NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Di satu sisi ruangan, duduk Dimas dan Rina. Wajah mereka santai, bahkan sedikit menyeringai sinis. Mereka sudah bersiap-siap mendengarkan pengumuman pemecatan Ani, dan mereka sudah menyusun kata-kata untuk memuji kebijakan perusahaan agar terlihat seolah merekalah yang paling setia dan benar. Rina sesekali melirik Ani yang duduk tenang di sisi lain, lalu berbisik pelan ke telinga Dimas.

"Tunggu saja, Mas. Sebentar lagi dia habis. Lihat saja wajah pucatnya itu. Dia pasti sudah tidak punya akal lagi."

Dimas mengangguk puas. "Tentu saja. Dia pikir dia siapa? Melawan aku? Dia baru belajar dunia ini, Rina. Kita sudah menguasainya bertahun-tahun."

Pintu ruang rapat terbuka lebar, dan Damar masuk dengan langkah tegap, wajahnya datar namun memancarkan wibawa yang menakutkan. Di belakangnya menyusul sekretaris yang membawa berkas-berkas lengkap. Semua orang langsung terdiam dan berdiri sebentar sebelum duduk kembali.

Damar tidak bertele-tele. Ia langsung membuka rapat, menjelaskan tujuan pertemuan itu: mengungkap kebenaran di balik selisih data proyek dan tuduhan penyalahgunaan dokumen.

"Selama ini kita berpikir ada kesalahan, kelalaian, atau bahkan kecurangan yang dilakukan oleh Saudari Ani," suara Damar bergema keras di ruangan itu. "Tapi hari ini, Saudari Ani telah menemukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang menunjukkan bahwa ini bukanlah kesalahan, melainkan rencana jahat yang dirancang dengan sengaja untuk menjatuhkan nama baik seorang karyawan yang jujur, sekaligus merugikan ketertiban perusahaan kita."

Satu ruangan berbisik-bisik kaget. Wajah Dimas dan Rimas mulai berubah sedikit. Senyum sinis mereka perlahan menghilang.

"Silakan, Ani. Jelaskan semuanya," perintah Damar.

Ani berdiri tegak di depan ruangan. Ia tidak gemetar, tidak gugup. Ia menatap satu per satu wajah yang ada di sana, hingga pandangannya akhirnya bertemu langsung dengan mata Dimas dan Rina yang mulai terlihat panik.

Dengan tenang, jelas, dan rinci, Ani memaparkan semua temuannya. Ia perlihatkan perbedaan kode kertas, perbedaan tanda tangan, selisih tanggal, hingga catatan akses yang membuktikan bahwa Rina-lah yang mengambil dan mengubah dokumen itu, serta Dimas yang mengakses data aslinya.

"Dan satu hal lagi," tambah Ani tegas, suaranya lantang memecah keheningan yang mencekam. "Bapak Dimas, Ibu Rina... Kalian lupa satu hal kecil saat mengubah angka di berkas itu. Kalian mengubah jumlah total, tapi kalian lupa mengubah rincian perhitungan di halaman belakang. Angka total yang kalian tulis tidak sama hasilnya jika dijumlahkan dari rincian di belakangnya. Itu bukti matematis yang tidak bisa dibantah. Itu bukti nyata bahwa kalian hanya mengubah angka depan saja, tanpa memikirkan logika hitungannya."

Itu adalah pukulan telak yang terakhir. Dimas dan Rina tertegun kaku. Mereka benar-benar lupa hal itu. Mereka terlalu terburu-buru dan terlalu yakin tidak ada yang akan memeriksa sampai ke rincian hitungan dasar.

Wajah Rina seketika pucat pasi, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. Dimas mencoba bertahan, bangkit berdiri dengan marah-marah palsu.

"Ini fitnah! Ini semua rekayasa dia! Dia ingin membalas dendam sama kami karena kami temukan kesalahannya! Bapak Damar, jangan percaya omong kosong ini! Ini semua tidak benar!"

Namun kali ini, suara Dimas tidak lagi terdengar berwibawa. Terdengar gemetar dan penuh kepanikan.

Damar menatap Dimas dengan pandangan yang begitu dingin dan kecewa, pandangan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan biasa.

