Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Biarkan Saja
Lampu kilat kamera menyambar brutal. Ballroom Hotel Kempinski penuh sesak oleh ratusan wartawan dari berbagai media raksasa.
Anastasia Lim berdiri tegak di balik podium kaca bening. Gaun sutra asimetris merah marun membalut tubuhnya sempurna. Senyumnya terlukis lembut. Air mata palsu menggenang di pelupuk matanya saat puluhan lensa membidik wajahnya.
"Kesuma Fashion selalu menjadi rumah saya." Suara Anastasia mengalun merdu dari pelantang suara. "Kak Shanaya mengajari saya banyak hal. Tapi, inovasi tidak boleh mati. Koleksi perdana ini adalah bentuk penghormatan tertinggi saya untuk beliau."
Di bangku baris depan, Alvian Restu bertepuk tangan paling keras. Pria itu menyunggingkan senyum bangga. Dia menancapkan citra pria pendukung idaman publik dengan sangat apik.
Di lantai dua puluh dua Kesuma Tower, layar monitor raksasa menyiarkan kebohongan itu secara langsung.
Shanaya duduk menyilang kaki di sofa kulit hitam. Jemarinya menahan gagang cangkir kopi. Tidak ada gurat kemarahan di wajahnya. Postur tubuhnya rileks. Matanya menatap layar sedingin balok es.
"Dia mencuri desain utamamu." Steven Aditya berdiri menyandar pada pilar dekat jendela kaca. Tangannya masuk ke saku celana bahan gelapnya. Matanya berpindah dari layar televisi ke wajah Shanaya. "Dia baru saja membunuh kariermu di depan media nasional. Kenapa kamu santai sekali?"
"Aku sedang menonton pertunjukan komedi murah, Steven." Shanaya menyesap kopinya lambat lambat. "Anastasia punya artikulasi memukau. Dia tahu pasti kapan harus memberi jeda agar wartawan punya waktu mengambil foto wajah sedihnya."
Steven menegakkan tubuh. "Kamu membiarkan dia menang hari ini."
"Aku membiarkan dia memanjat panggung yang sangat tinggi." Shanaya meletakkan cangkirnya di atas meja. Bunyi keramik beradu dengan kaca memecah keheningan ruangan. "Supaya saat dia jatuh, lehernya langsung patah."
Dinda mendorong pintu ruang kerja hingga terbuka paksa. Asisten itu masuk dengan napas memburu. Tangannya gemetar memegang sebuah tablet.
"Mbak Naya, saham perusahaan turun dua persen nih sejak konferensi pers dimulai." Dinda menaruh tablet itu di meja. "Media mulai berbalik arah. Kanal gosip merilis narasi kalau Mbak Naya sengaja menahan desain baru karena iri pada bakat Anastasia. Komentar netizen jahat jahat banget lho, Mbak."
"Sesuai prediksi." Wajah Shanaya tetap sedatar meja marmer.
Steven melangkah mendekat. Ketenangan absolut Shanaya menepis segala tebakannya. Perempuan ini tidak sedang pasrah menerima kekalahan. Perempuan ini sedang menunggu mangsanya menginjak ranjau.
"Jelaskan padaku." Steven berhenti tepat di samping sofa Shanaya. "Kamu sengaja membiarkan pintu ruang arsip tua itu tidak terkunci. Kamu membiarkan dia mengambil sketsamu."
"Dua minggu lalu, aku mengganti seluruh sistem keamanan divisi desain." Shanaya mendongak dan menantang tatapan gelap Steven. "Semua ruangan terkunci rapat, kecuali satu laci di ruang arsip lama. Kuncinya sengaja aku biarkan rusak. Aku tahu persis Anastasia selalu membayar staf kebersihan untuk mencari celah masuk ke ruanganku setiap malam."
Otak Steven bekerja membedah strategi kotor Shanaya. Ujung matanya menajam.
"Sketsa yang dia curi bukan desain utamaku," lanjut Shanaya dingin. "Itu desain gagal."
Dinda meremas ujung jasnya bingung. "Gagal bagaimana maksudnya, Mbak? Gaun merah yang baru saja dipamerkan Anastasia di layar itu cantik banget. Potongan asimetrisnya rapi. Media luar negeri bahkan memuji detailnya."
