan sebelum memecat direktur yang korupsi di kantornya.
Nayla menunduk, meremas ujung bajunya sendiri dengan ketakutan. "Dia ... dia lintah darat di kampungku, Mas. Dia pengusaha kelapa sawit tapi juga rentenir. Dulu, waktu Adi sakit sakral dan butuh kemoterapi, Ibu terpaksa pinjam uang ke dia karena tidak ada pilihan lain. Dia ... dia mau menghancurkan reputasimu kalau aku tidak bayar sisa utangnya sore ini."
Gibran menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya agar tidak menakuti istrinya yang sudah gemetaran. Pria itu melemparkan ponsel Nayla kembali ke sofa, lalu berjalan mendekati Nayla.
Bukannya memarahi atau menuduh seperti yang ditakutkan Nayla, Gibran justru menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangatnya, mengusap punggung Nayla dengan perlahan.
"Bodoh," bisik Gibran lembut di puncak kepala Nayla. "Lu pikir reputasi gue sekecil itu sampai bisa dihancurkan oleh rentenir kampung?"
Nayla terisak di dada Gibran. "Aku takut kamu berpikir kalau aku ini cuma bawa masalah buat kamu, Mas ..."
"Nayla, dengerin gue," Gibran mengurai pelukannya, memegang kedua bahu Nayla agar mereka sejajar. "Gue sudah tanda tangani kontrak baru pagi tadi. Segala hal tentang lu, termasuk masalah lu dan masa lalu lu, sekarang adalah urusan gue. Pihak Kesatu tidak akan membiarkan Pihak Kedua diintimidasi oleh orang lain selain Pihak Kesatu sendiri. Paham?"
Nayla menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca, ada rasa hangat yang luar biasa menyusup ke dalam hatinya mendengar kata-kata arogan namun sangat menenangkan itu. "Tapi uang seratus lima puluh juta itu ..."
Gibran tersenyum tipis, sebuah senyuman sarkas yang meremehkan angka tersebut. "Bagi Mahardika Group, uang segitu bahkan tidak cukup untuk biaya perawatan bulanan rumput di lapangan golf Papa. Lu ganti baju sekarang. Kita temui rentenir itu bersama."
sory ya thor 🙏