"Cukup, Pak Dimas. Jangan berteriak seolah kamu yang paling benar. Bukti-bukti ini nyata, bisa dipegang, bisa diperiksa siapa saja. Aku sudah perintahkan tim hukum dan administrasi untuk memverifikasi semuanya, dan kesimpulannya sama persis dengan apa yang dikatakan Ani."

Damar berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada rendah namun menggelegar.

"Aku kecewa padamu, pak Dimas. Sangat kecewa. Aku dulu menerimamu bekerja di sini karena permintaan Ani. Aku memercayaimu, mengangkatmu, memberimu jabatan. Tapi apa balasanmu? Kamu mengkhianati kepercayaan itu. Kamu meninggalkan istri yang sangat baik demi wanita lain. Dan sekarang, demi ego dan kecemburuanmu yang konyol, kamu berani-berani merusak nama baik perusahaan, merusak nama baik sahabatmu sendiri, dan melakukan kecurangan yang merugikan kita semua."

Kalimat itu menghancurkan Dimas seketika. Semua orang di ruangan itu menatapnya dengan pandangan kaget, jijik, dan benci. Fakta bahwa Dimas diterima kerja karena Ani, fakta perselingkuhannya dengan Rina... semuanya terbongkar bersamaan dengan kejahatan yang ia lakukan.

Dimas terduduk kembali di kursinya, lemah, tak berdaya. Dunianya yang palsu, kemegahan yang ia bangun di atas penderitaan orang lain, runtuh seketika di depan mata kepalanya sendiri. Rina di sampingnya menangis terisak-isak, menunduk dalam tak berani menatap siapa pun.

"Aturan perusahaan sangat jelas," Damar menutup pembicaraannya dengan tegas. "Tindakan kecurangan, pemalsuan dokumen, dan fitnah adalah pelanggaran berat. Mulai detik ini juga, Saudara Dimas dan Saudari Rina diberhentikan tidak dengan hormat dari perusahaan ini. Segera serahkan semua tanggung jawab dan barang milik kantor. Dan kami berhak menuntut ganti rugi atas kerugian dan keributan yang kalian buat."

Kata-kata itu seperti hukuman mati bagi Dimas dan Rina. Diusir. Dipecat. Dipermalukan. Persis seperti apa yang mereka rencanakan untuk Ani, kini berbalik menimpa diri mereka sendiri. Hukum karma yang berlaku cepat dan nyata.

Rapat bubar. Semua karyawan keluar sambil berbisik-bisik, takjub dan kagum pada Ani. Wanita yang tadinya dianggap akan jatuh, justru bangkit menjadi pahlawan kebenaran.

Saat semua orang pergi, Dimas masih duduk diam di kursinya, kaku dan kosong. Ia menatap Ani yang berdiri di dekat pintu, berbicara sebentar dengan Damar. Ani terlihat begitu bercahaya, begitu indah, begitu berwibawa. Wanita yang dulu ia injak-injak, wanita yang dulu ia buang, kini berdiri jauh di atasnya, menang telak dalam segala hal: martabat, kemampuan, dan kebahagiaan.

Ani berbalik, dan matanya kembali bertemu dengan mata Dimas untuk terakhir kalinya. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi cinta atau benci. Di mata Ani kini hanya ada ketenangan mutlak dan rasa kasihan yang mendalam. Ia kasihan pada Dimas, laki-laki cerdas namun hancur karena egonya sendiri.

Ani tersenyum tipis, senyum kebebasan, senyum kemenangan. Ia mengangguk kecil, seolah mengucapkan: "Terima kasih, Mas Dimas. Karena kamu menyakiti saya, saya belajar menjadi kuat. Karena kamu membuang saya, saya belajar menemukan harga diri saya. Dan karena kamu berusaha menjatuhkan saya, saya belajar terbang lebih tinggi dari yang pernah kamu bayangkan."

Ani pun berbalik badan dan melangkah pergi, meninggalkan masa lalu, meninggalkan Dimas yang hancur lebur di belakangnya. Langkahnya ringan, hatinya damai. Perjuangannya belum selesai, tapi babak terberat sudah lewat. Ia telah membuktikan pada dirinya sendiri, pada orang tuanya, dan pada seluruh dunia... bahwa wanita yang kuat dan jujur tidak akan pernah kalah, meski dunia berusaha menjatuhkannya berkali-kali. Di tangan Ani kini terbentang masa depan yang cerah, murni, dan miliknya sepenuhnya.

Bersambung,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!