"Gaun itu memindahkan seluruh beban ke jahitan pinggang kiri." Mata Shanaya terkunci pada gaun sutra di layar raksasa. "Sutra lokal dengan serat renggang tidak akan bertahan lama tanpa penyangga. Benang benangnya akan saling menarik keras."
Steven langsung menangkap maksudnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Berapa lama sebelum robek?"
"Empat puluh lima menit. Maksimal."
Mata Steven sedikit melebar. Itu bukan sekadar reaksi terkejut. Itu apresiasi murni dari sesama predator.
"Anastasia terlalu arogan." Shanaya bangkit dari sofa. Dia merapikan lipatan jasnya dengan gestur elegan. "Dia pikir dia bisa membaca sketsa mentahku tanpa melalui proses uji beban bahan. Dia langsung memproduksinya secara massal untuk mengejar jadwal rilis hari ini."
"Kamu memancing keangkuhannya," ucap Steven rendah. Ada nada kekaguman gelap dalam suaranya. "Orang sombong selalu merasa dirinya lebih pintar dari semua orang di ruangan."
"Orang licik selalu berpikir hasil curiannya adalah harta karun terbaik," balas Shanaya.
Di layar televisi, acara mencapai titik puncak. Alvian naik ke panggung. Pria itu menyodorkan sebuket mawar putih berukuran raksasa kepada Anastasia. Alvian merangkul bahu sepupu Shanaya itu dengan gestur pelindung di depan kamera.
Alvian meraih mikrofon dari tangan pembawa acara. "Kita sangat bangga padamu, Ana. Kesuma Group butuh regenerasi. Publik butuh karya yang segar. Dan kamu membuktikan bahwa kamu siap membawa nama besar ini ke level internasional."
Kalimat itu adalah deklarasi perang terbuka. Alvian memastikan seluruh negeri tahu bahwa era Shanaya Kesuma sudah tamat.
Dinda menendang kaki meja dengan kesal. "Mas Alvian kurang ajar banget. Berani beraninya dia menyindir senioritas. Dia mau bilang Mbak Naya sudah basi?"
Shanaya tertawa pelan. Tawa hampa tanpa emosi. "Biarkan saja, Din. Alvian hanya sedang memastikan wajah tampannya ikut terpampang di halaman depan saat bencana itu meledak nanti."
Steven mengambil ponsel kerjanya dari saku jas dalam. Jemarinya mengetik instruksi dengan kecepatan kilat.
"Tiga model utama Anastasia akan turun dari panggung dan melakukan sesi wawancara tertutup dengan tamu VIP." Steven membacakan jadwal acara langsung dari jaringan internal medianya. "Mereka akan duduk, berdiri, dan berjalan melintasi karpet merah selama empat puluh menit ke depan."
"Waktu yang sangat cukup untuk membuat benang benang itu menyerah," potong Shanaya presisi.
Steven mendekatkan ponselnya ke telinga. "Tim Lapangan Satu. Fokuskan Kamera Tiga dan Empat ke gaun model utama dan gaun Anastasia. Dekatkan zoom ke area jahitan dada dan pinggang. Jangan berkedip sedetik pun."
Steven menurunkan tangannya. Ia menatap Shanaya lekat. Perempuan ini tidak butuh diselamatkan oleh ksatria berkuda putih. Shanaya menjebak musuhnya sendiri, memberinya pistol rakitan, dan membiarkan musuhnya menekan pelatuknya sendiri di depan ribuan orang.
"Kru Kanal Satu sudah siaga di titik buta." Suara Steven mengalun berbahaya. "Kameraku akan merekam setiap benang gaun itu robek secara langsung. Tanpa sensor. Tanpa jeda iklan."
"Pastikan sudut pengambilan gambarnya brutal, Steven." Shanaya membalas tatapannya. "Aku mau seluruh Indonesia melihat kulit mereka saat gaun itu hancur."
"Pasti." Steven melangkah merapatkan jarak. Tubuh tinggi pria itu menjulang, menebarkan dominasi fisik yang biasanya membuat lawan bicaranya mundur teratur. Tapi Shanaya tetap berdiri tegak.
Keduanya saling menatap dalam hening yang tajam. Gravitasi di antara mereka bergesekan panas. Sebuah pemahaman absolut mengikat mereka. Steven melindungi wilayahnya dengan agresi, sementara Shanaya menghancurkan musuhnya dengan kesabaran tingkat dewa.